Pemimpin yang Jujur


“Kata kakek aku, Bang, cobalah sebulan saja kau ngomong dan bertindak jujur.”
“Bisa?”
“Pernah kucoba, tapi seminggu bahkan sehari saja pun tak lewat.”

Itu caption sederhana dari percakapan saya dengan seorang teman bernama Handoko Aruan. Santai saja kami berbincang waktu itu, ditemani teh manis hangat di suatu sore di kantin kampus kami, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

Saya terhentak, karena yang dikatakannya itu benar adanya tapi sulitnya tak terkira. Berkata ataupun bertindak jujur satu hari saja pun susahnya minta ampun, konon lagi seminggu, sebulan, setahun, ataupun mungkin seumur hidup Anda. Padahal itu dengan reward khusus, setelah “laku” itu dilakukan, Anda boleh berbohong sepuas-puasnya. Toh, tetap tidak bisa juga.

Saya tak menemukan kendala apa yang membuat saya cukup susah untuk melakukan itu. Dan kemudian langsung saja hal itu dibenturkan dengan perilaku junjungan saya, Muhammad shalallahu alaihi wassalam yang bahkan digelari seluruh orang di daerahnya, Makkah dan sekitarnya, “Al-Amin” atau yang terpercaya.

Gelar itu bukan dibuatnya tapi diberikan kepadanya karena ketidakpernahan beliau untuk berbohong semasa dirinya masih bernafas. Dengan kesucian itu, maka mulut dan lidahnya sudah terjamin dari kepalsuan, manipulasi, rekayasa maupun bungkus-bungkus manis yang mengungkapkan “kebohongan dengan kalimat kebenaran”.

Kesucian dari bohong itu pula yang tak ada pada diri kita sekarang. Jangankan Anda yang menjadi pemimpin, bahkan dari seorang awam saja pun, kita terkadang curiga, bahwa apa yang dikatakannya belumlah tentu benar adanya.

Apa yang kita lihat selama ini di negeri ini adalah kebohongan belaka dari pemimpin. Berjanji akan mensejahterakan rakyat, tapi malah menyengsarakan rakyat. Berkata menaikkan BBM untuk menyelamatkan negara dan APBN, tapi kemudian malah membuat orang miskin bertambah banyak dan membuat segelintir pejabat dan pengusaha menjadi kaya raya mendadak.

Untuk tahap pertama revolusi di negara dan negeri ini, kita hanya butuh satu saja dahulu: PEMIMPIN YANG JUJUR.

Realitas kebohongan pangkat sepuluh yang diterima selama ini, jangan pula dihancurkan dengan keengganan untuk memilih orang yang tak jujur sebagai pemimpin. Sekecil apapun dukungan untuk pemimpin yang jujur, maka itu akan sangat berarti banyak bagi masa depan anak, cucu, cicit dan kehidupan generasi mendatang. Biarlah sekarang kau masih lagi merasakan kebohongan. Tapi jangan di masa depan.

Bila kau merasa tak mempunyai orang yang kau anggap jujur, maka lebih baik kau tak usah ikut campur dalam pemilihan sang pemimpin.

Itu pesan sejarah ribuan tahun lampau kepada saya. Berat dan sungguh amat berat.

-0-

sumber foto diambil dari sini

6 thoughts on “Pemimpin yang Jujur

  1. bagaimana pula mengharap
    pemimpin mau jujur
    wong bohong sudah dianggap
    tak dosa…..heheheee

    bila mengharap pun tak bisa lagi…maka realitasnya pasti sudah sangat parah… apa kata dunia?🙂

    Like

  2. Jujur itu memang tidak mudah, kadang kita yang salah, kadang sistem/lingkungan yang memuat kita serba salah.

    menurut aku sih, karena manusia itu tempat salah, maka berupaya saja meminimalisir kesalahan itu (kebohongan) kalau bisa 5% berbohong kenapa harus 10% atau lebih?

    Seperti dalam organisasi atau memilih sesuatu (pemimpin atau partai) pilih saja yang buruknya paling sedikit dari yang terburuk, karena gak ada yang sempurna, hanya bersaha jadi yang terbaik.

    saya kira saya bisa menebak ke arah partai mana Anda akan memilih nantinya … hehehehe😛

    Like

  3. Jujur…..?…aaah lebih baik kita coba diri kita sendiri dulu.., apakah mampu kita berbuat jujur satu hari aja..! mampu nggak ?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s