Partai Islam Pun Dihabisi


Satu persatu, partai yang berlandaskan Islam dihabisi. Mari menduga-duga siapa yang dihabisi. Di sini, saya hanya menyebutkan lima partai saja.

Partai Kebangkitan Bangsa. Partai Islam dengan suara terbesar di 1999 dan 2004 lalu ini jelas dibombardir dengan gerakan perpecahan internal yang langsung mengarah ke sosok simbolis partai, Abdurrahman Wahid. Mantan Presiden RI ini bahkan digembosi oleh keponakan kandungnya sendiri, Muhaimin Iskandar. Namun, Muhaimin bukanlah aktor intelektual di balik penggembosan PKB dan Gus Dur. Perolehan suara PKB jelas akan merosot tajam. Pengaruh Nahdathul Ulama pun akan semakin terkikis di dunia perpolitikan. Jawa Timur yang selama ini menjadi basis nahdhiyin dan pesantren sedang tercabik-cabik dengan perpecahan serius. Gus Dur jelas lebih mengakar dari Muhaimin, namun kekuatannya jelas akan berkurang.

Partai Persatuan Pembangunan. Partai “jadul” ini dilanda perpecahan internal dengan isu percaloan dan korupsi anggotanya. Percaloan sebenarnya muncul di seluruh partai yang ada di negeri ini tapi PPP menjadi contoh kasus yang paling kasat mata. Saya mengira, targetnya tetap saja kekuatan NU dan massa islam tradisionalis yang menjadi basis suara tradisional dari PPP.

Partai Amanah Nasional. Partai ini diniatkan menjadi partai nasionalis religius. Namun, partai ini tidak bisa dilepaskan dari organisasi Muhammadiyah yang ada di belakangnya. Isu perpecahan tak lepas dari pembentukan Partai Matahari Bangsa yang diketahui digerakkan oleh orang-orang yang sebelumnya aktif di PAN. Menggembosi PAN berarti juga menggembosi “jembatan” Muhammadiyah untuk turut aktif memberi pengaruh terhadap perpolitikan di Indonesia.

Partai Keadilan Sejahtera. Hingga saat ini, secara umum, partai ini masih mendapat imej bagus dari masyarakat. Namun kemudian, partai ini mendapat dilemanya sendiri ketika “ditimang-timang” untuk masuk dalam struktur puncak kekuasaan. SBY santer diisukan akan memasang Hidayat Nur Wahid sebagai wakilnya, sementara PDIP kencang mengisukan akan berkoalisi dengan PKS. Koalisi adalah realitas dalam perpolitikan, namun bagi pemilih tradisional PKS, akan sulit menerima koalisi dengan partai “non muslim”. Gerakan agar partai PKS menjadi partai “terbuka” dengan menerima caleg-caleg non muslim dan berkoalisi dengan partai “non muslim” justru menjadi bumerang bagi pemilihnya sendiri.

PBB. MS Kaban terjerat kasus dan Yusril Ihza Mahendra terlempar dari kursi kabinet karena kasus pula. Kekuatan partai yang secara diam-diam bergerak menjadi partai “kelas menengah” ini, jelas tergembosi dengan adanya kasus ini. Apalagi secara tradisional, partai ini digambarkan sebagai partainya para “fundamentalis” Islam yang merasa tak mendapatkan anginnya di partai-partai Islam lainnya. Partai ini adalah partai Islam yang paling tegas mengusung soal syariat Islam di Indonesia.

Umat Islam merupakan pemilih terbesar dan Islam merupakan faktor yang selalu menjadi phobia untuk menjadi besar di negeri ini. Ketakutan akan adanya pemikiran dan gerakan “Negara Islam Indonesia ” terus-menerus menjadi faktor utama dari penghabisan partai-partai Islam.

Partai Islam tak pernah besar. Sejarah mencatat hanya NU dan Masyumi yang bisa meletakkan pengaruhnya secara luar biasa di perpolitikan Indonesia. Namun kemudian, kedua partai ini pun hangus ditelan masa.

Hanya satu yang pasti: ada kelompok yang sedang tertawa dan terus bekerja di balik kehancuran partai-partai Islam itu. (*)

17 thoughts on “Partai Islam Pun Dihabisi

  1. di gelanggang bernama politik (praktis) itu, saling menghancurkan memang aktivitas utama. salut untuk kejelian sang buronan api, melihat pola ini – walaupun ada atau tidaknya grand design penghancuran semacam itu masih perlu diperdebatkan lagi.😉

    tapi rasanya yang tak kalah perlu, juga semacam kesadaran bahwa ummat memang sangat rentan perpecahan. alih-alih membangun koalisi yang efektif, demi kejayaan ummat yang konon menjadi tujuan mereka, di internal partai-partai Islam itu sendiri, perpecahan seperti menjadi tradisi, sekali lagi terlepas apakah itu disebabkan atau tidak, oleh “kekuatan” yang tidak menginginkan penguatan basis politik Islam itu.

    (Aduh, kok jadi rumit kali komenku ini. Salah makan kolak aku kurasa).

    Like

  2. Wah wah, tulisan2 Anda semakin menarik saja untuk dikomentari!

    Partai2 Islam di Indonesia sejak Pemilu 1955 hingga 2004 yang lalu memang tidak pernah mengalami kemenangan, selalu digembosi baik oleh faktor eksternal (semisal rezim Orde Baru) maupun internal (konflik perpecahan di tubuh parpol Islam itu sendiri)

    PR besar buat umat Islam, apakah mungkin umat ini bisa bersatu padu dalam satu wadah parpol yang bisa menampung aspirasi semua kalangan? Rasanya sulit walau memungkinkan, pasti jalan itu sangat panjang dan melelahkan!

    Citra parpol2 Islam pun cenderung buruk, tidak menarik dan bahkan sama saja dengan parpol2 nasionalis sekuler lainnya.

    Mungkin kita bisa amati hanya PKS saja yang bisa dikatakan menjadi pengecualian, setidaknya untuk saat ini dibanding PKB, PPP, PBR, PBB, PAN, dsb.

    Kita lihat fenomena yang cukup menarik sekarang, kalau ada trend PKS itu menjadi rebutan parpol2 lain untuk berkoalisi! Baik di pilkada daerah hingga level nasional!

    Ironisnya, saat PKS dengan “percaya dirinya” mengajukan calon internal sendiri (tanpa berkoalisi) justru malah menimbulkan reaksi “Politik Keroyokan” melawan PKS termasuk dari sesama parpol2 Islam sendiri! Ini baru fenomena menarik…

    Faktanya di pilgub DKI Jakarta, pilwalkot Depok, Bekasi, Bandung, dsb. (lumbung suara PKS di 2004) akhirnya dikeroyok dan berakhir dengan 50% kekalahan…

    Isu syariat Islam memang sering digemboskan untuk menjegal langkah PKS, padahal kita tahu bahwa tidak ada agenda itu di dalam PKS, justru PBB lah yang secara gentle, terang2an memperjuangkan syariat Islam dengan ruh Masjumi-nya!

    PKS lebih tepat dikatakan memperjuangkan dakwah politik, membentuk masyarakat madani dengan menerapkan nilai2 pemerintahan yang lebih islami, menerapkan model2 universal sukses syariah yang bisa diterima semua kalangan…

    Adakah parpol2 Islam dapat bersatu? Sulit rasanya, seperti halnya parpol2 nasionalis sekuler, itulah saya jadi jenuh dengan parpol2 di Indonesia ini terlalu banyak namun kebanyakan tak ada beda, hanya segelintir saja…

    Like

  3. aku pikir, PKB & PAN bukan lagi sebagai partai Islam. Keduanya telah berhaluan nasionalis (religius) yg melandaskan Pancasila sebagai ideologinya. Itulah sebabnya PKB melahirkan PPNUI & PKNU, sementara PAN melahirkan PMB.

    untuk PKS, aku rasa partai ini yg paling serius, organisasi rapi, kinerja kontinyu, kadernya solid dan rata2 para pemuda yang intelek & saleh. Uniknya PKS tidak memilih ormas tertentu sebagai basis masanya. Aku pikir PKS ingin merangkul semua kalangan menjadi satu & hanya menjadikan Quran-Sunnah sebagai pedoman (istilahnya PKS ingin berislam dengan kajian keilmuan bukan dengan tradisi turun temurun), PKS ingin menampilkan sistem nilai2 universal syariah untuk semua golongan, bukan syariat Islam legal formal seperti apa yang diperjuangkan PBB.
    entah jika PKS pun ada agenda ke sana, hanya aku pikir PKS ingin membenahi dulu dasar2 aplikasi keislaman. Syariat formal mungkin saja diberlakukan jika “Masyarakat Madani” tadi sudah terbentuk, walaupun masih panjang 30 atau bahkan 1o0 tahun lagi.
    untuk saat ini dan kedepannya rasanya peran PKS hanya sebagai partai dakwah, menghidupkan pemerintahan yang lebih islami, lebih kepada nilai2 universal seperti pembenahan citra pemerintah, anti korupsi, pelayanan masyarakat, dsb. Aku pikir langkah mereka sekarang ini ya seperti itu.

    PPP aku setuju ini “jadul” tidak banyak komentar, seperti juga anaknya PBR, tanpa Zainuddin M. Z. rasanya juga kurang menarik untuk dibahas.

    PBB, walaupun tegas memperjuangkan syariat, rasanya PBB akan stagnan tapi lumayan lah untuk tidak turun suara seperti PKB atau PPP dan PBR mungkin. Ini hanya analisisku saja.

    Like

  4. wahai umat Islam bersatulah
    rapatkan barisan jalin ukhuwah
    luruskan niat satukan langkah
    kita sambut kemenangan

    dengan persatuan galang kekuatan
    panji Islam kan menjulang
    tegak kebenaran hancur kebathilan
    gemakan takbir Allahu Akbar

    Like

  5. Era 1955 dan 1971 partai Islam memang menarik (ditandai dengan Masjumi, NU, PSII, dan Perti).

    Tapi setelah era ORBA (1971-1997), parpol2 Islam dihilangkan, disatukan ke dalam PPP yang nyatanya juga tidak begitu terlihat Islami.

    Mungkinkah era 2009 menjadi kebangkitan? Atau justru kemandekan? Citra parpol2 Islam pun mayoritas sama saja dengan nasionalis sekuler, hanya sedikit mungkin yang tetap Islami di mata rakyat.

    Like

  6. Partai nasionalis sekuler sudah membuat rakyat sedih, parpol Islam juga sama saja, hanya sedikit yang benar2 niat memperbaiki bangsa ini.

    Like

  7. Tukang Ngarang,
    Aku pikir bukan dihabisi, tapi juga gara2 internal factors di tubuh parpol2 Islam itu sendiri…

    Hanya sedikit yang bener2 serius berpartai, yang lain maaf aja, aku pikir hanya berdagang sesuatu yang instan…

    What do u think?!

    saya kira, faktor internal itu betul, tapi tentu itu bukan penyebab tunggal. Soal pedagang itu…hahahaha…pikiran kita sama juga kayaknya.

    Like

  8. Darmogandul, saya sedih membaca pernyataan Anda, semoga hati Anda dibukakan untuk menerima indahnya dunia yang beraneka ini…

    Like

  9. waktu PKS memberikan wacana pemimpin muda langsung dapat tanggapan yang miring dan langsung dikeroyok sana sini, padahal itukan baru wacana ? PKS memang partai dakwah tapi perlu dketahui PKS tidak menghimpun orang islam saja, contoh kalo anda pernah liat di TV .. di Papua orang nasrani menghimpun teman2nya untuk mendirikan DPD PKS dan anggotanya 75% Nasrani ?, tolong diteliti ..dan buktikan ! utk Non Islam PKS tidak pernah memusuhi apalagi menghancurkan, PKS berkeyakinan keragaman adalah kekuatan yang tak tertanding…anda yang non islam berdakwalah sesuai keyakinan anda masing2. agamamu…agamu agamaku…agamaku, yang penting bagaimana negeri ini bisa gemah ripah lohjinawi (istilah org jawa) murah sandang murah pangan, aman tentram, untuk darmogandul semoga anda diberi hidayah oleh ALLAH amin

    Like

  10. “Syahwat yang Menghancurkan”

    Allah menitipankan tiga karuniaNya kepada manusia: Qolbu (hati), Aqli (akal) dan Syahwat (nafsu). Masing-masing menjalankan fungsi dan perannya. Namun, kunci paling penting dalam hal ini adalah Qolbu.

    Qolbu berfungsi baik, jika Aqli mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Namun, yang sering terjadi, Aqli justru tidak berfungsi dengan baik, karena syahwat selalu mempengaruhinya.

    Akibatnya, sudah bisa ditebak, Qolbupun tercemar. Tercemarnya Qolbu, sudah pasti berpengaruh besar dalam setiap tindakan, sikap, fikiran serta perkataan seorang insan.

    Rasulullah Muhammad SAW berkata; “jangan sekali-kali kamu meminta-minta jabatan (kekuasaan). Sebab, nantinya jabatan (kekuasaan) tersebut yang akan memberatkanmu”.

    Dalam hal ini Rasullah Muhammad SAW sudah mewanti-wanti Ummat Islam, pergunakan Aqli dengan baik agar mampu menghempang Syahwat. Sebab meminta-minta itu identik dengan Syahwat.

    Remuknya partai Islam, tentunya, ketika asset maupun pemimpin Islam terpengaruh Syahwat. Ingin berkuasa, ingin memiliki jabatan, ingin terpandang dan sebagainya. Berdalih memperjuangkan kepentingan Ummat Islam, berkelompok-kelompok mereka muncul ke permukaan.

    Pertanyaanya: kalaulah memang benar ingin memperjuangan kepentingan Ummat Islam, mengapa tidak bergabung dalam satu kekuatan saja?

    Padahal, Tuhannya sama, Rasulnya sama, Kitabnya sama, Qiblatnya sama, Sholatnya sama. Bahkan ketika ‘mati’ hadap mayit sama satu arah. Tapi, ketika (katanya) memperjuangkan nasib Ummat Islam, koq ogah sama?

    Dalam kaitan ini, jelas terlihat bahwa mereka yang mengaku memperjuangkan kepentingan Ummat Islam melalui masing-masing kelompoknya, semata-mata mendahulukan nafsunya.

    Sederhana koq memberi pelajaran bagi mereka itu. Ummat Islam hanya satu pilihan. Seluruh Ummat Islam di Indonesia “bersatu” hanya mencoblos satu partai Islam saja. Partai apa? Pergunakan Aqli, Tanya Qolbi. Beres…!, begitu kan Wan….?

    pergunakan aqli tanya qalbi….darimana abang dapat kalimat itu …wah sering kupake ini, ndan….hehehehe😀

    Like

  11. waduuh…waduuuuh om yg merayat ni ceramahnya bagus juga, bener-bener om.., kenapa kita tidak satu partai aja (Partai Islam gitu lo !) tapi perlu diingat om kita harus persatukan pendapat dulu dengan Muhammadiyah dengan NU, dengan HT, orang2 Tarbiyah dan teman-teman kita di organisasi yang lain..! Bisa nggak ya Om ? (buat rakyat bicara)

    Like

  12. Saya rasa akan sulit jika hanya ada satu parpol nasionalis (sekuler dan religius), satu parpol islam, satu parpol kristen. Karena di internal mereka pun banyak perbedaan kepentingannya.

    Apakah sanggu semua parpol nasionalis bergabung ke PDIP?
    Apakah sanggup semua parpol islam bergabung ke PPP?
    Apakah sanggup hanya ada satu parpol kristen ke PDS?

    Sulit, walaupun bisa pasti melelahkan jalannya…

    Like

  13. Allah dan Al-Qur’an

    Mohon maaf, jika saya sedikit merujuk Firman Allah dalam Al-Qur’an, yang seharusnya menjadi petunjuk bagi pemimpin Islam. Tapi, maaf lagi, saya juga Ustadz, sehingga banyak (mungkin) penyampaiannya kurang sempurna.

    Dalam Surah Al-Hujuraat ayat 13 Allah SWT berfirman:

    “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”

    Kemudian, Dalam Surah An-Nisaa’ ayat 1:

    “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur-rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.

    Kalau saya tidak salah tafsir, kedua ayat tersebut memberi isyarat, Ummat Islam meskipun berkelompok-kelompok bukan saling menjatuhkan (seperti parpol Islam di Indonesia), tetapi harus saling kenal dan membina silaturrahim. Nah, agar tidak sailing menjatuhkan, tentunya harus bersatu dengan berlandaskan ketaqwaan kepada Allah SWT.

    Nah, kondisi yang terjadi di lingkungan parpol Islam, (saya lihat) cenderung mengikuti syahwat. Syahwat untuk menjadi pemimpin, penguasa dan sebagainya, dilarang oleh Rasulullah Muhammad SAW.

    Dalam Surat Al-A’raaf (ayat 27) Allah SWT berfirman:

    “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman”.

    Yang saya khawatirkan, berpalingnya para pemimpin Islam di Indonesia, dari ajaran Islam, akan membawa azab bagi Ummat Islam, sebagaimana yang terjadi pada kamu Saba’

    Surat Sabaa’ (ayat 15):

    “Sesungguhnya bagi kaum Sabaa’ ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.(kepada mereka dikatakan): Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Rabb-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya.(Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabb-mu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun”.

    Ayat 16

    “Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr”.

    Allah SWT juga telah mewanti-wanti seluruh ummat agar tidak menurutkan hawa nafsunya hanya untuk kepentingan dunia semata. Surat Al-A’raaf (ayat 176) menyebutkan:

    “Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”.

    Saya kira, bermodalkan ayat-ayat Allah tersebut, sudah cukup bagi para pemimpin (khususnya partai) Islam di Indonesia, menyatukan langkah demi tercapainya kemakmuran ummat. Jangan memikirkan dan memintingkan ego masing-masing. Pergunakan Aqli, Tanya Qolbi..! Gitukan Wan…., ha ha ha…

    cocok bang…silaturahim ajanya kuncinya itu🙂

    Like

  14. Masya Allah. Subhanallah. Kapan yah negeriku yg subur dan kaya menjadi sebab umat Islam ini bersyukur, pulaunya, lautnya, gunungnya, sungainya, hutannya dan lembah2nya yang indah dan mengandung banyak kekayaan yg manfaat bagi kehidupan. Semoga umat ini bisa bersyukur. Untuk mensykurinya kita sesama umat Islam bersatu dan melaksanakan ajarannya secara benar2 Islami dan ikhlas.
    Jauhi dari cakar2an dan memecah belah sesama umat Islam dan bangunkan persatuan dan berbuat amalan shalih sebanyak-banyaknya.
    Para ulama dan para umarao, para politisi dan kaum cerdik cendekia dimana dir2 mereka menjadi contoh teladan berbuat dan berperilaku yg akhlakul karimah. Jauhkan dari perbuatan nista, maksiat dan aniaya. Dekatkan pada amalan shalih, dan berakhlak, serta bershodakah dari harta2 yg halal. Sehingga umat dan insan lain bisa mendapatkan rahmat dan berkahnya. Benar2 negeri ini dan amal manusianya semua menjadi Islami, selamat adil dan makmur dunia akhirat. Amin.

    Like

  15. Masya Allah. Subhanallah. Kapan yah negeriku yg subur dan kaya menjadi sebab umat Islam ini bersyukur, pulaunya, lautnya, gunungnya, sungainya, hutannya dan lembah2nya yang indah dan mengandung banyak kekayaan yg manfaat bagi kehidupan. Semoga umat ini bisa bersyukur. Untuk mensykurinya kita sesama umat Islam bersatu dan melaksanakan ajarannya secara benar2 Islami dan ikhlas.
    Jauhi dari cakar2an dan memecah belah sesama umat Islam dan bangunkan persatuan dan berbuat amalan shalih sebanyak-banyaknya.
    Para ulama dan para umaro, para politisi dan kaum cerdik cendekia dimana diri2 mereka menjadi contoh teladan berbuat dan berperilaku yg akhlakul karimah. Jauhkan dari perbuatan nista, maksiat dan aniaya. Dekatkan pada amalan shalih, dan berakhlak, serta bershodakah dari harta2 yg halal. Sehingga umat dan insan lain bisa mendapatkan rahmat dan berkahnya. Benar2 negeri ini dan amal manusianya semua menjadi Islami, selamat adil dan makmur dunia akhirat. Amin.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s