Kasus Zakat, Bukan Riya Tapi Kemiskinan dan Kepercayaan


Terus terang saja, saya bersimpati dengan H Suchoin, saudagar yang ketiban “sial” sewaktu heboh kasus pembagian zakat di Pasuruan kemarin. Dari berita-berita yang muncul kemudian, makin muak saja saya kepada Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai Presiden RI, dan Jusuf Kalla, si Wapres itu.

Kedua orang ini memandang kasus ini jelas dengan kacamata “politisi” dan bukannya kemanusiaan. SBY misalnya. Dia dengan enteng mengomentari kasus ini dengan “normatif” – menugaskan Menteri Agama dan jajaran kepolisian untuk mengusutnya- sembari mengatakan kasus ini bukan kasus kemiskinan. Di tengah tewasnya orang miskin dan kebetulan pula ada orang yang berbaik hati membagi hartanya dan kemudian menerima hujatan seantero negeri, dia masih berkampanye ria dan takut sekali kasus itu akan menjatuhkan citranya.

Dan si Jusuf Kalla malah tambah sableng lagi. Dia berkata, 19 Juta penerima BLT tidak ada yang tewas. Si saudagar dari Makassar ini malah mengatakan, ayahnya sudah dari membagikan zakat dan hal itu membuktikan kemiskinan sudah ada sejak dulu, dan bukannya hanya ada pada pemerintahan mereka sekarang.

Artinya sudah jelas, kedua orang ini, takut sekali popularitas mereka yang sudah turun drastis itu akan makin anjlok menjelang pemilihan Presiden 2009. Hingga sekarang, saya tak mengerti, apa yang ada di benak pemilih mereka di 2004 yang lalu.

Tapi itu lain soal-lah. Saya akan tulisan muaknya saya melihat kedua orang ini dalam tulisan tersendiri.

H Suchoin ini, bagi saya adalah dermawan. Kasus ini menurut saya adalah cobaan dari Allah kepada dia dan keluarganya. Dia adalah perlambang, bahwa masih ada di negeri ini orang-orang yang mau membagi-bagi rezekinya kepada orang lain. Dia tidak berapologi, tidak berpikir yang muluk-muluk. Negara ini miskin dan kemiskinan tidak bisa diselamatkan dengan teori kemiskinan dan strategi kemiskinan. Jangan berteori “berilah kail bukan ikan”, tapi kemudian yang terjadi adalah jangankan ikannya, kailnya pun tak pernah sampai kepada orang miskin.

Persetan dengan “riya”, karena ini saatnya memberi dan membagi, bukannya berdebat. Kalaupun Tuhan benar menganggap itu “riya”, minimal ratusan (mungkin ribuan) orang miskin yang mengantre kepadanya sudah dapat duit dan bisa makan. Itu dulu dilakukan.

Masih untunglah negara ini memiliki H Suchoin, di saat saudagar lain diam-diam tak pernah membayarkan zakat hartanya dan berlomba-lomba membayar zakat fitrahnya. Mereka bersembunyi di balik topeng “menghindari riya”, “memberi adalah ketika tangan kiri tak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanan”, dan seterusnya. Padahal, dari situ saja, kita sudah bisa meragukan, benarkah mereka membayarkan zakatnya?

Sudah terlambat kita mengetahui berapa dana yang dikorupsi mereka yang mengelola zakat. Kita tidak pernah awas soal pengelolaan harta umat ini selama 11 bulan di luar Ramadhan. Dan Tuhan menunjukkan itu semua di Ramadhan kali ini. Berapakah dana zakat kita dan bagaimana peruntukannya? Mengapa makin banyak zakat yang dikumpul yang makin sejahtera itu justru amilnya dan bukannya fakir miskin?

Saya bersimpati dengan H Suchoin. Dia sedang mendapatkan ujian langsung dari Tuhan. Tapi bagi saya, peristiwa ini adalah peristiwa kemiskinan dan krisis kepercayaan yang berlangsung dengan sangat-sangat parahnya di negeri ini.

2 thoughts on “Kasus Zakat, Bukan Riya Tapi Kemiskinan dan Kepercayaan

  1. Gw rasa loe bener. Inti permasalahannya, mulai dari ribuan antrian yg mau nerima zakat yg cuman senilai Rp30.000, sampai kinerja Polisi yang kerja nya enggak responsif dan gesit dan cuman bisa bilang ‘tidak tahu’ ketika ditanya kenapa diamankan jalannya pembagian zakat, adalah KEMISKINAN.

    idem

    Like

  2. Pembagian zakat fitrah atapun mal yang dilakukan secara langsung dibagikan kapada mereka yang berhak tersebut lebih dikarenakan ketidak-percayaan seseorang (banyak orang juga) terhadap lembaga2 penyalur zakat yanga ada, seperti Lazis, Bazis, Bazda, DLL.
    Apa iya zakat aku sampai ke yang berhak? itu adalah pertanyaan logis para pemberi zakat ketika menyalurkan zakat-nya lewat badan2 tersebut.

    tragedi zakat adalah tragedi kemanusiaan. Seandainya, para orang kaya mau berbagi, artinya misalkan dalam kota ada 5000 orang miskin. Si A akan membagi zakat-nya untuk 1000 orang miskin. Si B untuk 500 org miskin yg lain lagi, demikan juga dengan Si C dan Si D atau pun Si E. maka mungkin tidak terjadi tragedi tersebut. Ini cuma seandainya……..

    semoga Kanjeng Gusti ALLAH SWT menerima amal ibadah kita semua… amin…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s