Amien Rais (2)


Amien Rais: Antara Imam dan “Njawani”
* * *

Tersungging senyum di bibir saya ketika mendengar dan membaca kalau Amien Rais bakal maju ke pentas pemilihan presiden 2009. Saya sudah menunggu-nunggu ini. Anda boleh senang atau tidak terhadap pilihan saya, tapi saya sudah memilih sosok ini menjadi Presiden.

Pekerjaan rumah untuk menjadikan Amien Rais menjadi Presiden sungguh-sungguh berat. Yang dipunyai Amien sekarang hanyalah pena dan saya sungguh menyadari kalau hal itu tak pernah akan cukup. Bahkan, kalaupun Amien Rais mempunyai bala tentara yang siap mati demi dirinya, dia pun belum tentu menang.

Yang tak dipunyai Amien bukan hanya itu. Amien ini, bagi saya, terlalu “njawani”. Saya bukan sedang membuka sidang perkara SARA di sini. Tapi, Amien terlalu larut dalam pembawaan intelektual dan cendekianya. Dia lembut tapi imej yang lahir kemudian di benak masyarakat kita yang belum lagi beranjak kadar intelektualnya dari setingkat “mahasiswa” ini adalah “lembek”. Masyarakat kita itu masih menginginkan sosok seperti Soekarno, yang meledak-ledak, meletup, penuh semangat, mampu mengobarkan siapapun untuk berperang dengan apapun. Soekarno itu orang Jawa, tapi dia tidak “njawani”.

Amien punya kapasitas intelektual dan ideologi yang menyamai, bahkan melampaui Soekarno. Tapi di atas podium, di atas masyarakat yang menatapnya penuh harapan, dia seharusnya jangan terlalu lembut. Dia mesti mampu membakar dan menggerakkan. Pertemuan Amien dengan masyarakat seharusnya sudah melampaui level awal pergerakan Nabi Muhammad, “darul arqom”. Kini, Amien sudah harus bangun dari selimutnya dan mengumandangkan dengan lantang di tengah-tengah masyarakat yang buas, bodoh dan lapar itu. Di tengah-tengah ka’bah, di pusaran pergerakan masyarakat Mekkah, Muhammad meneriakkan tahlil tanpa pernah ragu-ragu terhadap resiko yang akan diterimanya.

Amien masihlah pria yang berselimut “intelektualisme”. Ia memberi pelajaran dan kuliah kepada satu lokal ke lokal lain, satu kampus ke kampus lain, satu kelompok ke kelompok lagi, satu daerah ke daerah lain. Saatnya, strategi “anak mahasiswa” ini dirubah menjadi lebih radikal. Dia sudah harus menguasai basis massa non Muhammadiyah dan berbicara dengan lantang di hadapan masyarakat luas.

Amien saya rasa tahu banyak soal itu. Dia profesor di bidang politik dan dengan kekhususan politik timur tengah. Politik timur tengah mengajarkan solidaritas, konflik kesukuan dan ghirah politik yang sangat tinggi. Pemimpin di sana haruslah orang-orang yang mampu membakar setiap orang untuk bergerak. Mungkin, di sana, Soekarno bakal tak ada apa-apanya. Karena di sana, setiap pemimpin haruslah orang yang sedari kecil sudah dibesarkan dalam arena pertempuran, diajari berkelahi (memanah, berenang dan menunggang kuda). Soekarno tak bisa berkelahi tapi Amien sudah dikenal sebagai salah seorang pendekar Tapak Suci, salah satu organisasi otonom Muhammadiyah yang lebih merupakan organisasi bela diri.

Dia punya kemampuan itu, tapi tak dikeluarkannya di 1999 dan 2004. Di dua periode sejarah ini, Amien lebih bertindak sebagai cendekiawan, yang mengajari bangsa berpolitik secara sehat dan bermartabat. Nah sekarang, saatnya tidak seperti itu lagi.

Amien, bila memakai unit analisis Imam Khomeini, mesti menjadi ulama tertinggi. Ulama tertinggi adalah pemimpinnya kaum ideolog yang membawahi kelompok cendekiawan, intelektual dan lapisan masyarakat luas. Ulama adalah pemimpin. Konsep ulama itu sangat berbeda dengan konsep “ustad” atau “guru mengaji”. Itulah makna yang diungkapkan Muhammad kalau “ulama adalah pewaris para nabi”.

Amien harus bertindak terhadap kekuasaan dengan mengambil kekuasaan itu. Dia harus bermain di ranah itu. Tugas-tugas cendekianya sudah harus diwariskan dan sepatutnyalah para pewaris-pewarisnya itu tahu diri untuk tidak lagi membebani Amien dengan tugas-tugas kecendekiawanan.

Muhammad, punya lingkaran sahabat yang bertugas dalam soal-soal kecendiakawanan dan intelektualisme. Imam Ali, khalifah keempat dalam konsep Sunni, juga punya kelompok cendekiawan tersendiri. Muhammad dan Ali adalah pemutus kebijaksanaan yang penuh kearifan, keadilan, kelembutan dan kasih sayang. Muhammad kadang mengutus Abu Bakar, Umar, Utsman dan kelompok sahabat utama lainnya dalam hal-hal khusus maupun umum. Sementara soal kenegaraan, kemanusiaan, kebangsaan dan kekuasaan menjadi urusan Muhammad sebagai rasul Allah di muka bumi.

Amien selayaknya bersikap sebagai seorang manusia “utusan” Tuhan. Dia bukan nabi dan rasul, tapi wajiblah mengikuti Muhammad.

Toh, bukankah namamu itu Muhammad Amien Rais?

* * *

foto: dari kapanlagi.com

25 thoughts on “Amien Rais (2)

  1. saya akan jd orang plng bahagia, kl Amien bs jd Presiden
    tp Amien sdh kehilangan peak performance-nya
    Amien sudah kehilangan momentum

    comeback setelah kalah pd pilpres 2004,
    bukanlah langkah bijaksana
    rakyat Indonesia blm cukup cerdas utk dpt dan hrs
    memilih Presiden sprti Amien
    daripada menerima kekalahan kedua yg lbh menyakitkan
    lbh baik Amien tak maju dan
    selanjutnya memposisikan diri sbg GURU BANGSA

    Insya allah, saya cukup objektif memandang Amien Rais. Posisi guru bangsa itu merupakan bumerang tersendiri bagi kemajuan Indonesia. Dia bakal dikebiri di sana, karena persoalan di Indonesia kemudian tak bisa diselesaikan oleh konsep “guru bangsa”. Salah satu kekurangan konsep itu adalah tidak adanya kekuatan eksekusioner dalam perubahan. Itulah yang saya singgung dalam tulisan ini walau dalam kalimat lain yaitu “intelekual dan kecendikiawanannya”. Dia sudah melewati posisi itu. Rakyat Indonesia pun tak perlu cerdas untuk memilih Amien. Saya rasa, itu merupakan kondisi yang direkayasa oleh lawan-lawan Amien yang ingin menghambat perubahan dan kemajuan di Indonesia. Saya ingin mencontohkan naiknya Soekarno yang bahkan di tengah-tengah kebodohan Indonesia waktu itu, Khomeini ketika ilmuwan Iran bahkan belum melek nuklir, dan seterusnya. Penduduk Amerika tak harus diset sepintar Eropa atau Amerika dulu untuk memiliki Presiden yang cerdas dan ideologis. Intinya adalah substansi persoalan bangsa. Dan ini tak bisa dijawab dengan wacana tua-muda yang insulting intelligent itu. Itu dulu.

    Like

  2. Ketika memperbincangkan siapa sepatutnya Presiden RI yang akan didukung oleh JARE-SMART (Jaringan Relawan Untuk Suksesi Bermartabat), selaku Koordinator Umum yang menawarkan topik ini ke seluruh jaringan di Sumatera Utara, saya terima banyak sekali sms. Tak semua dapat saya kemukakan di sini, tetapi mengenai Amien Rais inilah ekstrim yang muncul:

    (1) Sekarang kita semakin terpuruk, mending masa orde baru. Ini semua gara-gara Amien Rais dengan reformasinya yang sial itu.
    (2) Amien Rais itu suka berubah-ubah. Ia angkat Gus Dur jadi Presiden, lalu ia turunkan lagi. Mungkin PDIP dan tak akan pernah bermimpi memperoleh seorang Presiden dari Partainya, dan tak akan ada mimpi itu buat semua keturunan Bung Karno, jika bukan karena Amien Rais turunkan Gus Dur.
    (3) Amien Rais musuh NKRI, ia pewarta terbaik melebihi Riyaas Rasyid tentang ide Federalisme yang akan mengoyak-ngoyak Republik ini menjadi bagian-bagian kecil dan sepele.
    (4) Amien Rais itu sudah mandul, wong diberi jabatan tertinggi di lembaga tertinggi (MPR) saja dia gak mampu berbuat apa-apa. Tutuplah sejarah Amien Rais.
    (5) Amien Rais? wah maaf, dia itu anti qunut. Sorry deh, bang.

    Di kalangan aktivis JARE-SMART yang saya asuh sejak tahun 2007 awal itu pada umumnya tidak terdapat sentimen bersifat pribadi terhadap figur Amien Rais, hanya saja tak pernah berkesempatan mendalami permasalahan bangsa. Akhirnya terbentuklah pemahaman seperti tercermin dari sms-sms yang saya kutip tadi. Memang, arus besar politik di negeri ini sedang menjalani sebuah proses yang mirip sebuah kebanjiran kampung. Heboh, dan akan bermunculan banyak sampah di permukaan air. Sampah-sampah bermunculan itu bukan cuma beraneka, tetapi sukar pula dibedakan apakah ia sampah atau sesuatu yang lain. Padahal sesungguhnya kita sedang mencari sesuatu yang lain, bukan sampah (Maaf, perumpaan yang bisa dianggap kelewatan).

    Dan memang, dalam sebuah pertemuan khusus beberapa waktu lalu, akhirnya aktivis yang datang dari hampir semua Kecamatan di Sumatera Utara, diperdapat kesimpulan bahwa jika hanya SBY, Megawaty, Wiranto, Prabowo, Sutrisno Bachir dan figur-figur sekelas itulah yang akan maju berebut kursi RI 1 pada Pilpres 2009, kelihatannya Amien Rais lebih baik didorong maju lagi. Kita tidak sedang kesulitan menghabiskan anggaran trilyunan untuk agenda rutin pergantian lima tahunan Presiden, terlebih sudah dipastikan tak akan menjanjikan perubahan yang maslahat bagi rakyat.

    Amien Rais tentu tidak boleh lagi membiarkan social ignorance yang menggejala selama ini terhadap dirinya, dia harus mempunyai aparat tangguh untuk proses penyadaran dan pencerahan politik itu. Ia juga harus memberi lead yang benar tidak saja kepada aparat resminya PAN, tetapi juga partai-partai lain yang relatif lebih mudah diberi pemahaman.

    Anda benar, Tukang Ngarang, kedekatannya dengan rakyat harus lebih tak berjarak. Berdirilah di tengah rakyat, melebihi apa yang sudah dia lakukan selama ini.

    Akhirnya, pertanyaan ini perlu dijawab oleh Tukang Ngarang, dari mana dana kampanye? Figur saja tak cukup, betatpun amat memukau. Networking harus dibenahi rapih. Lalu, budgetting. Ya. Budgetting. Bagi saya ketiganya (figur, networking dan budgetting) harus serasi. Saya jamin Amien Rais tidak memiliki uang, bahkan untuk membiayai keperluan seperti iklan yang sekarang sedang ditayangkan di televisi.

    So, apa gerangan yang akan Anda perbuat, wahai Tukang Ngarang?

    Bahkan bila ketiga titik yang sangat-sangat ideal itu sudah dimiliki oleh satu orang pun, belum tentu ia akan menjadi Presiden, gubernur, atau Bupati. Bukankah begitu?🙂

    Like

  3. selama masa liburan kemarin, setidaknya empat kali saya bertemu amien rais. pertemuan pertama di pertengahan bulan juni. saya dan beberapa teman “aktivis” ke rumah amien rais di gandaria, bertukar pikiran mengenai rencana kenaikan harga BBM dan berbagai ekses politik yang mungkin terjadi, juga rencana membentuk Komite Penyelamat Kekayaan Negara (KPKNegara).

    pertemuan kedua di bandung. ketiga di hotel bidakara, dalam sebuah sarasehan tertutup yang juga dihadiri gus dur. dan keempat di kediamannya beberapa hari sebelum saya kembali ke hawaii. dalam pertemuan terakhir saya membawa profesor dari hawaii yang sedang meneliti tentang islam di indonesia.

    hormat saya pada amien rais tak berkurang. dia punya karakter yang kuat sebagai politisi dan negarawan.

    persoalan bagi amien rais di tahun 2009 adalah momentum. adakah momentum itu? dia mengatakan, akan menimbang untuk maju dalam pilpres bila hasil poling menyebutkan popularitasnya di atas 10 persen.

    saya ingat, menjelang pemilihan presiden 2004 lalu, saya dan teman-teman di redaksi beberapa kali mengunjungi amien rais untuk meyakinkan bahwa dia adalah orang yang tepat untuk memimpin negara.

    sayang, politik semir SBY jauh lebih kuat. despot dan penipu hanya sukses di tengah masyarakat yang gemar candu dan merasa sudah lelah berjuang.

    reformasi kita, sejauh ini, memang berantakan. dimanfaatkan oleh para penunggang gelap. tetapi jangan mundur ke belakang, kawan.

    untungnya, tulisan ini bukan romantisme masa lalu. Persoalan kekuasaan dan “imam” sebuah negara tidak bisa diserahkan dalam sebuah “percobaan atau eksperiman politik”. Adalah keanehan ketika kita terus mengharapkan sesuatu akan terjadi atau “akan” terjadi di masa depan dengan menanamkan sedikit benih di sebuah pesawahan yang terletak di gurun pasir. Kalau memang dia orangnya, maka pilihlah dia, tapi bila memang bukan dia orangnya, tunjukkan kepada semua orang siapa orangnya. Dengan demikian, Amien tak butuh momentum itu, karena kekuasaan bukanlah pemberian gratis dari Tuhan.

    Siapakah yang naif sekarang?😀

    Like

  4. “Amien punya kapasitas intelektual dan ideologi yang menyamai, bahkan melampaui Soekarno”

    Orang Indonesia berlomba – berlomba mengejar romantisme masa lalu. Di sisi lain, hal itu justru mengungkung (handcuff) mimpi – mimpi masa depan Indonesia. Padahal, dunia begitu cepat berubah. Setuju jika karakter para pendahulu kita serti Soekarno, Hamka, atau yang baik2 dari Soeharto dijadikan teladan. Tetapi ada sebuah pekerjaan yang menunggu, seiring berkembangnya dunia, perkembangan kehidupan di Indonesia juga berubah – rubah. Problema disintegrasi bukan lagi soal adil dan tidak adil, tapi masalah demi masalah yang menumpuk dari waktu ke waktu.
    Satu hal yang sangat disayangkan dari kehidupan Indonesia saat ini adalah, tidak pernah ada will yang serius dari pemerintah sebagai pemegang amanat penderitaan / kebahagiaan rakyat untuk mengajak bangsa ini lebih “beragama”.
    Saya muslim dan saya tidak mengatakan kalau seluruh orang Indonesia menjadi muslim. Tetapi salahkah mengembalikan segala masalah kepada Tuhan saat tangan manusia tak lagi menjangkau?
    Saya membayangkan Presiden Indonesia 2009 akan berpidato pada pertama kalinya”

    “MARI RAKYAT INDONESIA, KITA TUNDUKKAN KEPALA KITA, MENYERAHKAN DIRI KEPADA TUHAN.TAKUTLAH AKAN TUHAN….BERTAQWALAH…LALU BERUSAHALAH NISCAYA TUHAN MENGABULKAN HARAPAN KITA. SAYA MENGAJAK UMAT ISLAM UNTUK MEMENUHI MASJID SETIAP WAKTU SHOLAT, UMAT KRISTIANI MEMENUHI GEREJA SETIAP MINGGUNYA, UMAT HINDU MEMENUHI PURE, UMAT BUDHA MEMENUHI VIHARA…MARI KITA BERTUHAN, MEMINTA RAHMAT DAN DIJAUHKAN DARI BALA, LALU BESOK KITA BEKERJA LAGI DENGAN PENUH OPTIMISME”

    Ini bukan negara agama, tapi juga bukan negara syaitan dan apa yang bisa kita perbuat tanpa Agama?

    Like

  5. Pertanyaan saya: mau diapakan Sutrisno Bachir? Sutrisno Bachir sang saudagar kan sudah merasa membeli PAN dari Amien Rais dan ia perlakukan sebagai instrumen non idiologis sebatas urusan political benefit terbatas.

    😀 Soetrisno jelas orang pintar. Dia bisa membungkus masalah pribadi yang melilit dirinya dengan waktu yang singkat dan hasil yang mantap. Tapi, sepintar-pintarnya Sutrisno, toh profesornya masih Amien. Sutrisno akan aman-aman saja. He had knew that.🙂

    Like

  6. Amin Rais jadi presiden? katanya dia konsisten…kalau dia konsisten dengan ide federalismenya, wah lebih baik jangan ah!
    Terus, Anda menulis:

    “Amien punya kapasitas intelektual dan ideologi yang menyamai, bahkan melampaui Soekarno”

    Justru intelektualitasnya saya pertanyakan. Sebagai orang yang pada era reformasi mempunyai posisi dan pengaruh dan memberi harapan bagi rakyat, analisis yang dikeluarkannya sungguh sangat membawa akibat tak terperi hingga sekarang pada bangsa ini. Analisisnya tentang penyebab utama bangsa ini adalah sekedar KKN! tak perlu bergelar doktor politik untuk sekedar mengatakan KKN-lah penyebab utama hancurnya bangsa ini. Tapi sebagai doktor politik, mestinya dia tahu dan memberitahu rakyat bahwa dibalik semakin akan jatuhnya Suharto sang diktator, juga ada kepentingan kaum neoliberal dan neoimprealis! KKN itu ada dimana2 di dunia ini. KKN memang harus dibasmi, tapi jangan sampai issue KKN itu malah menutupi persoalan dan bahaya yang lebih besar lagi yaitu neoliberalisme dan neoimprealisme!
    Akibat simplifikasinya itu, rakyat yang marah pada Suharto tanpa sadar ikut dalam strategi neoliberalisme itu. Lihatlah akibat kedangkalan intelektualitas Amin saat ini:

    1. Indonesia terjebak dalam satuan-satuan politik yang terpolarisasi (otonomi daerah ala borjuis, bahkan dia kumandangkan pula federalisme dengan analisis dan contoh yang secara mendasar salah, misalnya dalam memberi contoh negara federal yang makmur padahal negara yang dia sebut itu negara kesatuan!)
    2. Konstitusi jadi amburadul (saat dia menjabat sebagai ketua MPR! Sebagai Ketua MPR Amin mestinya sangat memahami filosofi konsitusi yang diperjuangkan dengan darah oleh bangsa ini, bukan disusun berdasarkan kegenitan intelektual semata!). Pasal-pasal yang progresif di UUD 1945 akhirnya juga dipreteli (Pasal 33)
    3. Akibat amandemen (bukan addendum) itu, lahirlah berbagai UU proneoliberalisme dan neoimprealisme yang disponsori oleh USAID, IMF, dan World Bank. Indonesia juga semakin tunduk pada WTO (World Trade Oraganisation). Lahirlah UU Air, UU Migas, UU Perkebunan (sudah banyak memakan korban ditangkapnya para petani, UU Sumberdaya Genetik, dll. yang semuanya secara gambalng adalah penjualan/privatisasi asset-asset negara kepada pihak asing dan kompradornya di tanah air. Alasan utama penjualan adalah agar tidak ada lagi KKN (padahal korupsi terbesar adalah dilakukan para MNC/TNC itu!) Indosat dijual (zaman Mega), subsidi semakin dihapus, impor dibuka selebar-lebarnya.
    Ini sekedar contoh fatal kesalahan intelektualnya…
    Jadi, Amin memang berjasa menumbangkan Suharto, tapi Amin memberi konstribusi besar bagi berlangsungnya neoliberalisme dan neoimprealisme di negara ini. Kesalahannya ini, hampir saja setara dengan akibat yang ditimbulkan Suharto! Suharto selain koruptor, juga pembunuh. Suharto memberi akses pada Mafia Berkeley, ketika Suharto bangsat itu lengser, Amin justru memberi jalan pada Mafia Berkeley ini lagi! Amin bukan pembunuh dan koruptor, tapi kesalahan (keangkuhan?) intelektualitasnya, memberi konstribusi bagi terjerembabnya bangsa ini menjadi bangsa budak! Bangsa yang mempunyai pejabat yang tahunya hanya menjadi penjual negara!

    Setelah Amin gagal jadi presiden, bisa-bisanya dia menulis di kompas tentang progressifnya pemerintah di Venezuela (Chavez) dan Evo Morales (Bolivia) dan Amin menuliskannya dengan gaya populer: bahwa semestinya kita belajar dari mereka!… wah, Anda salah Bung Amin, semestinya ketika menjadi Calon Presiden itu Anda lontarkan ide-ide yang revolusioner itu! ketika gagal jadi presiden ide-ide revolusioner itu ditangan Anda jadi “ngepop” kehilangan api!

    Maaf bung, Amin tak pantas jadi presiden dan tak pantas jadi guru bangsa. Dia hanya sepenggal sejarah masa lalu…

    Terima kasih atas komentarnya.🙂

    1. Saya kira Amien berada dalam posisi anti neoliberalisme itu. Amerika dan Eropa adalah pihak yang sama sekali tak menginginkan Amien jadi Presiden di negeri ini. Itu salah satu faktor mengapa dulu dia gagal menjadi Presiden. Riwayat Soekarno yang harus jatuh merupakan contoh gamblang soal pengaruh Amerika di negeri ini. Jadi, Amien sangat tahu itu dan hingga sekarang, toh Amien terus mengkampanyekan soal anti neoimperialisme di Indonesia ini. Tunjuk saja siapa di negeri ini yang terus berkampanye soal parahnya tangan-tangan asing di negeri ini, Anda akan menemukan Amien di sana. So, Amien melakukan itu, baik kampanye anti KKN dan juga kampanye antiimperalisme asing.

    2. Founding father bukan orang sepicik yang Anda kira itu. Mereka tahu UUD ’45 tak bakal terus bisa sesuai dengan zaman, maka mereka membuat pasal perubahan UUD 45.

    3. Undang-undang bukan wewenang MPR, tapi Presiden bersama DPR. Di sana, waktu itu dan kini, ada Gus Dur, Mega, dan SBY-JK. Sorotan Anda seharusnya kepada mereka-mereka ini bukan kepada Amien. Anda harus belajar tata negara untuk itu. Dengan demikian Anda bisa mengklasifikasi siapa yang pro Amerika Eropa siapa yang anti.

    4. Konsep otonomi daerah adalah desentralisasi seperti dalam UUD 45 dan pendekatannya adalah kesejahteraan penduduk di seluruh pelosok. Soeharto dan Soekarno telah mengabaikan pasal desentralisasi ini, selama lebih dari setengah abad Indonesia. Jadi, kalau desentralisasi mau dihapus maka Anda sama sekali telah mengangkangi keringat, darah dan nyawa para pendiri republik ini.

    Ohya, sejarah memang hanya ditulis oleh mereka-mereka yang menang. Jangan lupakan itu.🙂

    Like

  7. maaf bung ciput…
    menurut sy anda hanya sepenggal koment kacangan ….

    klo pa amin ga pantas lantas siapa yg pantas ?

    Like

  8. Nggak apa2 kalau bung jamalsmile mengatakan saya kacangan, toh kacang itu juga berguna dan dengan demikian saya tidak membahayakan secara sistemik bangsa ini seperti Amin Rais. Saya rela jadi sepenggal kacang. Apalagi akibat liberalisasi impor pangan, kacang kedele juga akhirnya diimpor!
    Menurut saya, yang terpenting saat ini adalah membangun kekuatan sosial dan politik rakyat, serta hati-hati dengan perangkap neoliberalisme. Jujur, saya juga nggak tahu saat ini siapa yang pantas..(bukankah ini yang jadi problem di bangsa ini, ketiadaan pemimpin alternatif)

    Like

  9. ehm……
    maaf…kok amien rais yg anda salahkan…
    bukankah dia tidak pernah memerintah….??
    menurut saya…2 presiden era reformasi (megawati & SBY)
    yg paling bertanggung jawab atas keadaan sekarang ini.

    menurut saya…
    kekuatan sosial politik yg kuat tanpa di dasari moralitas agama (ketuhanan)..itu hanya akan menciptakan “orde baru part 2”.
    masalah utama bangsa ini bukan pada sistem & undang2nya…..
    bukankah kita UUD 45…????
    kl itu di jalankan dgn baik benar…nggak bakalan kita terjebak dgn keadaan seperti ini.
    so….ada yg salah dgn moralitas kita…bisa jadi itu skrng sudah menjadi budaya.
    pertanyaannya…BISAKAH KITA MENURUNKAN KADAR EGOISME PRIBADI & GOLONGAN DEMI CITA2 YG LEBIH MULIA UNTUK BANGSA & NEGARA…??
    agar bangsa ini tegak berdiri dgn keadilan serta kesejahteraan.

    menurut saya….
    amien rais lah…yg paling tahu harus kemana reformasi ini berjalan…
    mungkin dia bukan yg terbaik…tp kl kita bandingkan dgn calon2 pemimpin yg ada…adakah yg lebih baik dr dia…???

    Like

  10. bung ciput.. sy akan kemukakan alasan knapa pola pikir anda sbenarnya tidak lebih besar dr sebutir kacang. pertama anda memberikan analisa stigma negatif dan secara subjektif kpd amin rais scara membabi buta tanpa memaparkan fakta2 ril yg objektif,menurut sy yg anda kemukakan adalah rasa phobia terhadap perubahan progresif pd bangsa ini. kedua anda secara terang2an dan tidak sadar bahwa anda tidaklah mengerti bgaimana fungsi2 lembaga itu berjalan,karna apa yg anda kemukakan pd intinya sebagian besar tertuju kpd pemerintah sbgai lembaga eksekutif atau pembuat kebijakan. dan yg ketiga atau yg terakhir kynya anda adalah orba sejati yg tdk menghendaki adanya perubahan atau amandemen dlm hal bertujuan penyempurnaan uud kearah bgaimana uud ini melindungi bangsa dan memberikan hasil yg positif kpd kesejahteraan rakyat pd umumnya.bahaya bg kita bila berfikir bahwa uud sbagai kitab suci yg tidak bisa diubah. smoga tuhan memberikan hidayah bg anda dam diberikan akal fikiran yg sehat. amien

    Like

  11. Ah, mantap juga tanggapan Bung Nirwan, walau dalam beberapa hal saya sepakat untuk tak sepakat dengannya tapi enak awak membacanya, ada konstribusi fikiran jernih disitu. Nggak kayak si Jamalsmile ini, jadi malas awak nanggapinya he..he
    Mohon pamit juga dari sini, bye…

    sip sip ….😀

    Like

  12. Pandangan yang bagus tentang pak Amien Rais. akan tetapi setiap naik taksi dan bicara soal politik, belum pernah ada supir taksi yang suka dengan pak Amien Rais. bisa saja benar yang dikatakan Pak Nirwan ini, dia pemimpin untuk kaum intelektual, bukan untuk yang masih memikirkan uang makan buat sore.
    Mencalonkan diri kembali menjadi presiden hanya akan menambah coreng moreng di muka Pak Amien, adat berpolitik dia berbeda, dan saya pikir diapun tidak akan sanggup untuk bermain sangat kotor seperti yang lain. tapi siapa yang tahu didalam hatinya, dia punya cara sendiri.

    Like

  13. Botul kali itu bung Ciput, banyak kali di blog ini yang komentarnya “kelas preman lapo tuak” jadi malas awak bacanya,mestinya kita disini baradu argumen dengan santun bukan kasih komen2 sampah dari para pendukung fanatik buta.Bukankah harapan kita dari komen2 yang ada kita bisa mendapatkan pikiran2 yang jernih untuk bangsa kita yang sedang sakit ini.
    Awakpun pamit jugalah…bye
    trims bung nirwan

    Like

  14. inilah indonesia masyarakatnya masih susah unutk berpikir panjang…tentang kemakmuran yang mandiri dan patroitisme ekonominya.
    mereka lebih melihat kehidapan yang jangka pendek yang penting ntar kalo si’ibu’ jadi…sembako dimurahkan!, ntar klo dia kepilih lagi gaji PNS dan guru naik dst…., tapi mereka gak mikir gimana kehidupan anak2 indonesia 10-20 kemudian. klo ternyata masih antri BBM juga seperti di tahun 60-an, inflasi semakin membengkak, dst…. karena paradigma kemandirian ekonomi indonesia tidak ada di setiap pemimpin indonesia yang sekarang..
    indonesia selalu menjadi tamu dirumah sendiri, bahkan tamu2 itu ngambil barang2 berharga ‘hasil tambang’ kita dibiarin aja bahkan perabot2 rumah kita ‘BUMN’ mlah dijual untuk perut sendiri….
    kita liat aja kalo yang kepilih si’ibu’ itu lagi haqul yakin indonesia malah mundurnya 12 langkah kebelangkah, tidak jauh lebih baik dari sekarang…

    Like

  15. Alhamdulillah.. masih banyak yg berharap sosok MAR sebagai presiden RI..

    mungkin cukup berat, mengingat MAR merupakan tokoh yang sangat keras (terutama terhadap korupsi dan penjualan aset negara ke tangan asing). saya menganggap, itulah mungkin yang menjadikan MAR sebagai musuh bersama dalam pilpres 2004 lalu. bener yg dikatakan ‘jenengan’, MAR itu terlalu ‘njawani’, orang jawa itu selalu ‘ewuh pakewuh’, kurang ‘ngeh’, dan lain sebagainya..

    Insyaallah.. smoga MAR akan maju dalam pilpres2009 mas, kita doakan saja..
    Satu Tekad! Satu Barisan! Indonesia Baru!

    sangat berat… dan dian itu tak akan padam … mudah2an🙂

    Like

  16. AMIN RAIS BAJINGAN TENGIK PERUSAK PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA ANTEK BARAT MENGAKU PATRIOT SOK PINTER BAJINGAN LOE BANGSAT ENYAH KAU DARI BUMI INDONESIA

    😀 SANTAI AJA BRUR…

    Like

  17. amien rais sepantasnya menjadi kamus tua… sebab tentang ide2 federalismenya, kepemimpinanya di MPR sehingga mampu menggoalkan Gusdur menjadi presiden ke IV RI serta dukungannya terhadap referendum di depan mesjid raya baiturrahman 1999 yang di motori SIRA…Amien rais tidak ubahnya seperti Hasan Tiro sang proklamator aceh merdeka…hanya sebagai legenda hidup dan pernah mewarnai peta perpolitikan Indonesia…..(hanya pantas dikenang!!)

    kamus tak pernah akan tua kl ia sering dibaca.🙂

    Like

  18. Yg perlu dilakukan Amin rais berteriak begini:Ayo,dukung nasionalisasi PTFreepoooort,dan sita harta Suhartoooooo,presiden terkorup diduniaaaaaaaa.untuk bayar utang luar negeriiiiiiiiiii.

    Like

  19. keberhasilan Amien dalam kapasitas sbg Ketua MPR adalah melakukan amandemen UUD45 sampai dengan 4 kali perubahan yang fundamental (masa jabatan presiden, pemilihan langsung, dll), padahal partainya cuma 7-8%, artinya ia mampu menyatukan pandangan anggota MPR (DPR+Utusan Daerah+Utusan Golongan). Pertanyaannya adakah ketua MPR seproduktif Amien?
    Emha Ainun Nadjib berpendapat bahwa “Amien Rais adalah manusia merdeka, cendekiawan yang teguh nalar, pecinta kebaikan dan pejuang kebenaran hidup. Ia tak henti memformulasikan dan mengaktualisasikannya menjadi formula-formula aktivisme sejarah, meskipun segala daya upayanya itu selalu dihancurkan dan dirobohkan oleh situasi sakit jiwa nasional bangsanya sendiri”.

    🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s