Kecil-kecil Tinggal di Istana


Tak bisa lepas senyum saya ketika SBY “memaksakan” kado dari Tuhan kepadanya supaya diberikan tanggal 17 Agustus 2008. Sebagai sesama manusia, maka kelahiran seorang bayi wajiblah disyukuri dan didoakan. Bayi Annisa Pohan, menantunya itu, lahir melalui proses Cesar, di tanggal itu, dan bukannya alami. Satu sisi, itu hal yang lumrah saja apalagi dengan sudut pandang, bahwa setiap orang berhak meminta yang terbaik dari Tuhannya. Dan Tuhan pun (terlepas dari urusan takdir yang dibikinnya), mengabulkan permohonan SBY.Istana pun berbahagia kedatangan orang baru. Annisa Pohan harus sabar untuk memonopoli anaknya karena bayi itu langsung diberangkatkan ke istana, dan bukannya ke rumah pribadi mereka. SBY dengan wajah sumringah langsung mengatakan, “Ini adalah sebuah kado bagi seluruh bangsa”. Kalimat itu dicatat oleh hampir semua media massa, elektronik, cetak maupun internet.

Di titik itu, saya tersenyum, tapi kali ini senyum yang kecut. Apa dasarnya SBY mengatakan itu kado untuk seluruh bangsa? Tetangga saya baru melahirkan bayi, cantik dan sehat pula, tapi SBY kok tidak pernah bilang bayi-bayi yang lahir di Indonesia adalah kado untuk bangsa?

Jawaban paling sederhana: SBY tak tahu soal kelahiran bayi-bayi, kedua: SBY tak peduli soal kelahiran itu karena sama sekali tak ada hubungan “darah” dengannya, ketiga: bukankah kelahiran bayi adalah lumrah dalam suatu kehidupan, jadi mengapa harus dikomentari? Jawaban keempat, mungkin adalah, SBY terlalu sibuk mengurusi negara sehingga tak sempat mengomentari kelahiran bayi tetangga saya itu. Jawaban kelima, si tetangga saya itu tak melaporkan kelahiran bayinya kepada SBY, jadi wajar saja SBY tak tahu. Jawaban keenam, bila seluruh kelahiran bayi dikomentari SBY, apa lagi yang bisa dikerjakan SBY?

Dan seterusnya.

Bagi siapapun, kelahiran bayi adalah anugerah terbesar bagi orang tua. Sehingga terkadang, para orang tua kehilangan kesadarannya dan meluapkan kegembiraannya sampai melampaui batas kepada si bayi. Kegembiraan itu diwujudkan sebelum dan sesudah kelahiran. Proses pencarian nama, pembelian baju dan keperluan bayi dan acara penyambutan bayi, menjadi pelampiasan. Toh, si bayi pun diam saja diperlakukan demikian.

Si bayi terlahir dengan instink makhluk hidup paling dasar, yaitu survival alias bertahan hidup. Hanya dua pekerjaannya, makan dan nafas. Dia tak peduli mau baju apa yang disematkan kepadanya, gelar apa yang diberikan, nama apa yang disandangnya dan akan tinggal di mana dia. Yang penting, nafas dan makan.

Sekilas pemikiran Sartre, eksistensi mendahului esensi, mendapat tempatnya di sini. Tulisan ini bukan mendebat Sartre, karena filosofi eksistensialisme itu saat ini “cuma” berlaku di Eropa dan Amerika sana. Di negeri timur, negeri ini, kebudayaan menempatkan tanggung jawab lebih dahulu daripada keberadaan manusia. Bahwa setiap anak manusia yang lahir sudah dibebani tanggung jawab. Tanggung jawab itu diberikan luas oleh kebudayaan dan agama manusia. Tinggal pilih saja, mau yang jahat atau yang baik.

Si bayi, cucu SBY tadi, jelas memikul tanggung jawab yang sangat besar. Namanya luar biasa, Almira Tunggadewi Yudhoyono. Tunggadewi merujuk pada seorang “ratu”. Karena konsep ratu dan raja hanya ada dalam sistem kerajaan, maka keberadaannya haruslah di “istana”, dan bukannya di kalangan rakyat jelata.

Almira bolehlah sangat beruntung terlahir dari rahim seorang menantu seorang Presiden. Tapi, dalam sistem kenegaraan kita, Presiden bukanlah raja. Itu cuma berlaku zaman dulu, di zaman sistem kekuasaan terpusat pada satu tangan (raja) dan memarginalkan peran serta masyarakat luas dalam menentukan kehidupannya sendiri. Raja (ratu) adalah penentu dan subjek sementara masyarakat adalah objek. Dalam tata bahasa Indonesia, kita mengenal di antaranya ada dua objek, yaitu objek penderita dan objek pelengkap.

Jadi, dalam sistem kerajaan yang sedang dirintis oleh SBY ini, menangislah Anda, karena apa pun posisi Anda, apa pun tingkat pendidikan Anda, atau setinggi apapun harta kekayaan Anda, di mata SBY, Anda tetaplah seorang “objek”.

Saya tak ingin merusak kebahagiaan SBY dan orang tua Almira, karena pola pikir “kerajaan” seperti ini sudah terlalu mengakar dalam kebudayaan kita. Lihatlah ketika para elit politik, para pejabat, para pengusaha, atau siapapun itu, merekayasa kehidupannya di dunia, demi kepentingan segelintir pasukan “keluarga”. Megawati menganakemaskan Puan Maharani, Gus Dur memanjakan Yenny Wahid, Soeharto menimang-nimang Tutut (dan semua anaknya malah), dan seterusnya.

Tidak ada yang salah dengan itu, bila saja si anak tadi mampu menunjukkan kemampuan mandirinya tanpa fasilitas dari orang tuanya. Namun, ketika dia menggunakan fasilitas orang tuanya (karena tak mungkin orang luar menggunakan fasilitas sistem kekeluargaan ini) untuk kepentingan pribadinya dan kelompoknya, maka jalan untuk Korupsi, Kolusi dan Nepotisme sudah sangat terbuka dengan lebarnya.

Sistem kerajaan melahirkan Raja (Ratu), pangeran dan putra mahkota. Negara kita ini bukan sebuah “republik (pemerintahan rakyat)” tapi “kerajaan”. Kalaupun dikatakan demokrasi, maka yang adalah adalah pseudo demokracy ataupun monarki demokrasi.

Maka, bila benarlah kata SBY kalau “Almira adalah kado bagi bangsa”, maka selayaknyalah dia tidak tinggal di Istana melainkan di kalangan “musthada’afin” atau kaum-kaum tertindas, dhuafa, anak yatim, fakir miskin dan seterusnya. Karena bangsa kita, bangsa Indonesia ini,  tidaklah seindah seperti yang diungkapkan dalam pidato kenegaraan para Presiden kita setiap 16 Agustus itu. Bangsa kita adalah bangsa bodoh karena sumber daya alamnya kaya, orang-orangnya pekerja keras, tapi hutangnya bertumpuk-tumpuk. Bangsa kita adalah bangsa yang tolol, karena tanah penghasil minyak dan air ini, ternyata sungguh-sungguhlah mahal minyaknya dan air bersih pun mestilah dibayar tinggi.

Negara Indonesia, Bangsa Indonesia, bagi saya, adalah Negara Musthada’afin dan Bangsa Mustadha’afin…

13 thoughts on “Kecil-kecil Tinggal di Istana

  1. untunglah, kehidupan di dunia konon hanya mengandung 1% dari nikmat tuhan. sisanya masih menunggu di seberang sana…

    jika tidak, betapa tak adilnya dunia…

    untung “konon” ya bang…kl gak…aku mo minta diskon lagi, jadi cuma 0,1% gitu…😀

    Like

  2. Ztttt…, istirahat sejenak. Rasakan dahsyatnya PENCERAHAN dari buku MUSLIMONOT di blog kami. Ayo mampir dulu!

    ayo.kawan-kawan,,,mampir ke blognya bigbang… :))

    Like

  3. Saya suka tulisan ‘Kecil-kecil tinggal di Istana’… gimana kalo kirimkan artikel Anda pada satu website yang sering juga saya kunjungi. http://www.wikimu.com

    makasih, buk Febby…hihihihih …sudah saya kunjungi kok..asyik tuh situsnya…kepada teman-teman yang lain, boleh juga situs ini dikunjungi…🙂

    Like

  4. Bayangkan, betapa bangganya punya cucu. Bayangkan jika besan sesama pemilik cucu yang lahir 17 Agustus 2008 itu adalah terpidana. Seorang Presiden mempunyai besan terpidana korupsi. Seorang cucu yang di belakang namanya tersambung nama Yudhoyono, betapa tercemar dia. Keturunan Yudhoyono, yang berbasis darah korupsi. Kira-kira begitulah.
    Nah, bayangkan bagaimana hasil akhir tindakan hukum terhadap Aulia Pohan. Lets wait and see.

    hal ini mungkin melengkapi salah satu variabel yang tidak ada dalam tulisan saya. thanks.🙂

    Like

  5. Kenapa sih Irwandi Yusuf begitu sentimen sama SBY? Anda tahukah hanya SBY yang mampu tangkap koruptor. Anda tahukah, hanya SBY yang bisa buat Acheh damai. Anda tahukah hanya SBY yang memerintah dengan tanpa kekuatan parlemen yang cukup.
    Lihat saja nanti, kami orang dalam sudah duluan tahu, bahwa menjelang pemilu 2009, SBY dan keluarga sendiri yang akan menjadi giliran pemeriksaan oleh KPK. Itu untuk menunjukkan bahwa sama sekali SBY itu dan keluarganya jauh dari korupsi. SBY ingin mencontohkan bahwa dirinya sendiri tidak kebal hukum. Beliau akan memberi contoh terbaik untuk Presiden se dunia, dalam masa jabatan sekalipun mempersilakan aparat hukum superbody seperti KPK memeriksa dirinya dan keluarganya.

    Mestinya berterimakasih untuk SBY.

    Like

  6. secara inidividu “pak SBY” lg berjaya di kehidupannya…smua itu berdiri di atas ke”sengsaraan”an bangsa ini…..
    sbagai wrga negara..gue nggak tau mau di bawa kmn bangsa ini oleh pak SBy….
    yg gue tau…..
    bangsa ini..makin hari makin bobrok dlm segala bidang……
    manipulasi sana sini,perkosaan moralitas,kemiskinan makin menghimpit,keadilan cuma omong kosong,kedamaian cuma tinggal mimpi………………

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s