Mengapa Saya menduga SBY?


Ini sambungan dari postingan sebelumnya. Dalam ilmu dagang politik kuno, ternyata ada sebuah teori yang mengatakan “siapa yang paling banyak merengguk keuntungan, maka dialah aktor yang sebenarnya.”

Jeleknya pemerintahan SBY-JK saat ini dipengaruhi oleh buruknya kinerja pemerintahan, buruknya penanganan bencana, serta keputusan ironis menaikkan harga BBM hingga tiga kali dalam pemerintahannya. Bagaimana, mereka akan menyusun serangan balik terhadap parpol-parpol yang makin intens berkampanye, sementara di sisi lain, imej/citra dan popularitas mereka merosot tajam?

Jawabannya adalah equilibrum politik. Bila pemerintahan SBY-JK turun popularitasnya, maka lawan politiknya juga harus demikian. Bila kejadian kembali ke titik nol, maka diharapkan kondisi yang sama seperti 2004 akan terjadi kembali.

Bagaimana melihat perang antara PDIP dan Golkar? Bagi saya, Golkar bukanlah Jusuf Kalla, apalagi Surya Paloh. Kedua orang ini pengusaha bukannya politisi. Bagi mereka, politik adalah investasi, dan investasi berarti akumulasi modal dan keuntungan. Lain dengan Akbar Tanjung. Yang belakangan ini politisi murni dan pola pikirnya adalah jaringan politik kekuasaan demi pemerintahan, bukan uang. Saya tidak mengatakan uang tidak ada dalam kamus Akbar Tanjung, tapi targetnya bukan itu. Jadi, melihat Golkar adalah melihat Akbar Tanjung. Jusuf Kalla boleh menang dan menjadi Ketua Umum Golkar, tapi kemudian terjadi “pembangkangan sistematis” terhadap JK. Calon golkar bertumbangan di pilkada propinsi dan jaya di pilkada kabupaten. Bagi saya, strategi Jusuf Kalla yang bersifat elitis dengan meminimalisir pengaruh Akbar mulai dari tingkatan atas, tak berhasil sepenuhnya. Elit politik lama Golkar dan akarnya yang di bawah –tingkat kabupaten ke bawah- masih loyal ke Akbar.

Dan…duarrrrrr…. Akbar membutuhkan momentum untuk ke permukaan.

Bagaimana PDIP? Ada tiga orang yang berkuasa penuh, pertama Taufik Kemas, kedua Megawati Soekarnoputri dan ketiga yang pelaksananya adalah Pramono Anung. Kekalahan memalukan di dua pilpres, pertama terhadap Abdurrahman Wahid dan kedua terhadap SBY, telah menggores luka di hati banteng yang cukup dalam. PDIP besar, tapi identik dengan partai nomor dua. Dalam politik, tidak ada kamus untuk menjadi nomor dua namun PDIP justru lekat dengan imej itu.

= = =

(bersambung lagi …..n jangan marah n nuntut macem-macem hehehehe…🙂 )

7 thoughts on “Mengapa Saya menduga SBY?

  1. mudah2 an ngga salah duga , karena lebih baik berprasangka baik ketimbang buruk
    bener ngga ya ???

    hmmm…lebih tepatnya kurasa bukan masuk dalam ranah “husnudzon” dan “suudzon”, tapi prediksi saja.🙂

    Like

  2. Analisisnya paten. Golkar sekarang, terpecah menjadi 4 kubu. Ada kelompok JK, Surya Paloh, Agung Laksono, dan Akbar Tandjung.
    Golkar hancur lebur selama dipimpin JK. Kl mau selamat, Golkar hrs dikembalikan ke Akbar….

    tenkiu bang. kurasa Akbar sudah punya momentum. hanya ciri khas dia membatasi yaitu “terlalu hati-hati”…kurasa dah ilang aroma batak si Akbar ini. hahahaha😀

    Like

  3. TIPS PENUNTUN KEBERANIAN BERFIKIR
    MEMBANGUN INDONESIA baru

    NO Indonesia Tanpa Indonesia akan

    1 SBY Sama saja Lebih baik Lebih buruk
    2 Megawaty Sama saja Lebih baik Lebih buruk
    3 Golkar Sama saja Lebih baik Lebih buruk
    4 PDIP Sama saja Lebih baik Lebih buruk
    5 PKS Sama saja Lebih baik Lebih buruk
    6 Partai Demokrat Sama saja Lebih baik Lebih buruk
    7 Pensiunan TNI Sama saja Lebih baik Lebih buruk
    8 Birokrat Koruptor Sama saja Lebih baik Lebih buruk
    7 DPD Sama saja Lebih baik Lebih buruk

    Sudah dapat dipastikan bagi Tukang Ngarang dan yang sering parkir di situs ini, skor yang akan muncul ialah pesimisme terhadap Idonesia dengan eksistensi SBY, Megawaty (serta figur-figur beda tapi seide rampok negara), Golkar, PDIP, PKS, PD (serta partai-partai beda warna tapi seide rampok negara)

    Energi Tukang Ngarang gak boleh sia-sia di sekitar orang-orang dan institusi sia-sia itu. Mulailah berfikir memberi jalan kepada rakyat untuk ber Indonesia baru, jangan Indonesia usang. So Why dont you try something better for your country. Tukang Ngarang bisa jadi pahlawan, meski tak usah mimpi akan dimakamkan di Taman Pahlawan jika nanti wafat (ah, Tukang Ngarang pasti kekeh tentang kepahlawanan orang-orang yang dimakamkan di kuburan militer, eh.. taman pahlawan).

    saran bagus🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s