Golkar versus PDIP


Bagi saya, tidak ada peperangan antara PDIP dan PKS. Yang ada hanya “pertempuran”. Itu pun serangan sporadis yang dilancarkan oleh PKS. Dan memang bukan cuma terhadap PDIP tapi juga terhadap Golkar. Bagi Anda pendukung PKS yang tidak suka kelanjutan tulisan ini, berhenti membaca juga tak apa-apa.

Namun bila ditilik dari soal Islam-non Islam, PKS akan lebih memilh melawan PDIP daripada Golkar. Ini soal imej PDIP saja. Salah satu strategi yang dilancarkan Pramono Anung untuk menepis imej ini adalah mendirikan Baitul Muslimin Indonesia (BMI) sebagai sayap resmi PDIP. Jadi jelas, sesuai arti sederhana BMI, PDIP hendak dijadikan “rumahnya orang muslim Indonesia.” Jadi bila benar BMI ini respon PDIP terhadap kinerja PKS yang mengatakan dirinya Partai Islam, jelaslah bila hanya “segitulah” level PKS yang dianggap PDIP.

Bagi saya, politik di tingkat partai politik di Indonesia muaranya lebih pada peperangan antara Golkar dan PDIP. Inilah pertarungan yang seru. Karena hampir melibatkan jaringan supra dan infrastruktur politik serta bahkan budaya politik Indonesia.

Pertama, hanya Golkar dan PDIP yang memiliki jaringan eksekutif terbesar. Jaringan ini menyebar di tingkat pemerintahan SBY, departemen, kepala daerah dan dinas-dinas di bawahnya.

Kedua, hanya Golkar dan PDIP yang memiliki jaringan paling kuat di alat negara yaitu aparat TNI dan kepolisian. Golkar dan PDIP memiliki barisan jenderal berpengaruh. Partai lain tentu boleh mengatakan di kepengurusan maupun di jajaran simpatisan mereka ada juga para pensiunan. Tapi level kejenderalan itu toh patut diukur juga. Siapa yang berani terhadap Jenderal Ryamizard Ryacudu? Sementara jenderal lain yang aktif di politik justru membuat partai politik baru seperti Wiranto, Sutiyoso, Prabowo dan seterusnya. Tentu, walau mereka bisa akan fokus dan memerintah laiknya hirarki komando semasa mereka di militer dulu bisa diterapkan, tidak seperti mereka dulu “nyambi” di partai-partai besar, namun pekerjaan di bidang partai politik mulai dari pendirian, eksistensi hingga proyeksi masa depannya, tidaklah “semudah” dulu. Perlu energi besar. Apalagi kalau parpol yang didirikan hanya sebagai kenderaan semata bukannya diniatkan untuk eshtablish.

Ketiga, hanya Golkar dan PDIP yang memiliki jaringan ekonomi terkuat yang melibatkan anggaran dana yang, katakan saja, tak terbatas.

Apakah saya mengesampingkan partai lain? Untuk pole position saya kira iya. Toh dalam bertinju saja ada pemilihan kelas misalnya kelas berat, kelas menengah dan kelas ringan. Nanti di tiga pembagian itu ada lagi klasifikasinya seperti berat ringan, menengah super, bulu sampai kelas “jerami”.

Di tingkatan itu, saya menerima argumen, kalau ada kompetitor lain yang cukup kuat yaitu figur Susilo Bambang Yudhoyono. Dia punya kendaraan Partai Demokrat. Walau ini partai kelas menengah ringan, lima tahun pemerintahan SBY sudah cukup sebagai modal untuk maju kembali di pentas pilpres. Apalagi, SBY juga cukup aktif bermain di tengah-tengah pusaran arus peperangan antara PDIP dan Golkar. Salah satu senjata aktif yang saya duga digunakan dengan efesien dan efektif oleh SBY, saya kira, adalah produk-produk Komisi Pemberantasan Korupsi.

Salah satu ukurannya adalah silih berganti orang-orang elit parpol “dihabisi” via komisi ini. Tentu bukan hanya SBY yang menggunakannya. Toh parpol juga aktif menggunakan instrumen KPK ini. Mengapa saya menduga SBY?

….. (bersambung)

14 thoughts on “Golkar versus PDIP

  1. kalo neng bilang, anugrah jadi warga indonesia
    dari hari kehari, banyak tontonannya dan beraneka ragam
    termasuk partai dan soal kerusuhan yang pasti selalu lengket kalo udah ada yang merasa kalah.

    emang asik jadi orang indonesia ya, timbang jadi orang afrika…ahahahahhahah😀

    Like

  2. dan yang penting partai memberiksn pendidikan politik kepda kadernya bukan 4L(lu lagi lu lagi) kapan yang laen. Partai bukan alat kekuasaan dan konstituen harus dibela dan diperhatikan

    hmmmmm🙂

    Like

  3. Bosss mana sambungannya…seru bos ceritanya.

    tenang, gan…😀 sambungan ke dua udah ada di postingan yg atas “mengapa saya menduga SBY?” … tenkiu ya gan…

    Like

  4. GOLKAR VS PDIP ?????? ga ada yang kepilih……..capeeeeeeeeeeeeeeee……
    sama aja dengan SOEHARTO VS SOEKARNO.

    Like

  5. Bayangkan, betapa bangganya punya cucu. Bayangkan jika besan sesama pemilik cucu yang lahir 17 Agustus 2008 itu adalah terpidana. Seorang Presiden mempunyai besan terpidana korupsi. Seorang cucu yang di belakang namanya tersambung nama Yudhoyono, betapa tercemar dia. Keturunan Yudhoyono, yang berbasis darah korupsi. Kira-kira begitulah.
    Nah, bayangkan bagaimana hasil akhir tindakan hukum terhadap Aulia Pohan. Lets wait and see.

    Like

  6. Menurutku presiden dan wakil presiden Indonesia yang akan datang harus fresh dan berani! Jangan lagi dari GOLKAR dan PDIP. Bagaimana kalau alternatifnya ini saja, sekarang kan musim artis jadi wakil!

    Untuk presiden dan wapres 2009-2014:
    Habib Rizieq Shihab dan Nona Ivan Gunawan
    (duet aktivis dan artis)

    wekekekekekkkkkkk …. takotnya sih presiden dan wapresnya berantem terus😀

    Like

  7. Saya malah jenuh sama kedua partai politik ini! Nggak tahu kenapa udah jenuh aja. Mereka bukan vs tapi kan koalisi?! Jenuh jenuh jenuh…

    Like

  8. analisis yang disampaikan cenderung jangka pendek… dalam jangka pendek memang pertarungan antara pdip dan golkar, krena orang-orangnya memang tidak berniat berpikir jangka panjang, sangat pragmatis.. tapi dalam jangka panjang, saya punya perkiraan pendapat sang pengarag bisa ditolak. tujuan jangka panjang inilah yang menjadi pembeda antara PKS dengan partai lain. dalam jangka panjang saya cuma berpikir ada beberapa pemain yang akan tetap eksis, diantarnya PKS, PDIP, GOLkar dan aliran SOSIALIS, semisal PRD dengan nama baru lah..
    seperti pernah saya sampaikan apa yang dulakukan PKS saat ini adalah coba-coba untuk jangka panjang/ persiapn jangka panjang yang dilakukan di luar dugaan pemikir poltik. jika sekarang saja kader PKS sekitar 1juta (riil yang bs digerakkan (prediksi)). pasangan yang telah menikah 500-750 rb(prediksi). yang punya anak diatas 4 orang pada usia 10-15 tahun sekitar 250rb (prediksi) . kita bs coba hitung 10 -15 tahun mendatang, dengan pertumbhan kader inti baru saja sebesar 5 – 10 % pertahun, dalam 10 – 15 tahun mendatang, agak sulit memprediksi PKS bukan lagi pemain utama dalam politik nasional.
    yang paling mengkhawatirkan saya adalah benturan PKS dengan TNI yang kalau tidak bs di manajemen dengan baik bisa berpotensi terjadi di masa datang. pengalamn parat FIS di aljazair, Refa Di Turkey dan Hamas Di palestine bisa menjadi contoh pola kemenangan PKS. berita baiknya PKS telah belajar dari tiga partai diatas.
    saya juga menjoba menghubungkan dengn wacana koalisi PDIP dan Golkar yang dilakukan di medan dan palembang, yah bukan tidak mungkin ini adalah antisiasi kedepan terhadap perkembangan PKS. bisa saja koalisi ini akan menghentikan PKS di 2014 atau di 2019. dengan koalisi mereka, mereka mampu membuat sebuah undang-undang yang melarang ideologi lain selain ideologi pancasila, jadi partai yang tidak berideologi pancasila harus bubar, skenario terburuk adalah undang-undang ini di DUKUNG TNI sehingga bukan saja bubar, tapi jadi oraganisasi terlarang dan para pengikut dan pengurus di tangkapi dan dipenjarakan. tapi ada hal yang menarik, karena PKS bukanlah partai yang berdiri sendiri, jika bubar, dia akan tetap eksis, pengalamn 20 tahun sebagai OTB, organisasi tanpa bentuk di era suharto, tetap eksis, dan kalau boleh saya berpendapat bahkan merekalah yang menumbangkan suharto, maka mereka akan tetap eksis meski tidak dalam kerangka partai…

    bila analisis jangka pendek ini Anda dukung, maka saya cenderung menolak analisis jangka panjang Anda.🙂 memakai unit analisis kelahiran kader inti, yg konon 1 juta itu, tentu saja sangat lemah bila dihadapkan pada “seandainya” partai lain yang lebih besar juga telah berbuat serupa dan sejak lama pula. Toh, dalam satu keluarga pun, belum tentu pilihan satu partai, walau kemungkinan untuk itu sangat besar. Analisis anda mengandaikan “seolah-olah” partai lain tak berbuat apa-apa untuk membesarkan partainya sendiri. sementara dalam hal PDIP dan Golkar berkoalisi untuk mengantisipasi PKS di masa depan, saya kira ini terlalu terburu-buru. kedua partai ini menghitung PKS, itu pasti, namun hal itu tidak berbeda ketika mereka juga menghitung PAN, PPP, PKB dan seterusnya. Jadi, saya kira, koalisi PDIP-Golkar untuk sementara ini dalam kerangka pragmatisme kekuasaan semata saja.

    Soal menumbangkan soeharto, ya, saya kira ini pun perlu diteliti ulang. Amien Rais mengemukakan isu suksesi di saat Soeharto sangat-sangat kuatnya. Tapi kalau dikatakan PKS menjadi partai yang paling diuntungkan dengan kondisi reformasi yang dikumandangkan Amien, saya setuju.

    setakat ini, itu dulu.🙂

    Like

  9. biaya caleg golkar 1 milyard…(busyet..!!)
    (coba kl di pake buat beli beras pst gak ada orang kelaparan)
    trus si caleg…ngembaliin duiatny gmn…???
    (paling jg korupsi)
    1 milyard mungkin balik 2,3,4…..milyard…
    (waduh…! duit rakyat di embad begitu saja…)

    yg jelas…gue gak peduli dgn “dagelan” yg berlabel pemilu 09….
    sampe kapan keadaan terpuruk ini bisa berakhir ???

    Like

  10. ternyata partai itu bisa beranak-pianak, kaya ayam aja..!!
    golkar VS PDIP kayaknya bukan (VS), tapi kawin bang..!
    sekarang partai dah 34 (klo gak salah)
    4 tahun kedepan mungkin jadi 100 Partai

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s