Amien Rais


Saya mencoba, mencari-cari, mengukur pengaruh Amien Rais di negeri ini. Dan celakanya, saya mulai pula dari ranah ketentaraan alias militer. Dan di negeri yang berada di seberang itu, Amien Rais dipelototi habis-habisan kemudian ditertawakan dan tangannya diikat. Mungkin hampir sama dengan karakter Si Cepot.

Tentara, apapun yang akan terjadi, mempunyai satu konsep penting yaitu “Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Saya dulu tak menyadari betapa pentingnya sepotong kalimat ini untuk melihat politik Indonesia secara utuh.

Amien, berusaha memotong “kesatuan” itu. Soal potong-memotong itu, memang khasnya kaum ilmuwan. Dia memenggal-menggal Indonesia sesuka hatinya. Itulah kelebihan kaum ilmuwan yang bisa berlaku sesukanya.

Federalisme yang dikumandangkan Amien, langsung saja mendapatkan reaksi serius. Walau kalangan intelijen sudah bisa memprediksi arah sebenarnya Amien, tapi tentu saja intelijen bukan konseptor. SBY dan Agus Wirahadikusumah (Alm) yang dikatakan sebagai dua di antara banyak konseptor TNI di era-1980-1990-an, tak kuasa menghadang pemikiran sang profesor. Federalisme disetujui walau dengan baju yang berbeda bernama otonomi daerah.

Skor sementara, 1-0, untuk Amien Rais.

Tapi permainan terus berlanjut. Departemen Dalam Negeri, yang tak pernah dikepalai oleh seorang sipil itu, menghadap-hadapkan konsep profesor ini dengan pasukan “STPDN” alias Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri. Jadilah otonomi daerah yang semula diniatkan sebagai langkah awal pemenuhan amandemen UUD 1945 soal desentralisasi kekuasaan, justru menimbulkan raja-raja baru di daerah.

Otonomi daerah berubah menjadi konsep “regenschaf” yang melahirkan “Residen” dan “Wedana” baru seperti zaman Belanda. Sementara, Bupati yang berasal dari bahasa sansekerta yaitu “Bhupati” yang berarti “raja dunia”, sebagai simbolnya. Jadi, tabiat awal pemerintahan Belanda, memang meniatkan seorang raja di sebuah wilayah kabupaten.

Konsep ini membuat seorang bupati mestilah menyetorkan upeti kepada pemerintahan pusat, sebagai tanda kesetiaan, loyalitas dan tentu saja stabilisasi kekuasaannya. Oleh Depdagri, gubernur kemudian diletakkan hanya sebagai koordinator saja. Itu karena link bupati sudah langsung ke Mendagri.

Keuntungan Depdagri “menyelewengkan” otonomi daerah ini jelas dipengaruhi oleh wewenang mereka sendiri. Amien Rais tidak bisa masuk ke sana, karena posisinya waktu itu adalah Ketua MPR.

So, skor telah berubah, 1-1. Itu dengan catatan, Depdagri (dan militeristiknya) menguasai lapangan permainan. Mereka ofensif, sementara konsep “otonomi daerah” Amien terus ditekan.

Namun, tentu saja, militer (dan Depdagri) sangat tahu, bidikan utama dari Amien Rais adalah sentralisasi kekuasaan tak boleh begitu besar dipegang oleh eksekutif. Saya berkhayal, jangan-jangan Presiden Abdurrahman Wahid pun sudah diolah sedemikian rupa. Celahnya adalah tabiat Gus Dur yang spontan itu. Gus Dur kemudian bertindak sesuka hatinya dan malah sudah menyentuh ranah hukum yang baru sekali dipergunakan negeri ini; “Dekrit Presiden”.

Dan lawan Amien tahu, Gus Dur secara konstitusi harus diganti oleh seorang wanita yang lebih senang memusatkan perhatian pada dirinya daripada lingkungannya: Megawati Soekarnoputri. Tanpa diolahpun, Megawati akan menjadikan Istana sebagai sebuah ruang “rahasia” yang untuk masuk ke dalamnya dibutuhkan password. Jangan tanya passwordnya kepada dia, karena dia akan diam. Karakternya memimpin PDIP sudah bisa dilihat seluruh orang. Apalagi, Megawati akan berusaha sekuat tenaga mengkonsolidasikan istana agar ia terpilih menjadi Presiden dengan legalitas yang lebih kuat: Pemilu 2004.

Tapi, Amien dan lawan Amien pun tahu, masa Megawati hanya sampai 2004. Itu adalah sebuah pemberian alias hadiah yang boleh dinikmati Megawati dengan gratis. Pilpres 2004 dan hasilnya adalah sebuah jawaban bahwa skenario militer berhasil total. Mereka telah menguasai daerah pertempuran kembali setelah sempat diambil-alih pada 1998 lalu. Trisula maut militer: Wiranto, SBY dan Prabowo bekerja keras hingga 2004, dan diujung sebelum dimulai 2004, mereka pun tak sepakat siapa yang harus menjadi calon presiden. Itu karena, mereka sedari awal sudah terlibat dalam rivalitas kekuasaan di internal TNI, bahkan sebelum Soeharto jatuh.

Ketiganya adalah perwira militer dengan karir “sempurna”. SBY menjadi pemenang dan mengeruk keuntungan dari konsep “reformasi TNI” yang sebenarnya boleh saja disebut sebagai “reformasi NKRI”. Tabiat SBY dan Soeharto jelas sama; mereka mengambil keuntungan dari pertarungan politik yang sebelumnya menjadikan mereka sebagai “tokoh yang tak dihitung” pada permulaan.

Siapa yang menghitung Soeharto ketika masih ada Jenderal AH Nasution dan Jenderal Ahmad Yani? Siapa yang menghitung SBY ketika masih ada Jenderal Wiranto dan Letjend Prabowo? Jenderal Wiranto sebagai Menhankam/Pangab dan Prabowo adalah Pangkostrad, mantan Danjen Kopassus plus menantu Presiden. Sementara SBY adalah anak buahnya Wiranto, sama kasusnya seperti Soeharto yang anak buahnya Ahmad Yani.

Di 1998, Amien Rais di luar rivalitas itu. Itulah barangkali, yang menjadi pemikirannya ketika ia memutuskan tidak menjadi Presiden pada 1998 dan 1999. Karena bila ia menjadi Presiden, maka mau tak mau, ia akan turut masuk dalam rivalitas itu. Dan ia lebih memilih sebagai pihak yang melawan, daripada pihak yang terlibat. Habibie, Megawati dan Abdurrahman Wahid, jatuh akibat militer dan rivalitas yang ada di dalamnya. Mereka, yang berasal dari sipil ini, tak punya pasukan “berani mati”. Sementara di era 1997-2004, karena rivalitas internalnya itu, militer sudah siap mati dengan resiko apapun untuk mengamankan komandannya.

Sipil? Saya akan menertawakan siapapun orangnya yang mengatakan kuatnya supremasi sipil di kurun waktu itu dan hingga belasan tahun kemudian sejak sekarang. Tidak ada bukti untuk itu. Gus Dur jatuh, sementara Habibie dan Megawati adalah Presiden yang hanya bertugas untuk menghabiskan masa jabatan dan menyiapkan pemilu.

Amien lebih memilih melawan militerisme dan sentralisasi kekuasaan yang begitu hebatnya itu dengan “pena”. Tapi rumus Napoleon Bonaparte; pena mengalahkan seribu pedang, keok total di negeri Gatotkoco, anak Bima yang seorang prajurit bertulang besi berurat kawat dan bisa terbang ini.

Pemilu 2004, Amien kalah dan suaranya hanya di peringkat keempat. Jadi katakan saja, skornya 4-1 untuk militer.

Pertandingan usai? Entahlah. Kalau Amien tak berniat maju dalam pemilihan Presiden 2009, pertandingan sudah usai. Sesudah SBY maka Wiranto-lah yang menjadi Presiden dan setelahnya, Prabowo-lah yang menjadi Presiden…

* * *

Gdubbrakkkk … aku jatuh dari tempat tidur. “Cuma mimpi, hhhhh…,” ujarku geleng-geleng kepala. Aku beranjak ke meja komputer dan, busyet… marlboro-ku sudah habis. Sial. (*)

15 thoughts on “Amien Rais

  1. Ha.. ha..ha.. andaikan memang sampai terbawa mimpi. Sangat logis, humoris dan praktis. Tapi itulah typikal abanganda dengan gelar si tukang ngarang.. Salut buat abang. salam

    ampon..ampon..paduka yang mulia….wakakakakakakkkkk😀

    Like

  2. saya pilih president yang berjenggot, karna orang yang berjenggot seksi kalau lagi bingung pasti megelus jenggotnya, tapi yang berkepala plontos yang di elelus kepalanya mirip orang yang kalah judi

    http://hendra07.wordpress.com

    ada alternatif laen bang?…yg gak plontos n gak bejenggot… wekekekekekekek ayo siapa mau😀

    Like

  3. Distributor Tunggal Buku :
    Info Pembelian Buku dapat dibeli di:
    Bustanus/Mimi Oktiva di Warnet Nusantara-Jayanegara, Jl. Jayanegara 11/17 Jombang-JawaTimur,
    Telp 0321 862137 atau sms/telpon di HP: 0818 08052575

    Buku SATRIO PANINGIT, BENCANA NUSANTARA, MANUNGGALINGKAWULOGUSTI dalam UNIVERSALITAS KEAGAMAAN
    ISBN:978-979-17824-0-1/barcode
    Tebal Buku: 110 halaman, Ukuran Buku : 15cm X 21 cm, Harga Buku : Rp 20.000,—

    Ringkasan Buku : Buku yang ada di hadapan Anda adalah sebuah Mozaik pertemuan tradisi – tradisi besar yang berkembang di Nusantara dan Dunia sebagai bentuk perwujudan dari Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa (berbeda –beda tetapi satu, tidak ada kebenaran yang mendua sebab Tuhan adalah Tunggal dan Transenden, tetapi termanifestasi ke berbagai bentuk ) serta kumpulan wisik ghoib yang diterima oleh sahabat-sahabat kita yang menekuni tasawuf tetapi dalam pencarianNya terhadap Tuhan yang transenden, mereka tetap concern dengan kondisi Sosial yang berkembang di Nusantara Indonesia. Dalam berbagai Kitab Suci disebutkan akan adanya suatu era Kemakmuran dan Keadilan yang datang menjelang akhir zaman, tanpa menyebut determinisme waktu hal itu akan terjadi. Tetapi cukup untuk memperingatkan kita bahwa ketika menghadapi kondisi sosial yang carut marut, semua insan mengharapkan adanya perubahan kondisi yang lebih baik dari saat ini. Sementara sumber daya Indonesia dijadikan ajang perebutan negara-negara lain, dan kita dibiarkan menjadi konsumen tanpa memiliki kemampuan mengolah dan mendapatkan nilai tambah. Buku ini akan memberi panduan dan jalan yang akan ditempuh untuk menggapai kondisi yang diinginkan tanpa mengesampingkan keberadaan elemen kebangsaan yang lain. Tetapi mengajak kita larut dalam dunia introspeksi dan kontemplasi untuk menjadi sumber inspirator bagi masyarakat Indonesia yang mampu membawa Indonesia menuju Mercu Suar Dunia. Sehingga meningkatkan rasa percaya diri dan nasionalisme kebangsaan di tengah pergolakan era globlalisasi yang di dominasi oleh materialisme dan kapitalisme global. Semoga dengan selesai ditulisnya buku ini per 3 Maret 2008, Buku ini bisa dimanfaatkan oleh seluruh kalangan untuk menggugah semangat keadilan, kebangsaan dan mendapatkan pencerahan yang sejati. Juga diambil hikmahnya untuk membangkitkan semangat spiritual di setiap agama dan meningkatkan sumber daya manusia untuk mencapai Indonesia mercu suar dunia. Buku ini berisi wisik ghoib yang diterima oleh Winasis mengenai Satrio Paningit dan kondisi Nusantara saat ini serta penjelasannya, juga berisi anjuran sikap yang mesti dilakukan oleh setiap orang di saat Nusantara ditimpa bencana bertubi-tubi. Munculnya bencana di nusantara dan masalah-masalah Kebangsaan yang tak dapat teratasi merupakan tanda-tanda munculnya Satrio Paningi. Kajian Ilmiah dan Rasional Tentang Hadits Kemunculan Imam Mahdi (simbol Negara Timur) dan Isa (simbol Negara Barat ) Siapapun Orangnya yang mempelajari Hadits munculnya imam Mahdi akan berkesimpulan datangnya ditandai dengan perang Internasional- terjadi Krisis BBM atau rebutan ladang Minyak- kasus Iraq, Afganistan, Iran dan ketika tiap orang yang di timur dapat berhubungan dan melihat apa yang terjadi di barat dengan sekejap mata- munculnya teknologi telekomunikasi 3G yaitu Wideband-CDMA-komunikasi suara dan tampilan layar sekaligus. Dalam kitabnya Joyoboyo disebut: Satrio Paningit bakal jumedul ana antarane mandura wetan (pulau Madura) lan manduro kulon ( desa Matokan, Kabuh, Jombang) , merupakan wilayah Jawa Timur. Tasawuf ideal adalah tasawuf berdasarkan universalitas keagamaan yaitu berdasarkan ajaran para nabi yaitu 124.000 nabi yang tersebar di berbagai suku bangsa di dunia denan inti akhlakul karimah, membela yang tertindas dan menegakkan prinip keadilan. Perwujudan dari Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa (berbeda –beda tetapi satu, tidak ada kebenaran yang mendua sebab Tuhan adalah Tunggal dan Transenden, tetapi termanifestasi ke berbagai bentuk. Dalam kitab Sutasoma karangan mpu Tantular.

    Like

  4. Kubaca di koran saat beberapa bulan silam sebuah pertemuan diselenggarakan di Medan untuk membahas thesis Amien Rais tentang bencana yang menimpa Republik ini. Ia bilang intinya, pemerintahan korporatokrasi telah menjual martabat bangsa. Martabat itu yg gak ada hingga soal-soal penggadaian di RI ini dianggap seperti kehilangan rambut di kepala yg memang menurut jadwal mestinya gugur begitu saja.
    Saya ada dalam forum itu, audiens amat plural. Hening, dan semua amat menikmati tuntunan berfikir Amien Rais.
    Ia seorang yang amat dikagumi, tetapi tidak mau diikuti. Kenapa? Sama seperti orang kecanduan rkok yang amat mengerti bahaya rokok. Tapi apa mau berhenti?
    Seandainya sekarang rakyat diminta pilih mau baca alkitab atau buka site porno, menurut anda populasi yang menang siapa? Maaf, begitulah kira-kira.
    Amien Rais seorang yang amat dibutuhkan Republik ini, tetapi 50 tahun ke depan baru anak cucu menyadarinya. Sama seperti ekarang, jika Negeri ini mengikuti jalan pikiran Mohammad Hatta, akan lain nasib kita. Berhubung klobotis Bung Karno yang paling masuk akal bangsa pada saat itu, maka beginilah kita sekarang.
    MENANGISLAH WAHAI BANGSA KULI.

    “Seandainya sekarang rakyat diminta pilih mau baca alkitab atau buka site porno..” itu perumpamaan yg bagus.🙂

    Like

  5. kalau saya sih pilih presiden ya !! hidayat nur wahid aja deh ! trus wakilnya ????????? aku pikir-pikir yang pantes yaa sapa ya ? ah kok pusing aku aja deh !

    Like

  6. Sembah sujud-ku kepada bapak Amien Rais…..

    Bangsa ini gak kapok2 di belenggu sama Angkatan Darat, terpilihnya (lagi)
    Jendral Angkatan Darat (SBY) menjadi presiden, jelas sekali bangsa ini gak kapok sudah “dianiaya” oleh Jendral AD selama 32 thn

    backmind militerisme masih kuat.🙂

    Like

  7. Kalau saja Soeharto tidak diturunkan melalui demo, mungkin demo bukan menjadi alternatif di negeri ini, kalau saja film india tidak beredar di Indonesia, mungkin rakyat akan memilih pemimpin bukan berdasarkan belas kasihan, kalau saja rakyat indonesia tidak mata duitan dan gila jabatan, mungkin tidak ada benalu-benalu politik di negeri ini, kalau saja Indonesia membuat peraturan batas jumlah partai, mungkin kita tidak menemukan partai-partai baru yang merupakan pelampiasan sakit hati dan ambisi seseorang, kalu saja KPU mengizinkan, gw mau bikin PARTAI BADUT, ada yang berminat untuk mencadi capresnya???????

    untuk Partai Badut…tak perlu izin KPU…asal persyaratan lengkap, Anda bisa ikut pemilu kok …🙂

    Like

  8. Kalau saja dunia ini sorga pasti nggak ada neraka, kalau saja nggak ada tukang ngarang pasti aku nggak bisa ketawa liat komentar kalian semua he he he

    gimana yem…?😀

    Like

  9. Bos, partai itu apapun namanya Ujung-Ujungnya Duit (UUD). Jujur aja, berapa milyar mereka dibayar salah satu calon Bupati langkat 2009/2014 untuk mendukung salah satu kandidat. Khusus untuk DPRD Langkat dari PKS, apa yang telah mereka perbuat untuk “bersih” ?. Uang perumahan anggota DPRD Langkat yang mencapai puluhan juta rupiah/orang dan jelas menyalahi ketentuan berdasarkan audit BPK tahun 2007 juga diamini aja dengan alasan mereka di DPRD langkat terlalu sedikit (4 orang). Menurut saya komitmen untuk bersih bukan harus dilakukan secara beramai-ramai, tapi satu orang anggotapun jika benar-benar mau bersih harus berani menolaknya. Dengan sikap yang demikian jelas akan memberikan warna. So, pada Pemilu 2009 nanti mari kita lihat para figur caleg bukan berdasarkan partainya. Gimana abanganda si tukang ngarang ?.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s