Pramoedya Ananta Toer, Sebuah Wawancara Imajiner (3)


Sambungan tulisan …

* * *

Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsasay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26 sastrawan Indonesia menulis surat protes ke Yayasan Ramon Magsasay, di Filipina. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai “jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang” di masa Demokrasi Terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.

Tetapi beberapa hari kemudian, Taufik Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut “pencabutan”, tetapi mengingatkan “siapa Pramoedya itu”. Katanya, banyak orang tidak mengetahui reputasi gelap Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsasay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsasay yang dianugerahkan padanya di tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama. Lubis juga mengatakan HB Yassin akan berbuat serupa. Hal ini kemudian dibantah sendiri oleh HB Yassin.

Anda dituntut bertanggung jawab atas segala peran Anda dulu di Lekra …
Segala tulisan dan pidato saya di masa pra 1965 itu tidak lebih dari golongan polemik biasa yang boleh diikuti siapa saja. Saya tidak terlibat lebih jauh. Saya juga merasa difitnah ketika dituduh ikut membakar buku segala. Apakah karena itu, buku saya juga dibakar oleh Orde Baru? Perkara itu dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri. Saya seperti dikeroyok.

Apakah Anda merasa dihukum oleh Orde Baru dan masyarakat?
Saya pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial (1947—1949) dan 1 tahun pada masa Orde Lama. Selama masa Orde Baru, saya dipenjara selama 14 tahun sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan, dari tahun 1965 hingga 1979, mulai dari penjara Jakarta, Tangerang, Nusakambangan, Magelang, Semarang dan Pulau Buru. Saya dibebaskan dari tahanan 21 Desember 1979. Saya juga mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S, tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992. Setelah itu dikenaik tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun. Tapi, karya-karya saya juga diterjemahkan dalam 41 bahasa dunia. Saya juga menerima Ramon Magsaysay Award, dan sejak 1981 dicalonkan sebagai penerima Nobel Sastra. Bagaimana menurut Anda?

Terakhir, mengapa Anda mengidolakan Soekarno?
Baca tulisan New York Times, pada edisi kematian saya. Tahun 2004, saya bilang ‘After Sukarno, there have only been clowns who had no capability to lead a country.’ Ha..ha..ha…saat itu Megawati jadi Presiden.

Pramoedya meninggal dalam usia 81 tahun. Selamat jalan, Tuan Minke….. (habis)

One thought on “Pramoedya Ananta Toer, Sebuah Wawancara Imajiner (3)

  1. orde baru termasuk budayawan dan sastrawannya emang rame2 kecam pram saat terima Ramon Magsasay antara lain Mochtar Lubis dang banyak budayawan lainnya termasuk Goenawan Mohammad..
    Tapi bagi saya Pram adalah sastrawan paling hebat sepanjang sejarah…🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s