Pramoedya Ananta Toer, Sebuah Wawancara Imajiner (2)


Sambungan tulisan …

* * *

Generasi sekarang ‘kan generasi buku sejarah. Sumber-sumber mengenai Polemik Manikebu dan Lekra pun banyak ditingkahi kepentingan. Bagaimana sebenarnya?
Kalau versi saya, sebagian bisa dilihat di Lentera, itu lembaran budaya di harian Bintang Timur. Majalah Tempo punya salinannya, Anda bisa baca di sana.

Ok, tapi Anda kelihatan membabat habis kubu Manikebu?
Begini. Saya mesti jelaskan dari awal. Simposium sastra pertama yang dulu berlangsung di Nedherland ini mengandung unsur bagi perkembangan sastrawan dan sastra Indonesia sesudah itu. Di sinilah sarjana hukum Sutan Takdir Alisjahbana mengatakan bahwa revolusi telah menyebabkan manusia modern Indonesia menginsafi bahwa kemerdekaan yang telah diperjuangkannya dengan bersemangat itu pada hakikatnya membuatnya lebih melarat, karena ia telah kehilangan segala-galanya. Dan dalam situasi kehilangan semua-muanya ini, pembicara itu sendiri telah berhasil mengeduk keuntungan berlimpah sampai dapat meningkatkan jumlah miliuner nasional dengan dirinya sendiri. Andil Takdir kepada Revolusi memang meragukan, sekalipun ia seorang anggota KNIP dari sayap PSI, seorang kapitalis yang bicara atas nama sosialis.

Bagaimana menurut Anda, reaksi Takdir sendiri?
Gugatan yang tertuju kepadanya menyebabkan Takdir dalam majalah “Pembangunan”, 1947, berusaha membersihkan dirinya dengan bergayutan pada RA Kartini jang terus-menerus dihormati baik di zaman penjajahan Belanda, Jepang, maupun semasa revolusi itu. Padahal bukankah Kartini menganjurkan kerjasama antara Pribumi dengan Belanda? Dan justru gayutan ini menjelaskan pada kita bahwa Takdir tak banyak mengerti tentang perjuangan kemerdekaan yang sejak permulaan abad ini melulu kriteria dan taraf-tarafnya. Majalah Pembangunan tidak pernah mempunyai otorita sehingga suarana pun padam tanpa meninggalkan gaung. Dan sejak Kongres Filsafat tersebut, praktis ia semakin lama semakin dekat kepada golongan KO, golongan pengkhianat semasa revolusi itu. Malah semasa pemerintahan federal di Jakarta, perusahaannya mendapat kemajuan cepat dan melompat.

Mengapa Anda begitu getol menghantam Manikebu?
Saya menolak menolak Manikebu/KKPSI (Konferensi Karyawan Pengarang Seluruh Indonesia, red) adalah soal prinsip dengan segala konsekuensinya. Kaum Manikebu /KKPSI muncul justru pada saat kita sedang mengarahkan sasaran tembakan pada kaum imperialis-neokolonialis sebagai titik-pusat tembak. Mereka muncul pada garis tembak kita. Apakah mereka tidak kena tembakan? Pasti kena sasaran tembakan kita secara tak terhindarkan. Dengan demikian mereka mereka melemahkan daya tembak kita pada titik-pusat kaum imperialis-kolonialis karena terpaksa harus menembusi dulu kaum Manikebu/KKPSI. Ini adalah bukan hal yang kebetulan.

Apakah manikebu sendiri kalah dalam pertarungan itu?
Proses dialektik di bidang sastra dan seni dan khususnya di bidang teori estetik mencapai penyelesaiannya dengan rubuhnya Manikebu secara politik. Dikatakan secara politik karena manikebuisme masih dikembangkan di perguruan-perguruan tinggi, di badan-badan yang mengurusi seni dan kebudayaan, karena manikebuis masih bisa menduduki tempat-tempat yang strategik dalam badan-badan kekuasaan seni dan budaya. Kalau atau menang, itu terserah Anda.

– – –

(bersambung ke tulisan 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s