Syamsul Pun Naik Pelaminan


H Syamsul Arifin SE resmi dilantik Senin, 16 Juni 2008, di gedung DPRD Sumut. Dia adalah gubernur Sumatera Utara (Sumut) pertama yang dipilih dalam sebuah pemilihan langsung. Dia melangkahi seniornya, menyalami juniornya dan tersenyum pada kompetitornya.


Senin adalah hari Syamsul Arifin menjadi ”raja sehari”. ”Pelaminan”-nya di gedung DPRD Sumut jalan Imam Bonjol, sudah dipermak sedemikian rupa. Di halaman gedung yang sering menjadi titik pusat demo di Sumut itu, sudah dipasang teratak memanjang dari sisi gerbang masuk dan keluar. Aparat, mulai dari pihak kepolisian dan Satpam, terlihat berjaga-jaga. Wajah mereka ada yang tegang, ada pula yang banyak tersenyum.

Sudah lama gedung itu tak membuat panggung pelaminan gubernur. Pasalnya, Rudolf M Pardede yang menggantikan almarhum HT Rizal Nurdin pada 2005 lalu itu, tidak dilantik di sana, melainkan di Jakarta, di kantor Departemen Dalam Negeri. Waktu itu, suasana memang sangat panas karena penolakan terhadap Rudolf demikian membumbung.

Sekitar 2.000 undangan sudah disebar. Tokoh dan elit politik Sumut, pejabat sipil dan militer, akademisi dan tentu saja termasuk anggota DPRD Sumut yang akan menjadi saksi, sebelum mereka sendiri akan ketar-ketir apakah akan terpilih lagi atau tidak dalam Pemilu 2009 mendatang.

Tentu saja, antisipasi akan dilakukan terhadap tamu tak diundang, seperti kalangan demonstrasi, pemulung sampai pengemis dan penjaja makan minum yang biasa mangkal di depan gedung DPRD itu.

Senior-Junior
Syamsul Arifin bak magnet. Ia melangkahi ”takdir” seniornya di Partai Golkar dan etalase politik Sumut, H Abdul Wahab Dalimunthe. Abah, panggilan akrab pria gaek nan energik ini, hanya menempati urutan tiga dalam pemilihan gubernur sumatera utara (pilgubsu) 2008 kemarin. Ia hanya mampu mengumpulkan 858.528 atau 17,40% suara. Dia harus menundukkan kepalanya kepada Syamsul yang meraih 1.396.892 atau 28,31% pemilih. Menariknya, dalam pelantikan itu nanti, Wahab kembali harus ”mengakui” Syamsul. Itu karena, posisi Wahab saat ini masih sebagai Ketua DPRD Sumut.

Bintang Ali Umri, sang Ketua DPD Golkar Sumut dan walikota dengan wilayah terkecil di Sumut, Binjai, pun meredup. Setelah meraih posisi corot dalam pilgubsu kemarin, posisinya sebagai Ketua Golkar pun terus digugat dan dirongrong. Kegagalannya memenangkan Golkar dalam pilgubsu plus kekalahan Golkar di Jawa Barat, sudah mencoreng muka golkar di pentas politik nasional. Umri merupakan junior Syamsul selama masih di organisasi kepemudaan dan di tubuh partai Golkar Sumut sendiri.

Walau demikian, dari 12,7 juta penduduk Sumut, Syamsul memang ”hanya” dipilih oleh sekitar 10% saja. Rendahnya angka ini menjadi warning tersendiri bagi stabilitas pemerintahan dan pembangunan yang akan digagas Syamsul mendatang. Apalagi, hingga detik ini, pasangan Tritamtomo-Benny Pasaribu yang secara politik sangat kuat karena didukung oleh elit politik-ekonomi dan partai PDIP, masih mengajukan Peninjauan Kembali (PK) atas putusan Mahkamah Agung yang menolak gugatan mereka atas hasil pilgubsu. Banyak yang bilang, hal itu adalah sekam yang nantinya tak sekedar kerikil dalam perjalanan Syamsul sebagai gubernur Sumut ke-17.

Tritamtomo, tokoh masyarakat Jawa dan mantan Panglima Kodam I Bukit Barisan yang terlama menjabat di Sumut, sudah sedemikian lekatnya dengan elit politik Sumut. Terbukti, walau dihantui oleh perpecahan partai PDIP dan tak keluarnya dukungan dari Ketua DPD PDIP Sumut sekaligus gubernur Sumut, Rudolf M Pardede, dalam pilgubsu kemarin, pasangan ini hanya kalah tipis dari suara Syamsul, 326.589 atau sekitar 7,1% saja. Pasangan ini juga membuktikan, walau keduanya ber-KTP Jakarta, Sumut merupakan daerah yang paling dinamis sekaligus terbuka dalam ajang pertarungan politik. Hampir tak terdengar dalam pilgubsu kemarin, permasalahan domisili ini menjadi sesuatu yang perlu diperdebatkan.

Bukan hanya antar elit politik kandidat semata. Syamsul pun bakal dipusingkan dengan gairah politik menyambut pemilihan kepala daerah (pilkada) di sejumlah daerah di Sumut, pemilu legislatif dan Presiden pada 2009 mendatang. Dia kembali dihadapkan pada pertarungan terbuka antara PDIP dan Golkar di sejumlah daerah. Walau tak didukung secara organisatoris dari Golkar dalam pilgubsu kemarin, Syamsul memang sudah menandaskan dia masihlah seorang kader Golkar.

Bara lainnya adalah tersembulnya perbedaan klasik antara daerah pantai timur dan pantai barat di Sumut. Syamsul mendapat keuntungan dari pantai timur, dan kurang mendapat dukungan dari pantai barat. Persoalan ini adalah pekerjaan rumah yang sedari dulu tak kunjung selesai. Problema pemerataan pembangunan seperti infrastruktur, konsentrasi pendidikan serta sentra-sentra ekonomi, yang terlanjur melebar antara dua wilayah ini, mau tidak mau harus diakui telah menumbuhkan bibit-bibit ”pertengkaran”, di antaranya adalah wacana pembentukan Propinsi Tapanuli.

Ironisnya, kesenjangan kebijakan ini kemudian berhimpit dengan isu primordial dan sentimen religius. Bila itupun bisa diredam, isu pemekaran beberapa daerah tingkat dua sampai ke titik kecamatan, sudah mengantri. Tak pelak, posisi Gubernur di masa otonomi daerah yang sebagai institusi koordinator, justru menjadi poin sentral yang sangat menentukan bagi pembangunan Sumut.

Konon pula, banyak yang mengandalkan sosok Ir Gatot Pudjonugroho sebagai wakil gubernur Sumut, sebagai penyeimbang bagi pekerjaan rumah Syamsul nan maha berat itu. Namun, konsep ini pun mendapat kritik.

Gatot merupakan pendatang yang benar-benar baru. Walau dipastikan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan memback-up penuh Syamsul-Gatot, namun partai ini bukan tanpa persoalan sama sekali. Itu karena, taring partai ini justru muncul dari kebijakan-kebijakan yang tak populis yang dilakukan pemerintah. Pertanyaan klasik menyembul, bagaimana kinerja partai ini ketika sudah duduk di kekuasaan?

Karena itu, tak heran, banyak yang memandang, justru Partai Persatuan Pembangunan (PPP) telah lebih cerdik dari PKS, dengan tidak menempatkan kadernya untuk mendampingi Syamsul, walau partai ini –bersama Partai Patriot Pancasila- merupakan partai yang mula-mula mengusung Syamsul sebagai calon gubernur. Dengan demikian, PPP tidak akan mendapatkan hantaman langsung dari para oposan pemerintahan Syamsul dan bisa lebih berkonsentrasi ke pemilu 2009. Mereka bisa lebih leluasa menjaga sekaligus mengkritisi, dan tentu saja mengambil keuntungan dari pemerintahan Syamsul.

Bagaimanapun, selamat bekerja Datuk Gubernur…(*)

8 thoughts on “Syamsul Pun Naik Pelaminan

  1. protap harus jadi bung…
    sejarah membuktikan tak satupun gubernur sumut berkeinginan tulus memajukan pantai barat. serahkan nasib tapanuli ke orang tapanuli. SDM tak jadi masalah, SDA kaya tapi tidak pernah di explore. Ada data di Chevron Pacific Indonesia dan di BP MIGAS yg menunjukkan perairan Sibolga sampai Nias mengandung minyak. Daerah kurang subur umumnya menyimpan kandungan mineral. Saatnya orang-orang pintar tapanuli yg tersebar dimana-mana membaktikan dirinya sekaligus berkarya, setelah protap jadi.

    Like

  2. Kesadaran Adalah MAtahari
    Kesabaran Adalah Bumi

    dan Perjuangan adalah :PELAKSANAAN DARI KATA-KATA!

    sekedar menginngatkan, untuk abang syamsul, abang ku, abang kita..
    Abang emang pemimpin bertuah…
    tapi ingat bang, hati-hati: TUAH BADAN CELAKA MENANTI!

    orang bertuah, kerap dinanti resiko, celaka, dan bencana, karena tuah yang dimiliknya.
    maka pandai-pandailah…

    salam
    MNS

    Like

  3. orang tapanuli ataupun orang jawa tak pedulilah yang penting tokoh yang menjadi pimpinan tahu betul seluk beluk Sumatera Utara ini. Gak usa terlalu chauvisme, sama aja manusia itu.. kalo memang bodat jadi bodat juga dia gak perduli jawa atau tapanuli. So kita doakan pemimpin sekarang minimal gak jadi bodatlah😀

    Like

  4. Yang kutakutkan tentang pemerintahan Syamsul ialah perulangan pengalaman Langkat. Dua periode jadi bupati di sana tak buat apa-apa kecuali sangu-sangu (menambah pengemis yang punya akses ke dia). Dia gak perlu jalan, jembatan dan infrastruktur lain yang buat rakyat sejahtera. Ia jogo koyok untuk bisa membungkam setiap yang kritis.
    Yunus Saragih wakilnya di Langkat akan menjadi contoh prototype bagi Gatot. Gatot akan dibenci PKS karena akan lebih asyik melayani Syamsul sambil berkorupsi ria ala PKS (itu lho yang korupsinya ora ketoro, diam-diam gak keliatan alias silence corruption itu).
    Mampus lah kita datuk. Tolonglah jangan ulangi lagi itu datuk. Kasian kami rakyatmu.

    korupsi ria ala PKS? hmmmmm🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s