Raswin Hasibuan, Segores Catatan


Raswin Hasibuan, pimpinan grup teater Kartupat, menghembuskan nafas terakhirnya bertepatan dengan tanggal sama teaterwan dan sineas ternama Indonesia, Arifin C Noer, pada 28 Mei.. Ia meninggalkan sebuah konsistensi dalam perjalanan teater di Sumut. Teater dan dirinya tak akan pernah mati.


* * *

Ini bukan sebuah laporan, ini sebuah tulisan teramat singkat untuk menggambarkan seorang Raswin Hasibuan. Lagi-lagi, ini sebuah obituari yang sungguh tak sedap untuk diuraikan dengan kata dan kalimat. Bagaimana mungkin merangkai kalimat untuk menutup peran Raswin Hasibuan dalam khasanah seni dan budaya di Medan dan Sumatera Utara?

Karena itu, menulis Raswin adalah sebuah preambule dari jenuhnya perjalanan seni dan budaya di Medan dan Sumut. Jenuh karena sosok periang yang berkumis tebal itu tak akan lagi menampilkan karya-karya segar, kreatif dan membuat orang tak melihat teater sebagai ruang yang menakutkan.

Jenuh karena teater di Sumut telah terhinggap penyakit “absurd” dalam arti yang sebenarnya maupun simbolistik. Keragu-raguan melangkah dan ketidakjelasan arah untuk dibawa ke mana bidang seni yang sudah berkarat ini, adalah pengertian absurd yang pertama.

Sabtu Ketawa, di satu sisi, adalah pertanda bahwa jurang antara penonton dan teater sudah sedemikian lebarnya, hingga butuh bantuan humor sebagai perekatnya kembali. Raswin pun tak tertandingi di sana.

Namun, even yang sejenak membuat teater Sumut berdegup itu, justru menyimpan pertanyaan dan kesenjangan yang lagi-lagi bukan hal baru, yaitu antara teater dengan substansinya. Bukan dengan keindahan dan kesempurnaan berkesenian saja tapi juga terhadap hakikat berteater itu sendiri. Benarkah teater dipanggungkan hanya untuk ditonton? Benarkah sebuah lakon diceritakan dan karakter dimainkan demi riuhnya tepukan tangan dan barisan pujian dari kritikus? Bukankah pekerjaan yang maha berat ditanggung oleh teater dan seni budaya yang lain adalah meminjam peran Tuhan, yaitu membuat seorang “manusia” alias memanusiakan manusia?

Teater memang bukan lawakan. Tapi lawakan adalah bagian dari seni peran. Pemain teater bukanlah pelawak, tapi pelawak tentu saja salah satu sisi dari aktor teater. Jangan buru-buru menuduh Raswin adalah pelawak karena teater justru dijalaninya dengan serius. Sangat sedikit ditemui di Medan, seorang seniman yang punya gairah tinggi untuk mendokumentasikan perjalanan seni dan budaya, rumah besar bagi teater, serinci yang dilakukan Raswin.

Dia memang punya kelebihan soal itu dan bukan hanya karena pekerjaannya sebagai pegawai pemerintah di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Sumut. Dan mungkin saja, media massa, salah satu pihak yang paling bertanggung jawab untuk mendokumentasikan perjalanan seni dan budaya, harus iri kepadanya.

Absurditas yang lain lagi adalah pertempuran antara sesama seniman dan budayawan yang ada di Kota Medan. Tidak terlalu sulit untuk menebak ke mana arah “pertempuran” itu; lebih individualis bukannya substansi. Itu karena, proses pertempuran itu ternyata tidak membuat kreasi dan eksplorasi terhadap karya-karya baru dalam ranah kesenian Sumut, tapi malah jalan di tempat kalau tidak bisa dikatakan set back. “Saya juga tidak mengerti, kok dari dulu hingga sekarang dan mungkin sampai nanti kita harus berkelahi satu sama lain, ha…ha…ha…,” katanya sambil terbahak pada suatu wawancara dengan saya.

Namun ia punya kebanggaan lain. Itu ketika ia menjalani hubungan yang serius dengan kampus dan mahasiswa, satu di antara ranah teater yang dari dulu selalu bernilai “potensi” dan miskin konflik. Dia datang ke kampus, melatih mereka, dan kemudian membawa mereka ke ruang Teater Kartupat di Jalan Jemadi itu. Dua hubungan timbal balik yang justru lebih menguntungkan daripada menyerang dengan kalimat “buang-buang waktu dan energi”.

Memang, bukan Raswin saja yang melakukan itu. Tapi simpanlah dahulu orang dan kelompok lain yang merasa sudah berbuat lebih banyak dari Raswin. Toh, tidak ada ruginya saling melayangkan pujian daripada cibiran.

Jangan pula dipersoalkan siapa yang lebih dulu membuka ruang itu lebih dulu, karena toh persoalan siapa yang lebih dulu lahir di dunia, ternyata sebuah absurditas yang lain dalam dunia kesenian. Siapa yang bisa mengukur, Mozart lebih bagus dan berkualitas daripada Beethoven? Siapa yang bisa menduga WS Rendra akan lebih banyak berkarya daripada Amir Hamzah? Bukankah tidak ada yang bisa menebak, Raswin akan lebih dulu meninggalkan dunia teater daripada para seniorennya? “Saya ingin pensiun. Takutnya saya hanya beronani saja,” cetus Raswin suatu waktu. (*)

5 thoughts on “Raswin Hasibuan, Segores Catatan

  1. Baru tahu ada dedengkot teater kita bernama Raswin, dan tahunya lewat obituari pula. Ini salahnya karena hanya kenal dunia seni di Jawa, itu pun terfokus Jakarta.

    Tetap aku mengucapkan terima kasih karena jadi tahu mengenai tokoh ini. Semoga jejak langkahnya ada yang melanjutkan dan mengembangkan.

    Beliau salah satu dedengkot. Salah satu yang diperanginya adalah konsep “lokal” dan “nasional”. Ini akibat sentralisasi kekuasaan dan kebudayaan yang begitu parah di negeri ini.

    Like

  2. Ingin menangis rasanya membaca tulisan ini. Tulisan yang saya dapatkan dari hasil iseng2 menuliskan nama Ayah Kandung tercinta saya di google. Ternyata sedemikian baiknya pandangan masyarakat teater kota medan terhadap perjalanan karir ayah saya.

    Dalam tangis saya sembari menulis komentar ini terselip rasa bangga tak terkatakan sekaligus senang. Saya teringat cita-cita beliau sebelum beliau menghembuskan nafasnya terakhir “Bila esok aku mati, tuliskan namaku di atas langit……”

    Semoga apa yang pernah beliau lakukan dengan tulus utk keberlangsungan nafas teater kota medan khususnya dan sumbangan terhadap budaya sumatera utara pada umumnya, bisa berdampak baik.

    Atas nama Almarhum,kami sekeluarga mengucapkan terima kasih kepada rekan beliau,anak murid sekaligus orang2 yang barangkali tidak suka padanya selama ini kami mengucapkan terima kasih atas semua support yang pernah disampaikan….

    Sekali Kupancangkan nama,pantang bagiku berkhianat..
    Walaupun bersimbah darah tapi tak tumpah!
    Bravo Teater Kota Medan, semoga masih bisa menghela nafas walaupun terengah…….

    Like

  3. Sayang aku ga kenal dekat dengan Alm.Raswin. Klopun bertandang kerumahnya hanya ketemu anaknya, yang kudengar dari beliau hanya samar-samar suara vibranya dan tata ruang seni rumah beliau yang masih kuingat sampe skr…..bener-bener namanya tertoreh di langit ingatanku…….Klopun siska,fenti,dan crew kartupat lainnya ga berani melanjutkan kartupat-nya, paling tidak sanubari kartupat trus ada dikalian dan penggemarnya. Sesuai dengan cita-cita beliau…..selamat jalan Bos Seni Kota Medan…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s