Bangkit Dari Kubur


Sophan Sophiaan, SK Trimurti dan Ali Sadikin, menjadi almarhum saat 100 tahun hari kebangkitan nasional dan satu dasawarsa reformasi. Tiga sinyal diberikan langit, ketiga orang ini adalah mereka yang berani menantang kekuasaan.

 

 

Sophan Sophiaan adalah putra almarhum Manai Sophiaan. Ayahnya dikenal sebagai pendukung setia Bung Karno dan penulis buku kontroversial “Kehormatan Bagi Yang Berhak”. Pengarang buku ini mengaku pengikut salah seorang yang menjadi “lawan” politik sekaligus pendukung teman berdebat Ir Soekarno, Sutan Syahrir. Namun, buku itu justru meletakkan Soekarno dalam posisi yang terhormat setelah dalam panjangnya masa kekuasaan Orde Baru, Soekarno diletakkan dalam “catatan pinggir” kekuasaan Soeharto. Buku itu diperdebatkan, kemudian dianggap kontroversial, dan lantas tak muncul lagi di toko-toko buku.

 

Sophan Sophiaan adalah titisannya. Dia menjadi pendukung setia putri Bung Karno, Megawati Soekarnoputri, pasca tragedi 27 Juli 1997. Dia menjelma sebagai salah seorang seniman film yang beranjak sukses meniti karir di dunia politik. Sophan pun ditahbiskan sebagai salah satu penyumbang suara bagi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) karena popularitasnya sebagai bintang dan sutradara film sudah lebih dulu muncul sebelum kelahiran PDIP.

 

Sejarah kemudian menuliskan, kisahnya hampir mirip dengan ayahnya. Ia berkonflik dengan Megawati, idola sekaligus patron baginya, dan kemudian bersama teman-temannya yang lain mendirikan partai baru yang mirip dengan bikinan Megawati, Partai Demokrasi Pembaruan. Sebelumnya, ia sempat kecewa lebih dulu terhadap kekuasaan dan memilih mundur sebagai anggota DPR.

 

Namun, sejarah juga membuktikan, antara Sophan dan Megawati, kekuasaan tak menghalangi hubungan kemanusiaan. Walau sudah di luar PDIP, Sophan mengaku terus bersimpati dengan Megawati. Dan ketika Sophan wafat menjelang 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional lalu, Megawati menaburkan bunga di kuburnya.

 

Sophan tak sendiri. Dua seniornya, Soerastri Karma Trimurti, seorang wartawati paling senior di Indonesia, menghembuskan nafasnya yang terakhir di atas bumi Indonesia. Wartawan yang dikenal konsisten dan selalu terlihat mengenakan pakaian tradisional Indonesia, kebaya, ini, sungguh beruntung: Tuhan telah memilih hari wafatnya tepat saat 100 tahun hari Kebangkitan Nasional.

 

Waktu kematiannya, tercatat mirip dengan salah seorang kusuma bangsa yang juga kontroversial, Letnan Jenderal Marinir Ali Sadikin. Trimurti pukul 18.30 waktu Indonesia Bagian Barat, dan Ali Sadikin, pukul 18.30 waktu Singapura.

 

Ketiga orang ini, entah serba kebetulan atau tidak, punya hubungan yang erat dengan Soekarno. Trimurti adalah istri pengetik naskah proklamasi Sayuti Melik dan juga salah seorang tokoh partai yang didirikan oleh Soekarno, Partai Nasional Indonesia (PNI).

 

Sementara Ali Sadikin, merupakan tokoh yang dipilih Soekarno dari begitu banyak tokoh Indonesia, untuk memimpin ibukota Republik Indonesia, DKI Jakarta. Sebelumnya, Bang Ali pernah menjabat sebagai Deputi Kepala Staf Angkatan Laut, Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja, Menteri Koordinator Kompartemen Maritim/Menteri Perhubungan Laut Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang disempurnakan, di bawah pimpinan Presiden Soekarno.

 

Kubur

Indonesia adalah sebuah negara yang menjunjung tinggi soal kelahiran. Soal awal mula lebih disanjung dari akhir. Konon, awalan lebih berarti dari akhiran. Kebanggaan ber-Indonesia ditanamkan dengan patriotisme “orang-orang dulu”. Nasionalisme masyarakat sekarang akan terus dibandingkan dengan darah, keringat dan air mata para pendahulu, para founding father. Indonesia adalah sebuah romantisme sejarah, sebuah album kenangan yang dipandang dan dirasa dengan ekspresi tertentu: tangisan, senyum dan mungkin saja tawa.

 

Itu makanya, peringatan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei dan Reformasi 21 Mei adalah sebuah flashback atau tayang mundur. Indonesia seperti juga setiap manusia yang kehilangan orang tuanya, akan melihat mundur kembali di masa-masa sebuah kebersamaan. Seorang anak melamunkan kisah orang tuanya, dan sebuah bangsa akan merindukan para pahlawannya.

 

Ketika ketiga tokoh itu wafat, maka memori langsung melayang seperti sebuah kaleidoskop. Sophan dengan wajah ganteng dan istrinya yang cantik bergandengan dalam sebuah film terkenal Pengantin Remaja (1971). Sophan yang tak pernah digosipkan seperti gosip murahan kaum selebriti masa kini.

 

Kemudian terlintas pula Trimurti yang bukan hanya sekedar wartawati, tapi juga seorang guru di Sekolah Dasar Khusus Putri, di Surakarta dan Banyumas, serta di Perguruan Rakyat, Bandung. Trimurti yang dipenjara Belanda tahun 1936 di Penjara Wanita, di Bulu, Semarang, karena menyebarkan pamflet anti penjajah dan kemudian dibui lagi tahun 1939-1943.

 

Trimurti yang menulis di majalah Pikiran Rakyat, Pesat, Bedug dan Genderang dengan nama samaran Karma atau Trimurti. Trimurti yang bercerai dengan pengetik naskah proklamasi, Sayuti Melik, pada tahun 1969. Trimurti yang menjadi seorang perempuan berkebaya yang membelakangi kamera di sebelah kanan Fatmawati Soekarno, dalam foto pengibaran Sang Merah Putih seusai pembacaan naskah proklamasi tanggal 17 Agustus 1945.

 

Trimurti yang suka pada yoga dan kemungkinan menjadi resep umurnya panjang, 96 tahun. Sampai kepada Trimurti yang wafat pada tanggal 20 Mei 2008, di tengah maraknya demonstrasi anti kenaikan BBM. “Dia masih ingat Bung Karno dan Ali Sadikin,” kata Heru Baskoro, salah seorang anaknya.

 

Ya, Ali Sadikin. Dia bukan punya orang Jakarta saja, walau dialah Gubernur Jakarta paling mentereng. Ia diingat orang, ketika orang begitu bangganya bisa berkunjung ke Jakarta, karena di sana sudah ada Taman Ismail Marzuki (TIM), Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja dan seterusnya.

 

Bang Ali yang mencontohkan bahwa posisinya sebagai pejabat dan penggagas TIM, tak serta merta membuatnya dapat tiket gratis. Dewan Kesenian Jakarta, pada Agustus 2002, pun memberikan penghargaan “Anugerah Cipta Utama” kepada Bang Ali. Penghargaan itu diberikan karena keputusan Ali mendirikan TIM di tahun 1968.

 

Bang Ali juga yang membuat suku bangsa Betawi mendapat kehormatan kembali di kampugnya sendiri. Aspek budaya Betawi dihidupkan kembali, seperti kerak telor, ondel-ondel, lenong, topeng Betawi dan seterusnya, sampai pada Pekan Raya Jakarta atau Jakarta Fair yang kemudian dicontoh di seluruh Indonesia. Benyamin Sueb pun harus berterimakasih pada Bang Ali. Ketika mulai menjadi gubernur pada April 1966, dana yang tersedia hanya Rp 66 juta dan saat meninggalkannya, ia mewariskan anggaran belanja sebesar Rp 16 milyar.

 

Bang Ali juga yang mengajarkan kepada bangsa, bahwa walau sekuat apa pun kekuasaan itu, daya kritis mesti tetap ada. Dia bersama “pasukan” Petisi 50 merupakan kelompok paling berpengaruh dalam mengkritisi kekuasaan Orde Baru. Mereka mengajarkan untuk tak takut berseberangan dengan kekuasaan.

 

Ketika para orang tua wafat dan meninggalkan para generasi muda, yang tertinggal adalah memori. Tak ada gunanya patung, monumen atau apapun itu nama dan bentuknya, bila ia tak meninggalkan memori bagi yang ditinggalkan. Tak ada gunanya sebuah gapura, lembaran foto ataupun dokumentasi tanda jasa, bila ia tak mampu membuat mata manusia menoleh padanya.

 

Indonesia sudah terlalu jenuh dan selayaknya bangkit dari kuburan mereka. Bukan dari omong kosong penguasa… (*)

One thought on “Bangkit Dari Kubur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s