Padahal, Istri Mau Empat


Sudah lama aku tak menulis dengan serius. Yang menghabiskan bacaan beratus-ratus lembar, rokok berbungkus-bungkus dan teh manis bergelas-gelas. Yang menguras tenaga dan membuat kamar berserak-serak.
Sudah terlalu lama aku tak menghabiskan waktu membaca dengan serius. Sudah lama aku tak melihat perlintasan orang di persimpangan jalan, di mall dan plaza dan di terminal-terminal.

Sudah terlalu lama aku memanjakan waktu di hadapan kotak segi empat bernama layar monitor dan tuts keyboard yang satu persatu hurufnya sudah mulai kabur. Sudah terlalu jarang aku berjalan kaki di kota Medan yang panas dan membiarkan kulitku terbakar merah. Sudah lama kuhilangkan topi rimba nan dekil yang sewaktu kuliah selalu nangkring di kepala ini.

Sudah terlalu lama pula kenangan akan rambut gondrong yang sedikit melewati bahu itu, tersimpan di laci-laci memori yang sudah mulai karatan. Jeans rombeng dan koyak memang masih kupakai, tapi itu pun cuma seminggu sekali. Sendal jepit yang selalu bisa diandalkan itu pun sudah tak lengket lagi di kaki.

Rokokku dulu Dji Sam Soe. Kini rokok yang sudah dibeli orang Amerika itu sudah tak kuat lagi ditarik. Gantinya, rokok Amerika juga, marlboro, yang sebentar-sebentar sudah minta ditarik lagi. Capek-capek orang Amerika itu berpikir bagaimana menghasilkan rokok terbaik, pemasaran terlawas, dan kemudian diserahkan kepadaku untuk dihabiskan.

Dulu, aku tak perduli untuk mencari uang. Yang ada di kantong cuma ongkos naik angkot dan bekal beli teh manis panas atau kopi dan tentu saja, rokok. Kalau habis duit, pantang pula berhutang, minta saja sama kawan.

Kini, aku dibilang orang, bekerja mencari uang, mencari makan. Dibantahpun kata-kata orang ini, mereka tak bakal peduli. Ya sudah, biarkan saja mereka menganggapnya begitu. Segitu capeknya pun mencari uang, uang pun tak banyak-banyak juga. Miris hatiku, bagaimana cara Aburizal Bakri punya ratusan miliaran uang di rekeningnya. Tak habis pikir aku, bagaimana Bill Gates bisa punya duit seperti air di lautan.

Duit pun tak terkumpul-kumpul juga. Padahal, istri mau empat. (*)

5 thoughts on “Padahal, Istri Mau Empat

  1. ha..ha..ha…
    itu namanya lebih besar pasak dari pada tiang..
    nafsu besar ..tenaga kurang…
    ha..ha..ha..

    Like

  2. kenapa kau biarkan orng lain tahu siapa dirimu nirwan?/ terlalu banyak yg kau bagi itu !!

    tenang saja. itu untuk konsumsi intelijen.πŸ˜€

    Like

  3. bagaimana klo berjalan-jalan sebentar,…seminggu atau dua minggu…

    kembali ke masa lalu, merasakan apa yang ingin dirasakan kembali… ide bagus kan.. ???

    siap jenderal, saran itu sudah lama tak dilakoni.πŸ™‚

    Like

  4. Gedungnya yg 4, tabungannya 4 dan aaaapa aja boleh 4 bahkan lebih… Kalo Is3, aklo bisa satu aja mas….(maksa)
    Lam kenal ya…….

    kalau bisa….πŸ˜€ salam kenal juga, terima kasih sudah berkunjung

    Like

  5. πŸ™‚

    nikmat membacanya.

    khas sumatera utara.

    terimakasih, man. ayo sambil dimakan kuenya…πŸ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s