BBM 2005 + BBM 2008 = Hancur…!


Pemerintah memang betul-betul aneh. Pasalnya, pemerintah sendiri sudah menyatakan, kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) justru akan memicu inflasi. Kenaikan inflasi, jelas menaikkan harga. Kenaikan harga bakal menambah pengangguran, meningkatkan kemiskinan, dan secara ekonomis, menurunkan daya beli.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) sudah memprediksi, kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar 30% bisa membuat inflasi dua digit. Inflasi tahun kalender (Januari-April) sebesar 3,53%, sudah mendekati target inflasi yang ditetapkan selama satu tahun yaitu lima plus minus satu. BI sendiri diperkirakan akan menggunakan instrumen suku bunga acuan, BI rate untuk meredam tekanan inflasi.

Sementara itu, tekanan inflasi dari sisi pasokan dan distribusi bahan makanan, kemungkinan akan ditangani dengan cara menstabilkan harga-harga komoditas strategis, seperti beras dan minyak goreng. Resep ini pula yang dipakai oleh pemerintah sewaktu mengantisipasi kenaikan BBM tahun 2005 lalu. Menurut perhitungan BI, inflasi indeks harga konsumen (IHK) 2006 sebesar 6,6% dapat berkurang menjadi 4,9% bila harga beras dan minyak goreng stabil. Begitu pula pada 2007, inflasi IHK sebesar 6,6% dapat bekurang menjadi 5,6%. Saluran distribusi menjadi salah satu kunci penahan inflasi.

Sementara itu, LPEM-UI, yang selama ini menjadi ”partner” pemerintah dalam menaikkan harga BBM, berujar senada. Direktur LPEM UI, Chatib Bisri menjelaskan, kenaikan BBM sebesar 30% akan menambah posisi inflasi sebesar 2,5% dari posisi inflasi April 2008 yang year on year (yoy) sudah mencapai 8,96%. Ramalan LPEM UI, inflasi akan naik menjadi sekitar 11,44%. Jika terjadi penambahan inflasi 2,5%, posisi pertumbuhan ekonomi nasional juga akan diramalkan turun sebesar 0,1-0,2%.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi akan ada tambahan inflasi sebesar 0,75 % pada Mei ini, menyusul kenaikan BBM bersubsidi tersebut.

Akibat lain selain inflasi adalah pengangguran. Diprediksikan, bila BBM naik 30%, angka pengangguran akan bertambah 16,92%. Bila kenaikan hanya sebesar 20%, peningkatan pengangguran diperkirakan sebesar 11,28%. Dan untuk kenaikan harga BBM sebesar 10% akan berdampak pada kenaikan jumlah pengangguran sebesar 5,64%. Data itu diungkapkan oleh ReforMiner Institute. Berdasarkan data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2007 tercatat sebanyak 10,01 juta orang.

Tak hanya pengangguran, kemiskinan pun akan meningkat. Dengan kenaikan harga BBM sebesar 30%, maka kemiskinan naik sampai 8,5%. Sedangkan jika kenaikan 10% dan 20% mengakibatkan pertumbuhan kemiskinan sebesar 2,85% dan 5,7%. Sementara, bila BBM naik 30%, versi ReforMiner memprediksi kenaikan itu bisa sampai 26,94%. Prediksi kenaikan inflasi itu jelas lebih tinggi dari versi pemerintah.

Sumut 2005
Sejak lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan, kenaikan harga BBM sudah dilakukan sering kali, di antaranya di tahun 2002 dan 2003. Sejarah sudah membuktikan, inflasi tambahan berkisar 1-2 % setahun. Teorinya, setiap inflasi juga menambah jumlah orang yang menjadi lebih miskin. Rumus 1% inflasi menambah 0,1% penduduk miskin masih dipakai oleh pemerintah.

Di 2005, pemerintah memperkirakan dampak tambahan inflasi sekitar 1,5%. Perkiraan inflasi tahun 2005 dihitung 6% plus 1%. Inflasi sendiri telah memuncak pada tahun krisis 1998 (77,6%), mereda di tahun 1999 (2%), meningkat lagi di tahun 2001 (12,5%), 10% (2002), 5,1% (2003), dan 6,4% (2004). Inflasi yang tinggi memang bukan karena kenaikan BBM saja, melainkan juga karena kurs rupiah yang melemah.

Di Sumut sendiri, berdasarkan berita resmi statisik yang dikeluarkan BPS Sumut per 2 Mei 2008 lalu, inflasi sudah merangkak naik. Bulan April 2008, Medan mengalami inflasi sebesar 0,21%, Pematang Siantar 0,48%, Padang Sidimpuan 0,24 %, sedangkan Sibolga mengalami deflasi 0,62 %. Secara keseluruhan, Sumut mengalami inflasi sebesar 0,21 %. Komoditas utama yang menyumbang inflasi antara lain bawang merah, daging ayam ras, gula pasir, sabun deterjen bubuk, sabun mandi, susu bubuk, cabe hijau dan jeruk.

Walau demikian, versi BPS juga menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Sumut yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 pada triwulan I tahun 2008, meningkat 3,67 % dibanding triwulan IV tahun 2007 (quartal to quartal). Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor pertanian sebesar 7,26%. Disusul oleh sektor jasa-jasa sebesar 4,93 % dan sektor pengangkutan dan komunikasi 3,49 %. Sektor-sektor perekonomian yang lain mencapai pertumbuhan di bawah 3%.

Terjadinya inflasi/deflasi pada bulan April 2008 menyebabkan laju inflasi tahun kalender (Januari –April 2008) masing-masing kota sebagai berikut: Medan 2,41%, Siantar 3,57%, Sibolga
3,97%, dan Padang Sidimpuan 4,91%. Sedangkan inflasi kalender untuk Sumatera Utara sebesar 2,68%.

Bagaimana dampak kenaikan BBM 2005 di Sumut? Berita resmi statistik per 24 Januari 2006 menyebutkan, laju inflasi Sumut sampai dengan Desember 2005 tercatat sebesar 22,41 %, atau melonjak tinggi dibandingkan tahun 2004 yang sebesar 6,80 %. Inflasi 2005 lalu itu lebih tinggi dibanding dengan inflasi nasional yang sebesar 17,11%.

Inflasi tertinggi tahun 2005 terjadi pada bulan Oktober yaitu sebesar 11,56%. Pemicu utamanya, tentu saja, kenaikan BBM, terutama di Oktober 2005. Kenaikan itu memicu kenaikan indeks yang cukup tinggi terutama pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan. Kenaikan di tiga sektor itu mencapai 60,59%!

Inflasi tertinggi kedua terjadi pada kelompok bahan makanan yaitu sebesar 23,83%, sedangkan perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar merupakan kelompok tertinggi ketiga dengan inflasi sebesar 16,92%. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami inflasi sebesar 11,75%, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 5%persen, dan kelompok sandang sebesar 8,70%. Sementara kelompok kesehatan merupakan kelompok yang mengalami inflasi terendah yaitu sebesar 4,66%.

Jika ditelusuri dari 4 kota inflasi di Sumatera Utara, inflasi tertinggi terjadi di Kota Medan yaitu sebesar 22,91%, diikuti oleh Sibolga sebesar 22,39%, Pematang Siantar inflasi 19,67%. Sementara Kota Padang Sidempuan mengalami inflasi terendah ibandingkan kota lainnya, yaitu sebesar 18,47%.

Di tahun 2005 pula, tingkat pengangguran di Sumut naik dibanding tahun 2004. Pada tahun 2005, jumlah penggangguran terbuka yaitu penduduk 15 tahun ke atas yang mencari pekerjaan, mencapai 636.980 orang dari 5.803.112 jumlah angkatan kerja, atau sekitar 10,98%. Sedangkan tahun 2004, angka pengangguran yang tercatat pada kondisi bulan Agustus sebesar 610.540 orang dari. Setahun setelahnya, berdasar atas survei angkatan kerja nasional 2006 – 2007 tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Sumut menjadi 11,51% per Agustus 2006.

Masih mau naikkan BBM? (*)

sumber: dirangkum dari berbagai sumber

12 thoughts on “BBM 2005 + BBM 2008 = Hancur…!

  1. sama aja deh bang
    minyak gak naik, tapi minyak dunia naik implikasinya pasti kena pangan deh.
    yang kudu dipikirin gimana bangsa ini nyari alternatif bahan bakar untuk mengantisipasi keadaan minyak yang udah makin menipis diperut bumi.

    Like

  2. @ puang: kebetulan rokok saya marlboro…. salam kenal juga..🙂

    @ bella: …

    @ arul : tapi akibatnya lebih parah yg tahun ini.😦

    @ ika : Minyak naik, seharusnya kita untung, seperti negara-negara Arab dan Venezuela sana. Jadi, orang pertamina dan pemerintah mesti digetok kepalanya. soal pangan, adalah keanehan kalau harga pangan kita mesti tergantung orang luar yang wilayah pertaniannya aja gak ada. kenyataannya, orang Indonesia ngeludah di tanah aja, dah tumbuh tuh rumput😀

    Like

  3. makanya, rada pusing tinggal di negeri ini.
    tapi yah gimana lagi, sudah terlanjur cintah.
    mana medan hari ini macet sangat:(

    Like

  4. duh bbm naik pejabat-=pejabat kitapun naik tapi rakya malah melorot dan tersingkir….. yang kaya makin kaya , yang miskin tambah parah…. bung cARI AMAL dhunk jangan cari nikmat dunia… wass deh nekara makin penuh aja neh…. heheheh

    orang masuk neraka gak perlu seleksi lagi kayaknya… hahahaha😀

    Like

  5. Anda pasti karyawan BPS yach, soalnya datanya komplit dan otentik sekali. Luar biasa artikelnya, salut……
    Salam Kenal http://economatic.wordpress.com/

    gak kok bang susanto, aku pertamanya pening sendiri nengok data BPS itu, abis nengok, langsung malas aku jadi karyawan BPS…hehehehhe😀 …Ah jadi malu aku disambangi sama ekonom. langsung ku link ni bang….

    Like

  6. Kenaikan BBM karena keterbatasan APBN, keterbatasan APBN karena keterbatasan penerimaan negara, keterbatasan penerimaan negara karena keterbatasan pajak yang diterima, keterbatasan pajak yang diterima karena sistem perpajakan yang belum efisien dan efektif serta orang-orang seperti kita yang belum sadar untuk bayar pajak yang sebenarnya

    kenaikan BBM karena kebijakan SBY-JK tak berpihak pada rakyat, tak berpihak karena keduanya tak punya dan tak mau menerapkan ekonomi kerakyatan, tak diterapkan karena keduanya lebih asik memoles wajah dan tebar pesona, memoles wajah dan tebar pesona karena keduanya mau lagi berpasangan di 2009, kalau semua orang terpesona dengan wajah pesolek itu dan tidak sadar-sadar juga maka mereka bakal terpilih kembali, dan orang-orang yang belum sadar itu bakal kena tipu lagi karena BBM tak pernah turun tapi naik-naik terus ke puncak gunung …

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s