Negara Untung, Rakyat Buntung!


Seperti sudah bisa dipastikan, hampir seluruh kalangan tak menyetujui kenaikan ini, terutama dari golongan bawah. ”Nggak ngerti kok bisa dinaikkan lagi,” kata Husni, penjual minyak eceran di jalan Pancing Medan. Husni yang biasa menjual bensin eceran Rp 5.000/liter kini makin pusing. Salah satunya, SBPU Pertamina sudah melarang kembali penjualan memakai galon dan drum.”Kemarin masih boleh, tapi mulai Rabu (7/5) kemarin sudah tidak boleh lagi,” katanya.

 

Apa akal? Husni pun terpaksa bolak-balik ke SPBU dan mengisi penuh roda duanya baru kemudian disedot lagi ke drum di pangkalannya.Waktu jualan pun makin lama karena selain bolak-balik ke SPBU, tak semua pom bensin Pertamina buka 24 jam. ”Mereka sih sudah tau, kalau yang sering bolak-balik itu pedagang eceran. Tapi kan kalau ke’gitu mereka gak bisa  melarang,” katanya lagi.

 

Satu hari, Husni biasanya mampu menjual hingga 50 liter alias omzetnya rata-rata Rp 250 ribu perhari. Dengan selisih harga premium di pom bensin resmi yang Rp 4.500/liter, ia sudah memperoleh keuntungan sebesar Rp 500/liter. Husin sendiri mengaku menjual bensin murni dan tidak mencampurnya dengan bahan lain. Ukuran gayung 1 liter pun bisa dilihat oleh pembeli.

 

Menurut Husni, walau harga minyak akan naik, dia sendiri tidak otomatis akan untung besar. ”Pembeli pasti akan memilih beli di galon resmi. Soalnya harganya sudah tinggi. Kalau di eceran, kan lebih mahal dari galon resmi,” ujarnya lagi. Tak ayal, dia pun sudah membayangkan, penghasilannya dari menjual BBM eceran akan gulung tikar dalam waktu dekat. Apalagi, katanya, harga-harga kebutuhan sehari-hari sudah merangkak naik. 

 

Tak cuma Husni. Malik, seorang loper koran di Sumut, mengatakan, biaya yang mereka akan keluarkan akan makin menggila setiap paginya kalau harga BBM naik. Ia menjelaskan, untuk menjalani rute mereka sehari-hari, rata-rata dia menghabiskan dua liter per harinya. ”Jadi kalau pas malamnya isi bensin Rp 10.000, besok pagi itu dah habis,” katanya. Otomatis, untuk jalan lagi ketika di siang hari, dia harus isi bensin lagi.  ”Itu masih untung kalau pake kereta (sepedamotor, red) empat tak, kalau dua tak, hajablah,” katanya lagi.

 

Jenis kendaraan memang menentukan besaran pemakaian bensin per harinya. Untuk sepedamotor 4 tak yang biasanya lebih hemat bensin, kebutuhan per hari dengan rute tetap memang bisa dirata-ratakan dalam kisaran Rp 10.000. ”Itu sudah bisa keliling kota Medan, tapi sekali putar aja,” kata Malik. Lain bila memakai sepedamotor 2 tak yang lebih boros bensin. ”Teman saya, kereta dia 2 tak, minimal dia itu habis Rp 25.000 per hari untuk bensin. Itu untuk rute dari rumah ke kantor aja, belum kalau mau keliling. Gak bisa lagi rupanya kita nolak harga BBM itu?” tambahnya lagi. 

 

Masalahnya tambah ruwet ketika angka itu diakumulasikan dalam 25 hari kerja. Bila rata-rata habis Rp 10.000 per hari, pengeluaran untuk bensin saja menjadi Rp 250 ribu. Bila dibandingkan dengan nilai UMP yang belum juga tembus Rp 1 Juta rupiah, maka komponen BBM sudah menguras 25% pengeluaran setiap orang.

 

Yang paling ngeri memang, kenaikan harga BBM biasanya akan berimbas langsung dengan harga kebutuhan pokok. Pasalnya, selain harga distribusi juga akan naik, kebutuhan-kebutuhan lain yang tidak secara langsung menggantungkan dirinya pada BBM, juga akan naik. Effendy, seorang pemilik toko grosir kebutuhan pokok yang dijual dengan harga eceran di daerah Perjuangan Medan, berujar, harga-harga saat ini masih stabil. ”Tapi kalau BBM sudah naik, harga pasti akan naik. Itu pasti! Sekarang, distributor dan grosir besar saja sudah menghitung-hitung kenaikan kok,” katanya.

 

Fendy sendiri mengaku, naiknya harga tidak otomatis menaikkan keuntungan. ”Harga jual naik ’kan karena harga belinya naik. Untungnya, ya, tetap segitu-segitu juga. Itu kalau orang mau beli. Kalaupun beli, porsinya mungkin tidak akan sebanyak sekarang. Kalau bisa, sih, BBM jangan naik, lebih banyak ruginya daripada untungnya,” jelasnya lagi.

 

Yang pening memang bukan hanya kaum pekerja, tapi yang bakal terkena imbasnya adalah rumah tangga. Seberapa pening mereka? Silahkan tanya pada istri, ibu ataupun saudara Anda… (*)  

2 thoughts on “Negara Untung, Rakyat Buntung!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s