Takut ’66, Takut ’98, Takut ’08


Bulan Mei adalah bulan romantis dalam sejarah Indonesia. 2 Mei Hari Pendidikan, 20 Mei Hari Kebangkitan Nasional dan 21 Mei tanda genderang reformasi ditabuhkan. Inilah negeri yang menurut puisi Taufiq Ismail, penuh ketakutan.

TAKUT 66, TAKUT 98

Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa

(Taufiq Ismail, 1998)

Bagi Taufiq Ismail, Indonesia adalah sebuah negara di mana perasaan takut menjadi penjaganya. Dari tingkat bawah hingga ke tingkat paling atas sebuah struktur politik dan kebudayaan, was-was dan kekhawatiran akan jatuhnya sebuah eksistensi individu dan kelompok, begitu digdaya.

Takut menjadi kebiasaan. Sifatnya “selalu”: berketerusan, berkesinambungan, dari lahir hingga mati. Takut ini dipelihara namun tidak dibonsai. Ia dirawat dan dihidupkan laiknya pohon beringin; besar, akarnya menghujam keras ke tanah dan daunnya rimbun melingkupi orang yang ada di bawahnya.

Taufiq mengulang terus kata takut itu di setiap barisnya. Hubungan antara sistem, subsistem dan suprasistem dilandasi oleh ketakutan antara satu sama lain. Mulanya memang, takut itu seperti satu arah saja; yang bawah takut kepada atasannya. Namun kemudian, dengan logika historis pula Taufiq menjungkirbalikkan asumsi itu atau lebih tepat lagi, memperlihatkan ketakutan yang paling utama dari sebuah kekuasaan: lengser. Tak ada kata lain, selain ketakutan itu telah menjalar di seluruh sendi kehidupan negara.

Dalam puisi itu, Taufiq sama sekali tak menyebutkan kata-kata rakyat. Bisa dipahami karena seluruh komponen yang disebutkannya itu adalah bagian ”kecil” dari rakyat. Mereka adalah yang disebut ”agen-agen pembangunan dan perubahan”, mereka yang dikatakan kaum terdidik, mereka yang diangkat untuk mengatur orang-orang pintar dan tentu saja, dia yang punya kuasa tertinggi untuk mengendalikan apa pun di negeri ini.

Orang-orang ini adalah kelompok eksklusif di antara rakyatnya. Mereka punya tugas untuk membesarkan negeri tapi mereka justru dilingkupi perasaan kontraproduktif terhadap rakyatnya sendiri: sebuah ketakutan.

Ketakutan itu mengerikan dan kengerian adalah sebuah misteri. Kengerian itu hanya karena satu kata: ”akan”. Seorang pengusaha menjadi takut, karena dikabarkan ia akan bangkrut. Seorang perampok menjadi takut, karena ia mendengar ia akan ditangkap. Seorang ibu takut melahirkan, karena ia akan punya anak. Karena kalau ia sudah ditakdirkan mandul, ia tidak akan pernah takut melahirkan.

Karena itu, takut adalah sebuah ”sandang”. Ia tidak pernah berdiri sendiri dan pasti jelas objek ketakutannya. Ia mestilah disematkan, karena tidak pernah ditemui sebuah takut yang tanpa disertai alasan.

Mahasiswa takut sama dosen, karena dosen punya kuasa untuk tak meluluskan si mahasiswa. Dosen takut sama dekan, karena dekan bisa saja membuat dosen tak kebagian mata kuliah. Berkurang mata kuliahnya, berkurang pula pemasukan dan cum creditnya.

Dekan takut sama rektor karena rektor bisa memecat dekan dan tak meluluskan program-programnya. Rektor takut sama menteri karena menteri bisa tak merekomendasikan rektor untuk jabatan keduanya. Dan ketakutan menteri terhadap Presiden? Setiap saat, dalam sistem presidensial ini, seorang Presiden bisa memecat menteri-menterinya tanpa menunggu kasus korupsi sang menteri lebih dulu, tanpa menunggu krisis sudah terjadi, tanpa menunggu dan tanpa menunggu.

Setiap posisi dalam keadaan was-was dan underpressure. Tidak ada yang bisa bekerja dengan tenang walau yang dikerjakannya itu sesuai dengan aturan dan standard operational procedure. Itu karena hukum sudah tak berjalan di negeri ini. Tak ada sebuah kepastian seseorang bisa menuntut balik dan menang bila ia dipecat dari pekerjaannya. Ironisnya, tak ada kepastian pula, kemenangan yang diberikan pengadilan akan membuat hak-haknya bisa utuh kembali.

Tak ada kepastian, bila seorang mahasiswa yang sudah tamat akan dapat bekerja sesuai bidang ilmunya. Tak ada jaminan bagi seorang dosen untuk dapat penghasilan layak, walau katanya jabatannya itu lebih terhormat dari seorang guru. Pun tak menjamin, seorang dosen akan lebih cerdas dari seorang guru.

Yang menjadi sumber kepastian adalah penguasa dan di negeri ini dia disebut Presiden. Presiden bisa memastikan apakah seorang menteri layak dipertahankan untuk jabatan lima tahun ke depan atau tidak. Titah Presiden adalah garansi, kalau seorang menteri yang diangkat sudah pas sesuai kompetensinya. Tidak peduli apakah yang mengurusi soal keuangan itu adalah seorang insinyur atau tidak. Tidak peduli apakah yang mengurusi soal-soal sosial adalah seorang zalim atau tidak.

Presiden adalah sumber hukum tertinggi. Dia lebih tinggi dari konstitusi karena walau konstitusi sudah memerintahkan untuk membuat anggaran pendidikan 20% dari anggaran negara, Presiden masih bisa lenggang kangkung tak menggubrisnya. Bahkan, pendidikan pun didagangkan dalam setiap kampanye.

Tapi Taufiq Ismail membesarkan hati rakyat. Ia menyebutkan, ketakutan Presiden ada di tangan mahasiswa. Kejatuhan Soekarno karena mahasiswa adalah sebuah legenda. Seperti laiknya sebuah legenda, harus ada yang jadi pahlawan walau banyak faktor yang melingkupi kisah legenda itu. Sejarah memilih, mahasiswa menjadi pahlawan itu.

Romantisme itu pula yang menjadi harapan Taufiq di ujung era Orde Baru: mahasiswa bisa menjatuhkan seorang Presiden. Tidak DPR, tidak pula MPR karena posisi mereka dalam sejarah sudah ditentukan, mereka pihak yang melegalkan kejatuhan itu.

Walau sangat kuat, puisi Taufiq ini pun bukan tanpa kelemahan, terutama susunan konteksnya. Marilah berandai-andai. Seandainya, Presiden tak takut terhadap mahasiswa bagaimana? Sejarah sudah membuktikan itu. Mahasiswa yang begitu digdaya pada 1966, ternyata hanya menjadi ”catatan pinggir” kekuasaan selama hampir 32 tahun.

Membuat puisi yang tak lapuk oleh panas dan tak lekang oleh hujan memang tak mudah. Lagipula, itu tergantung momentumnya juga. Puisi Taufiq yang membakar syahwat itu, jelas diperlukan sebagai asupan energi bagi perubahan. Setelah sepuluh tahun diucapkan Taufiq, toh revelansinya dengan fenomena kekinian masih sangat terasa.

Presiden takut negara bangkrut, itu sah-sah saja. Presiden ingin menyelamatkan APBN dengan menaikkan harga minyak, itu hak dia.

Yang aneh, kalau Presiden tak takut kalau rakyatnya akan bangkrut dan kelaparan. Kalau sudah begitu, Taufiq tampaknya mesti buat puisi lagi soal takut 2008… (*)

5 thoughts on “Takut ’66, Takut ’98, Takut ’08

  1. kira-kira walikota dan wakil medan yang dirutan sana mengkhawatirkan warganya yang bakal kesusahan ndak ya?

    Like

  2. Takut. Kemudian pasrah menjalani kehidupan yang sesungguhnya mati. Seperti zombi.

    Tak ada nilai-nilai yang hidup dan tumbuh. Hanya daur ulang nilai-nilai usang dan sampah dari perubahan-perubahan yang tak berbuah, tak mengendap, dan tak mengkristal.

    Indonesia adalah kancah perubahan yang dahsyat, tapi semuanya berakhir pada lupa.

    AyomerdekA

    Like

  3. Setelah sepuluh tahun diucapkan Taufiq, toh revelansinya dengan fenomena kekinian masih sangat terasa.
    Revelansi?? itu artiny apa bang,,,;p

    Dari semua ketakutan itu, cuma satu yg tdk d bahas, ketakutan si nirwan terhadap wanita !!! hihiiiii,,,,;p

    protes aja pun…!!! kok tau awak takut sama wanita…. soal wanita lain pembahasannya😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s