Prof Hasyimsyah: Islam Moderat Itu Jembatan


Radikalisme ataupun fundamentalisme Islam sering dihadapkan dengan liberalisme Islam. Gelombang pemikiran Islam kontemporer, saat ini lebih dilihat dari dikotomi tersebut. Islam moderat jadi jawaban Prof Hasyimsyah Nasution MA, mantan Direktur Pascasarjana (PPs) dan Guru Besar Pemikiran Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Medan.


Mari baca pemikiran Hasyim soal Islam moderat. “Itu konsep yang menjembatani antara pemikiran fundamentalis dan liberal,” katanya suatu waktu kepada saya. Sebelum ke sana, Hasyim meracik pemikirannya terhadap batasan-batasan yang terdapat dalam aliran fundamentalis dan liberal.

Pertama aliran fundamentalis. Konotasi dan fundamentalis sekarang terlihat pada kelompok Islam, yang kata sebagian orang, identik dengan terorisme. “Pada mulanya menjadi stigma yang jelek karena dibawa dalam persoalan politik,” terang Hasyim. Melihat fundamentalisme, menurut Hasyim, bisa ditarik dari dasar pemikiran paham tersebut. Hasyim sendiri tampak begitu perhatian dengan fundamentalisme. Paling tidak, pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Pemikiran Islam Fakultas Ushulluddin IAIN Medan yang berjudul Refleksi Keberagaman Fundamentalisme di Indonesia” pada Februari 2005 lalu, mengungkapkan hal itu.

Radikal berasal dari kata radix yang berarti akar. Akar terdalam pada agama adalah keyakinan kepada Tuhan, akhirat, kitab suci, nabi-nabi, dan seterusnya. “Kalau tak ada keyakinan itu, maka tidak bisa disebut agama,” kata Hasyim.

Masalahnya kemudian, pemahaman terhadap keyakinan di tingkat internal agama itu sendiri berbeda-beda. “Radikalisme bukan hanya menganggap salah hal yang berbeda, tapi juga harus diperangi, dihindari ataupun dicegah kepada tindakan. Jadi, ia bukan bentuk keyakinan saja atau pasif,” jelas Hasyim. Radikalisme kemudian dianggap sama dengan fundamentalisme.

Istilah fundamentalisme sendiri, menurut Hasyim, dikenal pertama kali dalam masyarakat Kristen Protestan pada awal abad 20 terutama di Amerika Serikat dan di beberapa kawasan Amerika latin, serta dalam masyarakat pemeluk Kristen di Afrika dalam usaha mereka melawan pengaruh modernisme. Oleh karena pemerintah berperan sebagai salah satu pendorong modernisme, maka secara politis muncul anggapan bahwa segala gerakan yang mengatasnamakan agama menentang kebijakan politik pemerintah dipandang sebagai gerakan fundamentalisme. “Di semua agama, fundamentalis itu ada,” ungkap Hasyim.

Menurut Hasyim, istilah fundamentalisme untuk pertama kalinya ditransfer ke Asia barat oleh pers Amerika, dalam rangka menggambarkan protes-protes yang menentang Syah Iran pada akhir tahun 1970-an. Karena itu, tambah Hasyim, dalam Islam istilah fundamentalisme ini selalu berkonotasi pejoratif atau lawan. Cap-cap yang kemudian diberikan dengan istilah fundamentalis ini yaitu reaksioner, otoriter, tidak masuk akal, literalis, tidak kosmopolit, dan anti modern. Cap itulah yang kemudian diberikan misalnya kepada Moammar Khadafi, pemimpin Libya dan Ayatullah Khomeini (pemimpin Iran).

Hasyim mengungkapkan, kitab suci yang diyakini setiap agama, itu dipahami dengan interpretasi atau pemahaman. Dalam Islam, interpretasi itu dibagi dipahamkan dalam dua tipe, yaitu tipe zhahir atau regid yang berlandaskan pada teks semata-mata. Ini menyebabkan pemahaman tipe ini cenderung kaku. Tipe kedua yaitu paham yang diambil dari maknanya atau metaforis.

Hasyim menyebutkan di kalangan ahli tafsir ada dua istilah yang dikenal tentang ayat-ayat dalam Al-quran yaitu qotli’u dhilalah (bisa dipastikan) dan Dzomniu Dhilalah (masih diragukan dan memerlukan penafsiran). Ayat jenis yang terakhir ini, justru yang paling banyak terdapat di Alquran. Hadits juga kemudian. Ketika para sahabat memakai simbol-simbol dan nabi tidak melarang, dipandang dari paham regid, itu bagian dari agama. “Tidak ada penelusuran apakah simbol-simbol itu bagian dari agama atau bagian dari budaya masyarakatnya,” kata Hasyim.

Sementara di kubu lain, liberal, bukan tanpa kritik. Lahirnya tulisan-tulisan dari Sukidi, Zuhairi Misrawi, Ulil Abshar Abdhala, dan lain-lain di media massa, sangat mengutamakan rasio dalam interpretasinya. Menurut Hasyim, sisi positif dari gerakan ini adalah sifatnya yang bisa membuat agama menjadi “jelas”.

Tapi, bukan tanpa kritik. Menurut Hasyim, faktor kejelasan dan persepsi pikiran tadi, kecenderungannya bisa membuat orang lebih longgar dalam pengamalan ajaran agama. “Untuk mendorong orang berbuat memang diperlukan kejelasan. Tapi yang juga perlu dipahami adalah dorongan itu juga bisa timbul dengan kejiwaan yang dekat dengan ajaran itu seperti yang ditampilkan kelompok radikal,” kata Hasyim masuk ke Medan tahun 1978. .

Dari dua titik pisah antara liberal dan radikal inilah, Islam sebenarnya menawarkan konsep “moderat”. “Itu pertengahan dan mayoritas. Orang Islam itu harus moderat,” katanya. Memang, tambah Hasyim, ada yang mengatakan Islam moderat itu serba tanggung. Menurutnya, itu karena secara psikologis dan filosofis jiwa manusia cenderung berada di dua kutub yang ekstrim. Ia menganalogikan seperti menonton permainan bola yang tidak akan menarik bila tidak mendukung salah satu kesebelasan.

Moderat itu sendiri bukan tak berdalil. Sebuah ayat yang berbunyi “Sesungguhnya kami menjadikan kamu umat yang pertengahan”. “Ini bisa bisa diartikan umat yang moderat,” jelasnya. Moderat bukan berarti tidak berpendirian tapi lebih pada bisa untuk menciptakan keseimbangan. “Islam menekankan adanya proses. Fayakun dalam kalimat kun fayakun adalah kata fiil mudharik, bertanda future atau ‘akan’. Bukannya Tuhan tidak bisa menciptakan segala sesuatu dengan sekaligus,” tegas Hasyim. (*)

2 thoughts on “Prof Hasyimsyah: Islam Moderat Itu Jembatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s