Islam Moderat Versi Prof Hasyim


Istilah untuk kaum fundamentalis ini sendiri berbeda-beda. Kaum fundamentalis yang berbahasa Arab menggunakan beberapa istilah seperti Ushuliyah al-Islamiyah (dasar-dasar Islam), shahwah al Islamiyah (kebangunan Islam) ataupun al-baats al Islami (kebangkitan Islam). Yang kurang simpati dengan kelompok-kelompok ini menyebut mereka dengan istilah muta’ashibin (orang-orang fanatik) ataupun mutatharrifin (orang-orang radikal). Pemerintah Indonesia dulu menggunakan istilah ekstrim kanan yang dituduh hendak mengganti negara Pancasila dengan negera Islam. Sementara Malaysia menggunakan istilah puak pelampau (orang-orang ekstrim) atau puak pengganas (orang-orang kejam).

Dirunut lebih ke belakang dalam sejarah Islam, akar-akar fundamentalis bisa dimulai dari era Dinasti Ummayyah (dipimpin khalifah Mu’awiyah). Saat itu, sudah timbul kelompok Khawarij yang semula fanatik terhadap khalifah Ali bin Abi Thalib. Tapi karena Ali sebagai kepala negara harus bersikap sama terhadap seluruh golongan, golongan ini kemudian memberontak kepada Ali karena tidak setuju dengan sikap Ali tersebut.

Kitab suci yang diyakini setiap agama, itu dipahami dengan interpretasi atau pemahaman. Dalam Islam, interpretasi itu dibagi pada tipe zhahir atau regid yang berlandaskan pada teks semata-mata. Pemahaman tipe ini cenderung kaku. Tipe kedua yaitu paham yang diambil dari maknanya atau metaforis.

Liberal mengutamakan “penjelasan” terhadap agama. Negatifnya, liberal tidak otomatis orang akan taat dalam mengamalkan agama seperti yang diberikan oleh paham radikal.

Moderat menurut Hasyim adalah sebuah akumulasi pengembangan potensi manusia yaitu antara rasio dan nurani. Mensejalankan antara kedua potensi ini ketika manusia melakukan perubahan, maka membuat manusia juga berada dalam perubahan itu. “Memanusiakan manusia dan tidak menjadikan manusia asing terhadap apa yang dibuatnya sendiri atau malah menjadi ancaman,” tegas Hasyim lagi. Amar ma’ruf dan nahi munkar adalah sebuah konsep Islam yang mendukung sebuah kondisi yang positif karena sudah dikenal dan sesuai dengan masyarakatnya dan dilanjutkan dengan kemunkaran yang harus dihentikan. “Semua harus dilihat kadar-kadarnya,” tandas Hasyim lagi.

Menurut Hasyim, selain seseorang mengetahui dengan jelas soal agama, pemeluk agama juga mesti ditunjukkan dalam pengamalan ajaran agama. Dan bukan justru mencari pembenaran sehingga syariat agama menjadi sangat longgar. Hal itu didapatkan dengan memadukan antara rasio dan nurani perasaan. Metodologi ulama tempo dulu bisa dijadikan perbandingan bagi masyarakat sekarang, yaitu mulai dengan pemahaman terhadap syariat misalnya fiqh, rasionalisme, pemahaman Ketuhanan (kalam) dan filsafati, dan tingkat sufistik. Menurut Hasyim, Islam Moderat yang lebih evolutif lebih cocok untuk perubahan masyarakat Indonesia, dibanding dengan revolusi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s