”…Muhammadiyah Diperdaya oleh Kepentingan.”


Prof Hasyimsyah Nasution MA merupakan salah seorang dari sedikit intelektual yang dimiliki Muhammadiyah Sumut saat ini. Ia pernah digadang sebagai calon kuat posisi Ketua Umum Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumut periode 2005 – 2010 lalu. Apa katanya soal Muhammadiyah? Berikut wawancara saya dengannya beberapa waktu lalu.

Saat ini posisi agama sangat lemah dibanding dengan kekuasaan, bagaimana dengan Muhammadiyah di Sumut?
Muhammadiyah sendiri selalu diperdaya oleh berbagai kepentingan. Sekarang trend-nya sangat kuat terutama dengan arus politik waktu pilkada itu. Ya, terbawa-bawa juga orang muhammadiyah itu. Tapi kemudian oleh muhammadiyah itu dikatakan individu semata-mata. Tapi mau tidak mau berimbas juga kepada organisasi. Tapi sebenarnya tidak besar itu pengaruhnya di Muhammadiyah.

Mengapa?
Tidak ada yang bisa menggiring Muhammadiyah kepada satu partai. Artinya, individunya tetap pecah. Bahwa ketika individu berupaya membawa kepada suatu kepentingan partai atau kekuasaan, tertentu itu bisa terjadi. Tapi organisasinya tidak bisa. Umpamanya kasus di Medan (sewaktu pilkada Medan) muncul kecenderungan ada kelompok yang memihak Maulana dan Abdillah. Itu bisa terjadi antara pimpinan wilayah, daerah, dan organisasi otonomnya.

Muhammadiyah tidak bisa mengendalikan kader-kadernya sendiri?
Secara nasional, waktu muktamar memang ada masalah dengan pengkaderan di Muhammadiyah. Sekarang kader Muhammadiyah cenderung pada hal-hal yang pragmatis. Maka kader pun memberi imbas juga cara berpikir pragmatis ini. Pengkaderan itu tidak berjalan secara baik seperti diharapkan. Sangat sedikit atau menurun jumlah yang idealis. Tapi mungkin itu tidak satu-satunya faktor.

Kapan krisis kader bagaimana gerakan Tajdid itu sendiri ?
Tajdid itu up to date, pembaharuan, reformis. Nah, di muhammadiyah itu terasa tidak kelihatan lagi tajdidnya, terutama ketika 1970-an. Makin tidak kelihatan ketika tahun 1990-an sampai sekarang. Sekarang kan tidak hanya Muhammadiyah saja lagi organisasi Islam yang membuat rumah sakit dan taman kanak-kanak. Malah sekarang perguruan Muhammadiyah telah dikalahkan oleh beberapa orang yang dulu tidak dikenal.

Muhammadiyah telah terlena?
Sumatera Utara betul, terlena, terlena dengan kebesarannya. Tapi untuk Indonesia tidak.

Ada kritik bahwa ada kesejenjangan kader di wilayah dan daerah-daerah?
Salah satu upaya adalah mengembangkan universitasnya yang ada di daerah. Mesti ada usaha yang serius untuk melahirkan kader-kader yang militan. Dulu di Muhammadiyah Jakarta membikin pesantren tingkat tinggi, diambil dari mahasiswa yang bagus-bagus dan punya semangat mendalami agama. Di sini pernah dicoba tapi belum ada orientasi. Kader itu kan harus orang memiliki tingkat kecerdasan dan dedikasi yang tinggi.

Di Muhamadiyah Sumut, cuma ada Anda dan Yakub Matondang yang profesor?

Tidak hanya saya. Kalau yang aktif sekarang di pengurusan, ya, memang cuma saya. Tapi saya banyak tahu banyak profesor di kampus lain seperti di USU, Unimed, IAIN, ada para profesor Muhammadiyah. Mungkin hanya persoalan tidak memiliki kartu tapi concern ia.

Anda dulu disebut sebagai calon kuat?
Saya tidak tahu apa indikatornya. Saya memang hidup dalam keluarga muhammadiyah dan sejak kecil sejak dikampung sudah diikutkan dalam pertemuan atau pengajian di ranting-ranting. Sekolah juga begitu. Sebenarnya sangat mengasyikkan untuk ikut di pengurusan tingkat ranting itu karena ikatan emosionalnya sangat tinggi. Sedangkan ditingkat daerah dan apalagi wilayah, banyak mengurusi soal yang tumbuh, terutama amal usaha.

Anda juga dijadikan salah satu simbol intelektual di Muhammadiyah?
Mungkin ada betulnya. Saya ini kan guru besar dalam pemikiran Islam. Saya berdialog dan punya basic keilmuan Islam yang rasional bukan liberal. Tapi saya hidup dalam tradisi muhammadiyah yang paham keagamaannya konservatif. Jadi secara beragama saya konservatif tapi bila ada dialog dengan islam yang rasional saya bisa ikut. Di kalangan muda dan yang menginginkan pembaruan, mungkin melihat itu. Basic saya dari dulu itu di muballhigin muhammadiyah.

Anda Ulama atau Intelektual?
Ulama itu ‘kan orang yang berilmu. Cuma direduksi maknanya ulama itu menjadi hanya pada persoalan-persoalan agama. Persoalan agama ‘kan persoalan yang luas di kehidupan. Tidak bisa didekati persoalan agama hanya didekati oleh agama an sich. Mesti diikutkan intelektual ilmu lain. Yang kedua, persyaratan ulama dulu untuk menjadi seorang mujtahid sangat sulit dicari sekarang bahkan untuk mendekati kriteria itu. Orang dulu sangat generalis ilmunya. Karena itu mesti dihadirkan sejumlah orang untuk melihat persoalan. (*)

Data Pribadi

Nama                          Prof Dr H Hasyimsyah Nasution MA
Tempat/tgl lahir         Anggoli, Tapanuli Tengah, 19 Juli 1957
Pekerjaan                    Guru Besar Pemikiran Islam IAIN Medan

Pendidikan

SD Negeri Anggoli (1968 )
Madrasah Ibtadaiyah Muhammadiyah (1968 )
PGA Muhammadiyah 2 tahun Sibolga (1970 )
SMP Muhammadiyah Padang Panjang (1971)
Kuliyyatul Muballighin Muhammadiyah (Aliyah) Padang Panjang (1974)
Sarjana Muda Fak Ushuluddin IAIN Imam Bonjol (1974)
S1 Jurusan Dakwah Fak Ushuluddin IAIN Medan (1981)
S2 Pengkajian Islam PPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1993)
S3 Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1997)
Pengukuhan Guru Besar IAIN Sumut (Februari 2005)

Keluarga:

Dra Mahriani (Istri)
Kholisah Nasution
Hafifah Nasution
Inayah Nasution
Faroh Hidayatullah
Neila Nasution

Organisasi Muhammadiyah:

Sekretaris Cabang IPM Padangpanjang (1972 – 1974)
Ketua Cabang IMM Padangpanjang (1976 – 1978 )
Ketua Ranting Muhammadiyah Simalingkar (1986 – 1991)
Anggota Majelis Tabligh PWM SU (1986-1991)
Ketua Korps Muballigh Muhammadiyah SU (1998 – 2001)
Wakil Ketua PDM Medan (2001 – 2003)
Bendahara PDM Medan (2003 – sekarang)

3 thoughts on “”…Muhammadiyah Diperdaya oleh Kepentingan.”

  1. assalamu’alaikum pak…
    minta alamat email ni bapak ya…
    biado manurut bapak maningkatkon kualitas pendidikan sikola arab khususnya di huta pak, selalu masalah guru na diribukton di anggoli.
    waktui sampat adong rencana sistim donatur bulanan bope 10rb per orang kan lumayan pak, tapi mungkin kurang berjalan juga.
    salam tu ete’ pak
    wassalam….

    kebetulan sy gk punya email prof hasyim. tapi pintu rumah beliau di medan selalu terbuka kok. telepon ada, tapi tentu tak untuk di sharing di sini …😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s