Parluhutan Siregar


Panas betul suasana Partai Amanat Nasional (PAN) Sumatera Utara kali ini. Pergantian kepengurusan DPW PAN Sumut, kali ini, sekali lagi, lebih panas dari yang dulu-dulu.

Alasan pertama, panasnya suhu pra dan pasca pilgubsu sangat mewarnai kondisi di PAN Sumut. Sudah menjadi rahasia umum bila PAN dalam posisi di titik nadir dalam peta perpolitikan di Sumut. Sehingga apa pun yang dibuat oleh kader dan elit PAN, hanya membuat orang luar tersenyum dan bukannya berpikir. Itu bila masih peduli.

Alasan kedua, panasnya iklim seputar dinamika pilkada kabupaten/kota di seluruh Sumut. Hingga sekarang, posisi PAN di tubuh eksekutif bisa dihitung dengan jari, sakingkan sedikitnya. Yang menjadi target, anehnya, hanya posisi kepala dan wakil kepala daerah. Padahal, tubuh struktur eksekutif secara keseluruhan seperti posisi sekda, kepala dinas dan seterusnya juga penting.

Paradigma ini saja -walau masih terbelakang karena membiarkan kerja yang sesungguhnya dari partai politik- belum khatam dibuat PAN. PAN Sumut sudah terlalu lama membiarkan kondisi ini berlarut-larut tanpa strategi politik yang jelas dan tegas. Akibatnya, syahwat politik di tubuh elit politik PAN Sumut dan daerah begitu berkobar melihat pilkada. Ini seperti peristiwa perang Uhud, ketika para pejuang silau matanya melihat harta pampasan perang. Bedanya, bila pejuang muslim sempat menang, PAN sebaliknya, ”merasa menang dan besar”.

Tanpa garis kebijakan yang jelas dari garis partai, PAN sudah lama ditinggalkan dalam peta perpolitikan Sumut. Akibat paling parah adalah konflik internal. Jasa terhadap partai akan diumbang sekedar untuk memberi pengaruh tertentu kepada elit dan kader yang lain. Bahasa ”siapa yang berkeringat, siapa yang tidak” sudah lawas digunakan. Seolah-olah keringat yang dimaksud dalam pekerjaan politik seperti acara nyangkol saja. Dengan landasan ini, maka yang menjadi amunisi adalah AD/ART dan pedoman organisasi. Dua hal ini adalah ”teman baik” dalam menjatuhkan posisi lawan.

Sementara, tolok ukur yang lain seperti pengaruh dan jaringan politik diabaikan. Padahal, bila kedua hal di atas –budaya ”keringat” dan aturan partai- yang terus-menerus dimainkan, partai akan menanggung beban paling berat. Pasalnya, mudah saja, kedua hal di atas, menjanjikan pertempuran di dalam kandang sendiri dan bukannya di wilayah konstituen dan floating mass.

Wilayah pertempuran konstituen dan floating mass mensyaratkan ide dan keberpihakan kepada masyarakat luas. Masyarakat perlu digiring dengan ide-ide segar yang kreatif dan populis. Sementara ”budaya keringat dan aturan partai”, akan membuat partai dan pemilih (rakyat) akan semakin berjarak. Bagaimana mungkin ada keterikatan bila ada jarak? Bukankah rakyat tak ambil peduli dengan aturan partai dan senioritas seseorang dalam suatu partai tertentu?

Sosok Parluhutan bukan tanpa resistensi, terutama dari figur Sekretaris DPW yang lama, Subandi. Bila partai politik, tanpa garis kebijakan yang tegas dan jelas, hanya menjadi batu loncatan, tentu saja yang paling menanggung akibat dari syahwat politik yang liar (tanpa perhitungan sama sekali) ini adalah partai politik itu sendiri.

Contoh paling nyata adalah ketika Kamaluddin, Ketua DPW PAN Sumut, yang begitu menggelora untuk disandingkan dengan Ali Umri. Kegagalan ini sudah diramalkan dan eksesnya pun seperti diprediksikan, PAN menjadi tertawaan dari partai politik yang lain. Bargaining politic position yang menjadi taruhan, benar-benar menempatkan PAN terpojok.

Karena itu, Parluhutan dimasukkan sebagai Sekretaris untuk menjaga bandul keseimbangan partai: antara kekuasaan dan strategi. Keduanya tak boleh berbeda jauh. Kekuasaan tanpa strategi adalah bunuh diri, sementara strategi tanpa kekuasaan sama dengan omong kosong.

So, mungkin itu ketika melihat Parluhutan Siregar diplot menjadi Sekretaris DPW PAN Sumut tadi malam. (*)

One thought on “Parluhutan Siregar

  1. Denger2 pak parluhutan jadi calon bupati langkat ya Pak?

    wah mungkin bisa dicek sendiri sm yg bersangkutan, tapi mungkin sedang berobat dia …. hahahahha😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s