Ini Siantar, Men!


Kota Pematang Siantar. Di Sumatera Utara, bagi yang tahu, imej Siantar sudah terlanjur keras, sangar, dan tanpa kompromi. Di kalangan mahasiswa yang bersekolah di Jawa, Medan, dan mungkin juga kota-kota lain di Indonesia, ada hukum tak tertulis, “Jangan main-main dengan anak Siantar!”Entah sudah berapa lama imej itu melekat, belum ada penelitian yang menjawab.

* * *

“Siantar Men!” adalah sebuah julukan underground, tak diakui dalam bahasa baku kaum sekolahan, tapi berlaku umum di kalangan masyarakat. Cap itu berkesan lugas, tegas dan tanpa kompromi. Ada yang mengatakan cap itu merupakan tipikal khas suku bangsa Batak yang terkenal tanpa tading aling-aling bila mengungkapkan ataupun ingin mendapatkan sesuatu.

Implikasi negatifnya, terutama yang terbiasa dalam kultur lembah lembut dan tak biasa, timbul kesan berangasan dan kasar. Ada juga yang menafsirkan hal itu merupakan repsentasi dari kehidupan keras masyarakat kelas bawah, misalnya kehidupan di terminal, yang entah kebetulan atau tidak – maaf – banyak berasal dari etnis Batak. Dan, Siantar merupakan salah satu “penyumbang” terbesar dari komunitas terminal itu.

Bila Anda berwisata ke kota Siantar, tentu saja wilayah terminal Perluasan, bukan alternatif. Terminal ini merupakan salah satu terminal yang bagi sebagian orang “terkenal angker”. Tapi, seandainya saja Anda bisa merubah imej Anda sedikit tentang terminal Perluasan, maka Anda mesti mengunjungi terminal Perluasan. Bukan apa-apa, dari terminal ini, selain terminal pajak Horas, diatur kedatangan dan keberangkatan bus-bus dan angkutan, mulai dari angkutan kota, sampai AKAP, dan AKDP. Tentu bagi Anda yang berkantong cekak dan tak punya sepeda motor.

Kota Transit

Kota Siantar merupakan hasil dari pemekaran Kabupaten Simalungun. Dulunya, kota ini merupakan ibukota kabupaten Simalungun. Tapi, itu pembicaraan politis.

Kota ini tak terlalu besar. Selain itu, potensi wisata kota ini pun agaknya lebih dititikberatkan sebagai kota transit dari kota turis Parapat. Memang, kota Siantar merupakan pintu gerbang tidak hanya dari kota turis Parapat, tapi juga untuk tanah dan ranah Tapanuli, asal muasal etnis Batak. Karena itu, banyak yang melupakan kalau Siantar juga bisa berpotensi wisata.

Begitupun, wisatawan asing dan terutama domestik, biasanya akan singgah di Siantar sebelum ataupun setelah berangkat dari Parapat. Tempat yang menjadi tujuan adalah Pajak Horas. Pajak ini secara estetis dan fungsi, tidak begitu berbeda dengan pasar-pasar tradisional yang sudah dikelola pemerintah di Medan. Tapi, biasanya wisatawan tidak akan lupa untuk mendapatkan oleh-oleh khas Siantar seperti Ting-ting atau kacang tumbuk khas Siantar, nenas Siantar, sampai kepada Roti Ganda. Begitu juga dengan produksi bahan tekstil. Ulos, kain tenun khas batak, juga bisa didapat di pajak ini, walau pajak ini bukan pusatnya.

Tata ruang Kota Siantar sendiri mengambil bentuk melingkar. Awalnya, dari sebuah persimpangan di jalan antar lintas Sumatera yang membedakan tujuan kota Parapat dan kota Siantar. Sebagai tanda, ada sebuah tugu yang menjadi pintu gerbang kota. Jalan satu arah ini langsung menuju inti kota. Di pertengahan jalan inilah terletak Pajak Horas yang terkenal itu. Pajak Horas ini sendiri memanjang hingga jalan satu arah sebagai jalan yang menuju arah jalan lintas tadi atau keluar dari kota Siantar.

Bila di sepanjang jalan yang landai itu terasa panas, maka sampai di batas lingkaran kota, yaitu sebuah kantor polisi, maka suasana teduh langsung terasa. Itu karena, di pusat kota ini, dilindungi oleh pepohonan besar yang menjadi trademark Taman Bunga Siantar. Agaknya lokasi ini dipilih sebagai pusat kota, sebagian karena struktur tanahnya yang lebih tinggi. Seperti diketahui, struktur permukaan tanah kota Siantar bergelombang dan landai.

Dan, di kota ini Anda akan dijamin tidak hanya menemukan masyarakat etnis Batak Simalungun saja, walau kota ini merupakan salah satu kota Batak. Berjalanlah diteduhnya jalanan di depan Hotel Siantar, maka akan dijumpai serangkaian penjual makanan yang didominasi etnis Jawa. “Saya sudah lima tahun berjualan di sini,” kata Suprianto, penjual bakso asal Marihat, sebuah lokasi perkebunan sawit di Simalungun.

Masyarakat dari etnis Jawa ini sendiri mayoritas berasal dari daerah perkebunan yang menjadi pemasukan utama bagi kota Siantar dan Kabupaten Simalungun. Daerah-daerah perkebunan seperti Marihat, Bahjambi, Bahbirong, Sidamanik, Bahbutong. Dan kini, etnis Jawa merupakan kelompok masyarakat utama di Siantar dan Simalungun. Karena itu, tak heran bila banyak orang etnis Jawa di Siantar yang fasih berbahasa Batak.

Perkebunan the dan sawit yang dulu biasa menjadi lokasi ajang reli ini, kini menyimpan potensi wisata yang belum tergarap. Jadi, kota ini tak benar-benar sangar. Ini Siantar, Men!

19 thoughts on “Ini Siantar, Men!

  1. siantar memang oke, sungguh enak untuk hidup disana didukung dgn biaya hidup yang tak mahal semua didapat dgn alami terutama untuk kebutuhan pokok sehari hari pokokny enakdeh tinggal di siantar salam anak siantar yang ada di Lhokseumawe N A D

    yup…mantap🙂

    Like

  2. Aku bangga dengan anak siantar kegigihan dan kemuan keras untuk maju ada pada anak muda siantar, kemandirian yang patut dibanggakan. Mari kita sama2 membangun imej Siantar untuk menjadi yang lebih baik dihadapan semua orang.

    anak siantar juga kah?

    Like

  3. wah luar biasa kota siantar,,
    walaupun sy pujakesuma (putra jawa keluyuran di sumatra), sy melihat siantar punya banyak potensi, siantar kotanya sejuk, makanan oke, anak mudanya ok, semangat warga siantar ok banget, apalagi anak siantar diperantauan wah,,,, potensinya luar biasa kali,

    yuk bangun siantar,,,,,,

    siantar…the sleeping beauty🙂

    Like

  4. Horas Siantar!!!!
    Siantar Kota kelahiranku saya tetap merindukanmu.
    Kota yang sejuk. Kalau saya pulang ke Siantar saya selalu menyempatkan diri mejeng di TAMAN BUNGA .

    Like

  5. salam kenal ma anak siantar d malaysia rindu ma siantar khususnya gang aman kota kelahiranku

    Like

  6. Tak semua Siantar laki2 (man) /berdosa padamu … Contohnya bapa aku parDOSA (Doloksanggul~Siborboron). Baktosna indung abdi ti Siantar euy.

    ribak sudee….

    Like

  7. aq bangga jadi anak siantar, karena walupun kasar2 tapi hatinya baik loh. dan yang paling buat aq bangga siantar adalah tempat pengrajin ulos. ilosnya cantik2 loh. hidup siantar….lanjutkan n majukan…

    Like

  8. Siantar is the best…..
    Bagi saya selaku ank siantar mengakui kota ini adalah kota ter hebat dari sekian kota yang udah gw jalani.
    Memang benar kata orang kalo siantar itu terkenal dengan Kota ter keras di Sumatra
    tapi di balik itu di situ kita dapat mendapat kan arti hidup sesungguhnya.
    Bagi teman-teman jangan prnah mengatakan siantar itu bobbrok

    Like

  9. siantar memang gokil , udara yang sejuk membuat hati setiap pengunjung terpesona !!
    duhh …. kapan ye bisa ke siantar lagi !!
    huuuhhft !
    siantar aku pasti kembali lagi tunggu ke datangan ku ! heheheheh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s