Chairil Anwar Sudah Mati Di Sini…


28 April 1949. Tanggal itu adalah tanggal wafatnya penyair besar Indonesia asal Medan, Chairil Anwar. Seandainya, fisiknya masih hidup hingga sekarang, maka tiga bulan lagi, tepatnya pada 26 Juli mendatang, ia baru akan berumur, 86 tahun.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

Maju

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Chairil Anwar, 1943)

Dalam usia 27 tahun, Chairil Anwar menggemparkan negeri ini ”hanya” dengan bait kata. Bagaimana mungkin?

Memang tidak mungkin. Ia berharap banyak pada Soekarno untuk melakukan itu. Ia menulis dalam puisi Persetujuan dengan Bung Karno (1948) .

Ayo ! Bung Karno kasih tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang di atas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Dalam hal perspektif kekuasaan, keterikatan penyair dengan politik memang bak setipis bawang. Seperti kembar siam, satu hati dua kepala.

Hanya Machiavelli yang beranggapan paling realistis soal politik. Selainnya, kebanyakan naif atau mencari pembenaran dari tololnya konsep moralitas politik. Politik adalah kekuasaan dan jalan menuju serta mempertahankan itu adalah kekuatan. Kekuatan adalah pohon dan kekuasaan adalah buahnya.

Penyair? Dia punya kuasa atas kata. Namun kekuasaannya bukan dihimpun berdasarkan kekuatan makna saja, tapi juga pada penciptaan dan penyusunan huruf demi huruf. Dia nyawa dan ruh bagi para penyair.

Ruh itu kemudian berterbangan ke seluruh penjuru mata angin dan menghampiri setiap manusia. Tak perlu pandai membaca, karena penyair sejak dulu sudah membacakan bait-baitnya. Manusia pun terpengaruh. Determinasi syair terhadap kehidupan manusia ini, di antaranya menjadi landasan dari kebudayaan manusia.

Bisakah syair mendirikan sebuah negara? Muhammad Iqbal sudah melakukan itu puluhan tahun lampau ketika mendirikan Pakistan. Tak seperti politisi yang selalu punya musuh, Iqbal menyihir para politisi India dan para pendukungnya dengan kilauan syair-syairnya yang mendalam, menusuk dan menggerakkan.

Rabindranath Tagore, dramawan dan filsuf India sudah memahami itu. Ia tak berkonflik dengan Iqbal. Itulah yang menjadi salah satu kekuatan sesungguhnya dari ranah seni dan kebudayaan. Ia tak menghancurkan tapi meleburkan. Ia menggerakkan individu tapi tak lantas memporakporandakan kehidupan manusia.

Sejarah Lembaga Kebudayaan Rakyat alias Lekra menunjukkan, seni tak mampu dibombardir oleh suatu ideologi politik. Lekra memang menghabisi lawan-lawannya, tapi ia tak membunuh. Yang membunuh adalah ideologi sosialis komunis yang dengan lihai menyusup di proses kreatif para seniman.

Chairil Anwar tak lahir di zaman sosialis komunis yang begitu digdaya. Ia lahir di zaman penjajahan, di mana tak ada satupun orang yang tak kepingin melongok di seberang pintu kemerdekaan itu. Ada apakah di balik pintu itu?

Gairah setiap orang waktu itu bak rebusan air di titik didih. Hanya ada satu kemungkinan di sana bila air terus mendidih: ia akan menguap. Itulah yang terjadi dengan mereka yang hidup di zaman itu. Tak ada artinya sebuah nyawa, darah dan harta, karena semua akan menguap demi melongok seperti apa kemerdekaan itu.

Chairil Anwar adalah jiwa yang menggelegak. Pemikirannya bukan khas kaum mapan yang selalu berotak-atik di balik basa-basi. Chairil menyerang dan menerjang. Kemerdekaan ibarat surga yang menjadi impian setiap anak manusia, bertuhan maupun tak mengakui tuhan.

Kerawang Bekasi (1948) begitu heroik menggambarkan surga dan ketidakpedulian akan kematian. Kematian adalah pintu gerbang kebahagiaan. Simaklah sedikit soal ini.

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Mereka tak peduli soal negara. Mereka mati bukan untuk sebuah negara. Bahkan mereka pun tak peduli bila kematian itu, ”…tidak untuk apa-apa.”

Tapi mereka justru hidup dari harapan itu. Harapan untuk melihat dan merasa. Itu makanya, ketamakan adalah sesuatu yang asing. Walau Lord Action sudah menyebutkan power tend to corrupt jauh sebelum mereka, dia tetap sesuatu yang asing.

Tak seperti sekarang. (*)

6 thoughts on “Chairil Anwar Sudah Mati Di Sini…

  1. sejak aku smp: sumber inspirasiku. sumber gairahku. pelecut semangatku, dan menjaga kesetiaanku pada ketulusan hidup.

    no corruption and collusion in the work.

    Like


  2. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK SITUS “Leoxa.com”
    (Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)

    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    Like

  3. @ Andos: Loh kok tau saya nyindir? hiihihhi😀

    @ harie insani putra, pemerhati, alief28:🙂

    @ kang4roo: ayo-ayo hajar terus… hehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s