Dua Orang Dewi, Satu Erotisme


Dewi, dewi dan dewi. Nama dan kata itu begitu sakralnya di negeri ini. Mereka bermuka dua, yang satu menawarkan konsep transendental, sebuah kesucian dari kata. Dewi adalah pasangannya dewa yang bagi beberapa kelompok tertentu sama artinya dengan tuhan. Karena itu, dewi adalah kesucian dan ketika kata itu menjadi nama dari anak manusia, ia berubah menjadi asa.

 

 

* * *  

Di wajah yang lain, nama Dewi kerap dipermasalahkan. Dua nama besar, satu bernama Dewi Soekarno dan satu lagi Dewi Persik, menjadi amsal.

 

Dewi Soekarno, istri mendiang Presiden pertama republik ini, bermasalah ketika ia berpose syur dalam bukunya berjudul ”Madame D’Syuga”. Indonesia sangat tersinggung. Itu karena, Soekarno, penikmat dan pecinta seni dan keindahan itu, telah mengangkat harkat seorang gadis Jepang bernama awal Naoko Nemoto yang masih berumur 19 tahun, menjadi seorang pendamping Presiden. Bila Soekarno adalah dewa, maka tidak ada satupun istri Soekarno yang bernama Dewi kecuali Ratna Sari Dewi Soekarno. Indonesia seperti ditampar kedua belah pipinya, ditelanjangi dan kemudian dipertontonkan ke khalayak dunia.

 

Indonesia pun malu, sebuah kata yang menjadi ujung tombak konsep moralitas yang selama ini menjaga negeri ini. Malu adalah tiang dan telanjang adalah bom yang menghancurkannya. Seperti apa pun konsep erotisme dan seni yang diusung sang Madame D’Syuga, Indonesia tak peduli. Indonesia tak seperti itu. Dewi Indonesia tak seperti itu.

 

Jadi seperti apa?

 

Ada seorang artis bernama Dewi Persik. Ini bukan nama asli, hanya nama panggung. Dewi merupakan jaminan mutu, bahwa seorang artis bisa menjadi seperti laiknya putri-putri kahyangan. Ia cantik dan dia sendirian. Ia memang tak seperti tiga artis yang ”dikeloni” oleh manajemen Dhani Dewa. Nama grup itu Dewi-dewi.

 

Dewi ini melakoni jalur yang mirip dengan Dewi Soekarno. Ia punya produk tangguh untuk mematenkan namanya di panggung hiburan, goyang gergaji!

 

Goyang gergaji punya keunggulan lain, walau hampir mirip-mirip juga. Produk ini dipoles dengan gaya berbentuk orang sedang menggergaji. Setiap orang yang melihat pun bakal seperti digergaji: keresek…keresekk..keresekk. Yang menjadi pasar bagi produk ini, tentu saja laki-laki. Dewi Persik sadar bahwa ia hidup dan menari dalam hegemoni budaya laki-laki. Makanya, produk ini bernilai jual tinggi dan laku keras.

 

Namanya melambung tinggi dan goyangan dangdutnya makin yahud, mirip seperti tagline sebuah iklan rokok.

 

Lain dengan Dewi Soekarno, nama asli Dewi Persik memang ada kata ”dewi”: Dewi Murya Agung. Oleh manajernya, namanya dirubah menjadi Dewi Persik. Persik merupakan sebuah nama buah asal China yang dianggap membawa keberuntungan. Dan hoki Dewi Persik terus melambung.

 

Karena terus melambung, Dewi yang satu ini makin terekspose ke permukaan. Bahkan, tubuhnya pun sudah mulai terbuka. Karena sudah mulai transparan, si Dewi pun mulai menuai hujatan. Ia tak pantas melakukan itu.

 

Syaiful Jamil, orang yang menikahinya kontan cemburu dan panas kupingnya. Cerai pun terjadi. Tapi, makin cerai makin menjadi. Apalagi Dewi Persik makin dewasa dan sudah lazimnya orang dewasa, tidak bisa diatur-atur kecuali oleh dirinya sendiri.

 

Sayang, dewi yang satu ini bernasib lebih sial daripada Dewi Soekarno. Payudaranya sempat dijaili dan sialnya, ketangkap kamera pula. Indonesia langsung menyumpahinya. Penjahilan terhadap Dewi Persik disebutkan bukan salah orangnya, tapi karena ada stimulannya. Coba kalau Dewi Persik sedang sembahyang dan memakai mukena, mana ada yang berani mencubitnya.

 

Substansi

Dewi Persik terjebak oleh produk yang dibikinnya sendiri. Produk erotisme memang bak parasit, ia menyedot darah dari inang atau induknya. Bila Dewi tiba-tiba berubah menjadi artis berjilbab dan kemudian mengaji, ia akan ditertawakan.  Apalagi setelah mengaji ataupun naik haji, ia masih menggergaji.

 

Kebudayaan Indonesia memang sungguh aneh. Munafik justru kebanyakan dipakai kepada orang yang tidak mau nonton bokep alias film biru, menonton artis dangdut dan pop yang bajunya terbuka atau malah masuk diskotik. Ini sudah pengalihan makna. Orang yang mabuk, tertangkap bahasa membawa narkoba dan bersama gadis-gadis, justru dikatakan sebagai orang yang realistis dan apa adanya.

 

Mabuk tapi jujur lebih bagus daripada alim tapi pembohong, itu kata orang sekarang. Terang saja, ini memang aneh sekaligus menggelikan karena dua-duanya justru mencari pembenaran atas perilaku masing-masing.

 

Namun, itu juga ada alasannya. Mereka banyak yang mengaku pengusung agama, tapi diam-diam juga melakukan maksiat. Naik haji berkali-kali tapi tetangganya bisa mati kelaparan. Seolah-olah, surga hanya miliknya sendiri.

 

Kebudayaan Indonesia adalah, seperti yang diungkapkan Soekarno sendiri dengan ideologi Pancasila, adalah gotong royong. Banyak kepala, banyak ide dan banyak rasa. Karena itu, ideologi gotong royong mirip juga dengan gado-gado.

 

Menikmati gado-gado tak bisa dengan definisi tunggal, harus majemuk. Kalau memakai bahasa kerennya, pluralis. Namun, konsep pluralistis sekarang ini sudah tak asli lagi. Itu karena patronnya adalah demokrasi Amerika, siapa yang banyak dia yang menang. Kebudayaan Indonesia menghunjuk pada substansi.

 

Begini penjelasannya. Betul bila orang yang memakai Koteka di Papua sesuai dengan kebudayaan sana. Artinya, itu bukan pornografi. Tapi tentu saja, ketelanjangan seperti itu bukan untuk dilestarikan. Mereka akan lebih berbahagia bila mereka diberi celana dan baju untuk melindungi tubuh mereka dari alam yang ganas. Karena ketelanjangan mereka bukan tanpa alasan.

 

Kalau pendidikan mereka dipertinggi dan diratakan, tentu saja, pola pikir bisa merubah tata cara hidup hingga kebudayaan mereka. Mereka primitif tapi tentu berhak untuk menjadi modern.

 

Bila selama ini, tempat tinggal mereka hanya dari kayu hutan dan atap rumbia, tentu saja, akan lebih baik bila rumah permanen.

 

Dengan kata lain, bila ada orang telanjang ketika dia mampu untuk berpakaian, itu sudah pertanyaan besar. Erotisme tentu jauh bedanya dengan cita rasa seni. Foto dan pose Dewi Soekarno di Madame D’Syuga memang indah. Demikian juga, tubuh seksi Dewi Persik.

 

Tapi substansinya apa? (*) 

 

5 thoughts on “Dua Orang Dewi, Satu Erotisme

  1. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK SITUS “Leoxa.com”
    (Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)

    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    Like

  2. Terimakasih informasi dan analisisnya.
    Sebagai muslim, saya menyayangkan tindakan Dewi Persik, karena dia muslim juga seperti saya.
    Karena sama-sama muslim, seharusnya Dewi Persik tahu nilai-nilai Islam.
    Tindakannya di panggung memang profesional, tetapi profesional sebagai pelacur seni.
    Tetapi jangan khawatir, Allah SWT khan Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun. Kalau Dewi Persik mau memperbaiki diri, insyaAllah akan menjadi shalihah, dan akan terpuji di dunia dan akherat.
    Untuk share silahkan klik http://sosiologidakwah.blogspot.com

    Like

  3. sepakat bang nirwan.

    terutama untuk 5 paragraf akhir.

    khusus tentang koteka memang ironis. kita yang katanya modern mempertahankan keprimitifan saudara sendiri. kita pertahankan mereka pakai koteka, sementara kita nikmat dengan pakaian yang bagus dan menutup diri. parahnya lagi kita jual itu untuk pariwisata, yang tujuan akhir adalah devisa negara. menjadi makmur dengan keprimitifan saudara.

    Like

  4. mudah-mudahan ya pak. terimakasih pak aristiono nugroho atas kunjungannya😀 …sering-sering share ya Pak.

    akurrrr…..!!!!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s