Menebak Langkah Politik Sang Datuk


Syamsul Arifin SE ditetapkan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sumatera Utara (Sumut) sebagai pemenang pemilihan gubsu (pilgubsu) 2008-2013. Pekerjaan besar sudah menanti Syamsul, Partai Golkar pun pantas jadi pemenang.

* * *

Syamsul Arifin menangis. Airmatanya dilihat seluruh penjuru tanah air. Kalimat yang keluar dari mulutnya begitu terkenal dan menjadi headline beberapa surat kabar: ”Tukang kue jadi gubernur.” Apa pun ceritanya, Syamsul Arifin sudah ditetapkan sebagai pemenang pilgubsu 2008 dan tinggal menunggu pelantikan pada 16 Juni 2008 mendatang. Dan tukang kue ini, mau tidak mau, harus menjaja dan membagi rata kue-kue pembangunan tidak hanya di pesisir pantai timur tapi juga di daerah pantai barat.

Sebagai kandidat yang berasal dari pesisir pantai timur, Syamsul jelas mengutip satu per satu daerah di kawasan ini. Sendirian, ia melenggang tak tertandingi, walau dari daerah ini ada kandidat lain: Ali Umri dan Abdul Wahab Dalimunthe. Ketiganya adalah kader Partai Golkar, yang menyebar menjadi kandidat tidak cuma di Golkar. Syamsul Arifin dalam sebuah acara televisi menyebutkan, ia masih tetap kader Golkar. ”Siapa yang memecat saya? Sampai sekarang tidak ada surat menyebutkan itu yang sampai kepada saya,” katanya.

Arus politik pilgubsu yang menempatkan Syamsul sebagai pemenang, memang membuat etalase politik berubah arah. Ali Umri, Ketua DPD Golkar Sumut, dalam sebuah wawancara langsung yang menempatkannya berdampingan dengan Syamsul pun berujar sama. ”Beliau abang saya,” katanya pada hari H pemilihan, 16 April lalu. Komentar ini jelas didengar elit politik Golkar maupun non Golkar. Syamsul pun menangkap sinyalemen itu sembari berujar, Umri merupakan adiknya.

Hingga saat ini, belum keluar komentar dari sesepuh Partai Golkar Sumut yang maju dalam pilgubsu 2008, H Abdul Wahab Dalimunthe. Namun, ketua tim pemenangan pasangan Waras, Abdul Hakim Siagian sudah mengeluarkan sinyalemen, mereka masih menunggu komando dari Wahab. “Ya, kami tentunya akan musyawarahkan terlebih dahulu semua hal, termasuk adanya kemungkinan opsi gugatan. Beberapa hari kemudian kami akan mengeluarkan sikap pilihan kami,” ujar Hakim seusai penetapan hasil pilgubsu Kamis (24/4) kemarin. Sesuai peraturan, setiap pasangan punya batas waktu hingga tiga hari pasca penetapan untuk menentukan sikapnya, menolak atau menerima penetapan KPUD.

Walau menang dalam pilgubsu ini, Syamsul jelas tidak bisa lenggang kangkung begitu saja. Pasalnya, suara yang diraihnya bukanlah mayoritas. Bahkan, suaranya harus kalah dari ”partai golput” yang mencapai 3.538.546 suara atau 41,8%. Syamsul hanya memperoleh 1.396.892 suara atau 28,31 % dari surat suara yang dihitung yang sebanyak 4.933.687 suara. Sementara Daftar Pemilih Tetap (DPT) per 24 Maret adalah 8.472.233 pemilih.

Stabilitas pemerintahan Syamsul Arifin-Gatot Pudjonugroho pun sangat ditentukan oleh hasil Pemilu legislatif 2009 mendatang. Bagaimanapun, dengan dukungan partai utama yaitu PPP, PKS dan PBB, Syamsul masih hanya mengantongi dukungan 16,8 % suara di DPRD Sumut (PPP 7,1%, PKS 7,1% dan PBB 2,6%). Ia memang punya cadangan dari partai-partai kecil. Bila ditambah dengan modal partai-partai ini seperti Patriot Pancasila, PKPB dan seterusnya, tabungannya menjadi 28%. Modal itu juga yang dibawanya ketika mendaftar menjadi calon gubsu beberapa waktu lalu.

Tak heran, pengakuan Syamsul soal loyalitasnya di Golkar menjadi konsekuensi logis semata. Seperti diketahui, Partai Golkar merupakan penguasa di DPRD Sumut yaitu 21%. Bila Syamsul tak punya hubungan baik dengan kedua simbol Golkar seperti Ali Umri dan Wahab Dalimunthe, jelas ia sedang menabur angin menuai badai. Apalagi, Wahab hingga kini masih sebagai Ketua DPRD Sumut, sedang Umri menjabat Ketua DPD Golkar Sumut.

Di sisi lain, wacana pelengseran Ali Umri dari Ketua DPD Golkar Sumut yang sudah kencang berhembus bahkan sebelum kemenangan Syamsul dalam pilgub, pun semakin menemukan momentumnya. Walau Syamsul sudah menegaskan tidak ada pembalasan dendam terhadap lawan-lawan politiknya saat ia menang, tetap saja arus politik nasional yang menyerang Ketua Umum DPP Golkar Jusuf Kalla, akibat kekalahan di dua daerah penting, Sumut dan Jabar, belum berhenti hingga sekarang. Pertarungan antara Akbar Tanjung versus Jusuf Kalla, jelas akan berimbas hingga ke Sumut, salah satu lumbung suara dan pemasok elit politik di Partai Golkar.

Untuk mengendalikan ini, nama Syamsul sendiri belum terlalu ”senior” di tubuh Partai Golkar. Selain Wahab, masih ada sosok seperti Chairuman Harahap SH, yang pernah diisukan meminati posisi Ketua DPD Golkar Sumut. Apalagi, Chairuman sudah ”pulang kampung” ke rumah asalnya, Partai Golkar, setelah sempat membina jaringan yang kuat di PDIP Sumut. Chairuman dalam kampanye Pilgub kemarin terlihat dalam beberapa kampanye pasangan UMMA.

Stabilitas
Bayang-bayang pemerintahan Rudolf M Pardede yang mendapat gempuran dari elit politik Sumut sewaktu naik pada 10 Maret 2006 lalu, jelas bukan main-main. Rudolf waktu itu punya banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, hanya untuk menenangkan stabilitas kepemimpinannya. DPRD Sumut, minus PDIP dan PDS, hampir selalu berlawanan dengan kebijakan yang dikeluarkan Rudolf.

Namun, Syamsul jelas memperhitungkan stabilitas pemerintahannya. Buru-buru, Syamsul memberikan statemen politik bahwa ia akan menyambangi seluruh kandidat pilgubsu. Untuk tahap pertama, ia sendiri harus ”menenangkan” partai politik yang sudah mengusungnya, PPP. Pasalnya, imej yang terbentuk pasca kemenangan Syamsul, justru menaikkan pasaran PKS. PPP tentu gerah melihat kondisi yang berkembang ini.

Tak berlama-lama, pada Jumat (25/4) lalu, Syamsul langsung bertandang ke Kantor DPP PPP di Jalan Diponegoro, Jakarta. Syamsul datang untuk mengucapkan terima kasih pada PPP yang mencalonkannya. ”Kedatangan saya ke sini untuk mengucapkan rasa terima kasih pada DPP PPP karena telah jauh-jauh hari memilih saya sebagai calon gubernur. Sedangkan PKS baru-baru saja ini, last minute,” kata Syamsul dalam jumpa pers usai bertemu pimpinan PPP di Kantor PPP, Jl Diponegoro. Menurut Syamsul, pencalonannya sebagai gubernur awalnya didukung 3 partai, Partai patriot, PPP dan PBB. PKS? Seperti kata Syamsul, masuk belakangan.

”Musuh” terberat Syamsul jelas akan datang dari kubu PDIP. Sebagai partai yang mencalonkan tunggal, PDI P hingga saat ini belum menerima hasil penetapan KPUD Sumut. Sejumlah politisi PDIP di DPRD Sumut, seperti ramai diberitakan, sudah secara tegas menolak hasil penghitungan dan penetapan hasil pilgubsu oleh KPU. Ricuh soal ketidakberesan penyelenggaraan pilgubsu oleh KPU kemudian menyerempet ke soal anggaran pendataan yang sebesar Rp 13 Miliar. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun diundang untuk menyelidik soal dugaan ketidakberesan penggunaan dana.

Tak ada yang berani menganggap enteng PDIP. Mereka punya 15% suara di Sumut, plus 6% suara hasil pilgubsu ini, hasil dari suara Triben yang mencapai 21,26% di pilgub. Kekalahan telak di salah satu lumbung suara Megawati Soekarnoputri pada Pilpres 2004 ini dan Pilpres 2009 nantinya, jelas membuat partai ini kebakaran jenggot. Apalagi, kekuatan PDIP di eksekutif saat ini, tinggal Rudolf M Pardede seseorang. Itupun, pada 16 Juni mendatang, Rudolf sudah harus lengser dari kursinya. Perhitungan lain, Rudolf sendiri saat ini punya hubungan yang tak harmonis dengan DPP dan beberapa elit PDIP di Sumut.

Syamsul pun harus berhitung dengan”maruah” militer, yang sudah dua kali harus kalah di daerah penting, Sumut dan Jawa Barat. Tentu saja, kartu FKPPI dan jaringan militer yang sudah dikantongi Syamsul selama ini mesti dikeluarkan lagi. Jumat (24/4) lalu, kata KASAD Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo berujar sudah menugaskan stafnya mempelajari kekalahan para purnawirawan TNI-AD dalam pilkada. Hal itu dikatakannya saat memberikan pengarahan kepada perwira Kodam VII/Wirabuana di Makodam VII/Wirabuana Makassar, Sulawesi Selatan. Jelas, kekalahan Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar dan Mayjen TNI (purn) Tritamtomo menjadi di antara alasannya.

Bak Gus Dur, Syamsul terus punya jawaban segar soal politik. “Sumatera Utara itu pernah dipimpin raja, tengku, dan sekarang sudah waktunya dipimpin oleh Datuk,” kata Syamsul yang bergelar Datuk Sri Lelawangsa Hidayatullah ini di kantor DPP PPP. Nah…. (*)

One thought on “Menebak Langkah Politik Sang Datuk

  1. Bung Syamsul. Jangan berleha-leha. Siapkan program yang berpihak rakyat dan pembangunan. Begitu dilantik, langsung tancap gas.

    Megawati Soekarnoputri: go to hell with your ambition for president !!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s