Gubernur, Lindungilah Mereka …


difoto oleh RoemonoAdzan shubuh bersahut-sahutan. Lampu sebuah rumah di jalan Baru, kelurahan Indrakasih, kecamatan Medan Tembung, sudah sejak tadi menyala. Ba’da sembahyang, seperti biasanya, keluarga itu akan membuka pintunya dan membiarkan udara pagi menyerbu masuk ke tengah ruangan. Televisi dihidupkan. Acara dialog keagamaan mengisi lembaran pagi bertanggal 16 April 2008.

Setengah jam kemudian, berita-berita di televisi mengalahkan cerewetnya kokok ayam dan nyanyian burung. Berita soal pilgubsu 2008 tidak menjadi headline televisi nasional. Hanya disebutkan, pada hari itu seluruh rakyat Sumatera Utara (Sumut) akan mencoblos untuk memilih siapa Gubernur Sumut periode 2008-2013.

Laiknya keluarga-keluarga yang lain, yang terpaku melihat pemberitaan adalah sang kepala keluarga. Ia bernama J Syafii, seorang pensiunan PNS di instansi kepolisian. Badannya besar dan kulitnya agak hitam. Dulu, ia masih shalat shubuh di sebuah mesjid di lingkungan mereka, Mesjid Siti Fatimah. Kini, setelah kakinya ditabrak sebuah mobil dan harus dioperasi, dia belum kuat berjalan ke mesjid dan cukup bersembahyang di rumah. ”Siapa nanti yang kita pilih?” tanyanya kepada istrinya. Perempuan yang sudah dinikahinya lebih dari 30 tahun itu lama tak menjawab. ”Rahasia la,” sahutnya dari dapur.

Sebagai seorang kepala rumah tangga, jelas ia merasa terganggu dengan jawaban demikian. Mana mungkin ada lain pilihan dalam satu rumah? One house one vote, begitu kata kepala keluarga dan begitu pula kata satu isi rumah. Teori-teori patrilineal itu masih dipegang teguh olehnya.

Ia memencet lagi remote televisinya. Parasnya jelas mengungkapkan kegelisahan. Agaknya, ucapan istrinya tadi masih terngiang. Makin bersungut ia, ketika melihat berita di televisi yang hampir seragam, kasus “nasional”. Ia merepet lagi. ”Tak ada berita Medan. Maunya ada la berita pemilu di sini,” gerutunya. Sambil duduk bersila, ia menikmati teh manis dan nasi tadi malam yang digoreng kembali.

Pukul tujuh pagi, ia berhenti menonton televisi. Setelah jam itu, ia akan berangkat menuju ”kantor”-nya sehari-hari; sebuah kios kecil tempat ia berjualan bunga dan tanaman hias. Letaknya di pinggir jalan. Setelah pensiun delapan tahun lalu, itulah yang menjadi tugasnya sehari-hari. Penghasilannya tak banyak. ”Kalau lagi mantap bisa dapat Rp 50 ribu, kalau lagi susah, satu hari tak ada yang beli, hahaha…,” gelaknya.

Sebuah gang menghubungkan rumahnya dengan jalan. Ada lima belas rumah berjejer, mulai dari yang permanen, semi permanen, hingga yang masih berdinding tepas. Gang itu tak lebar, hanya 1,5 meter. Dulu, katanya, sewaktu belum banyak rumah di daerah Sampali, gang itu bisa dimasuki mobil. Pohon kelapa masih berjejer dan di bawahnya ada tanah lapang. Anak-anak biasa bermain bola di sana. Kota Medan semakin sempit dan daerah pinggiran sudah banyak dihuni para pendatang. Termasuk juga Syafii ketika hijrah ke Medan tahun 1968 lalu.

Setelah melewati gang yang sudah dilaluinya lebih dari dua puluh lima tahun itu, ia membuka kiosnya. Penutupnya hanya sebuah palang kayu saja. Ada doa khusus untuk membuka palang itu. Katanya, itu untuk menangkal pencuri. Setelah dibuka, ia memesankan kepada istrinya. ”Nanti kalau mau nyucuk, sama-sama kita,” katanya. Istrinya mengangguk.

Sampai jam sembilan pagi, ia masih di ”kantornya”. Pembeli belum ada. Ia beranjak menuju sebuah warung kopi. Letaknya di seberang jalan besar. Di sana, orang-orang biasanya bergosip soal perkembangan politik terkini, mulai dari level internasional seperti nasib Saddam Husein dan Ahmadinejad, pergulatan SBY dan Megawati, hingga Rudolf Pardede dan Abdillah. Tentu, gosip kelas lingkungan dan pengajian di desa itu, sudah menjadi santapan sehari-hari juga. Nun, di jalur sejajar dengan warung kopi itu, lebih kurang lima puluh meter, sebuah Kantor Partai Politik tingkat Medan, sudah lama berdiri. Namun, di sana orang jarang berdebat soal politik.

Di warung itu, tak banyak orang meminum kopi. Umumnya, mereka yang begadang semalaman menjaga Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan beberapa tukang becak. Di situ tempat gudangnya kampanye karena semua tim sukses ngumpul di sana. Masing-masing mengumbar kelebihan jagonya dan mengejek jago lawan bicaranya. Hebatnya, tak sampai berkelahi. ”Sama ajanya itu, siapa yang jadi gubernur, awak masih jadi tukang becak juga,” bisik seseorang yang sering dipanggil Adi. Penghasilan mereka tak tinggi-tinggi amat. Bingung apa yang mau dikerjakan, selain ngumpul di warung kopi.

Agak lama ia bercerita di sana hingga sang istri dan anak mereka menjemput pada pukul sepuluh lebih. Mereka bersiap-siap menuju TPS 13 di Jalan Baru. Posisinya dekat Lapangan Badminton di lingkungan 6. Saat itu, TPS mereka belum terlalu ramai. Ia menunggu sebentar. Terdengar ia sempat bercerita soal anaknya yang tidak mendapat kartu pemilih. ”Aneh itu. Anakku di Yogyakarta tapi keluar kartu pemilihnya. Yang tinggal di Medan tak dapat padahal kartu keluarganya masih alamat sini,” katanya kepada kawan di sebelahnya. Yang disebelahnya cuma mengangguk-angguk dan sempat berujar kalau anaknya di daerah Deliserdang, juga dapat kasus yang serupa tapi tak sama. Katanya, kartu pemilih untuk anaknya keluar juga, padahal anaknya sudah keluar dari kartu keluarga.

Namanya dipanggil, ia pergi ke bilik pencoblosan. Pas di luar, ia tersenyum. Milih apa? ”Rahasia,” katanya. Bergandengan tangan, Syafiim istri dan anaknya, melangkah pulang. (*)
* * *
Based on true story, dari sebuah keluarga yang masih punya harapan banyak pada pemimpinnya.
i love this family.

foto oleh Roemono

5 thoughts on “Gubernur, Lindungilah Mereka …

  1. semoga ya, gubernur baru kita tetep berpegang pada janji serta komeitmennya.
    cerita dari medan tembung nih.
    btw, kapan2 kopdar yuk, sama blogger yang lain….

    Like

  2. Mantapp…harapan dan impian yang membuat hidup lebih bermakna.

    hmmm … yup benar itu dek… apa kabar?😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s