Kisah Ria Jenaka


Masa kampanye pilgubsu tiba, minggu tenang menanti dan pencoblosan sudah dipastikan pada 16 April mendatang. Humor menjadi pemikat untuk mendongkrak popularitas. Mari berkaca pada karakter humor budaya di TVRI tahun 1980-an dulu: Semar, Petruk, Gareng dan Bagong dalam Ria Jenaka.

Kisah ini bermula dari kisah Gareng dan Petruk. Aslinya, Gareng bernama Bambang Sukskati (versi lain mengatakan namanya Bambang Sukodadi), putra Resi Sukskadi dari padepokan Bluluktiba. Seperti para ksatria pada umumnya, Bambang yang satu ini berwajah tampan dan terus menempa ilmu di bukit Candala.

Setelah selesai bertapa, ia berkelana untuk menguji ilmunya dan menaklukkan para raja. Di tengah perjalanan Bambang Sukskati bertemu dengan Bambang Panyukilan, putra Bagawan Salantara dari padepokan Kembangsore. Bambang yang disebut belakangan ini, nantinya dikenal dengan nama Petruk.

Karena sama-sama sakti, dua-duanya congkak. Alhasil, mereka bertarung. Sama-sama sakti, hasilnya justru seri. Tapi karena tak ada yang mau mengalah, mereka terus berkelahi, walau sekujur tubuh dan wajah mereka sudah awut-awutan.

Kemudian datanglah Sang Hyang Ismaya alias Semar. Semar ini bukan manusia biasa. Riwayatnya dimulai dari Sang Hyang Wenang yang berputra satu bernama Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Tunggal ini tokoh sakral dalam pewayangan Jawa. Ia kemudian beristri Dewi Rekatawati, putri kepiting raksasa yang bernama Rekata. Pada suatu hari Dewi Rekatawati bertelur. Telur tersebut terbang menghadap Sang Hyang Wenang dan akhirnya menetas sendiri. Kulit telurnya menjadi Tejamantri atau Togog, putih telurnya menjadi Bambang Ismaya (Semar) dan kuning telurnya menjadi Manikmaya (Batara Guru). Diceritakan, dalam suatu kompetisi yang digagas Batara Guru, Semar mampu menelan gunung, hingga perutnya pun buncit.

Semar menghentikan pertarungan Petruk dan Gareng. Ia menasehati keduanya. Beberapa versi mengatakan, karena sabda Semar itu, berubahlah wujud keduanya menjadi sangat jelek. Tubuh Gareng menjadi cacat, matanya juling, hidung bulat bundar, tak berleher, perut gendut, kaki pincang, tangannya bengkok. Sedang Petruk yang bertubuh tinggi jalannya tak tegak lagi dan hidungnya jadi panjang. Beberapa versi lain, cacat tubuh mereka disebabkan pertarungan mereka.

Keduanya diangkat menjadi anak Semar, bersama Bagong. Bagong (dalam tradisi Sunda bernama Cepot) bernama asli Astrajingga. Ia adalah anak ketiga dari Semar dan Sutiragen. Senjatanya golok tapi ia jarang memakai goloknya itu. Dia sering bilang, goloknya itu cuma untuk menakut-nakuti lawan saja. Ia lebih senang berkelakar dan tidak pernah melihat siapa orang yang dikelakarinya. Mau ksatria, raja, dewa hingga rakyat jelata sekalipun, dia selalu melawak. Tak heran, dibanding kedua kakaknya Petruk dan Gareng, Bagong punya fans lebih banyak.

Lakon keempat karakter ini menjadi mainstory dari humor tradisi yang sudah lama hilang di TVRI sejak tahun 1980-an dulu, Ria Jenaka. Menyelip pesan-pesan pembangunan hingga kritikan yang super halus, Ria Jenaka seakan muncul kembali dalam arena pilgubsu 2008 ini.

Semar adalah tokoh bangsa yang sedang hilang saat ini. Sumut tak memiliki Semar. Sumut saat ini penuh dengan Petruk dan Gareng yang penuh dengan shawat kekuasaan, ingin menunjukkan kesaktian dan keksatriaannya. Keseriusan mereka hanyalah dalam rangka pamer kesaktian belaka. Bagong pun demikian. Ia menunjukkan kesaktiannya dalam humor-humornya.

Pilgubsu dan Ria Jenaka
Suasana riuh begitu rendah di gedung Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumut pada Minggu (6/3) lalu. Waktu itu, lima paket pasangan calon gubsu-wagubsu sedang menyampaikan visi dan misinya di hadapan para wakil rakyat. Tidak semua masyarakat Sumut menyaksikan panggung itu walau sudah direlay langsung oleh TVRI Medan.

Suasana serius yang muncul di awal-awal penyampaian visi dan misi sontak berubah penuh gelak dan tawa di pertengahan cerita hingga akhir kampanye. Ada yang tak setuju dengan canda itu karena dinilai cenderung menganggap panggung pilgubsu sekedar lawak-lawak. Persoalan hendaknya dikelola dengan serius dan tidak dianggap sepele.

Namun, yang berkelakar pun punya alibi. Suasana politik yang sudah panas tak karuan ini, cenderung menumbuhkan benih-benih konflik, seperti laiknya terjadi di pilgub Maluku Utara hingga saat ini. Belum lagi, suasana pilgubsu harus dikompori dengan munculnya film Fitna yang kemudian terbukti sudah menimbulkan reaksi negatif dari kalangan umat Muslim. Resep apa lagi yang sangat ampuh untuk meredam situasi panas dibanding sebuah humor?

Kebudayaan telah sangat-sangat panas. Politik menjadi bara yang terus-menerus menyumbang konflik kebudayaan hingga taraf paling maksimal. Empat orang suku bangsa Jawa harus bertarung hanya untuk membuktikan, suku bangsa yang mayoritas di Tanah Deli dan Tapanuli ini tak seharusnya dianaktirikan dalam konstelasi politik Sumut. Dengan majunya empat orang dari suku bangsa Jawa, siapa bilang Jawa mayoritas tunggal?

Empat orang dari Tapanuli, baik Utara dan Selatan, pun maju ke gelanggang membuktikan kesaktiannya. Nun, dua orang suku bangsa Melayu juga tak mau kalah memunculkan jagoannya.

Pertarungan suku bangsa sudah tak terelakkan. Ranah yang sama, keturunan yang sama, sudah sejak dulu memunculkan perbedaan yang mengkhawatirkan. Sudah lama dalam tradisi suku bangsa, setiap suku merasa dialah penguasa dan setiap penguasa adalah raja. Sudah menjadi karakterisik seorang raja pula, yang akan menganggap seluruh orang di luar dirinya adalah rakyat yang seharusnya menghamba. Raja akan meminta loyalitas, kesetiaan dan pelayanan dari hamba-hambanya.
Dalam ranah psikologi sosial, etnosentrisme yang berlebihan menjadi negatif. Ia mengakibatkan suku bangsa lain hanya menjadi pelayan dari suku yang lain. Bahayanya, sikap itulah yang menjadi penyumbang terbesar dari sinisme kebudayaan. Sinisme ini berkembang liar sehingga muncul kolonialisasi kebudayaan. Satu kebudayaan akan dijunjung tinggi, yang satu lagi dibiarkan mati.

Ilir-ilir Sunan Ampel menyebutkan, bocah angon adalah pemimpin nasional yang tidak pernah mengatasnamakan kelompok tertentu. Dia tidak sedang berusaha merebut simpati dengan memakai jalur suku bangsa tertentu. Bila dia seorang Jawa, maka dia tidak menampakkan kejawaannya. Bila dia seorang Melayu, maka dia tidak memperlihatkan kemelayuannya. Bocah angon ini pun tidak berusaha menyulap dirinya dengan simbol-simbol kebudayaan tertentu. Karena dia tahu, dia tidak sedang menjadi pemimpin satu kebudayaan saja, tapi seluruh kebudayaan.

Namun, yang dilihat sekarang adalah kebalikannya. Mereka yang hendak menjadi gubernur, memproklamirkan dia sebagai wakil dan raja dari suku bangsa tertentu. Dia mengumandangkan, dia didukung oleh basis massa suku bangsa tertentu dan mencari dukungan dari kelompok suku bangsa tertentu.

Semar
Ketika Petruk dan Garang bertarung, Semar memberi nasehat. Dalam cerita perwayangan, nasehat Semar ini menjadi ruang yang terbuka lebar untuk dimasuki. Begitu lamanya episode Ria Jenaka di TVRI, begitu pulalah lamanya Semar memberi nasehat kepada mereka yang sedang bertengkar, berdebat, berdiskusi atau berkelahi dalam kekuasaan. Tak jarang, Semar sering disebut terlalu naif memandang konteks.

Namun, bukankah pertengkaran Petruk dan Gareng hanya memberi cacat fisik yang permanen? Hanya Semar pula yang bisa mengasuh dan kemudian menjadikan mereka anak-anak sebuah bangsa.

Semar adalah tokoh bangsa yang sedang hilang saat ini. Sumut tak memiliki Semar. Sumut saat ini penuh dengan Petruk dan Gareng yang penuh dengan shawat kekuasaan, ingin menunjukkan kesaktian dan keksatriaannya. Keseriusan mereka hanyalah dalam rangka pamer kesaktian belaka. Bagong pun demikian. Ia menunjukkan kesaktiannya dalam humor-humornya.

Di manakah engkau, Semar? (*)

5 thoughts on “Kisah Ria Jenaka

  1. semar,,,
    hmmm,,, perumpamaan yg cukup menarik!! Tp jgn berharap bakalan ada tokoh seperti si “wise” semar ini. Saat ini semua orng punya kepentingan masing2 dan biasany kepentingannny itu malah menyusahkan orng saja,,,;(

    Like

  2. Sumut punya Semar? Mimpi sampai dua hari pun gak akan ada. Semir kali ya, alias Semua Ingin Raja.Semua ingi jadi Raja tapi tak punya kapasitas memimpin rakyat. Yang masih menjabat bupati or walikota, apa sih hebatnya daerah yg mereka pimpin? Lingkup kabupaten dan kotamdya aja belum becus dipimpin, apalagi provinsi. Bangun oi…!

    Golput adalah pilihan!

    Like

  3. @ arif: makasih ya. salam kenal juga

    @ bella: sudah boleh berharap sama yg punya blog ini😀 saya berjanji tidak akan menyulitkan bella, walau saya punya kepentingan pada bella, hihihi😀

    @ risna: golput memang pilihan.🙂 pilih saya aja ya… dijamin lho😀

    Like

  4. bagus loh…aku jadi tau tentang wayang, ternyata bagus bgt loh…
    dari latar belakang “lakonnya”. oia ampir lupa salam kenal ya om..,

    makasih bang yusuf…sering-seringlah kemari…😀 blog bang yusuf apa?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s