Jawa Batak Islam Kristen


Di luar perkiraan, kampanye pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) tidak sesemarak yang diperkirakan sebelumnya. Kekuatan politik para kandidat disusun lebih diam-diam dan bergerak ”di bawah tanah”. Siapa paling kuat?

Pra kampanye Pilgubsu 2008. Malam baru turun di sebuah villa di luar Kota Medan. Pasca maghrib, beberapa mobil tampak menyeruak masuk. Di sebuah ruangan di villa itu, orang sudah banyak berkumpul. Tidak ada spanduk, brosur ataupun baleho. Namun semua orang di sana sedang menanti seorang sosok yang sedang bertarung di arena pilgubsu 2008. Ba’da Isya, lebih dari pukul delapan malam, sebuah mobil Innova bergambar Abdul Wahab Dalimunthe-RM Syafii, langsung masuk tepat di depan pintu dan rapat kemudian digelar hingga dinihari. Mereka menggelar pertemuan dengan salah satu kelompok mahasiswa Islam pendukung. Namun, rapat itu tertutup bagi wartawan.

Di tempat lain, di sebuah hotel berbintang lima, pertemuan politik sedang berlangsung panas. Kali ini melibatkan seorang sosok kandidat yang berasal dari militer tapi sangat murah senyum. Strategi pemenangan yang sedang dirancang selama ini tampak menemui kebuntuan. Pasal paling utama, partai politik pengusung masih belum terkonsolidasi dengan kuat. Di sisi lain, jaringan tim sukses di daerah-daerah sudah menanti komando. ”Bahasa kasarnya, ada sedikit problem dalam pembagian tugas,” ujar seorang sumber yang ikut dalam pertemuan itu. Lagi-lagi, pertemuan itu bukan untuk diberitakan di media massa.

Itu sebagian pertemuan ”bawah tanah” yang dilakukan kandidat pilgubsu dalam rangka menghimpun kekuatan. Tidak ada wartawan dan tidak ada statemen, yang ada hanyalah kelompok pendukung beserta jaringan tim internal. Bagaimana kekuatan sebenarnya dari kandidat? ”Tak mudah menghitung siapa yang menang,” kata Shohibul Anshor Msi, Dosen Sosiologi Politik FISIP UMSU.

Primordialisme
”Salah satu pertarungan pilgubsu adalah pertarungan primordialisme,” kata Shohibul. Di dataran ini, maka pasangan Mayjen (Purn) Tritamtomo-Dr Benny Pasaribu akan berhadap-hadapan langsung dengan paket RE Siahaan-Ir Suherdi. Latar belakang kesukuan menjadi dasarnya. Itu karena dua paket inilah yang dengan berani menampilkan paket primordial Jawa-Batak (Toba) plus agama (Muslim-Kristen), dua suku dan agama mayoritas di Sumut.

Data KPUD Sumut menyebutkan, suku Jawa secara kuantitas merupakan penyumbang suara terbesar di pilgubsu 2008. Suku Jawa tercatat mencapai nilai 33,40% sementara Tapanuli/Toba 25,62%. Dari sisi agama, suara Islam mencapai 65,45% sementara Kristen Protestan 26,62% dan Katolik 4,78%. Bila digabung, suara umat Kristen mencapai 31,40%.

Karena itu, berdasarkan hitungan kasar ini, maka paket Jawa-Batak dan Muslim-Kristen merupakan kandidat terkuat sementara. Namun, tentu saja itu dalam garis besar. Karena pada kenyataannya, suara itu justru akan berbagi-bagi ke masing-masing paket.

Tak percaya? Lihat susunan kandidat berdasarkan kesukuan. Sebanyak 33,40% suara masyarakat Jawa akan berbagi pada empat pasangan calon yang berlatar suku bangsa Jawa yaitu Tritamtomo, RM Syafii, Ir Suherdi dan Gatot Pudjonugroho. ”Tritamtomo mendapat keuntungan politis karena dia maju sebagai calon gubernur sedang yang lain hanya sebagai wagub,” kata Shohib.

Calon lain? Tiga calon wakil gubsu mempunyai latar belakang Pujakesuma alias Putra Jawa Kelahiran Sumatera. Pujakesuma adalah sebuah organisasi suku Jawa yang terbesar di luar Pulau Jawa. Namun, Ir Suherdi yang Ketua DPW Pujakesuma Sumut tak akan bisa sesumbar dia akan bisa meraup suara dari Pujakesuma. Itu karena calon lain pun latar belakang Pujakesuma. Gatot Pudjonugroho ST yang merupakan Ketua DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan salah seorang anggota Majelis Pertimbangan DPW Pujakesuma Sumut. Sementara itu, RM Syafii SH MH juga nagkring di Pujakesuma sebagai salah seorang Dewan Penasehat DPP Pujakesuma 2006-2011.

”Salah satu pertarungan pilgubsu adalah pertarungan primordialisme,” kata Shohibul.

Di mana kantong suara Jawa? Perkebunan di daerah Simalungun, Rantau Prapat dan Asahan serta daerah pertanian di Deliserdang dan Serdang Bedagai merupakan kantong-kantong suara masyarakat Jawa. Berapa suara di sana? Bila nilai Daftar Pemilih Tetap (DPT) Simalungun, Siantar, Labuhan Batu, Asahan, Deliserdang dan Serdang Bedagai dihitung, maka jumlahnya mencapai mencapai 37% dari seluruh pemilih dari pilgubsu.

Namun jangan berasumsi terburu-buru itu akan milik RE Siahaan dan Suherdi. Pasalnya, walaupun RE Siahaan merupakan walikota Siantar dan sudah dikenal di masyarakat Simalungun, sementara Ir Suherdi selama ini lebih berkonsentrasi sebagai salah seorang pengusaha di daerah Deliserdang dan Sergai, wilayah ini justru akan menjadi ladang perang terbuka semua calon.

Tentu saja, H Abdul Wahab Dalimunthe yang merupakan mantan Bupati sekaligus lahir di Labuhan Batu, masih sangat berpengaruh di daerah yang kini dipimpin HT Milwan, sekondannya di Partai Golkar. Ali Umri juga bakal mengkampanyekan dirinya sebagai putra Labuhan Batu karena dia lahir di sana. Sementara itu faktor PDIP –walau sebagian beranggapan faktor ”netralnya” Rudolf M Pardede cukup berpengaruh di PDIP Sumut- yang sangat kuat di daerah perkebunan tidak bisa dilupakan. Rudolf sendiri dari komentarnya di media massa, masih belum mau mengarahkan telunjuknya pada pasangan dari PDIP, Tritamtomo-Benny Pasaribu.

Para tim sukses sendiri sudah menancapkan kukunya di salah satu penentu pilihan politik di perkebunan, yaitu BUMN PT Perkebunan.

Parpol-Militer
Di samping sentimen agama dan etnis yang menjadi penentu, partai politik menjadi faktor penentu lain. Sudah lama diinformasikan, partai politik ibarat perahu yang kurang berperan aktif dalam pemenangan paket kandidat. Namun, tetap saja mesin partai politik tak bisa diremehkan.

Data menunjukkan, dari ukuran partai politik maka paket Syamsul Arifin-Pudjonugroho merupakan yang terkuat. Bila digabung seluruh suara partai politik yang mendukung paket ini, didapat jumlah lebih 28%. Jumlah ini, bila konsisten seperti suara di Pemilu 2004 lalu, tentu saja sudah menjadi jaminan menang bagi Syamsul. Apalagi bila ditambah dengan faktor lumbung suara yang ada di Langkat cukup besar, 662.698 atau 7,8% dari total suara, maka minimal Syamsul sudah bisa membayang-bayangkan satu kursi sakral di kompleks Diponegoro.

Peringkat kedua, tentulah pasangan Ali Umri-Maratua Simanjutak. Maju dengan perahu sendiri, dalam pemilu 2004 lalu, Partai Golkar menunjukkan keperkasaannya dengan merebut 21% suara pemilih di Sumut.

Namun, perang terbuka antara kubu Ali Umri yang Ketua DPD Golkar Sumut itu, dengan kader-kader senior Partai Golkar seperti Abdul Wahab Dalimunte dan tentu saja Syamsul Arifin, diperkirakan akan mempengaruhi suara Golkar keseluruhan. Dampak pemecatan terhadap Wahab pun seperti tidak ada pengaruhnya. Dari baleho yang berisi data kampanye Wahab terpampang jelas, kalau Wahab meletakkan posisi strategis sekaligus jejak historisnya di Partai Golkar Sumut.

Tritamtomo? PDIP walau bisa mencalonkan paketnya sendirian saja, namun jumlahnya tidaklah terlalu besar, 15%. Apakah dengan demikian Tritamtomo bakal gigit jari?

Belum tentu. Tritamtomo saat ini memegang kartu as dalam pilgubsu 2008, yaitu jaringan militer. Menjadi Pangdam I Bukit Barisan selama kurang lebih empat tahun, Tritamtomo bak ”wakil gubernur” seniornya di militer dan Kodam I/BB, Alm HT Rizal Nurdin. Pengaruhnya begitu kuat sehingga dia pun diberi marga yang punya posisi kuat di Sumut, Panggabean.

Posisi Tritamtomo semakin kuat karena dia punya hubungan psikologis dengan kesatuan kepolisian. Adik kandungnya, Kabareskrim Mabes Polri, Komisaris Jenderal Bambang Hendarso Danuri, sempat menjadi Kapaldasu 2005-2006.

Tapi jangan buru-buru menuduh institusi militer dan kepolisian akan bermain dalam arena pilgubsu. Jauh-jauh hari, bahkan sebelum Pangdam I/BB Mayjen TNI Markus Kusnowo menggantikan Mayjen TNI J Suryo Probowo, TNI sudah menitahkan soal netralitas TNI dalam pilgubsu 2008. Kepolisian juga tidak jauh beda. ”TNI tidak akan mengambil resiko. Mereka tetap netral,” kata Dedi Irsan, Direktur Program LSO.

Namun, bukan Tritamtomo saja yang punya akses langsung dengan TNI. Paket Syamsul Arifin-Gatot Pudjonugroho merupakan pesaing terdekat Tritamtomo. Paling gampang melacaknya tentu saja via jalur FKPPI atau Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Indonesia.

Posisi Tritamtomo semakin kuat karena dia punya hubungan psikologis dengan kesatuan kepolisian. Adik kandungnya, Kabareskrim Mabes Polri, Komisaris Jenderal Bambang Hendarso Danuri, sempat menjadi Kapoldasu 2005-2006.

Kedua orang ini sama-sama tercatat dalam pengurusan FKPPI, baik pusat maupun Sumut. Syamsul sudah lama dikenal sebagai cagubsu yang punya kekentalan khusus dengan militer. Ia sendiri sudah menjabat di kepengurusan FKPPI sejak 1991 lalu. Sementara itu, Gatot merupakan salah seorang Dewan Pembina di GM-FKPPI Pusat periode 2007-2012. Satu lagi calon yang punya hubungan dengan FKPPI adalah RE Siahaan. Walau begitu, suara GM FKPPI tampaknya bakal mengalir deras kepada Tritamtomo sejak putusan resmi mendukung pasangan Tritamtomo-Benny Pasaribu dikeluarkan.

Siapa terkuat? Berpikirlah dalam minggu tenang … (*)

9 thoughts on “Jawa Batak Islam Kristen

  1. mantap pak nirwan, gimana LSO kita itu, harus kita gerakkan ini, soale direktur kita mau jadi caleg, jadi harus menang, cocok kan pak?

    =======

    kurasa, pak dedi lah yang paling tau…aku ikut aja…dan LSO pun mesti memprioritaskan direktur itu. ntar dipecatnya pula hahahahaha…😀

    Like

  2. DUET SYAMPURNO

    Selain isyu primourdialisme yang tetap menarik diperbincangkan, tentu kini lebih menarik membayangkan Duet SYAMPURNO menghabiskan 5 tahun masa jabatan ke depan.

    Duet SYAMPURNO akan berhadapan dengan ujian pertama tentang pemeranan diri keduanya sebagai suatu kesatuan sebagaimana diharuskan ketentuan yang ada. Pokok masalahnya terletak pada latar belakang dan bawaan khas masing-masing. Syamsul Airifin itu one man show, di sisinya Gatot akan benar-benar kesulitan menempatkan diri dan dalam pengalamannya yang amat minim proses mencari peran akan dilaluinya dalam waktu yang panjang. Jangan jangan ia akan mengalami nasib yang sama dengan Yunus Saragih, Wakil Bupati Langkat yang publik tidak kenal karena tak memiliki peran. Kondisi itu bukan kmauan Undang-undang, bahkan sebaliknya.

    Saatnya nanti mereka akan tiba pada satu tahapan dimana tak ada lagi sisi tautan yang membuat duet itu sebagai “dwitunggal”. Agenda yang berbeda di antara mereka berdua pada gilirannya akan berimplikasi pada perilaku pemerintahan sebagaimana para pengamat menyebut fenomena serupa sebagai diveded government.

    Sedikit banyaknya masyarakat sudah faham mengenai rekaman kinerja Syamsul selama dua periode memimpin Langkat. Dia memang amat talentfull (berbakat) membina hubungan-hubungan personal yang amat akrab bahkan membathin. Namun hal itu tidak diikuti dengan kemampuan membentuk keniscayaan prtilaku pemerintahan sesuai prinsip-prinsip good governance.

    Gatot sebagai orang partai akan dengan tanpa sadar akan berusaha sekuat tenaga memasukkan agenda-agenda “istimewa” dalam pemerintahan yang dapat diidentifikasi sebagai konsekuensi loyalitasnya kepada partai yang menghantarkannya kepada posisi puncak kedua di Sumatera Utara. Tanda-tandanya sudah terlihat sejak awal, ketika dalam siaran langsung salah satu televisi nasional dengan tanpa ragu-ragu ia menempatkan peran paling signifikan partainya dalam proses pemenangan dalam pilgubsu 16 April 2008. Katakanlah ia dan orang-orngnya berfikir seperti itu, namun fatsoen terhadap rival-rival politiknya yang kebetulan ketemu dalam proses pencalonan SYAMPURNO seperti PPP, PBB, Patriot Pancasila dan lain-lain, seyogyanya dijaga ketat seakan ia berterimakasih sungguh-sungguh kepada semua pihak. Tetapi itulah Gatot yang dengan kebeliaan tiba pada sebuat event bersama Syamsul Arifin.

    Dengan semua fakta-fakta tadi, pemerintahan SYAMPURNO kemungkinan besar akan menggunakan paradigma 2-1-2. 2 tahun mencari pemeranan diri sambil melakukan upaya power sharing sehingga merit system terabaikan. 1 tahu benar-benar mencoba melayani rakyat dengan program populis namun tak bisa ladari problem ketiadaan dana. 2 tahun terakhir masing-masing sibukmemikirkan cara tercepat untuk memastikan tampil sebagai Gubernur pada periodfe berikut (2013-2018)

    Jika Sumut akan memperoleh kemaslahatan besar dengan perubahan signifikan yang terukur di bawah duet unik ini, maka social control mesti diperkuat. Social control itu tidak kita temukan pada lembaga legislatif, kecuali sebatas quacy control belaka.

    Rakyat secara menyeluruh melalui LSM, kampus, dan kelompok-kelompok intelektual mestinya tampil.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s