Kesawan, Wajah Murung Kota Medan (2)


(bagian kedua/habis)

Usang Gara-gara Walet

Namun, yang menyesakkan di Kesawan adalah burung walet. Setiap sore burung-burung yang telah “melahirkan” banyak konglomerat itu berbunyi riuh di sepanjang kawasan Ahmad Yani. Dulu, walet itu menjadi salah satu sajian khas. Namun feeling bisnis kota Medan yang lapar pun menyambut riuh-rendah burung walet itu.

Di sepanjang jalan itu, dapat ditemui dengan mudah gedung-gedung yang berkedok modern, tinggi (lebih dari empat tingkat) hanya untuk menampung liur burung walet itu. Entah milik siapa gedung-gedung walet itu, tidak bisa dipastikan. Seorang penjaga gedung walet itu menatap tajam pada saya ketika saya memotret gedung-gedung itu.

walet di kesawanTak habis pikir memang, karena di lantai bawah gedung walet itu, dibuat toko. Padahal, penelitian ilmiah menyebutkan, selain bisa menyimpan bibit malaria dan demam berdarah di sarangnya, burung walet juga cenderung menyebarkan toksin (racun) yang bisa mengakibatkan kemandulan baik pada pria dan wanita. “Wah aku tidak tahu itu. Yang penting, udah lamanya walet itu ada di Kesawan ini, dan bangunan itu memang baru,” kata Husin, seorang pedagang rokok di dekat Bank Syariah Mandiri jalan Ahmad Yani.

Tahun 2003, Departemen Teknik Planologi Institut Teknologi Bandung, pernah merancang sebuah penelitian mengenai kawasan ini. Seorang peneliti ITB, JP Marthin Sibarani, pernah berasumsi, kawasan Kesawan di Kota Medan merupakan kawasan kota lama yang semakin ditinggalkan. Ia menyebutkan, konflik yang terjadi di dalam kawasan ini bersumber dari bentuk fisik yang tidak lagi mendukung kegiatan maupun kehidupan publik di kawasan ini. Hal itu mengakibatkan berbagai persoalan ikutan di dalamnya yang berkaitan dengan adanya berbagai kepentingan pemanfaatan yang saling berbenturan. Entah bagaimana nasib penelitian ini, yang pasti pengelolaan di kawasan bersejarah ini bisa dilihat kasat mata oleh warga Kota Medan.

Bagaimanapun, sejarah dan budaya memang tidak bisa disembunyikan dari kawasan ini. Kawasan ini memang mempunyai perangkat yang cukup lengkap untuk sebuah kota. Ada Pajak Ikan lama – yang sekitar tahun 1950-an menjadi pusat penjualan grosir ikan asin sebelum di bawa ke Belawan dan digantikan pedagang tekstil pada tahun 1970– , mesjid (mesjid gang bengkok), kantor pemerintahan, dan kantor perdagangan, tersedia di sini.

Dirk A Buiskool, seorang peneliti asing dalam sebuah papernya yang berjudul “Kota Perkebunan di Sumatera Timur 1870 – 1942” yang disampaikan dalam The 1st Internatinal Urban Confrence di Surabaya tahun 2004 lalu, menyatakan Kota Medan dibangun pertama kali bersamaan dengan berdirinya Kampung Melayu Medan Putri dan Kampung Kesawan. Kawasan ini dipilih karena daerah Labuhan dan perkebunan tembakau di daerah tersebut adalah daerah rawa-rawa yang merupakan iklim yang bagus untuk penyakit malaria. Pengelola perkebunan kemudian memutuskan untuk membuka sebuah kawasan untuk mendirikan kantornya lebih ke dalam, itulah kawasan Kesawan.

Tahun 1869, Deli Company didirikan oleh Sultan bekerja dengan GC Clemen, PW Jannssen dan J Nienhuy yang tergabung dalam the Netherlands Trading Company. Mulai saat itulah, pembangunan gedung-gedung di dirikan di Kesawan dan daerah lainnya di Kota Medan. Salah satu bangunan yang paling bagus dibangun pada tahun 1909 yaitu Perusahaan Perkebunan Inggris Harrisons & Crsofield, tepat di sudut Kesawan (gedung London Sumatera), yang kemudian berubah nama menjadi Gedung Juliana dan merupakan gedung pertama di Sumatera yang memakai lift.

Gedung yang telah hancur, gedung Bank Modern punya cerita sendiri. The Dutch company Van Nie & Co., yang didirikan pada 1885, merupakan perwakilan dari perusahaan perkapalan KPM atau Royal Dutch Package Company. Pada tahun 1915, kantor itu berganti tangan menjadi milik kantor Lindeteves Stokvis, yang merupakan kantor industri dan perdagangan milik Jerman. Perusahaan ini kemudian membeli tanah seluas 14.000 meter persegi di Palesweig (jalan Katamso sekarang) dan kemudian membangun sebuah gedung yang selesai pada 1921. Gedung ini kemudian dikenal masyarakat Medan sebagai Gedung Mega Eltra, yang kemudian hancur pada 2002 lalu.

Selain itu, Kesawan dulu juga terkenal dengan Pecinan. Jejak-jejak budaya Cina tak cuma diwakili oleh rumah Tjong A Fie. Tahun 1915, sebuah usaha perdagangan ekspor impor milik etnis Tionghoa, Banlian, berdiri. Di Kesawan, toko milik etnis Tionghoa yang juga terkenal adalah Seng Hap milik Tan Tang Ho. Toko obat Cina yang pertama yaitu Hiu Ngi Fen’s Moon Pharmacy juga didirikan di daerah ini.

Paper yang dibuat Dirk ini memang cukup lengkap menerangkan soal kota tua bernama Medan yang didirikan sejak 1590 ini. Sayang memang, teman saya itu membaca sejarah dan budaya kota tua Kesawan, yang pernah disebut Parijs van Sumatera karena bangunan tuanya itu, justru dari paper milik orang asing. Kesawan memang tidak bisa menyembunyikan sejarah, tapi ia juga tidak bisa bercerita banyak … (habis)

Ditulis pertama kali pada September 2006

3 thoughts on “Kesawan, Wajah Murung Kota Medan (2)

  1. hiks…hiks…kan sedih nich….
    palagi gw mahasiswa pend.sejrah.lw buktinya gak ada, maka banyak orang yang gak kenal sejarahnya sendiri. maka bnyak orang yang gak sadar, betapa berat perjuangan kota medan yang kita cintai ini….hiks….hiks….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s