Huruf Nan Sakti Mandraguna …


Politik seringkali memanipulasi makna kata. Walau bahasa Indonesia cuma memiliki 26 huruf, a-z, dan sepuluh angka, 0-9, Indonesia bisa hancur gara-gara huruf.

* * *
Contoh pertama adalah soal “Indonesia” sendiri. Negara Indonesia berdiri dan bisa eksis hingga kini, karena disusun 9 huruf yang menjadi sebuah kata. Bila ditambahkan ataupun dikurangi satu huruf saja, maka negara Indonesia sekarang sudah harus bubar. Itu makanya, bubarnya Indonesia bukan karena lemahnya sistem pertahanan negara kesatuan Republik Indonesia, ekspansi negara asing ataupun karena korupsi gila-gilaan itu.

Seorang yang mencalonkan diri jadi gubernur Sumut, akan mencak-mencak bila seorang wartawan salah menulis namanya. Sudah sering didengar ungkapan begini, ”Jangan kau salah menulis nama. Potong kambing itu membuatnya!”

Huruf punya implikasi hukum. Bila huruf di kata Indonesia dirubah, maka terbongkarlah seluruh susunan konstitusi alias UUD 1945, istana negara, batas wilayah, sistem pemerintahan, hingga status seorang warga negara. Karena itu, huruf sangat sakral.

Mari buat pengandaian yang lain soal sakralnya huruf (dan angka) ini. Cobalah satu hari saja, Anda tak melihat huruf. Buanglah segala koran, buku, monitor komputer dan televisi, handphone ataupun apa pun media yang biasa menjadi wadah huruf. Pejamkan mata dan apa yang Anda lihat? Huruf juga. Itu karena ketika Anda berpikir pun, Anda sudah harus menyusunnya dalam bentuk huruf. Anda sudah terbiasa mensimbolisasikan pikiran Anda dalam bentuk huruf. Tak percaya? Bayangkan dalam benak Anda, Anda sedang mengatakan ini, ”Aku tak ingin mengenal huruf saat ini.” Bukankah Anda sedang membaca huruf juga?

Huruf merupakan satu bagian dari bahasa. Bahasa, kata filsafat, bukan bagian dari ilmu tapi menjadi bidang dari filsafat. Kedudukannya sama seperti matematika, statistika dan logika.

Tak percaya? Anda harus curiga, mengapa salah satu penghargaan tertinggi, misalnya hadiah Nobel, memasukkan penghargaan bagi filosof, justru dalam kategori ”Nobel Sastra”. Rabindranath Tagore ketika menjadi orang Asia pertama yang meraih Nobel Sastra, tidak cuma dihargai karena karya besarnya di bidang seni tapi justru juga karena ketokohannya dalam filosofi. Jean Paul Sartre, si filosof Perancis itu, pernah menolak Nobel Sastra yang dianugerahkan kepadanya.

Seorang seniman pernah bercanda begini. Seperti diketahui semua orang, setiap tulisan para akademisi yang ditulis di media, punya nilai kredit tersendiri. Tulisan dalam bentuk buku dan karya ilmiah mendapatkan nilai yang lebih tinggi. Untuk seseorang dosen yang hendak mengambil gelar master, doktor, guru besar sampai nilai kepangkatan –baik kepangkatan akademis hingga kepangkatan PNS-, nilai tulisan itu berlomba-lomba dikumpulkan.

Bayangkan saja bila para sastrawan yang hidupnya bergelut di bidang tulisan media cetak dan buku, sudah berapa cum yang dikumpulkannya selama hidupnya. ”Kalau dikumpul-kumpul nilai itu, maka setiap sastrawan yang rajin menulis, sudah bisa melebihi seorang profesor,” kata seniman itu sambil tergelak.

Maka jangan heran bila kemudian WS Rendra, budayawan itu, dianugrerahi gelar Doktor Honoris Causa oleh Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Padahal, ia sendiri tak lulus dari fakultas itu sendiri!

Karena itu menjadi kontroversial pula, seandainya hitungan nilai kredit yang diberlakukan pada dosen tadi, juga diterapkan pada wartawan. Berapa juta wartawan yang seharusnya sudah layak mendapatkan gelar profesor?

==

foto: http://www.health-in-action.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s