Ilir-ilir dan Tamaknya Manusia


difoto oleh RoemonoBelum tentu hujan sehari menghapus kemarau setahun. Belum tentu kering sehari digilas sejam tsunami. Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane, bermaulidlah.

* * *

lir-ilir, lir-ilir, tandure wus semilir
tak ijo royo royo dak sengguh temanten anyar
(lihatlah kini waktu menyemai telah datang,
begitu hijau segar laksana pengantin baru)

bocah angon, bocah angon, penekna blimbing kuwi
lunyu lunyu penekna, kanggo mbasuh dodod ira
(wahai anak gembala petiklah blimbing,
walau licin tolong panjatkan untuk bebersih baju kebesaranmu)

dan bersoraklah gembira ….)dodod ira, dodod ira, kumitir bedah ing pinggir
dondomana jumetana, kanggo seba mengko sore

(baju kebesaranmu telah terkoyak
jadi jahitlah kembali untuk bertahta sore hari ini)

mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
ya suraka…. surak iya
(selagi terang bulan, selagi luas tempatnya)


Ada beberapa pendapat siapa pencipta tembang Ilir-ilir di atas. Ada yang menyebutkan lirik itu dibuat oleh Sunan Ampel, namun ditolak oleh mereka yang berpendapat lirik itu ditulis oleh Sunan Giri. Pendapat ketiga menyatakan, Sunan Kalijaga menjadi penciptanya. Kesamaan antara tiga versi itu adalah para penciptanya muncul dari kalangan Wali Songo dan ketiga wali itu sungguh aktif dalam kreasi seni dan budaya.

Emha Ainun Nadjib mempopulerkan kembali tembang itu beberapa waktu lampau, dengan musik gamelan modern plus. Grup Kyai Kanjeng pimpinannya membawakan lagu itu dengan aransemen yang begitu lembut dan njawani sekali. Emha barangkali sangat terpengaruh lagu itu hingga menamakan komunitas kebudayaan dan pengajian yang dikelolanya dengan nama Padhang Mbulan, di tanah kelahirannya Jombang.

Pada bait akhir yaitu “ya suraka, surak iya” yang berarti bersoraklah gembira, Emha alias Cak Nun memanjatkan zikir istighfar atau memohon ampunan kepada pencipta. Istighfar itu menjadi intro atau pengantar dari kegembiraan yang berada diujung lagu itu, yaitu shalawat badar kepada kanjeng nabi Muhammad. Shalawat merupakan penghormatan dan sarana pengirim rasa cinta kepada kanjeng nabi.

Dalam lagu itu, Emha sekaligus menyatukan dua kebudayaan dari ranah berbeda, Jawa dan Arab. Riwayat menceritakan, shalawat badar diciptakan oleh kaum anshor, yaitu kaum muslim di tanah Medinah, ketika Muhammad baru datang ke kota itu dalam rangka hijrah.

Kini, shalawat seperti itu laik didengar dalam lantunan tradisi marhaban, baik ketika menyambut seorang bayi yang baru lahir maupun saat pengantin baru. Shalawat merupakan ungkapan kegembiraan dan rasa cinta seorang manusia kepada manusia. Di dalamnya teriring doa dan pengharapan serta rasa saling ketergantungan antar manusia tersebut.

Shalawat tak dikenal ketika Muhammad lahir dulu. Shalawat badar diciptakan oleh para pengikut Muhammad dan ini yang hebatnya, sesungguhnya Tuhan dan para malaikat pun bershawalat kepadanya. Sebuah pertanda bahwa sang Maha Segala-galanya pun menunjukkan penghormatan dan cinta kasihnya kepada ciptaannya sendiri, manusia.

foto oleh Chalid MN Di tengah kekeringan dan lunturnya hubungan antar manusia, ilir-ilir dan shalawat terkesan aneh diperdengarkan saat ini. Gelombang nada yang menghidupkan kembali rasa cinta terhadap alam semesta menjadi asing ditelan pragmatisme dan eksploitasi kepada sesama manusia sendiri. Lagu, musik dan lirik yang diperdengarkan sekarang ini, lebih ditujukan kepada sebuah industri, penciptaan sebuah pasar dalam perilaku yang konsumtif. Ketamakan manusia sungguh menjadi panggung utama dalam era post modern ini.

Ilir-ilir
Waktu persemaian padi telah datang dan bocah pengembala bermain-bermain di seputaran petak sawah. Hijau bibit padi itu seperti laiknya segarnya temanten ayar alias pengantin baru.

Orang-orang di kota tak terlalu mengenal padi apalagi sewaktu menyemainya. Orang-orang di kota hanya mengetahui saat panen. Orang-orang di kota hanya tahu soal beras dan gabah. Panen mengisyarakatkan ukuran besar panen, hitungan keberhasilan, harga dan tentu saja keuntungan. Orang-orang di kota tahunya hanya makan dan bukannya menanam.

Eksploitasi manusia kepada alam tanpa memperdulikan keseimbangan sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Tenaga manusia diukur melalui efesiensi dan ekfektifitas. Tenaga manusia tidak diukur berdasarkan berapa banyak manusia lain yang harus ditanggung makannya, dibiayai pendidikannya dan kehausannya akan seni.

Almarhum Umar Kayam, Guru Besar Fakultas Sastra UGM, pernah menolak istilah “sumber daya manusia”. Bagi dirinya, istilah itu mengibaratkan manusia seperti mesin-mesin teknologi yang terus-menerus digunakan hingga rusak. Manusia dikuras jiwanya sehingga periode makannya yang tiga kali sehari itu laiknya sedang cas baterai saja. Manusia yang tergerus ini sudah pasti menciptakan manusia-manusia lain yang lebih buas dan lebih eksploitatif.

Film Amerika, Van Helsing, bercerita soal dracula alias manusia pemakan darah yang membutuhkan tenaga werewolf –manusia yang bisa berubah menjadi serigala akibat sinar bulan purnama- dan frankestein, manusia bikinan manusia. Tiga tipe manusia ini adalah karakteristik manusia pada umumnya yang bisa ditemui dengan mudahnya di zaman modern ini. Van Helsing adalah pemburu para werewolf namun berteman dengan franskestein yang hingga di akhir film memohon agar ia tetap hidup sebagai manusia. Dia ditugaskan untuk memberantas manusia jadi-jadian yang bersekutu dengan iblis yang berniat akan membasmi ras manusia dan menggantikannya dengan keturunan dracula. Film ini menjelaskan bahwa ancaman terhadap kemanusiaan justru timbul dari manusia itu sendiri.

Baju-baju manusia yaitu perilaku, akhlak, sikap dan pemikirannya telah sangat-sangat kotor. Salah satu penyebabnya adalah karakter homo economicus yaitu manusia sebagai makhluk ekonomi yang selalu mendasarkan perhitungannya pada faktor untung dan rugi. Ekonomi dikelola bukan untuk dibagi-bagikan tapi diakumulasikan. Meminjam bahasa Adam Smith, kapitalisasi modal. Tidak ada alasan paling shahih yang menjelaskan soal ditilepnya dana Rp 800 triliun lebih dalam kasus BLBI selain soal kapitalisme ini.

Marx menentang hal ini. Namun, Marx ternyata pun tak memiliki “rasa” kemanusiaan. Ia tak membuat manusia menjadi manusiawi karena ia tak mengakui adanya kepemilikan barang pribadi. Ia tak percaya institusi perkawinan adalah lembaga paling intim yang dimiliki manusia dalam mengukuhkan rasa cinta mereka kepada sesama manusia.

Baju manusia tak juga bersih. Ilir-ilir menyarankan untuk membersihkan baju yang kotor itu dengan belimbing. Tradisi menyebutkan, sebelum sabun ditemukan, cairan belimbing dijadikan sebagai semacam sabun pembersih. Tapi tentu saja, itu hanya perlambang saja.

Sedihnya, tembang Ilir-ilir yang diciptakan ratusan tahun lampau itu, tak cuma membilang pakaian yang kotor namun juga koyak.

Tamak
Manusia telah sungguh-sungguh buas tamaknya. Itu ketika setiap pengendara merasa memiliki seluruh jalan raya dan tak pernah punya keinginan untuk menunggu lampu hijau. Demi kepentingan, si manusia tadi tak perlu harus memikirkan bahwa jalan raya bukan cuma dilalui oleh seorang pengendara, sebuah sepeda motor ataupun mobil.

Manusia telah sungguh-sungguh buas tamaknya. Itu ketika diskusi, dialog, pertemanan dan persahabatan, sudah digantikan oleh hubungan atasan bawahan, wewenang jabatan, uang dan ilmu siapa yang paling banyak.

Pantaslah bila sorak gembira yang ditambahkan Emha dalam lagu Ilir-ilir adalah sebuah istighfar dan shalawat. Mohon ampunlah lebih dulu dan tunjukkan kasih sayang kepada manusia setelahnya, barulah kemudian manusia-manusia baru akan lahir. Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane.

Seperti maulid. (*)

= = =

foto-foto oleh Roemono dan Chalid MN

13 thoughts on “Ilir-ilir dan Tamaknya Manusia

  1. menurut saya,,,,dalam dan luas sekali nilai spiritual nyanyian Lir Ilir ,,,, apalagi setelah saya mengikuti training ESQ 165 Leadership Center….. lebih terasa menyentuh hati nurani.

    sip. thanks.🙂

    Like

  2. nuwun sewu, badhe ndherek copas link “Ilir-ilir dan Tamaknya Manusia” panjenengan dateng FB. matur nuwun

    🙂 lanjut mas.

    Like

  3. aswrwb, sedikit ikut memberi komentar:

    ini adalah bahasa filososif, yang dimaksud “waktu menyemai telah tiba” oleh “wali songo” adalah “kabar gembira, karena risalah yang dibawa Rosul terakhir telah tiba”. Saking gembiranya berita itu diibaratkan seperti kegembiraan pengantin baru.

    anak gembala adalah ibarat seorang yang memberikan bimbingan pada manusia, yaitu kaum ulama. Kaum ulama yang memetik buah blimbing (bukan buah-buah lainnya, rambutan atau durian misalnya) adalah karena buah blimbing bersisi lima, yang mewakili rukun islam yang lima. walaupun licin (banyak rintangan), tetaplah petik blimbing itu (tetaplah laksanakan lima rukun islam itu), untuk membasuh baju kebesaran (kemuliaan sebagai manusia ciptaan Allah), sebagaimana Allah berfirman bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia.
    Baju kebesaran yang telah kotor (kemuliaan yang telah memudar sebagaimana Allah sampaikan bahwa manusia bisa jatuh lebih rendah dari binatang) dibersihkan lagi (dengan pelaksanaan rukun islam) agar baju kebesaran itu (kemuliaan itu) kembali, sebagaimana Allah sampaikan juga bahwa manusia bisa lebih mulia dari malaikat.
    Mumpung masih ada kesempatan (mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane) untuk mengembalikan kemuliaan itu.
    Maka bergembiralah, (karena masih ada kesempatan untuk mengembalikan kemuliaan itu).

    Demikian …

    Salam

    Like

  4. aswrwb, sedikit ikut memberi komentar:

    ini adalah bahasa filosofis, yang dimaksud “waktu menyemai telah tiba” oleh “wali songo” adalah “kabar gembira, karena risalah yang dibawa Rosul terakhir telah tiba”. Saking gembiranya berita itu diibaratkan seperti kegembiraan pengantin baru.

    anak gembala adalah ibarat seorang yang memberikan bimbingan pada manusia, yaitu kaum ulama. Kaum ulama yang memetik buah blimbing (bukan buah-buah lainnya, rambutan atau durian misalnya) adalah karena buah blimbing bersisi lima, yang mewakili rukun islam yang lima. walaupun licin (banyak rintangan), tetaplah petik blimbing itu (tetaplah laksanakan lima rukun islam itu), untuk membasuh baju kebesaran (kemuliaan sebagai manusia ciptaan Allah), sebagaimana Allah berfirman bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia.
    Baju kebesaran yang telah kotor (kemuliaan yang telah memudar sebagaimana Allah sampaikan bahwa manusia bisa jatuh lebih rendah dari binatang) dibersihkan lagi (dengan pelaksanaan rukun islam) agar baju kebesaran itu (kemuliaan itu) kembali, sebagaimana Allah sampaikan juga bahwa manusia bisa lebih mulia dari malaikat.
    Mumpung masih ada kesempatan (mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane) untuk mengembalikan kemuliaan itu.
    Maka bergembiralah, (karena masih ada kesempatan untuk mengembalikan kemuliaan itu).

    Demikian …

    Salam

    terimakasih atas komentar yg sangat berharga ini. Tentu tak ada yg tak bisa disetujui dari pemikiran yang cukup mencerahkan ini. salam.

    Like

  5. assalamualaikum…
    buat empunya blog ini,.. numpang mampir kebetulan saya lewat…
    artikel yang sangat menyegarkan… memang benar jika kita mau jujur generasi sekarang lupa dengan sejarah yang diwariskan oleh nenek moyang kita… ilir-ilir adalah seloka yang mengandung nilai nasihat mendalam…
    terima kasih juga buat mas dani setiawan… karena di comment nya mas dani ngebahas makna “belimbing” yang sedang saya cari-cari… subhanallah…
    semoga bangsa ini tidak larut dalam ketamakan… amin…

    salam karaharjan…

    walaikum salam. amin. tks.🙂

    Like

  6. Assalamualaikum wr.wb
    Lir-ilr sangat luas cakupan maknanya baik Dunyo lan Akhirat, Baju atau “Pakai-an” melambangkan Baju / “Pakai-an” yang nyata dan Baju / “Pakai-an” yang Ghaib, dalam Al-Qur’an juga disebutkan antara lain: “Dan Pakai-anmu Bersihkanlah”, makna dari “Pakai-an” disini yang mana kalau banyak orang menterjemahkan bahwa “pakai-an” yaitu baju yang nyata namun Poro Wali meterjemahkan lain yaitu Pakain=Jasad, “Sedulur papat limo pancer” atau “Cangkangnya RUHdan JIWA”, (RUH / WERUH / KAWERUH (sama seperti bahasa aslinya “IBRANI” Prouh/Fraou/Frau) bahasa jawa =TAHU=Mengerti Paham, NYOTO, bahasa sonoya : ILA ) yang terbuat dari air yang hina, seperti ayat Al-Quran menyebutkan : “Tidakkah kamu tahu bahwa kamu kami ciptaakan dari air yang hina (mani/kama/sperma)?”. Yaitu gabungan empat unsur dari Bumi yang menyatu , yaitu : Api, Angin, Air dan Tanah, dan jika dikatakan kepada nya (fulan bin fulan, hamba) :”Ina Lilahi Wa Ina Ilaihi Rojiun” maka semua pakaian itu akan dikembalikan kepada asalnya, hanya dua unsur satu ROH, dikembalikan kepada yang Punya, dan yang tertingal yaitu hanya satu yaitu “Jiwa, Ujud,Aura,Cakra” yang tenang. Dan memang yang mecetuskan lagu ini Para Wali, Songo, yang dengan intelektual yang tingi dan Kaweruh yang Nyoto (ILA) karena mereka adalah satu keturunan dari keturunan yang lain” (Kisah Para NABI atau Kisah Para Rasul-Rasul (Taurat,Alkitab,Injil). jadi sebenarnya para nabi gak pernah terjadi selisih paham begitu juga dengan Lir-iler karena mereka adalah satu kesatuan yang utuh maka siapaun yang menciptakan lagu ini nyatanya dari keturunan yang “Luar Biasa” karena Maknanya sangat luar biasa jika dikaji dengan “Akal dan di hayati (Hidup-i) dengan Hati”, maka allah sedang mencari orang yang mengunakan “AKAL DAN MATAHATI” atau kata lain “BERILMU DAN BERAKHLAQ MULIA”, yaitu antara “Omongan dan Lakonya “PAS” = “Tidak kurang dan tidak lebih” itulah Al-Qur’an jangan ditambah-tambah-i dengan ayat baru dan jangan dikurang-kurangi dengan “ayat-ayat baru”. karena inilah yang terjadi pada ummat-ummat sebelum “Muhammad” (Q.S. Al-Imran) Mereka selalu mengada-adakan “Ayat-ayat pada kitab-kitab yang telah ditetapkan (zabur, taurat dan Injil), bahkan nabinya pun dibunuhnya oleh ummatnya “sendiri” demikian Penyebar Agama islam di -Jawa yang diprakarsai oleh Maulana Malik Ibrahim dengan menyamar sebagai rakyat jelata karena takut dibunuh juga oleh orang-orang yang “tidak bertangungjawab” seperti Nenek Moyangnya di “Karbala”,maka mereka menyebar Islam dengan meyamar sebagai petani-pujanga,dukun/pengobatan, dan Alhamdulillah Allah berkendak kepada mereka dengan menjadikan “Nusantara beragama Islam yang “Sampoerna” berkat Para Wali dan Kanjengang Nabi Muhammad SAW serta Allah SWT. Sendiri. karena jatuhnya menjadi “Fitnah dan Taqwil”. Karena Jin malaikat dan namanya mangso harus tahu ayat ini : Ina dina Indallah hil ISLAM, Sesunguhnya Agama yang diridhai disisi Allah Hanyalah Islam dan tidak akan ada selihih paham orang/kaum/ummat yang telah saya beri zabur,taurat dan injil, jika telah “AKU” beri petunjuk” , “Jadi Baju or Pakaian” bisa dijatuhkan ke badan, jasad, raga, tubuh, dan juga adalah “ILMU TAUHD / Ilmu Ketuhananan yang kan membentuk “CAKRA/AURA”
    Wasalam

    Like

  7. inilah yang sedang dikaji dan dicari oleh “PARA PENCARI TUHAN”, dengan “LABEL” “MARIFATULLAH” Meripat ALLAH=mata bahasa jawa” yaitu menihat dengan “NYATA”(ILA), ATAU “MELIHAT KARENA ALLAH” . Yaitu melihat dengan BATHIN, HATI, yg sempurna (10) namuan sayangnya banyak diantara mereka yang maaf yang akhirnya “Sesat”, karena banyak dari mereka setelah mendapat Pakaian (ilmu, Ngelmu, Karomah, Hidaya, Laitulqodar) malah menjadi “ALLAH” sama seperti ajaran Kakang “Siti Jenar”, karena mereka melupakan “Jati dirinya” “Sopo Iro Sopo Ingsung” jadi bagi yang mencari dan pencita pencari Tuhan dalam Al-Qur’an tidak tercata ayat : “Berhentilah Sholat jika Sudah Marifat atau Meripat, Melihat kekuasaan “SAYA” dialam ghaib karena itu baru sebuah persemon, atau angen-angen bagi hamba atau prasangka bagi hamba dan ingat Ummat muhammad sampai akhir jaman akan digangu oleh yang namuanya “JIN” (QS. Anas) yang selalu menimpalkan akal bulunya kango ummat Muhammad yang punya ilmu tingi sekalipun yang akan kepuncak Kesempunaning “URIP” “Marifatullah” karena di”SAF” atau dibaris atas HAQIIQAT masih banyak duduk ummat-ummat terdahulu baik yang beriman dan tidak beriman dan tidak ada satu manusiapun yang bisa melewati jalan ini untuk menuju kepadaku tanpa pertolongan”KU” dan Ridhado KU dan Ridho Rasul-KU. itulah Ihdinasirathal mustaqiem. maka semua ummat jaman ini yangmasih punya RUH/TAHU, NYAWA /Jiwa dan JASAD, disuruh untuk mencari jalan yang JALAN “YANG LURUS” JANGAN MANDEK DI PERCABANGAN KARENA (TIGA CABANG) karena itu masih Prasangkamu sendiri, karena Allah itu duduk pada prasangka “hambanyanya” . yaitu “Siapa yang menyembah siapa yang disembah” jangan di bolik-balik. “YUWASWISU FISUDURIN” baik oleh “JIN” manusia, Atau “NAS”. inilah terjadi perang besar antara Walingso dengan Kakang Siti Jenar” karena perselihan paham.tahu,we-RUH, mengerti pengertian. dan salah paham itu akan itu akan selalu ada sampai “kiamat” selama manusia itu tidak membersihkan dirinya atau beriman (QS ABASA) Kanjeng Nabi aja ditegur oleh Allah m,elalui Jibril apalagi kita yang bukan siapa-siapa. dan perselisihan itu tidak akan ada kalau kita hanya berserah diri “LILAHI TAALA” kepada Allah SWT semata dengan sumber ilmu Kanjeng Nabi Muhammat SAW yaitu Al-Quran. dan dengan demikian mohon maaf banyak ummat akhir jaman yang mengaku dan bersahat seperti ini: “ILMU SETAN (JIN) DIANGAP ILMU TUHAN” hati-hati dalam meniti hidup dan kehidupan karena hari yang amat susah dimana pada hari itu tidak ada yang dirugikan dan tidak ada yang diuntungkan karena azabnya yang merata dimana-mana sama seperti “AWAL KEJADIAN” PASTI ADA AWAL KEAKHIRAN” “Awalu wal Akhiru” alam semseta ini (KItab Kejadian, Taurat dan Injil),demikian kitab-kitab itu kami turunkan untuk dipelajari bukan untuk didebati, atau dihujati, karena sesunguhnya kitab-kitab itu adalah USER GUIDE, “BUKU PETUNJUK” untuk menuju Tuhanmu yang dulunya telah diberitahu di alam bawah sadar(Jabang Bayi) Syahadat “ROH” yaitu pada saat Muhammad tersungkur dalam Kandungan (Rahiem) Ibunya atas RahmnaNYA “Gusti Allah” setelah keluar dari Lawang gapit pintu kasuwarga (Lahir) maka lupalah jabang bayi tadi akan janji dan sumpahnya terhadap “Gusti Allah”, dan diluar teklah menungu ummat-ummat sebelum (INSAN) yaitu dua mahkluk / ummat terdahulu ” JIN dan MALAIKAT, untuk menjadi Wakil Allah kejalan yang benar atau salah dengan 1 (SATU ) “KETETAPAN PERINTAH DAN LARANGAN” perintah nilainya 1 Larangan nilai 0. Kayak bahasa komputer atau bahasa binner saja ya). atau apa ya gak bisa apa-apa alias bajune atau pakainya kumal, dekil, kotor compang-camping disaat dibangkitkan pada kali yang kedua setelah kiamat, demikian Alquran mencatat perumpamaan itu dari awal Zabur, taurat, injil alkitab) ditambah dengan kesudahan setelah “BIGBANG” jadi awal sebelum BIGBANG dikitab kejadian (Taurat dan Injil) Kedsudahaan BIG BANG di alquran demikian kitab-kitab itu kami turunkan secara berangsur-angsur untuk bisa di getuk tularkan kepada sesama manusia yang PALING SAYA BANGAKAN diantara mahkluk cipataanku terdahulu yaitu “JIN dan MALAIKAT” mahkluk sempurna yang aku bangga-banggakan tenryanta hanya menjadi penentang ayat-ayat kami masyaallah maka kami akan kumpulkanmereka dengan golongan jin yang tidak taat “di neraka” “Neraka melontarkan Bunga api, lidah api sebesar dan setingi istana, itulah awal penciptaan Allah yaitu TERANG (MATAHARI) yang dikenal denganma “BIGBANG” kemudian diptikan pada kali yang kedua…..dst Pesan saya : Hati-hati orang yang mengaku sholat Namun melalaikan akan “sholatnya”, maksunya seperti tadi diatas omongn dan tindakan harus “PAS” jang sok pinter, jangan juga Bodoh, dalammartian JUJUR, IKLHAS TAWAQAL, jangan menjadi orang yang “MUNAFIQUN” karena turun 1 derjata lagi maka akan jadi “ALKAFIRUN” sama seperti ummat sebelum “Muhammad”.

    Like

  8. Tiga mahluk yang diciptakan oleh ALLAH,
    1.Malaikat
    2. Jin dan
    3. Manusia
    Ketiga mahluk ini yang dimintai pertangunjawaban oleh Allah bukan para Khewan, Tumbuhan. Hewan dan tumbuhan merupakan pelengkap hidup manusia untuk dikonsumsi, jadi jangan mengambil hewan sebagai “Tuhan” ini “Sholah Kaprah”, Binatang itu sebagian dimakan dan sebagian dijadikan tunggangan dan sebagian dibuat berburu, “Maha Besar Allah dengan Segala Firman-NYA”….dan sebagian lagi dijadikan khewan kurban dan akhirulkalam, selamat menunaikan Idhlu Adha 1432 H, semoga dengan hewan qurban yang telah diberikan oleh Ummat Muhammad menjadikan bumi dan alam semesta ini tentram ayem, adem, dan Allah selalu memperhatikan siapa yang berbuat dan siapa yang hanya nongkrong saja dialam “dunia” kalau mau sher tentang tulisan ini silahkan kontak ke email saya. karena semua kebenaran yang NYATA hanyalah milik ALLAH semata, dan kewajiban kita hanya uingat dan mengingatkan sesama manusia seperti ayat terdahulu, dalam taurat, Kaishilah sesamamu manusia seperti mengasihi dirimu sendiri, Kasihi mengasihi disini sangat luas bila dijabarkan,dan nota bene orang akhir zaman kalau disebutkan kata kasih mengasihi paling banyak Naiwaitunya adalah “MATERI”, berupa uang, emas, perak berlian, padahal “La haula wala kuwata ila billah” karena lebih cinta “dunia” dan pasti slelau dalam pikirannya dunia padahal dunia dan akhirat harus “imbang” 0 maka akan ketemu yang satu (AHAD)

    Like

  9. Pengantin baru adalah tersungkurnya “Muhammad” pada Kholiqnya, yaitu Awal kejadian, ditempatkannya “ROH/DAT ALLAH”, didalam “Rahiem” dengan kalimat pertama “Asyhadu ala ila ha ilallah”, Sopo “Siro..sopo ingsung” Anak gembala disini saya ibaratkan “SOSOK PENGEMBALA” saya langsung tertuju pada sosok yang dijulu Penggembala Domba Yaitu ISA AS. maksudnya disini para pemuka agama (Ahli kitab) dijaman itu dan akan datang” dizaman itu “Majapahit” sebagai penguasa, kalo di Islam bisa disebutkan dengan Imam, setiap mukmin wajib dan harus menyampaikan dan menegakan agama Allah ini, demi “Rahman dan Rahiem sekalian alam”, dan yang inti bahwa beliau ini bisa bebas dan meloloskan diri dari Dazal di arab (peristiwa karbala) dan bisa menegakkan Agama Allah (ISLAM) didaerah yang baru dengan Susah Payah berjalan dari Asmarakandi / Samarkand Asia Tengah dan tiba di “Jawadwipa”, dan bisa menebarkan Agama Allah (ISLAM), dan mebesarkan nama Allah ditanah jawa. sesuai dengan Naiwaitu Nenek moyangnya yaitu Nabi MUhammad “SAW”. dan Kakak Moyang ISA AS. MUSA AS. IBRAHIM, AS( Baca Perjanjian Para nabi, dan baca silisilah para nabi)

    Like

  10. Pengantin baru adalah tersungkurnya “Muhammad” pada Kholiqnya, yaitu Awal kejadian, ditempatkannya “ROH/DAT ALLAH”, didalam “Rahiem” dengan kalimat pertama “Asyhadu ala ila ha ilallah”, Sopo “Siro..sopo ingsung” Anak gembala disini saya ibaratkan “SOSOK PENGEMBALA” saya langsung tertuju pada sosok yang dijulu Penggembala Domba Yaitu ISA AS. maksudnya disini para pemuka agama (Ahli kitab) dijaman itu dan akan datang” dizaman itu “Majapahit” sebagai penguasa, kalo di Islam bisa disebutkan dengan Imam, setiap mukmin wajib dan harus menyampaikan dan menegakan agama Allah ini, demi “Rahman dan Rahiem sekalian alam”, dan yang inti bahwa beliau ini bisa bebas dan meloloskan diri dari Dazal di arab (peristiwa karbala) dan bisa menegakkan Agama Allah (ISLAM) didaerah yang baru dengan Susah Payah berjalan dari Asmarakandi / Samarkand Asia Tengah dan tiba di “Jawadwipa”, dan bisa menebarkan Agama Allah (ISLAM), dan mebesarkan nama Allah ditanah jawa. sesuai dengan Naiwaitu Nenek moyangnya yaitu Nabi MUhammad “SAW”. dan Kakak Moyang ISA AS. MUSA AS. IBRAHIM, AS( Baca Perjanjian Para nabi, dan baca silisilah para nabi)

    penjabarannya cukup luas, menarik untuk disimak. Sungguh banyak yang saya tak sependapat, namun itu tak mengurangi apresiasi saya terhadap komentar Anda. Terimakasih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s