Alkisah Sebuah Kursi


Tiba-tiba harga kursi mahal. Seluruh kursi yang ada di Kota Medan berhilangan. Tidak cuma kursi, bangku pun raib. Sangkot dan Wak Labu yang biasa nongkrong di warkop sambil menaikkan kaki di atas bangku, kali ini terpaksa lesehan. Kini, mereka tak lagi duduk di warkop Sudirman, tapi di Warkop Juanda.

“Di sini agak bising, Kot. Mengapa kita tak duduk di Harapan saja?”
“Malu aku di sana, Wak.”
“Mengapa rupanya?”
“Malu aku ditunjuk-tunjuk sama patung Jenderal Ahmad Yani tu, Wak. Tangannya tu, Wak, macam mengusir aku saja dari sana.”
“Ah, kau ini, Kot, mendramatisir persoalan saja. Dah kebanya’an nonton sinetron dan telenovela saja kau ini.”
“Yang ini lain, Wak. Tak sedaplah. Dia itu jenderal, pahlawan lagi. Pahlawan revolusi pula.”
“Hahahaha…sedang Soekarno saja tak dinobatkan jadi pahlawan revolusi ya. Padahal, sudah dibilang-bilangnya dia pemimpin besar revolusi.”
“Itulah, Wak. Lagipula aku heran, Wak. Mengapa di sana tak ditaruh patung pahlawan revolusi dari daerah kita ni.”
“Siapa yang kau maksud?”
“Ya, DI Panjaitan-lah, Wak, siapa lagi…”
“Itulah kekuasaan, Kot. Sedang di daerah sendiri pun, walau kita punya pahlawan, tapi kurang ada yang menghargai. Macammana? Kita revolusi ini?”

Sangkot mendekat ke telinga Wak Labu.
“Sssst…jangan Uwak bilang-bilang itu. Di sini masih berlaku hukum makar, Wak. Hatzai artikeleen warisan Belanda itu masih disimpan di laci penguasa. Bisa ditangkap kita nanti.”

“Mengapa pula kau takut, Kot!” sergah Wak Labu. Suaranya sengaja dibesarkan volumenya. “Aku tak takut. Aku sudah lama hidup di negeri ini. Negeri ini dilindungi para jenderal. Sumatera Utara ini negerinya para jenderal!”

Merah padam muka si Sangkot. Sangkot yang umurnya satu generasi di bawah Wak Labu merasa malu karena nyalinya ternyata masih di bawah Wak Labu yang sudah ringkih itu. Untuk menutupi malunya, ia menyeruput kopinya dan geretannya dibakar. Agak teredam sedikit emosinya. “Apa pula alasannya?” tanyanya setenang mungkin.

“Ah, kau ini. Makanya sejarah itu bukan cuma dibaca saja, tapi dipahami. Tahu kau, sejak tahun 1967, daerah kita ini dipimpin para Jenderal?”
“Ya udah, ceritalah Wak.”
“Masyarakat kita ini masih mengidolakan tentara. Ini tak perlu diherankan. Bahkan di Amerika sekalipun, anak-anak muda sana paling senang memanggul senjata. Tahu kau, mereka itu paling bangga kalau bilang dia pernah bertugas di Irak, Afghanistan, Kuwait dan seterusnya. Sama itu seperti ketika para wajib militer Amerika dulu bangga menceritakan luka perang Vietnam dan Korea. Anak muda Amerika itu tergila-gila menjadi Rambo dan Commando. Nah, sistem kemiliteran yang hirarkis itu menyuratkan sistem yang profesional, tegas dan tak main-main. Bandingkan dengan sistem birokrasi pemerintahan yang para PNS-nya masih bisa minum kopi bersama atasannya di kantin kantor.”

Si Sangkot manggut-manggut. Ia teringat Bapaknya yang pegawai negeri. Tapi ia tersenyum juga ketika Wak Labu sudah memakai istilah kaum kampus, kayak hirarki, sistem, birokrasi. Ada juga efeknya cakapnya minggu lalu itu.

Di sebelahnya, Wak Labu masih semangat bercerita. “Sampai zaman sekarang ini, dua pekerjaan itu, tentara, polisi dan PNS, masih primadona pekerjaan bagi masyarakat kita. Jangan kau hitung kawanmu yang wartawan dan seniman itu. Yang udah gilanya dia itu, hahaha…”

“Bah, kenapa pula rupanya, Wak.”
“Hahaha…nanti kalau dia mau kawin dan didengar calon mertuanya calon mantunya itu wartawan, sudah terbayang itu di kepala dia, ‘oala nang, kok yang miskin la yang kau pilih.’ Hahahaha….”
Puas betul nampaknya si Wak Labu itu meledek profesi kawan si Sangkot. Tapi, melihat wajah si Sangkot yang diam saja, Wak Labu menghentikan tawanya. Ditariknya rokoknya sebentar dan dia pun serius lagi.

“Di dunia ini, ada tiga profesi. Tiga profesi ini beda-beda melihat waktu. Bila dia militer, maka bila apel jam 6 pagi, maka jam 6 pula barisan sudah rapat. Bila dia wartawan, nah…bila disuruh deadline jam 5 sore, maka dipastikan selesainya jam 7 malam. Nah, kalau dia politisi, bila dia berjanji hasil rapat akan diumumkan pukul satu siang, maka tahun depan pun, rapat itu sendiri belum tentu selesai!”

“Ah, tak betul itu, Wak.”
“Udah, jangan kau bantah dulu. Diam-diam kau duduk di situ. Kau dengarkan ini orang tua becakap. Militer itu punya ankum alias atasan yang berhak menghukum. Itu disahkan undang-undang. Lain kita yang sipil ini, gingging semua ini. Apalagi wartawan. Jangan kau atur dia itu. Atasannya pun dilawannya, hahaha…”

“Jadi, Uwak ramal, militer pula yang kuat kansnya ini?”
“Bukan aku yang bilang begitu ya. Tapi lihat dulu faktanya. Orang kejaksaan yang tahu hukum dan dikenal pula sebagai intel kejaksaan, kalah oleh militer. Pertama, kalah dia sama almarhum HT Rizal Nurdin tahun 2003 lalu. Tahun ini, kalah pula sama mantan Pangdam kita. Tak kau dengar isu, siapa yang bisa mengalahkan jaksa ini, dia pasti bisa jadi gubernur…”
“Ah, tak percaya aku ramalan, Uwak. Itu analisis lemah, tak logis, tak akademis.”
“Ih, yang bandal la kau ini jang. Gubernur kita yang sekarang itu, memang sipil. Tapi kau ingat, beliau itu kan pengganti saja. Kau lihatlah gubernur sebelumnya. Almarhum Raja Inal Siregar dan Kaharuddin Nasution itu Letnan Jenderal. Mendiang EWP Tambunan dan Marahalim Harahap itu Mayor Jenderal. Jadi, kalau kau hitung sejak tahun 1967, maka Sumut sudah dikomando para jenderal selama 41 tahun!”

Berapi-api cakap Wak Labu kali ini. Ia tersenyum puas. Dipilinnya rokoknya kuat-kuat, dihembuskannya pelan-pelan dan ditariknya nafas panjang.
“Kursi kekuasaan itu mahal, Kot. Jadi, Sumut ini sebenarnya rumahnya para jenderal.”
* * *

Sangkot sudah pulang ke rumahnya. Panas kupingnya di warkop tadi dicermahi Wak Labu. Di rumah, makin gelisah dia. Isi rumahnya sudah tak dalam bentuk semula, berserakan tak karuan. Yang mana lemari, yang mana ranjang tak kelihatan lagi bentuknya. Ini bukan karena dimasuki maling. Istrinya bingung, semua kursi sudah raib. Bangku-bangku di dapur pun hilang pula. Kata istrinya, karena di rumahnya tak ada kursi maka rumah itu mau dirombaknya, disesuaikan dengan keadaan yang sekarang. “Terpaksalah kita lesehan, Bang,” katanya mengayunkan sapunya.

Sangkot tak peduli soal lesehan itu. Dia bergegas masuk ke kamarnya. Dia mau melihat kursi malasnya, tempat ia merenung kala malam tiba, tempat ia “bermeditasi” berhubungan dengan dunia luar. Saking sayangnya ia sama kursi itu, istrinya pun tak berani duduk di sana. “Itu kursi keramat,” kata Sangkot pada istrinya.

Apa mau dikata. Kekuasaan begitu rakus dan kursi malas si Sangkot sudah tak berbekas. Sangkot geleng-geleng kepala. “Itu kan cuma kursi …” (*)

* * *

foto: wikimedia, http://www.parliament.tas.gov.au/lc/Images/PresChair.jpg 

One thought on “Alkisah Sebuah Kursi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s