Review Pameran Edward S Curtis


KEDUTAAN Besar Amerika Serikat menggelar pameran fotografer legendaris Edward Sherrif Curtis di Sun Plaza Medan hingga 19 Maret mendatang. Berjudul Sacred Legacy: Edward S Curtis dan North American Indian (Warisan Sakral: Edward S Curtis dan Indian Amerika Utara), pameran ini seakan “mengejek” warisan budaya suku bangsa di Indonesia yang sering dibajak negara lain.


* * *

Edwar CurtisSalutlah kepada Amerika Serikat (AS) sebagai sebuah negara dan berdecak kagumlah kepada AS sebagai sebuah “bangsa”. Di Indonesia, membuka tahun 2008, Kedutaan Besar (kedubes) AS menggelar pameran foto bertajuk “Sacred Legacy: Edward S Curtis dan North American Indian”. Di Indonesia ini, di negara yang punya ratusan suku bangsa ini, AS menunjukkan kedigdayaan mereka dalam “melindungi” kebudayaan suku bangsa asli mereka, suku Indian.

Mereka adalah pewaris yang paling tahu bagaimana menjaga kepentingan mereka ke seluruh penjuru dunia. Ke seluruh pelosok yang mungkin hanya tahu suku Indian dari filmnya Dances with Wolves-nya Kevin Costner, Winnetou, ataupun Apocalypto-nya Mel Gibson.

Suku bangsa Indian memang harus berterima kasih kepada Amerika. Mereka ditemukan dan kemudian diperkenalkan kepada dunia. Bahkan julukan “Indian” pun adalah pemberian para imigran Eropa yang datang ke daratan itu pada abad 16 lalu.
Di abad ke-19, ketika mereka sudah kalah perang dari Eropa, mereka diberi pemukiman khusus berupa reservat. Reservat Navajo, yang terletak di Arizona, New Mexico dan Utah meliputi suatu kawasan yang sungguh luas, lebih 6 juta hektar.

Tapi bayaran atas itu sangatlah mahal. Mereka harus rela, ketika tanah tempat mereka dilahirkan, tempat tetesan darah mereka ketika perang suku dan kuburan pendahulu mereka, gurun tempat keringat mereka jatuh, justru ditapaki oleh para sherif “bule” sambil tersenyum di atas kursi goyang dan cerutu Havana. Mereka lega tidak dikategorikan kasta shudra karena mereka masih berada satu kelas di atas bangsa kulit hitam.

Dan tentu saja, mereka harus bangga, seorang fotografer paling ulung di dunia ini seperti Curtis, memutuskan untuk mendedikasikan dan mengorbankan dirinya untuk merekam, dan mendokumentasikan mereka dalam lembaran foto dan dokumentasi ilmiah.

Maestro
Menyimak ke-60 foto-foto Indian itu, Curtis sungguh adalah seorang maestro fotografi. Bukan hasil foto yang luar biasa modern, tingkat kesulitan mendapatkan foto ini jelas tertuang dalam prosesnya. Sudah pasti dahulu, dia tak sedang menenteng kamera digital untuk merekam lebih dari 50.000 negatif foto. Karena itu, keputusannya untuk merekam Indian tak akan pernah diterima oleh para mereka orang modern yang “berakal sehat” sekalipun. Itu juga yang menjadi dasar saat ini, mengkritisi foto dan prosesnya agaknya sudah not up to date.

Lagipula hal itu sudah dilakukan beberapa waktu lampau ketika New York Times memuat kritisi atas foto-foto Curtis saat dia wafat pada 1952 lalu. Salah satu kritik lagi diungkapkan oleh Pamela Michaelis dalam tulisannya berjudul The Shadow Catcher – Edward Sheriff Curtis. Disebutkan, dalam fotonya In a Piegan Lodge yang dipublikasikan The North American Indian, Curtis diketahui memindahkan sebuah jam yang terletak di antara dua orang yang sedang duduk di atas tanah.

Di antara karya yang dipamerkan di Sun Plaza adalah waiting in the forest (1911), Bear’s Belly (1909), Piegan Encampment (1911), Yakotlus/Quatsino (1914), The Vanishing Race (1904), Prayer to the Mystery (1908) dan sebuah foto luar biasa tentang tempat paling suci bagi suku Navaho berjudul Canyon de Chelly (1904). New York Times menulis soal karya-karya Curtis dalam kalimat sanjungan. “The most gigantic undertaking since the publication of the King James edition of the bible,” tulis mereka.

Perhelatan Curtis di Medan ini merupakan rangkaian pameran yang diselenggarakan oleh Kedubes Amerika sejak 2005 lampau. Di Indonesia dilakukan pada 2008 ini, dan menjadi tempat terakhir dari pameran Curtis. Karya Curtis dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta (16-29 Januari), Institut Teknologi Bandung (19-29 Februari), Medan (3-19 Maret) dan terakhir di Palembang (23-30 Maret).

Curtis adalah seorang fotografer kelahiran Whitewater, Wisconsin, AS pada 16 Februari 1868. Tahun 1885, dalam usia masih 17 tahun ia sudah menjadi fotografer di St Paul, Minnesota. Dua tahun kemudian, keluarga Curtis pindah ke Seattle. Di sana ia mendapatkan kamera baru dan mendirikan sebuah studio foto bersama Rasmus Rothi. Sahamnya 50% di studio itu dan nilainya 150 US Dolar. Setelah enam bulan, mereka berpisah dan Curtis membuat studio baru bersama Thomas Guptill yang bernama Curtis and Guptill, Photographers and Photoengravers.

Di tahun 1895, Curtis bertemu dan memotret Putri Angeline alias Kickisomlo, putri Kepala Suku Indian Sealth dari Seattle. Foto itu menjadi foto suku asli Indian pertamanya. Tiga tahun kemudian, ketika ia memotret Mt Rainer, Curtis bertemu sebuah kelompok ilmuwan. Salah seorang di antaranya bernama George Bird Grinnel, pakar suku asli Amerika. Grinnel mengajak Curtis untuk memotret Blackfeet Indians di Montana (Kanada) tahun 1900. Bersama tim ilmuwan ini juga Curtis memotret karya besarnya North American Indian itu.

Tahun 1906, ia mendapat tawaran senilai 75.000 US Dolar dari konglomerat Amerika bernama JP Morgan untuk memproduksi serangkaian foto North American Indian. Pertemuannya dengan Morgan diperoleh melalui Presiden Theodore Roosevelt yang terkesan dengan kinerja dan hasil foto Curtis. Roosevelt pernah menulis sebuah surat kepada Curtis. Bunyinya begini: “I regard the work that you have done as the one of the most valuable works any American could now do. Your photoghraps stand by themselves, both in their wonderful artistic merit and in their value as historical documents.” Surat bertanggal 16 Desember 1905 itu juga dipajang di pameran di Medan.

Namun, Curtis tak cuma memotret, ia juga mendokumentasikan perjalanan dan kisah suku Indian itu dalam 20 volume buku. Dalam edisi pertamanya, Curtis bertutur, “… respecting the mode of life of one of the great races of mankind, must be collected at once or the opportunity will be lost.”

Dalam perjalanan itu, Curtis telah merekam bahasa dan musik Indian dalam 10.000 piringan hitam. Dia membuat 40.000 imej foto dari lebih 80 suku bangsa Indian. Dia juga membuat catatan mengenai sejarah, mata pencaharian, filosofi, perayaan, tradisi, dan pernak-pernik kehidupan suku bangsa Indian secara mendetail. Pekerjaan itu dilakukannya selama lebih dari 24 tahun. Karena itu, Curtis tak cuma mendapat julukan fotografer tapi juga etnografer.

Beruntunglah ketika Christhoper Cardozo, pengarang enam buku tentang Curtis dan sekaligus pendiri yayasan Edward S Curtis memamerkan karya-karya Curtis di Medan.

Sacred Legacy

Waktu itu, sekitar tahun 1906, ketika proyek itu didengungkan Curtis, Amerika sudahlah sebagai sebuah negara. Tidak seperti Indonesia, Amerika didirikan atas kekuatan para imigran dan bukannya suku bangsa asli daratan. Amerika pun bukan Eropa. Amerika ini dari dulu adalah negara para pembangkang. Mereka melawan Perancis, Inggris, Portugis dan Italia sebagai bangsa yang justru menjadi muasal dari sebuah bangsa bernama Amerika. Kejadian Amerika identik dengan Australia yang merupakan negara “buangan” Inggris.

Tapi laiknya kumpulan orang terbuang –meminjam istilah penyair Khairil Anwar- kekuatan dahsyat telah mengumpulkan mereka bahwa mereka berbeda dengan Eropa dan mereka harus merdeka. Independence Day Amerika setiap tanggal 4 Juli, adalah sebuah kekhasan: mereka merdeka dari “induknya” sendiri. Dan tentu (mungkin) saja, suku Indian yang telah dipinggirkan dalam sejarah, tidak merayakan kemerdekaan itu. Kemerdekaan Amerika, telah membuat mereka tidak merdeka.
Kesakralannya mungkin di situ. (*)

One thought on “Review Pameran Edward S Curtis

  1. Perhaps more interesting was the reconstruction of a Curtis stage show from 1911, The Indian Picture Opera (2006).

    A contemporary version of it was released on DVD and can be searched on Amazon.

    Original music was recreated, and combined with 36 minutes of E.S. Curtis narration. The production reveals Curtis’s interpretation and demeanor from the era.

    It’s thought provoking, and discussion provoking.

    thanks 4 coming. nice picture n keep’n selling….😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s