Peraturan (Memang) Dibuat untuk Dilanggar


Kota Medan adalah sebuah rimba belantara. Di sana yang berlaku hukum alam, siapa kuat dia yang menang. Contoh paling kentara adalah soal traffic light di kota ini.

Di sini, tidak dikenal lampu merah dan lampu kuning karena di sini hanya ada lampu hijau. Setiap orang di Medan merupakan penguasa di jalanan, karena itu jangan harap ada suatu pun yang bisa menghadang. Polisi? Maaf saja, polisi pun menikmati hal tersebut. Perhitungannya sederhana saja. Bila peraturan tak ada yang melanggar, polisi bakal menganggur.

Karena itu, di Medan ini, jangan harap ada orang yang bakal mematuhi peraturan. Tapi sebaliknya, di sini setiap orang sangat pandai membuat peraturan. Peraturan dibuat untuk dilanggar adalah konvensi di sini.

Di sini, semua lulusan fakultas hukum sangat pintar-pintar mengolah buku KUHP, KUHAP dan tetek bengek perundangan. Yang tak patut diatur pun kalau bisa dibuat aturannya. Di sini berlaku, semua orang boleh bermain apapun, halal atau tidak, asal dalam koridor hukum yang berlaku. Di sini juga berlaku, bila permainan tidak dalam koridor hukum yang berlaku, semua hukumnya makruh alias boleh-boleh saja.

KPU Sumut itu dipimpin oleh seorang magister hukum. Walau sudah dikatakannya Daftar Pemilih Tetap (DPT) itu tak berubah lagi, nyatanya semuanya serba tak pasti. Jangan dipikir, setiap orang akan berpikir rasional dan menganggap wajar permainan yang sedang dilakukan KPU itu. Karena di Medan ini semua orang tahu bahwa hal-hal yang seperti itu sudah tampak biasa, seperti main catur di warung kopi saja. Jangan anggap tender-tender di KPU itu dibuat dengan sistem transparan dan tidak penuh KKN. Jangan pikir, tidak ada apa-apanya dengan tender sosialisasi di KPU itu. Karena tender sosialisasi itu ada hubungannya dengan kota Medan yang disebut kota seribu baleho, kota sejuta papan reklame.

Jangan berasumsi polos, bahwa KPU itu malaikat. Bisa-bisa, nanti Anda diketawain orang di sini.

Medan adalah rimba. Karena itu, siapa yang berkuasa di Medan dan Sumut ini adalah seorang Tarzan!

6 thoughts on “Peraturan (Memang) Dibuat untuk Dilanggar

  1. SUMUT, anekdotnya semua urusan memakai uang tunai. Medan?! saya tidak tau, yang jelas PSMS timbul tenggelam seperti “Latteung”. Mengenai peraturan untuk dilanggar atau dibuat menjadi tambang… terjadi juga di seantero negeri tercinta Indonesia, iya kan. he..he he…,

    Like

  2. Ini Medan pren…..

    Medan menertibkan dirinya melalui anarki.
    Mirip dengan spirit Amerika yang membentuk harmoni melalui kontras dan pertentangan.

    Realitaskah yang bermasalah atau paradigma ?

    Like

  3. Kek mana kalo di”kupas” satu-satu, jadi lebih dalam dan ada solusinya. kalo mau kupas perilaku di traffic light, kita kupas kenapanya, dan bagaimana membetulkan, siapa yang betulkan. Lain kali kita “kupas” KPUnya. Lebih enak kalo ada data-data yang agak bisa dijadikan acuan.

    Kalo semua cuma kulit-kulitnya, trus dicampur, ya jadi payahlah. Cuma gado-gado yang enak dicampur-campur kan !.

    Biar “kupasan” kita agak ada solusinya, kalo cuma merengek aja, kapan mau maju (kek kata “jenderal”). Syaloom…

    Like

  4. salam bang
    😀 kutunggu tulisan abang soal ini. minimal, aku cuma masih bisa membuka kulitnya dan abang tinggal sorot isinya. hehehehe…

    dan kayaknya anak medan pantang merengek, setuju gak bang? toh peraturan memang dibuat untuk dilanggar😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s