Kelaparan, Ciri Negara Tak Berbudaya


Ibu hamil dari Makassar, Daeng Basse’ (35 tahun) dan anaknya Bahir (5 tahun) meninggal karena kelaparan. Bangsa ini sudah keterlaluan.

* * *

Ibu itu mengaduk-aduk pancinya. Gumpalan asap tampak keluar dari panci.
“Ibu, aku lapar.”
“Sebentar ya, anakku. Makanan kita belum masak.”

Ibu itu terus menatap panci. Pandangannya nanar, karena air matanya menggenang. Di sana, di panci itu, tidak ada makanan, yang ada hanya rebusan air. Sudah lama panci itu tak diangkat-angkatnya dari tungku, hanya supaya anaknya melihat kalau dia sedang memasak. Rebusan itu pun sudah bercampur dengan air mata. Ia bingung, apa yang hendak diberikannya kepada anaknya. Sudah tiga hari ia membohongi anaknya kalau ia sedang menanak gandum. Tapi, anaknya yang bermata cekung dan lapar itu tak tahu dibohongi. Air rebusan tetap menghuni lambungnya selama tiga hari ini. Biasanya, setelah merengek, anaknya akan kelelahan dan kemudian tertidur. Dalam tidurnya, ibunya menyuapi air itu ke dalam mulutnya.

Tapi hari ini, anak itu sudah terlalu lemah. Air tak membawa tenaga. Ia merengek kembali, ia kelaparan. Tapi matanya berat lagi dan tidur lagi. Ibu itu tak tahan.
“Ya, Tuhanku, sampai kapan kau biarkan aku membohongi anakku. Aku tak sanggup lagi.”

Di luar gubuk, seorang pria tak sanggup membendung air matanya. Di pundaknya, ada sekarung gandum. Ia mengetuk pintu dan dibukakan oleh ibu itu.
“Ambillah gandum ini.”
“Tuan siapa?”
“Kelaparan anakmu adalah salahku. Sekarung gandum ini tak akan bisa menyelamatkan aku di hari akhir nanti. Aku memohon, terimalah. Gandum ini bukan curian. Berilah anakmu makan.”

Ibu itu menangis dan mendoakan si pemberi gandum. Besoknya ia mendengar, beberapa gubuk lagi di lingkungan mereka juga menerima hal yang sama. Bisik-bisik menyebar, dan tahulah mereka bahwa yang memberi gandum itu adalah raja mereka sendiri, Khalifah Umar ibnu Abdul Azis.

Beberapa hari kemudian, suatu hari seorang pegawai memergoki khalifah sedang mengambil dan memandu karung gandum di pundaknya.
“Tuan, biarlah saya yang membawakan.”
“Tidak usah. Apakah kau mau menanggung dosaku di hari akhir nanti?”

Pasca kelaparan itu, Khalifah merombak sistem kerajaannya. Ia memecat pegawai korup dan menata ulang distribusi baitul mal kepada para fakir miskin.
Kisah yang terjadi seribuan tahun lampau itu terjadi lagi dengan ending berbeda. Rintihan Daeng Basse’, ibu hamil tujuh bulan dan rengekan anaknya Basri, di Makassar beberapa waktu lalu, bukan didengar oleh penguasa. Sang Maha Mendengar mengutus malaikat maut untuk membawa mereka.

Mafia
Salah satu ciri pendusta agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan menelantarkan fakir miskin. Kebenaran ini membuat Indonesia disesaki pendusta-pendusta agama yang dengan fasihnya memanipulasi agama menjadi roman picisan akan lembutnya sepoi angin surga.

Kisah mengerikan yang dialami Daeng Basse dan Bahir di Makassar baru-baru ini merupakan tragedi paling menakutkan dari sebuah negara gemah ripah loh jinawi. Lebih mengerikan dari tragedi tsunami yang menewaskan ratusan ribu orang, lebih menghantui dari gempa bumi Jogja dan lebih dahsyat dari semburan Merapi. Rintihan Daeng dan janin di rahimnya serta anaknya, tak didengar karena Indonesia telah buta dan tuli total. Itu karena kekuasaan yang rakus telah menjadi benteng Istana yang menjulang hingga ke langit.

Sebaliknya, Indonesia tidak pernah bisu. Penguasa ribut dalam sebuah diskusi dan seminar miliaran rupiah untuk berbasa-basi soal kemiskinan. Kemiskinan bagi mereka hanya masuk dalam hitungan matematis dan formulasi masalah sosial. Di Medan beberapa waktu lalu, mereka yang mengaku dermawan ketawa-ketiwi berkumpul di sebuah lapangan dalam sebuah acara untuk menggalang dana memerangi kelaparan di seluruh dunia. Apa metodenya? Gerak jalan!

Mario Puzo dalam novelnya The Godfather menuliskan, seorang tokoh bernama Don Vito Corleone. Dia adalah seorang ayah dari empat orang anak yang hidup miskin. Kebahagiaan bagi mereka adalah minuman anggur murah racikan sendiri sebagai tradisi dari asal mereka, Corleone, Italia.

Corleone adalah seorang pria yang harus terusir dari tanah kelahirannya pada umur 12 tahun. Sampai wafatnya, dia selalu menyebutkan sistem kenegaraan tempat ia menjadi mafia, dalam kata “mereka”. Dia mendirikan negaranya sendiri: Keluarga Corleone.
Kelaparan Vito dan anak-anaknya, menjadi fundamen dasar dari organisasi mafia yang didirikannya.

Sistem mafia adalah keluarga. Pertalian darah itu diperkuat dengan satu jenis lagi ikatan bernama persahabatan. Maka persahabatan dan darah bagi organisasi mafia adalah di atas segala-galanya. Keluarga adalah roda dasar untuk berbisnis. Bisnis menjadi begitu pribadi.

Negara iri dengan ikatan itu, karena tidak pernah mendapat perlakuan demikian. Negara harus mengeluarkan UU dulu sebelum ada wajib militer. Dan negara juga tak hendak rugi. Catatan administrasi rakyatnya tak gratis. Begitu juga bila rakyatnya duduk di sebuah warung kopi membincangkan pernikahan putri mereka.

Yang tidak bisa membayar? Merekalah yang akan masuk dalam tong sampah negara. Itulah sebabnya ketika Daeng dan anaknya wafat, para aparatur negara sibuk berdebat soal KTP-nya. Maka mereka kemudian menyalahkan urbanisasi, pemerataan pembangunan dan tertinggalnya desa dari kota. Lantas profesor, doktor, master dan para sarjana dari kampus diundang dalam seminar mengatasi hal tersebut. Rakyat menunggu sambil tetap lapar.

Vito Corleone paham betul soal itu. Karena itu, ia menjelma sebagai tuhan yang selalu memberi –tidak pernah menuntut- dan mengabulkan doa orang-orang yang datang padanya. Lantas ia disebut orang the godfather.

Janin-janin mafia sudah beranak pinak di negeri ini. Negeri ini adalah negara para mafia yang bekerja dengan mulut menyungging senyuman sinis. Mereka dibayar jutaan dan mengeksploitasi miliaran dan triliunan kekayaan negeri ini. Jangan bandingkan dengan Daeng yang hamil dan dua orang anaknya, yang dinafkahi suaminya hanya Rp 5.000 per hari.

Keterlaluan
Tulisan ini tidak ingin mereduksi kebudayaan dalam tarian dan nyanyian, melainkan laku manusia sebagai aktor utama dalam perbincangan kebudayaan. Kebudayaan suatu bangsa memolakan tingkah laku rakyat, penguasa serta negara, pemerintahan dan model kekuasaannya.

Membiarkan seorang warga lapar adalah bukti sahih dari sudah rusaknya inti kebudayaan di negara ini. Menjadi benarlah bila Rendra kemudian mengatakan soal Kalatadi dan Kalabedu dalam pengukuhan doktor kehormatannya oleh UGM pada Kamis (4/3) lalu.

Umar ibnu Abdul Azis setelah khutbah kedua pasca pelantikannya sebagai khalifah, menangis tersedu-sedu. Istrinya menanyakan dan ini jawaban Umar:

“Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jabatan ini dan aku sedang teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya ramai rezekinya sedikit. Aku teringat orang-orang dalam tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku bimbang aku tidak dapat jawab hujah-hujah (alasan-alasan, red) mereka, karena aku tahu yang menjadi pembela di pihak mereka adalah Rasulullah saw.”

Kita memang sudah keterlaluan. (*)

* * *

foto: http://www.acehinstitute.org/images/busung-lapar_repro_ap.gif 

3 thoughts on “Kelaparan, Ciri Negara Tak Berbudaya

  1. ya..sangat menyakitkan memang…ketika di bumi Indonesia yang katanya kaya ternyata ada yang mati karena kelaparan…
    saya kira saat ini para pemimpin hanya menadikan orang kelaparan hanya sebagai komoditi untuk kampenye ketika mereka mau duduk di kursi kekuasaan..dan melupakannya ketika sudah menduduki kursi tersebut…

    wahai para pemimpin..bertaubatlah…karena kesedihan rakyat yang kelaparan akan menjadi tanggunganmu di akhirat kelak…

    Like

  2. iya saya juga bingung dengan pola pikir pemerintahan kita skg, di daerah saya baru tiga minggu yang lalu mereka mengirim 42 istri2 pejabat kabupaten untuk tour ke dua negara yaitu singapura dan malaysia, padahal kalo dipikir apa mamfaat dari itu semua,it’s ok kalopun suaminya)toh yg menentukan kemajuan daerah itu bukan mereka para istri. dan alangkah baiknya jika dana tersebut di alokasikan pd desa desa terpencil, ataupun pengadaan fasilitas pada sekolah2 tertingal.apakah mereka lupa bahwa kasus kelaparan juga terjadi disekeliling mereka?. dan yang makin membuat saya bingung kok bisa dana perjalanan tersebut cair dengan mudahnya dan tampa mempertimbangkan mamfaat dari perjalanan tsb, sedangkan proposal kegiatan2 dalam pendidikan harus dipikir berkali2 dan penuh pertimbangan. ya elah indonesia benar2 venomena skg?dan sampai kapn ini terjadi????

    Like

  3. Kalau kita “dengan kata2 PKS yang terbayang dalam benak dan pikiran adalah Pertai yang suka Demo “untuk kepentingan Pertai sisilain jagu istailah Patai Dakwah tetapi yang ada dalam benak juga dakwah partai kalau kita dengan PKS partai peduli maka dalam benak dan pikiran kita juga slogan untuk berkampanye agar agar masuk paratinya dan apaaaa saja yang (Org)PKS perbuat pastikan dalam benak dan pikiran anda2/mereka2 pastilah paling2 diajak perpartai lebih2 kajian /liko’an ,,… kader betulan…?!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s