Menerawang Mayjen (Purn) Tritamtomo


Bagi saya, bila besok diadakan pilgubsu 2008, maka Tritamtomo-lah yang bakal tersenyum lebar. Alasannya, kekuatan militer.

Dalam pilgubsu 2008, faktor ini dipandang sebelah mata. Alasannya, justru bukan pada militer itu sendiri, melainkan faktor primordialisme dan SARA yang dinomorsatukan. Asumsi ini tak usah dibantah, karena itu benar adanya.

Seperti tulisan saya yang terdahulu, jaringan militer merupakan jejaring yang paling solid saat ini dan beberapa belas tahun ke depan. Kekuatan sipil yang bernama civil society itu saat ini masih utopia saja.

Masyarakat Indonesia itu masih mengidolakan tentara. Hal ini sebenarnya wajar saja. Bahkan di Amerika sekalipun, anak-anak muda sana paling senang memanggul senjata dan obrolan bahwa dia pernah bertugas di Irak, Afghanistan, Kuwait dan seterusnya, sama seperti ketika para wajib militer Amerika dulu bangga menceritakan luka perang Vietnam dan Korea. Anak muda Amerika itu tergila-gila menjadi Rambo dan Commando.

Umum dikatakan, sistem kemiliteran yang hirarkis itu menyuratkan sistem yang profesional, tegas dan tak main-main. Bandingkan dengan sistem birokrasi pemerintahan yang para PNS-nya masih bisa minum kopi bersama atasannya di kantin kantor.

Saya tersenyum saja. Itu karena hingga saat ini, dua pekerjaan itu, tentara (dan polisi) dan PNS, merupakan primadona pekerjaan bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Saya teringat sebuah cerita kawan. Dia bilang, ada tiga profesi yang masing-masing dibedakan atas disiplinnya terhadap waktu.

Bila dia militer, maka bila apel jam 6 pagi, maka jam 6 pula barisan sudah rapat. Bila dia berprofesi sebagai wartawan, bila disuruh deadline jam 5 sore, maka dipastikan selesainya jam 7 malam. Nah, bila dia politisi, bila dia berjanji hasil rapat akan diumumkan pukul satu siang, maka tahun depan pun, rapat itu sendiri belum tentu selesai!

Kalau ada orang yang percaya pada disiplin militer, saya sungguh menghargainya. Karena mungkin saja, cerita itu benar. Tapi saya ingin mengatakan, bahwa toh bukan cuma militer yang punya disiplin demikian. Nah, tapi itu untuk topik lain saja.

Mengapa militer bisa demikian? Itu karena militer punya ankum alias atasan yang berhak menghukum. Nah untuk itu, bila ingin membantah saya, soal kalimat pertama saya di tulisan ini, maka selidiki dulu siapa atasan Tritamtomo dan jangan lupakan mantan atasannya.

Saya bukannya mengidolakan Chairuman Harahap. Tapi bila diingat-ingat, orang sekelas Chairuman yang mantan intel kejaksaan dan jaksa terbaik se-Indonesia, dua kali harus kalah dari militer. Pertama oleh Mayjen (purn) HT Rizal Nurdin (alm) di pilgubsu 2003 dan kemudian oleh Mayjen (purn) Tritamtomo di pilgub PDIP 2008. Dua orang jenderal ini (bukan kebetulan) berasal dari teritori sama, mantan Pangdam I/Bukit Barisan. Tak aneh bila gosip politik bilang, siapa yang bisa mengalahkan Chairuman, dialah yang menjadi gubernur Sumut.

Rudolf Pardede, yang gubernur sipil itu, bagi saya cuma kecelakaan sejarah saja bagi catatan gubernur sipil di Sumut. Raja Inal Siregar (alm) dan Kaharuddin Nasution (alm) itu Letnan Jenderal. EWP Tambunan (alm) dan Marahalim Harahap itu Mayor Jenderal. Bila dihitung sejak tahun 1967, maka Sumut sudah dikomando para jenderal selama 41 tahun!

Jadi, Sumut ini sebenarnya rumahnya para jenderal. (*)

17 thoughts on “Menerawang Mayjen (Purn) Tritamtomo

  1. Makanya orang Sumut perlu bikin sejarah tahun ini dengan mematahkan kelanjutan dominasi militer di Sumut. Kalo warga Sumut mau, ya mesti bisa. Dulu militer jaya kan karena diatur sedemikian rupa.

    Nah sekarang Pilkada langsung, jadi secara teori, hasilnya mestinya beda dengan yang dulu.

    Like

  2. Bagi saya, bila besok diadakan pilgubsu 2008, maka Tritamtomo-lah yang bakal tersenyum lebar.

    … tapi karena pilkada bukan besok, semua orang masih menyimpan senyum… dan tak pernah siap kalau harus menangis.

    Like

  3. @ bang togar: warga sumut sih mau ajanya itu bang. Tapi mau diatur… sama militer😀 sampai tanggal 4 maret ini (kelambatan aku jawab komentar abang🙂 ) , walau tak suka, “teori” tak jelas ini masih kupegang, bang.

    @ bang toga: prinsipnya masih sama dengan jawabanku sama bang togar, tapi jelas-jelas aku setuju kali sama jawaban abang.

    Like

  4. Haiii bang,ini dia lagi-lagi Tritamtomo.Ayah angkat gua,tuch???just kidding!!! Bang minta email abang dong… Kan uda ku tinggalkan emailku di atas.by mail knp kita bang?? biar lebih dalam mengupas ttg ayah angkatku yang sementara ini,bang.Emang sich sistem komando militer yang dipakainya.Mau gimana lg hitung-hitungannya klo partai cuma 20-an%, bang.Dengan sistem komando dan SKOR (simpul komunikasi relawan pemenangan TRIBEN)lah yang diharapkannya sebagai dongkrak yang ke-2 yang baru-baru ini dideklarasikan di Nibung Raya itu,abg tau la info itu kan???emang sich mendesak kali SKOR ini baru terbentuk,mau gmn lg.Awalnya sich, dia optimis dengan partai tapi belakangan dengan terjadinya konflik di internal mau gak mau dia harus segera menyiapkan ‘dongkrak ke 2’ apalagi kalau bukan SKOR.gmn bang? Oya bang liat-liat blog aku knp di palbenk’sweblog.Ada beberapa analisis aku ttg politik dan rezim.liat ya bang

    Like

  5. pemain PSMS udah pindah semua😀 premannya masih ada..cuma udah pake kacamata sekarang.. jd agak-agak intelek gitu

    @ palbenk: alamatnya tulis benk…

    Like

  6. Sepertinya lebih bagus Sumut dipimpin seorang preman. Buktinya di Taput sudah terjadi. TALUTO kan mantan COY>>>>>>>>>>>

    Like

  7. garis komando tak terpatahkan, dulu A sekarang tetap A. militerisme masalah klasik…yang sedari dulu tetap menjaga wibawa korps nya. nasib sumatera utara ada ditangan rakyat bukan ditangan mereka. jangan dijadikan momok jadikan itu sebagai tolak ukur dalam berpikir, mengambil sikap lalu bertindak. mencabut dwi fungsi TNI bukan kesudahan, memberikan pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis akan sangat membantu SDM, agar tak terjebak dengan SERAM NYA SERAGAM

    Like

  8. memank tritamtomo punya latar belakang yang baik sebagai militer..
    tapi tetap saja sebagai putra melayu…
    saya tetap mendukung Ali Umri untuk menjadi Gubsu…
    selain mempunyai pengalaman yang cukup..
    dia juga masih muda..
    sehingga memperkecil kemungkinan untuk memperkaya diri..

    maaf klu komment saya agak bersirfat nepotisme…

    bravo terus pak ALi…//// 🙂

    Like

  9. Bagi ‘Bung Indra’ “anda terlalu optimis pada Ali Umri”. Apakah iklim politik di lapangan sudah membuat anda yakin pada Ali Umri???? Pernakah anda tersadar bahwa simpatik dari masyarakat memang sudah terangkul sepenuhnya. Justru kebalikan dari itu, paket-paket Gubsu yang secara terang-terangan melakukan ‘black campyne’ tidak menarik simpatik dari publik jika kita tanya person to person dengan jawaban dari hati mereka.Alasannya,”masih promosikan diri sudah habis banyak uang,konon lagi ketika menjabat,,,,(dari mana sih uang mereka sebanyak itu???)”.Opini seperti itu yang timbul di masyrakat sekarang ini. Coba anda pertimbangkan dengan matang-matang dan rasional,dari mana uang mereka ketika memasang sepanduk gambar wajah dengan background kuning??????? Dari mana uang mereka itu??? Mudah menjawabnya,, Mereka bekas pejabat daerah,uang mereka pun dari kas daerah,bener tidak??? Apa perlu saya jelaskan bagaimana mengambil uang dari kas daerah???? pertimbangkan 3 paket lagi yang seolah santai dengan baleho atau sepanduk mereka yang bisa dihitung dengan jari jumlahnya di beberapa daerah,,,, 2 diantara 3 paket itu juga bekas pejabat daerah,,,,?/?/??/? Mereka juga hampir sama sumber keuangannya??? Sekarang tinggal 1 paket yang latar belakangnya militer,,,, dari mana sumber keuangannya??? Ada yang tau??///??/ Dia menabung dari sejak SMA hingga menjadi MAYJEND,,, Deposito dan berwirausaha. Tradisi berdagang jawa yang ia warisi dari ayahanda menjadi modalnya dalam berdagang. Lihat saja dari raut wajah kalau memang ia seorang pejabat daerah yang berorientasi uang dan jabatan kerutan pada kening dan perut yang buncit akan terlihat. Saya tidak bermaksud memprovokasi, tapi itu semua tergantung nurani anda???? Yang jelas jangan kecewa jika nanti Calon yang anda usung akan ingkar janji dan melupakan omongannya.Karena hal itu sudah biasa bagi seorang ‘Pejabat Daerah’. “Aman Sejahtera untuk Semua”

    Like

  10. Gubernur orang jawa sudah puluhan..masak sih gubernur Sumatera Utara juga diutus dari Jawa? Tergantung orang Medan.. Tidak ada hubungan gubernur harus atau lebih berpeluang dari militer atau sipil di jaman demokrasi edan ini. Rakyat Sumater Utara bebas memilih bekas hansip, bekas preman atau militer. Apakah mereka selalu diatur orang lain atau tidak. Memang Bp Tritamtomo pernah menjabat pangdam BB dan itu tidak cukup, kembalikan pada diri masing bila anda dicalonkan jadi gubernur di daerah lain, memang nurani anda nurani malaikat selalu membuat orang lain senang atau memajukan orang lain. Berapa Millyar rupiah spanduk yang bertebaran dari Belawan sampai Sibolga. Dari Binjai hingga P Sidempuan. Tentu mereka harus balik modal dan ujung-ujungnya sambet sini sambet sana. ya biasalah.. Masak sih selalu wakil. Wakil gubernur, wakil KSAD, wakil rakyat, dan Calon penggembira (Raden Pardede), wakil walikota gagal (Batam). Etnik Karo, Simalungun, Toba, Mandailing, Angkola, Pak Pak, Nias Tunjukkan bahwa anda semua bisa bersatu.

    Like

  11. saya kira kekuatan politik Jawa sudah terbagi empat, paling gampang menandainya dengan munculnya empat orang Jawa di pilgubsu 2008: Tritamtomo, Gatot Pudjonugroho, RM Syafii dan Suherdi.

    Tapi, ini hitungan sederhana. Karena seperti laiknya Presiden yang secara konvensi “harus” Jawa, di Sumut juga agaknya berlaku Gubernur “harus” Batak atau Melayu. Mainstream ini mungkin saja bisa ditabrak oleh Tritamtomo, sebagai satu-satunya orang Jawa yang muncul sebagai calon gubernur. Mungkin saja, karena Jawa begitu “mendominasi” kandidat pada pilgubsu ini, orang Jawa bisa mendoakan secuil keberuntungan. Pertanyaannya, bisakah Tritamtomo menjadi wakil “Jawa”. Yang tak patut dilupakan, bukankah ia sendiri harus bermarga Panggabean? 😀

    Like

  12. Pada dasarnya semua bagus, tetapi harus pada dirinya sendiri dulu, baru ke keluarganya dan ke masyarakat. Mengenai janji2 sudah kenyang masyarakat kita dijanjikan. Pokoknya kita inginkan adanya perubahan yang nyata. Kalau tidak ada mundur aja

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s