Seribu Puisi, Keajaiban Kata


Perubahan yang didasarkan atas kata menjadi bukti kuat determinasi kata terhadap hidup manusia. Merangkai kata ataukah meracik coklat?
* * *
It’s Valentine Day!” Maka di hari itu, pekik hati remaja bersanding dengan ornamen dan produk berwarna merah jambu alias pink, plus hadiah bagi pasangan muda-mudi (di beberapa negara tertentu, pink dan valentine diasosiasikan dengan kelompok homoseksual). Apa wujud hadiah itu, terserah persepsi masing-masing. Syaratnya cuma satu, romantis.

Coklat sering dijadikan sebagai salah satu pilihan. Ada zat-zat di dalam coklat yang memberi stimulan tertentu sehingga ada keinginan selalu dekat dengan pasangan.

Sebuah film, Chocolate, yang dibintangi oleh Johnny Deep, mengungkapkan keajaiban coklat. Dengan ramuan khusus, si wanita tadi digambarkan sebagai salah seorang keturunan suku Maya yang mempunyai ramuan istimewa soal coklat, coklat yang diracik bisa meningkatkan gairah seksual.

Di film itu dimerikan seorang suami yang sudah “kasep” dan istri yang berpenampilan tak menarik dan antara keduanya sudah lama tidak berhubungan seks. Diam-diam si istri membeli ramuan coklat seks tadi. Karena takut dengan suaminya yang berangasan, ia tak memberikannya tapi menyimpannya. Secara kebetulan, si suami menemukannya dan memakannya hingga habis. Beberapa saat kemudian wajah dan matanya memerah dan ia pun menghampiri istrinya yang kebetulan sedang membersihkan wc. Si suami yang mulanya lesu melihat bokong istrinya yang besar itu, kini melihat dengan pandangan yang penuh khayalan super. Tanpa berpanjang cerita, keesokan harinya, si istri langsung memesan lima bungkus coklat sekaligus.

Satu hadiah lagi yang biasa diberikan saat valentine adalah kartu ucapan. Bila hanya sekedar kartu tentu tidak akan memberikan makna. Tapi di dalam kartu itu terbingkai sebuah kata-kata puitis nan romantis. Puisi sebagai medium mengungkapkan perasaan dan menggoda pasangan, sejak zaman baheula memang dikenal sebagai senjata paling ampuh.

Berapa banyak puisi yang hadir pada saat valentine? Belum ada yang meneliti, tapi American Greeting Association (Asosiasi Kartu Ucapan Amerika) mencatat, tahun 2003 tidak kurang sebanyak 1,5 miliar kartu ucapan yang beredar di seluruh dunia saat valentine. Katakan hanya 10 persen saja kartu valentine itu yang ditulis dengan puisi, sementara yang lain hanya kopian saja, maka kemungkinan ada kurang lebih 150 juta puisi yang telah ditulis, dibaca dan disimpan umat manusia.

Huruf, kata dan kalimat
Keajaiban huruf, kata, dan kalimat terlihat ketika “mereka” terus diingat anak manusia hingga ia mati. Ingatan dan pemahaman terhadap makna kata itu kemudian banyak dijadikan sebagai landasan hidup. Pancasila dijadikan dasar negara Indonesia, untaian syair lagu Indonesia Raya wajib diingat seluruh orang Indonesia, dan kalimat “…Aku ingin hidup seribu tahun lagi” seperti ditulis Chairil Anwar dalam Aku menyuratkan gairah, optimisme dan semangat perlawanan sejak perang kemerdekaan hingga sekarang. Dan, ribuan tahun sudah umat manusia mendasarkan hubungan perkawinannya pada sepotong kalimat “Aku terima nikahnya …”

Namun, huruf, kata dan kalimat juga mempunyai dampak mengerikan. Jenderal AH Nasution (Alm.) ketika mengomentari terbunuhnya pahlawan revolusi mengeluarkan kalimat yang tegas, “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Kalian semua telah difitnah!” Bagaimana mungkin kata (dan bahasa) bisa lebih kejam dari peristiwa penyiksaan, brutalisme, dan kanibalisme antar sesama makhluk Tuhan? Fitnah bukanlah perbuatan tapi ia “hanya” rangkaian huruf, kata, dan kalimat mengenai seseorang atau kelompok yang menyebar secara cepat dan tepat ke bagian terdalam pikiran dan hati manusia.

Michael Gorbachev cukup mengeluarkan kata Glasnost dan kemudian Uni Soviet pun tumbang. Soeharto, walau sebegitu banyak orang menghujatnya, adalah orang yang sangat tahu soal kata. Dengan membikin kelompencapir (kelompok pendengar, pembicara dan pirsawan), maka yang didengar dan dibicarakan adalah kata.

Tapi kemudian, Soeharto pun habis karena kata. Amien Rais tak perlu senjata, tank, dan tentara untuk menjatuhkan Soeharto. Ia cukup mengumandangkan kata reformasi dan kemudian bergeraklah seluruh orang Indonesia untuk melengserkan Seoharto. Dan apakah Soeharto kemudian menjawab reformasi dengan senjata? Ha, rupanya tidak. Ia menjawab kata dengan kalimat. Perkataannya, “Dengan ini saya menyatakan mengundurkan diri…” menggarisbawahi kejatuhannya dari kursi kepresidenan adalah semata karena kerelaannya saja dan bukan dipaksa oleh rakyat.

Manusia pertama, Adam, sudah merasakan bagaimana dengan menguasai kata, ia ditahbiskan menjadi makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Walau malaikat dan jin sudah wara-wiri di alam semesta, mereka justru tidak tahu apa yang sedang diciptakan Tuhan. Tuhan kemudian mengajarkan kata kepada Adam. Dengan kata, Adam kemudian dengan lancar mempertunjukkan kebolehannya di depan Malaikat, bahwa “itu” adalah bumi, langit, hewan, tumbuhan, dan …malaikat itu sendiri. Tuhan sendiri menamakan dirinya sebagai Maha Berkata-kata (Al-Kalam dan Mutakallim), juga yang menjadi salah satu sifatnya.

Apakah malaikat tak bisa berkata-kata? Tentu saja, dan dengan kata juga mereka mengkhawatirkan penciptaan manusia akan mengakibatkan kerusakan di muka bumi. Tapi para malaikat tidak tahu, sementara Tuhan tahu.

Kata adalah kekuasaan. Dengan pengaruhnya yang luar biasa ini, maka pantaslah bila Tuhan mengutuk para pendusta-pendusta agama. Agama sampai perlu memperinci ciri-ciri orang munafik atau hipokrit yaitu kebohongan, pengingkaran, dan pengkhianatan. Para ulama mengatakan, satu kebohongan didasarkan pada sepuluh kebohongan dan membawa kepada sepuluh kebohongan lagi. Kebohongan dikalikan sejuta sama dengan kebenaran, demikian kata orang bijak.

Bentuk minikata-nya Rendra paling tidak menggambarkan begitu banyaknya orang yang terbuai, tertipu, dan terkondisikan dengan kata-kata (naskah). Sutardzi Calzoum Bachri pun pernah bereksperimen dengan makna “huruf” bukan makna “kata”. Ia bilang, tiap-tiap kata mempunyai nyawa yang tidak saling terkait.

Eufemisme atau penghalusan bahasa sering dipakai untuk menyembunyikan makna kata yang sebenarnya. Simbol (symbol) dan tanda (sign) atau malah majas membuat seseorang bisa melawan determinasi huruf, kata dan kalimat. Seorang bijak pernah berkata, “Diam adalah pembicaraan yang terpanjang.”

Titik beda itu kemudian menjadi jelas. Soal tahu, makna, arti, dan paham, kemudian menjadi iring-iringan kemampuan yang dimiliki manusia. Kemampuan yang kedua inilah yang menjadi pembeda antara orang yang sering berkata-kata tapi tidak tahu apa yang dikatakannya, antara orang yang sering menulis tapi tidak paham apa yang ditulisnya. Dengan menyimpan dahulu adanya “karomah dan hidayah”, kemampuan kedua inilah yang didapatkan melalui kebudayaan.

Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Bakhi al-Qunuwi atau sering dikenal Jalaluddin el-Rumi menulis soal ini dalam Tindakan dan Kata-kata.

Aku memberi orang-orang
apa yang mereka inginkan.
Aku membawakan sajak karena mereka
menyukainya sebagai hiburan.
Di negaraku, orang tidak menyukai puisi.
Sudah lama aku mencari orang yang
menginginkan tindakan, tetapi
mereka semua ingin kata-kata.
Aku siap menunjukkan tindakan pada kalian;
tetapi tidak seorang pun akan menyikapinya.
Maka aku hadirkan padamu — kata-kata.
Ketidakpedulian yang bodoh
akhirnya membahayakan,
Bagaimanapun hatinya satu denganmu.

Sekarang tinggal pilih saja, coklat atau puisi.

* * *

foto:
1. http://www.webkwestie.nl/alfabet/Informatiebronnen_bestanden/alfabet2.jpg
2. http://www.worldsocialism.org/spgb/feb99/p.6.jpg 

3 thoughts on “Seribu Puisi, Keajaiban Kata

  1. aku termasuk orang yang masih senang akan hadiah puisi…lebih ngena di hati kayaknya…tapi kalo ada yang mo ngasih puisi sekaligus ama coklatnya itu lebih menyenangkan…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s