Maaf, Ini Bukan Ayat-ayat Cinta


Film yang diangkat dari novel laris, Ayat-ayat Cinta, diliris MD Pictures pada 19 Desember lalu dengan judul yang sama. Novelnya lahir dari situasi perang antara sastra sekuler dan sastra Islami. Ke mana film ini (nantinya) dibawa Hanung, sang sutradara?

* * *

Maaf, ini bukan tulisan khusus soal film Ayat-ayat Cinta yang (mungkin) akan heboh itu. Film itu memang diangkat dari novel laris berjudul sama, Ayat-ayat Cinta (AAC), karya Habiburahman El- Shirazy yang diliris 2004 lalu.

Novel ini, seperti sudah sering ditulis oleh banyak orang di berbagai media, memang menarik. Ia berbicara Islam dari sudut pandang yang justru berbeda dari prasangka ayat-ayat cintaorang sebelumnya. Waktu tulisan ini digores (Desember 2007), film itu belum lagi diliris. MD Entertainment, rumah produksi yang melahirkan film itu, menjadwalkan penayangan serentak di seluruh Indonesia pada 19 Desember 2007. Sementara, bila menonton di CD bajakan, selain mutu film yang bakal tak bagus, tentu tidak pada tempatnya untuk mempromosikan karya pembajak di sini.

Novel itu diterbitkan oleh penerbit Basmala dan Republika. Novel ini berisikan 418 halaman dan kemunculannya menjadi fenomena dengan laku hingga 160 ribu eksemplar hanya dalam jangka waktu tiga tahun.

Itu angka yang cukup tinggi untuk sebuah novel islami dan bahkan dari novel yang tak islami. Dikotomi islami dan tak islami inilah yang menjadi titik tulisan ini.

Non Islami
Novel islami tak punya definisi. Batasannya sungguh sempit sekaligus sangat luas. Biasanya mudah dikenal dengan tema cerita yang didasarkan atas dakwah Islam. Nasehat, ceramah, nilai dan simbol-simbol Islam cukup kentara untuk menandainya. Yang luas, bila novel islami yang dimaksud membawa nilai-nilai islam tanpa memakai “baju”-nya. Misalnya, baju ayat-ayat alquran, hadis sampai pada nama-nama yang islami. Nilai di situ diartikan pada keseluruhan substansi islam. Contohnya, amar ma’ruf nahi mungkar yang merupakan khas Islam, kemudian diejawantahkan dengan membela kebenaran dan keadilan, dan seterusnya.

Mari sejenak arahkan pada Forum Lingkar Pena (FLP). Di situs mereka, FLP menamakan diri sebagai organisasi penulisan yang mengusung nilai-nilai Islami. Habiburahman merupakan salah satu anggota organisasi ini.

Hadi Susanto, penulis kata pengantar di novel Ayat-ayat Cinta, pun semula bingung mengkategorikan novel ini. Judul pengantarnya yaitu “Novel Budaya, Novel Reliji, atau Novel Cinta?”, menggambarkan hal tersebut.

Makin sulit dibedakan ketika dikotomi islami dan non islami sudah meraup masyarakat sastra dan umum. Novel ini pun lahir dari suasana yang seperti itu. Lihatlah kutipan dari kata pengantar yang ditulis Hadi Susanto di bawah ini.

“..Pertama kali menerima manuskrip novel ini, saya sudah curiga terlebih dahulu bahwa novel ini adalah novel islami yang menaburkan pesan-pesan moral kepada pembaca secara `vulgar’. Sudah bukan barang baru jika saya menyebutkan ada permusuhan antara sastra sekuler dengan sastra islami. Pencinta sastra islami menuduh sastra sekuler sebagai sastra profan (menurut Kamus Merriam-Webster profane berarti `yang merendahkan atau menodai sesuatu yang suci’). Secara otomatis dalam pikiran kita akan berkelebat nama. Ayu Utami (Saman dan Larung) hingga nama baru Dinar Rahayu (Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch).
Sementara di sisi lain, Pencinta sastra sekuler menuduh sastra islami kehilangan nilai sastranya hingga buku sastra tidak lain adalah buku agama. Hal ini bisa dipahami jika kita,melihat bahwa banyak tulisan yang mengaku sebagai sastra islami menjadikan sastra sebagai alat berdakwah tetapi penulisnya lupa untuk menghias alat dakwah itu sendiri. Maka tersajilah pesan moral agama itu secara terbuka dan sangat jelas. Bagi sebagian kelompok orang, pesan-pesan seperti ini akan menjadi sesuatu yang vulgar…”

Persoalan bagi novel islami adalah bagaimana menyajikan Islam dalam rangkaian karya sastra. Terkadang, semangat dakwah plus nafsu untuk menghantam pihak lain (yang diklaim sebagai non Islam ataupun di internal Islam itu sendiri) justru meruntuhkan niat tadi. Dengan menggebu-gebu mengeluarkan ayat-ayat al-quran, para pembaca non muslim ataupun mereka orang Islam yang “tak terbiasa” mengaji, jadi enggan untuk membaca kelanjutan kisahnya.

Di novel Habiburahman, “kesulitan” itu kurang lebih teratasi. Dengan alur cerita cinta, Kang Abik, panggilan akrab Habiburahman, cukup leluasa untuk memasukkan nilai-nilai dan ajaran Islam ke dalam keseluruhan novelnya. Bukan sebagian memang, tapi keseluruhannya. Ia membuat lokasi Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, seperti juga ketika orang menggambarkan University of Harvard di Boston, Amerika Serikat. Dia membuat imej pelajaran qiraah Sab’ah (membaca Al-Qur’an dengan riwayat tujuh imam) menjadi seakrab ketika mahasiswa di fakultas komunikasi sedang belajar retorika. Dan asyiknya, si Fahri bin Abdullah Shiddiq ini sedang berusaha meraih gelar master-nya!

Aneh memang, walau jumlah umat Islam Indonesia terbesar di dunia, umat Islam Indonesia lebih senang dengan hal-hal sekuler atau yang di-sekuler-sekuler-kan.

Sekuler ini pun lucu juga. Bagaimana mungkin sebuah agama dilarang untuk berbicara negara?

Bila sekuler menghantam adanya sistem syariah Islam, ini pun aneh. Sistem ekonomi syariah tidak ditentang, tapi hukum potong tangan, cambuk hingga hukuman mati bagi para pencuri, pezina dan pembunuh, kok, dilawan habis-habisan.

Padahal, solusinya sederhana saja. Kalau tak mau dipotong tangannya, ya, jangan mencuri. Jika tak mau dicambuk, ya jangan berzina. Bila tak ingin dihukum mati, mbok ya, jangan membunuh. Bahkan, kalaupun sudah divonis bersalah oleh hakim, bila ada maaf dari keluarga korban, hukuman urung dijatuhkan. Maaf korban adalah maaf negara. Bandingkan dengan pola hukuman tingkat 1 – ini dengan vonis hukuman mati –, maaf korban belum tentu amnesti negara.

Bandingkan bila seandainya ada seorang koruptor triliunan rupiah kemudian hanya dihukum mengembalikan uang yang ditilepnya dan kalaupun dipenjara, hanya 3 tahun, potong remisi pula. Manusiawi atau tidak hukuman ini?

Ayat-ayat Cinta
Film Ayat-ayat Cinta, bakal disajikan oleh seorang sutradara yang baru menggarap tema-tema Islam, Hanung Bramantyo. Para pemainnya didatangkan dari pusat-pusat infotainment seperti Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Sazkia Mecca, Melanie Putri, Carrisa Putri, Surya Saputra, Oka Antara dan seterusnya. Produsernya datang dari salah satu raksasa dunia hiburan dan sinetron, Manooj Punjabi dengan perusahaannya MD Pictures.

Hasilnya belum lagi diketahui. Apakah film ini nantinya hanya menjadi film cinta Indonesia, yang kebetulan para karakternya orang Islam, bersekolah di Mesir dan seterusnya. Di sisi lain, novel Habiburahman sudah menjelaskan posisinya, bahwa ia berseberangan dengan novel-novel sekuler dan didirikan atas teknik dan rasa sastra yang tak murahan.

Kalaupun film ini sebuah eksperimen, perlulah dipertanyakan, apakah eksperimen itu untuk film dan sineas Indonesia, untuk film Islami, untuk pasar Indonesia, atau sekedar pembuktian bahwa sineas Indonesia juga mampu mengangkat novel laris menjadi film laris.

Ke manakah film ini nantinya akan dibawa Hanung, sekuler ataukah Islami? (*)

==

foto: dari www.ayatayatcinta.com

14 thoughts on “Maaf, Ini Bukan Ayat-ayat Cinta

  1. terlepas dari sekuler atau tidak , semua masih perlu untuk di lihat . kebetulan tadi saya nonton acara tentang hebohnya Film Ayat – Ayat Cinta yang akan segera di putar . Posisi saya sebenarnya bukanlah dari seorang yang ahli agama , mungkin bedanya Islam sekuler dan tidak saya tidak tau pasti . Tapi yang jelas dari seorang yang mengaku muslim saya sesungguhnya tidak setuju dengan pemeran di film tersebut , kecuali saskia yang memang mengenakan hijab pada aslinya . Tapi lagi – lagi janganlah sempit dan berpikiran picik tentang sesuatu hal , doakan saja agar ini menjadi sesuatu yang memang kita harapkan dari generasi muda yang mengaku Islam . Saya belum bisa berkomentar banyak karena belum nonton film nya . Harapan saya janganlah kita terpecah sebagai umat muslim hanya karena beda aliran dan paham , karena sesungguhnya cuma 2 pedoman yang ditinggalkan oleh Nabi kita baginda Nabi Muhammad SAW , Al – Qur`an dan Hadist , berpeganganlah pada dua hal tersebut.
    o iya saya mau mengundang untuk baca tulisan ini
    makasih
    http://realylife.wordpress.com/2007/12/31/jangan-panggil-aku-pelacur/

    Like

  2. aku pikir novel dan filamnya akan sangat bagus untuk dibaca dan disaksikan.banyak novelis muda yang sering menampilkan arti cinta tanpa ada pondasi agama dalam caritanya.walaupun akan atau telah ada konteoversi pemainnya aku rasa tidak mengurangi pesan yang disampaikan oleh kang ebik sebagai penulis. jujursaja saya termsuk salah satu pembaca novel ayat2 cinta. janganlah uudzon atas apa yang disampaikan dalam filmnya namun ambil sisi baiknya saja toh agama manapun tetap mengajarkan kita cinta. jadi………..cukup dech kontoversinya yachkagak baik he…he…he…

    Like

  3. assalamualaikum
    @ said realylife: pedoman itu sungguh kuat untuk dipegang dan islam tak akan pecah walau dihancurkan dengan cara apapun…🙂

    @ maxbreaker: hmmm🙂 Indonesia memang sekuler berkedok. “Ketuhanan” yang maha esa itu, bila ditelisik dari segi bahasa, justru jauh dari prinsip Islam soal Tauhid.

    @ alfanah; tidak ada maksud untuk suudzon saya kira, mbak alfanah jangan suudzon dulu juga😀 bahkan maksud tulisan ini dan (mungkin) komentar dari teman-teman, supaya film ini ditonton dengan teliti betul, sembari menikmatinya sebagai sebuah karya seni. Dakwah toh bisa dilakukan dengan model apa saja.😀

    Like

  4. sudah berkali-kali kudengungkan kepadamu kawan? negaramu ini negara “bukan-bukan”.didalam novel atau film saja terdapat “bukan-bukan” bukan sekuler dan bukan islami, membuat kita kebingungan. moga-moga anak dan cucu kita nantinya tidak kebingungan didalam menentukan sikap. I miss U body, regardes…

    Like

  5. menurut aQ sih Film ayat-ayat cinta bukan menikmati film,X aja tapi Qta cermati,apa yang terkandung dlm itu,jujur meskipun jarang seorang ahllan yang setia sama suami,dan bukan itu saja aQ liat yang paling sedih ketika seorang non muslim melakukan shallat ketika mau mati(subhhanallah)brarti tu bwat contoh orang muslim tuk bener-bener memperkokoh iman Qtq

    Like

  6. aku seorang repoter di malaysia..
    selepas menonton filem ini minggu lalu, kurasakan i cukup menarik sekali ditambah pula dengan selingan ilmu-ilmu islami yang kuat.
    jalan ceritanya bagus malah sentiasa menyentuh hati penonton..
    namun, apa yang aku ingin tekankan disini, agak sukar untuk mengadaptasi sebuah novel kepada film..
    jadi dalam filem ini, agak banyak babak yang ‘loose’. Namun, ia masih segar untuk ditonton malah ia juga menarik..

    ~congratulations~

    Like

  7. Saya sangat terharu setelah membaca dan menonoton film ayat-ayat cinta.Saya jadi merasa beruntung,bangga dan bahagia terlahir sebagai seorang muslim.Setelah membaca dan menontonnya saya langsung beritikad dan menyadari bahwa kehidupan saya sebagai seorang muslim harus lebih baik dari sekarang, terutama peran kehidupan saya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anak saya kelak.

    alhamdulillah. amin.😀

    Like

  8. Film sih tetap aja film. Intinya kalau A2C ngga di buat menarik untuk di tonton, paling juga, ngga laku tuh film.Contohnya film yang juga bertema islami yang dibuat setelahnya, karena latah mengikuti jejak A2C. Beda sutradara beda pula hasilnya. Intinya pengendalian diri deh.., eh, maksud gue, salut deh buat Bang Hanung n also Kang Abik. Maju terus sastra indonesia, maju terus film indonesia, mundur para koruptor, turunkan harga sembako…

    hahahahaha…yang asyik kalimat komennya yang belakangan …. cocok!🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s