Beda Seniman dan Artis


Barani Nasution (Faisal Reza)Aktivitas dunia hiburan di Kota Medan sungguh marak. Event organizer (EO) tumbuh bak cendawan di musim hujan. Panggung-panggung hiburan, mulai dari yang mendatangkan artis lokal, nasional hingga internasional berdiri gagah di Kota Medan. Kondisi sebaliknya kelihatan di dunia budayawan.

* * *
Pandangan mengiris hati muncul di dekat kampus Unimed Medan. Saban malam, pasca maghrib, puluhan sepeda motor, yang membawa pasangan sedang pacaran dan juga tidak ketinggalan para ayah dan ibu yang membawa anaknya, melayangkan pandangannya ke suatu tempat hiburan baru yang berjarak puluhan meter dari jalan Slamet Ketaren. Mereka harus puas ”terhibur” dari jauh, pasalnya tiket dan suasana tempat hiburan untuk keluarga itu sungguh tak bisa di-budget-kan dalam satu atau dua bulan penghasilan mereka. Kesenjangan sosial memang benar-benar sedang kasat mata di negeri yang makmur ini.

Di tempat lain, biasanya di tanah lapang seperti Lapangan Benteng, even off air menghadirkan hiburan gratisan. Setiap orang tidak perlu membayar untuk melihat aksi para seniman alias artis. Para seniman yang konsentrasi di bidang musik ini, jangan heran, dibayar mahal oleh EO yang mendapatkan dana dari sponsor.

Ini di zaman modern. Puluhan, mungkin ratusan tahu lampau dan hingga kini, dunia hiburan tradisional yang ”gratisan” sudah menjadi konsumsi publik tanah air. Ronggeng, wayang, ludruk dan seterusnya adalah panggung-panggung hiburan masa lalu yang kini sedikit-sedikit mulai tergeser. Ada juga hiburan yang dulu tidak dibolehkan kini diizinkan kembali, misalnya yang paling dekat adalah seni barongsai.

Perdebatan kita tentulah bukan hal tersebut, melainkan soal kebudayaan, kesenian dan hiburan.

Seniman dan Enternainer
Ini dialog singkat saja, adakah bedanya antara seniman dan entertainer (bila di-Indonesiakan berarti penghibur)?

Saya teringat film menarik yang diperankan oleh Zhang Zi Yi dan Michele Yeoh, yaitu Memoir of Geisha. Michele yang menjadi mentor Zhang Zi Yi ketika ia hendak menjadi seorang geisha menyatakan dengan tegas bahwa seorang geisha bukanlah seorang pelacur. ”Ia adalah seorang seniman dan haram hukumnya seorang geisha tidur dengan tamunya,” kata Michele Yeoh.

Film ini pun menggambarkan dengan jelas soal ”derajat seni” seorang geisha. Mulai dari sikap sehari-hari, cara berjalan, teknik tidur, tata rias, kemampuan menari, memainkan alat musik, menuangkan teh atau sake, teknik-teknik komunikasi dan cara melirik pria, sampai pada cara menolak ajakan tidur dari para tamu. Tidak sembarangan orang layak untuk diseleksi menjadi geisha. Dan setelah diseleksi, tak banyak yang lulus yang menjadi geisha.

Keluarbiasaan film ini, salah satunya, adalah penghapusan imej buruk dari seorang geisha. Geisha jelas beda dengan Jugun Ianfu (JI) alias wanita penghibur dan pemuas nafsu tentara-tentara Jepang. JI dulunya merupakan para wanita di daerah jajahan Jepang yang kemudian dipaksa dan diculik untuk menjadi budak nafsu. Para JI tinggal di barak-barak dan menurut pengakuan sebagian yang pernah diwawancara oleh beberapa media, di barak-barak itu mereka dipaksa melayani 5-15 orang setiap harinya. Dan itu semua tanpa bayaran!

Tapi apakah pembedaan antara seniman dan entertainer seterang perbedaan antara seorang geisha dan jugun ianfu?

Di banyak tayangan infotainment, kita melihat ketika seseorang diwawancara maka ada status yang diberikan oleh media kepada yang bersangkutan. Mulai dari artis, penyanyi, rocker, penari, pelawak, model, bintang sinetron, selebriti sampai pada seniman dan entertainer. Set the agenda yang dibuat oleh media memang luar biasa, sehingga masyarakat pun sampai ikut-ikutan latah bahwa semua yang muncul di acara infotainment adalah selebriti.

Di kamus, selebriti diartikan sebagai orang yang terkenal atau masyhur (biasanya tentang artis). Walau makna ini denotatif, tapi tetap saja sifatnya seperti karet, bisa meluas ke mana-mana. Amien Rais dan Presiden SBY tentu tak terbantahkan keterkenalannya. Tapi, merujuk pada keterangan kamus itu, Amien Rais dan SBY tentu bukan artis, lain bila Anang dan Krisdayanti yang memang artis. Jadi, kalau kita memang konsisten merujuk pada kamus, maka tokoh politik, pengacara, wartawan, dokter ataupun profesi lainnya, ”kurang” berhak masuk dalam kategori ”selebriti”.

Saya harus memakai kata kurang, karena, makna soal peruntukan artis tadi hanya diembel-embeli kata ”biasanya” alias konvensi saja. Nah, kalau pengacara kemudian mendompleng ketenaran dalam kasus-kasus cerai para artis di infotainment, tentu ini dalam rangka agar mereka mencapai tahap ”selebriti”.

Yang menjadi masalah ’kan, soal ke-artisan ini. Lagi-lagi, mari merujuk pada kamus. Di situ disebutkan artis adalah ahli seni, seniman, senimawati. Seandainya dia bekerja, maka dia harus mencapai tahap ”artistik” yaitu mempunyai nilai seni, bersifat seni ataupun mempunyai rasa seni.

Supaya tidak subjektif, di sini tidak akan disajikan pendapat ahli soal seni, tapi pendapat kamus saja. Di sana, seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya dan sebagainya). Arti lain soal seni adalah pertama, kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi (luar biasa), kedua, orang yang berkesanggupan luar biasa; jenius. Orangnya disebut seniman atau orang yang mempunyai bakat seni dan berhasil menciptakan dan menggelarkan karya seni.

Lagi-lagi, yang mesti digarisbawahi, denotasi dari kamus diberikan di sini hanya sebagai batasan saja. Karena implementasi di dataran masyarakat luas, cukup berbeda jauh.

Misalnya, sehebat-hebatnya Sutardji Caldzoum Bahri, Sapardi Djoko Damono dan Taufik Ismail membuat atau mengkritisi karya seni, ia tidak pernah disebut ”artis”. Bahkan, HB Jassin pun media –sebagai salah satu institusi yang paling bertanggungjawab dalam perkembangan bahasa- pun tak berani melabelkan dia sebagai artis.

Beda jauh, bila media memakai istilah seniman. Anehnya, Anang dan Krisdayanti, hingga saat ini belum pernah dilabelkan sebagai seniman melainkan artis. Kebalikannya, bukankah kita sering mendengar kalimat begini, ”Saya seniman bukan artis.”

Saya jelas belum meneliti apakah kesenjangan antara das solen dan das sein yang cukup parah ini juga sama kejadiannya dengan tingkat ekonomi dan pemasukan kalangan ”seniman” dan ”artis”. Namun, apakah sama honor WS Rendra dengan Krisdayanti sekali manggung?

Bila satu hal ini saja belum bisa diselesaikan, maka perdebatan selanjutnya antara tugas seorang seniman dan artis dengan entertainer, menjadi menarik. Seorang enternainer atau penghibur, jelas memerlukan kemampuan dan tidak bisa asal jadi. Namun, bukankah sering kita mendengar di televisi istilah entertainer ini juga seluas (bahkan lebih luas) kata ”artis”? Bahkan, seorang entertainer, yang dulunya hanya sekedar nge-MC, penyiar radio, dancer (ini artinya penari, entah mengapa kelihatan keren dari kata Indonesia) tiba-tiba disebut media sebagai ”artis”. Anehnya, ada pula kata ”artis sinetron” tapi ganjil kedengaran kata ”artis film”.

Kita tidak bisa menyebutkan ini hanyalah soal biasa saja. Contoh antara WS Rendra dan Krisdayanti di atas salah satu bukti konkret begitu besar pengaruh bahasa dalam kehidupan riil. Yang jelas, wilayah hiburan merupakan wilayah terbesar masyarakat itu berdiri dan menanti. Walau hiburan bukanlah hanya berarti soal tertawa atau tidak, puas atau tidak saja, namun lebih pada soal pemenuhan kebutuhan rasa dari masyarakat itu.

Wayang menjadi contoh paten ketika seluruh lapis masyarakat Jawa dalam jumlah besar tahan berjam-jam menyaksikan panggung gratis. Dan mereka tak cuma terhibur, tapi juga mendapatkan sesuatu untuk dilakoni, dihayati dan kemudian diceritakan bagi anak cucu.

”Bayaran” inilah yang kebanyakan menjadi kunyahan para seniman, bukannya para artis dan entertainer. Sesuatu hal yang menjadi tertawaan dunia kapitalistik. (*)

* * *

foto oleh Faisal Reza

One thought on “Beda Seniman dan Artis

  1. Artikel di blog Anda sangat menarik. Anda bisa lebih mempopulerkannya lagi di infoGue.com dan promosikan Artikel Anda menjadi topik yang terbaik bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s