Militer-Sipil dalam Pilgubsu 2008


militerSaya sungguh kagum dengan militer di Indonesia. Bagi saya, ada tiga institusi yang menjadi penguasa sebenarnya di negeri ini: militer, Departemen Dalam Negeri dan Partai Golkar.

Infrastruktur jaringan tidak sekedar plang nama jaringan tapi kualitasnya dijamin nomor wahid. Setiap jaringan terikat dengan sistem komando di atasnya. Lem perekatnya adalah “ideologi” dan kekuasaan.

Dosen saya menyebutkan, ada dua hal yang membuat orang tetap lengket dan bergabung dengan suatu jaringan. Pertama, ideologi dan kekuasaan. Kedua adalah uang. Bila dua hal ini digabung, maka akan menjadi super networking.

Golkar memiliki itu. Mungkin “soal kekaryaan” bukanlah ideologi, tapi kekuasaan adalah ideologi tersendiri bagi mereka yang ingin dan tetap bergabung dengan Golkar. Kiprahnya sejak Orde Baru terbentuk dulu dan kemudian pintarnya politisi Golkar “mereformasi” partai ini dalam zaman reformasi, membuat Golkar menjadi mesin politik yang luar biasa dinamis, non patron, sistemik, kuat dalam finansial dan “visioner”.

Saya harus memberi tanda kutip pada kata visioner karena itu bukan sanjungan tapi itu adalah realitas politik Indonesia sekarang; Golkar punya kebijakan masa depan bagi dirinya sendiri dan merekayasa kekuasaan di masa depan. “Yang tidak dipunyai Golkar adalah moral saja,” kata dosen saya itu.

Depdagri adalah mesin kekuasaan yang terdiri dari pegawai negeri yang sangat birokratis dan patronistis. Jaringannya dimulai dari Presiden (sebagai kepala pemerintahan), departemen hinggi kepala lingkungan yang mengomandoi tingkat paling dasar dari organisasi negara; rumah tangga. Kekuatannya terletak pada magnet kekuasaan yang dimiliki setiap inci pemerintahan.Masing-masing sel diisi oleh rasa senasib sepenanggungan sebagai sesama PNS.

Militer? Luar biasa dahsyat. Militer merupakan gabungan dari pola Partai Golkar dan PNS ditambah senjata. Bila Golkar tak punya kekuasaan pemaksa dan PNS lebih cenderung statis, maka militer mempunyai segala-segalanya. Sistem jaringan hirarki komando menyuratkan militer merupakan organisasi paling solid di Indonesia ini. Walau ada riak-riak pemberontakan militer dalam sejarah, tapi tidah pernah diselesaikan dengan cara politik tapi sistem komando. Sistem perwira tinggi, menengah bintara dan tamtama didukung oleh pasokan ideologi satu garis.

Dalam Orde Baru, militer merupakan pemerintahan yang sesungguhnya di Indonesia. Sistem babinsa menjadi kompetitor yang tak bisa ditandingi oleh kepala desa apalagi kepling.

Bagi saya, tulisan ini merupakan pre-preambule dari ketat dan luar biasa pintarnya pengolahan militer dalam pilgubsu 2008. Saking hebatnya permainan itu, isu militer-sipil sendiri dikunci rapat-rapat dan diganti dengan isu primordialisme dan SARA.

* * *

foto: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/d/d6/Parade_militer.jpg/400px-Parade_militer.jpg

14 thoughts on “Militer-Sipil dalam Pilgubsu 2008

  1. kalau ditelisik paling tidak ada beberapa CAGUBSU yang masuk ke tiga kriteria tadi antaranya:

    Bpk.ALI UMRI=Ketua Golkar SUMUT
    Bpk.SYAMSUL ARIFIN=Pembina Golkar
    Bpk.TRI TAMTOMO=TNI/Militer
    Bpk. H. Abdul Wahab Dalimunthe=Mantan katua/kader Golkar

    ada yang mau nambahin?

    Like

  2. Dalam pilgubsu, isu militer-sipil memang dibungkus dengan rapi oleh militer. Sipil masih menjadi pemain kelas dua kalau tidak bisa dibilang sebagai pion saja.

    Faktanya ketika isu agama dilontarkan, koalisi umat bilang umat Islam akan bersatu. eh ternyata, calon muslim muncul 4 orang (cagub). Non muslim juga begitu. Katanya mereka bersatu atas nama gereja, eh, ternyata RE Siahaan dan Benny pasaribu (calon kristen) muncul juga.

    Dengan fakta ini, maka berhasil lah isu agama dilontarkan dalam pilgubsu, sementara isu militer-sipil terhapuskan. kesimpulan: agama pecah.

    fakta kedua, dari banyaknya jenderal yang masuk dalam bursa kandidat balon gubsu, eh ternyata belakangan cuma satu saja yang muncul, Tritamtomo. kesimpulan: militer solid.

    dari dua fakta ini saja, sudah bisa ditebak siapa yang menjadi penulis skenario dan pemenang dalam perpolitikan Indonesia dan Sumut.

    Analisis yang tajam, bung Nirwan. bravo!

    Like

  3. hahahaha.
    kau memang cerdas wan. itulah cerdas aja tak cukup, tuah masih harus dilatih, untuk mendapatkannya.

    Ku kasih tau ya:

    Mardianto, Mentri Dalam Negeri, Mantan Gub Jateng, dan Pangdam Diponegoro,
    adalah “SAHABAT DEKAT SYAMSUL ARIFIN”. Bahkan kalau mereka bertemu, semua urusan ditinggalkan. Semenjak Kapten hingga Jendral dan Jadi Mendagri hubungan itu tidak pernah lepas. Aku menjadi saksi, betapa mereka itu sudah seperti kakak adik. Namun kalau orang lain tanya, biasanya Pak Mardiyanto akan Jawab Haji Syamsul ini “dukun” dan sekaligus “tukang ramal” saya. Hubungan mereka tidak pernah formal, melainkan persahabatan antar manusia. Susah senang mereka bersama, layaknya sahabat. Coba bung ceck sebagai wartawan, ada fase yang “hilang” dalam hidup Syamsul Arifin, adalah fase beliau menghilang dari Jakarta dan tinggal di Jakarta.
    disanalah hubungan intesn terjadi, antara seorang intel muda brilian terbaik di sumatera, Syamsul Arifin, dan Perwira muda Jendral masa depan Mayor Mardiyanto…

    Golkar?? hehehe… Semua orang tahu siapa yang berhak menjadi ketua golkar, bukan Umri, namun karena ia berani berkhianat pada bang akbar dan merapat ke JK. Majulah ia secar aklamasi. Mana ada di republik ini ketua golkar terpilih secara aklamasi. Dan Bang Syamsul dengan elegan jawab, “aku ini setia kawan” “aku tidak muingkin mengkhianati bang akbar”. Inti: Siapa yang sebanarnya “berpengaruh” di Golkar? hehehe

    TNI? hehehe
    saya kasih tahu, tidak selamanya TNI itu perlu tampil secara formal. dan ada saatnya ia berartner dengan mitra sipil. Aku kasih tau aja ya, semasa “hilang”, siapa saja teman Syamsul Arifin di Jakarta? ini dia orangnya: Mayor Joko Santoso, Mayor Mardiyanto, Mayor Erwin Sudjono. (sekarang? siapa mereka?)
    Cari tahu sendiri.. hehehe

    Oya, ada kebiasaan bagi para tentara, memberi pangkat pada sipil. KAyak Aku ni mereka paling banter panggil kolonel, kayak kau wan, ya mungkin udah kap[ten lah. Waktu yang jadi menhan Mahfudz MD, mereka [panggil mayor. hehehetapi pas yang jadi menhan juwono, mereka panggil jenderal…

    Nah Mardiyanto, Erwin, Djoko Cs, asal bertemu Syamsul mereka memanggil “Siap JEndral”… makanya Syamsul selalu menggelari dirinya Bupati Indonesia di Langkat, akrena ia agak “kelepasan” akan siapa dirinya. Kalau kau ingat juga, lihatlah fotonya di Waspada, dengan Batik dan gaya santai saja bersalaman komando bersama Cornell Simbolon, HT Milwan, Tritamtomo… Emang Jendral mau ama sipil salam begitu?
    Salam Komando? YA GA LAH!… Tapi itulah Syamsul. Cornell, Tri, dan Milwan, Tau siapa di belakang Syamsul…

    Salam.

    Like

  4. @ bang Andi: tampaknya analisis Anda lebih tajam dari saya

    @ bang nurat: saya masih belajar bang, ya salah satunya dari abang-abang inilah🙂 tapi …tenkiu berat atas informasi ini…ini menambah referensi saya walau tentu akan saya bandingkan dengan variabel politik lain.

    Misalnya, tentu kita harus ingat koalisi para mantan pamen dulu yang sekarang “tak dipakai” lagi seperti prabowo, syafrie syamsuddin dkk. Satu lagi, kompetitor Joko Santoso dulu (swaktu pemilihan KSAD 2005), salah satunya adalah Cornel Simbolon. (sekarang ada dua simbolon di mabes TNI AD, Letjen Cornel Simbolon dan Mayjen Mahadi Simbolon)

    Patut juga dijadikan unit analisis, mengapa Cornel dan Tritamtomo bertarung bersama di PDIP kemaren🙂

    Kerangka pilgubsu 2008 ini tentu tak bisa dilepaskan dari Pemilu 2009, baik legislatif dan terutama Presiden.

    Itu dulu.

    oya…perintah jenderal!😀

    Like

  5. Top banget analisisnya, ditambah lagi “inside information” dari Lae Andi Lubis dan Markus Sinurat. Paten.

    Dari dialog kalian aku banyak menyerap mengenai peta politik Sumut, termasuk kait-mengkait hubungan personal dan aliansi-aliansi strategis yang sudah terbangun di antara para kandidat dan tokoh-tokoh berpengaruh. Mantap.

    Lanjutkan Lae penulisan yang mendalam seperti ini. Sangat berharga dan berguna. Mauliate da.

    Horas ma di hita sude.

    Like

  6. satu lagi untuk kau wan,
    coba kau analisis,
    kenapa Erwin Sudjono “bela-bela” in datang ke Langkat beberapa minggu yang lalu
    pasca pencalonan syamsul, bersama MENSOS, hanya untuk meresmikan proyek “kecil” kecilan.

    Proyek pascabencana yang “nilainya” tak seberapa, harus KASUM dan MENSOS (yang notabene dr PPP, partai pengusung Syamsul Arifin.
    Ayo? apa analisa ny? hehehe

    Kedua, Erwin itu, meskipun iparnya SBY, ia Katolik. Berarti isu agama GUGUR!

    aku hanya mau kasih masukan, dalam studi politik dan organisasi, ada yangnamanya pendekatan “behavior”. Dalam studi intelijen, hubungan personal adalh nomor satu diatas kepentingan apapun, bahkan NKRI atau dollar.. hehhe

    Oya, kalau mau analisis Syamsul aku kasih kau satu klu lagi, liat matanya, tajam bagai elang. Itu khas agen dan analis terbaik. liat caranya menguasai ruang. Dan Bang Syamsul itu, punya ingatan akan angka yang tajam.(ke khas an intel lain, sangat ingat detail korek api)…. Di HP nya yang sangat “butut” untuk ukuran bupati walikota di Indonesia, itu tidk ada tersimpan “nama” seorang pun. Ia ha[al semua nomor telpon orang. kira2 2000 an nomor HP, rumah, dan kantor ia ingat. (ini kesamaan keduanya dengan Gus Dur, selain Joke-joke segar)…

    Soal bowo, memang bukan “klik” nya Syamsul, karena bowo dkk umumnya berkarier di pasukan. Klik SA adalah yangberkarier di intelijen.

    Naaah.. Wan, apa analisis kau?

    Horas
    Mejuah juah

    Like

  7. mari kita sebagai kaum muda
    satukan suara untuk bilang : Perubahan!.
    untuk sebuah perubahan kita jangan berspekulasi
    demi masa depan pendidikan kita, dan saudara-saudara kita.
    Demi kesehatan kita, orang-orang yang kita sayangi, dan semua saudara-saudara kita di Sunatera Utara.

    Semoga kita tak mendengar lagi anak-anak putus sekolah hanya gara-gara biaya pendidikan yang tidak terjangkau

    Semoga kita tak mendengar lagi rakyat miskin tak mendapat kesehatan yang layak

    Semoga kita tak mendengar lago orang-orang hidup dengan ancaman kelaparan

    Demi tanah Suamatra Utara yang kita sangat Cintai
    Demi segala toleransi rakyat Sumatera Utara yang tiada tara
    Demi seluruh saudara-saudara kita yang menghendaki kesejahteraan
    Mari kita satukan suara untuk bilang: SYAMSUL ARIFIN BISA…

    Like

  8. kok ngepans banget sama samsul
    apa mungkin syamsul mampu mimpin sumut lebih baik.
    syamsul itu masih model politikus sembako dan semen.
    spanduk kiri kanan, bagi sembako sana-sini bagi smen sana sini.
    kita semua harus belajar memilih dengan objektif.
    kalau syamsul kenal para jenderal kenapa rupanya. apa itu jaminan dia bisa mimpin sumut dengan baik.

    Like

  9. Wan, Abang juga setuju dengan komentar Bung Markus Sinurat. Ini ada cerita,mengapa Syamsul Arifin dibilang dukun alias tukang ramal.
    Cerita yang Abang dengar Wan (ntah betul,ntah tidak). Dulu saat berada di Jakarta H Syamsul Arifin berangkat bersama salah seorang tokoh pemuda di Sumut (Gak usah disebutlah ya…)

    Nah…, ketika itu mereka main ke Mabes di Cilangkap. Dasar jahil, Syamsul Arifin bisa masuk ke ruang personalia. Tiba-tiba, secara kebetulan, dia lihat berkas mutasi dan promosi Pati Militer. Nama-nama Pati yang mutasi dan promosi dia rekam di benaknya

    Gak kehilangan akal, esoknya dia menemui sejumlah Pati yang mendapat promosi. Berlagak seorang peramal, H Syamsul meminta lihat telapak tangan para Pati itu. Langsung saja ramalan Wak Labunya muncul.

    Beberapa Pati juga heran dan gak percaya ramalan Wak Labu H Syamsul Arifin. Kira2 seminggu, ternyata ramalan Wak Labu tepat. Pastilah para Pati tersebut gembira setengah hidup.

    Nah sejak saat itu, H Syamsul Arifin dekat dengan kalangan militer. Tidak bisa dipungkiri, gaya dan cara Syamsul Arifin berteman, ternyata tidak pernah dilupakan militer, sampai saat ini.

    Like

  10. dari aho, siapa-pun cocok aja-lah, yang penting ngerti dengan rakyat kecil dan tidak sekedar janji-janji doang..,hehe

    Like

  11. tapi menarik juga cerita kilas tentang syamsul, koq banyak arahkan beliau itu “dukun”.., tapi wan..,pingin juga info yang lebih seru lagi tentang supernatural cagubsu itu, penasaran juga..,hehe..

    Like

  12. syamsul arifin seorang intel militer dan dukun?😀

    info dari bang nurat itu memang asyik untuk ditelusuri walau harus dilandasi sikap asumsi tak bersalah alias jangan dipercaya dulu, hehehehe…

    Apakah tritamtomo (dan bambang danuri) akan begitu mudahnya “menyerah” kepada syamsul dalam pilgubsu ini? “Dukun” Syamsul tak begitu kuat, begitu juga jaringan militer syamsul.

    Yang paling gampang adalah kegagalannya untuk tak memunculkan calon militer, ketika dia bermain dengan sangat “serius” di PDIP dulu (sehingga Mega dan Taufik Kemas terpaksa mengalah dengan memunculkan Tritamtomo sebagai cagub PDIP).

    SBY tak punya pasukan, tapi wiranto dan prabowo adalah komandan pasukan. Saya kira, inti di militer adalah apakah ia punya anak buah atau tidak. Intelijen tentu punya perangkat bernama “psywar, agitasi dan propaganda” namun itu hanya untuk sebuah pre-combat alias persiapan pertempuran. Itu belumlah betul-betul sebuah pertempuran.

    Syamsul? Setakat ini, saya sangat cukup meragukan apakah dia seorang intel militer. Ia tak punya penampilan untuk itu. Tentu ukuran seorang intelijen itu bukan pada matanya yang setajam elang bukan?🙂

    Mengingat latar belakangnya, dia lebih pas disebut pengusaha militer. Dan tentu saja, sebagai imbal baliknya ada hubungan personal yang harus dibayar dengan sejumput dolar dan sepetik informasi. Namun komando? Ah, tentu tak semudah itu.

    itu dulu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s