Metallica Versus Dangdut


“Ya, Metallica, lindungilah aku dari godaan dangdut yang terkutuk…” metallica

Kontan, ketika kalimat itu mampir di gendang kuping saya, saya langsung terbahak. Baru ini saya mendengar kalimat yang super dodol itu. Saya langsung minta teman saya yang nyerocos itu, untuk mengulanginya lagi. Dan lagi, saya tertawa juga.

Ketika kalimat itu saya ulang-ulang kembali di syaraf memori saya, saya kembali tak bisa menahan tawa dan geli. Kalau ada pemilihan caption of the year, dan saya yang menjadi jurinya, tak ragu lagi saya pasti meletakkan himpunan aksara ini di level tertinggi. Konyol, bandel, sekaligus mengena!

Ceritanya begini. Beberapa hari yang lalu, seorang teman menyetel lagu dangdut. Suara bening Rhoma Irama keluar dari speaker komputernya. Intro suara bang Rhoma itu mengundang seorang teman lagi. Dia mendatangi kami. Nah, ketika itulah dia melontarkan celetukan asal itu. “Ya, Metallica, lindungilah aku dari godaan dangdut yang terkutuk…” ujarnya sambil geleng-geleng kepala. Mendengar itu, kontan kami terbahak. Tapi, Anda jangan buru-buru menganggap kalimat itu berurusan dengan agama. Jangan terlalu serius.

Kawan saya itu memang fans berat metallica. Dia punya kumpulan kaset (bukan CD dan file MP3) komplit di rumahnya. Nah, kawan yang nyetel dangdut itu pun, bukan fans-nya Rhoma, dia penyuka Sex Pistol.

Kami berasal dari satu generasi, 1990-an, di mana lagu Rock Metal menjadi raja. Kawan-kawan saya (termasuk saya sendiri) bukan anti lagu dangdut. Kekhasan dangdut adalah fleksibilitas dan inklusivitasnya. Ia bisa diterima segala kalangan, mulai dari kelas ringan-bawah, kelas menengah-welter-bulu-super dan kelas menengah samping, sampai kelas berat dan ng-istana.

Dangdut juga lagu pergaulan, mulai dari warung kopi hingga diskotik. Rambasnya enak dimainkan dan digoyang.

Lagu rock (dan pop) sifatnya lebih eksklusif. Ia punya segmentasi. Sering didengar, ketika konser musik, berbagai atribut melambangkan genre musik ditampilkan dengan perbedaan mencolok. Bahkan, dalam satu “kubangan” rock, satu genre dengan genre yang lainnya, misalnya saja punk, grincore dan hardcore, bisa berkelahi hanya karena satu gen dianggap lebih berkelas, lebih asyik daripada kelas yang lain. Dalam ranah dangdut, hal itu jarang sekali diberitakan.

Dalam tiga arus besar itu (rock, pop, dangdut) –di antara arus lain seperti jazz, orkestra klasik, dan kawan-kawanya- dulu dangdut dianggap yang paling “tak berkelas”. Anak-anak muda kelas menengah perkotaan, menganggap dangdut itu “kampungan”. Itu fakta tak terbantah. Bahkan, hingga kini pun pengaruh “politik” seni musik itu masih belum cair.

Saya kira, titik berat pada “pengaruh politik” di panggung musik itu memang cukup berhasil. Ini soal perebutan pangsa pasar. Skenarionya sederhana saja, anak-anak muda perkotaan itu jangan sampai tertular dangdut. Itu karena, dangdut yang selama ini sudah mengakar dalam dan kuat di lingkaran pinggiran, harus tetap dipinggir.

Saya pernah mendengar, album “Begadang”-nya Rhoma Irama itu dulu sampai laku lebih dari 1 juta kaset. Era 1970-90-an tidak ada yang mampu menyaingi penjualan monumental kaset dangdut. Bila dangdut melebar ke kelas anak muda perkotaan, tentu saja pangsa pasar genre rock dan pop bakal habis.

Industri musik sekarang, sedang menikmati hasil itu. Kini era pop-rock dan pop-distorsion (seperti Ungu, Radja, Peterpan dan seterusnya) sedang menjadi dewa. Penjualan kaset dangdut di bawah grup-grup itu. Bila ada lagu-lagu seperti “SMS”, “Kucing Garong” dan seterusnya, itu ibarat petir saja. Menerangi sesaat lantas gelap kembali.

Saya kira, itu juga yang membuat penjualan dangdut sekarang mulai dialihkan pada goyangan dan penciptaan selebriti-selebriti dangdut. Goyangan ngebor Inul sampai pada kolaborasi dangdut-house music menjadi resep lanjutan. Soal pasar ini juga saya kira yang membuat kubu “dangdut murni” seperti era Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, Camelia Malik dan lainnya, bak kehilangan taringnya ketika genre Inul muncul.

“Kau kebanyakan menghayal!” sentak teman saya ketika layar monitor yang memampangkan tulisan ini dibaca teman saya.

Kami tertawa lagi. Ah, mungkin juga. “Ini doanya, saya berlindung kepada Metallica dari godaan dangdut yang terkutuk….hahaha…” katanya lagi pada saya.😀

* * *

foto:
http://www.an.tv/images/programs/Seleb_Mendadak_Dangdut_2_large.jpg

2 thoughts on “Metallica Versus Dangdut

  1. kalau di tempat karaoke di jakarta begini urut-urutan lagu yang jadi pakem:
    peterpan/padi/ungu/dewa dll yang lain ngetren, endless sweet songs, jadul pop indonesia macam the mercy, koesplus, panbers dll, barat slow rock, balik lagi jadul pop indonesia..setelah kerongkongan dah mulai serak dan badan capek n mulai ngantuk, mulailah dangdoet…nah..area ruang karaoke yang sempit jadi ajang joget ria..tapi yang nyanyi para cewe2 itulah..mana bisa kita ngikuti cengkok lagu si dangdut..hahahahaha…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s