Rambo (Memang) Telah Kembali


RamboNyali Rambo adalah juga nyali Sylvester Stallone. Nyali itu jadi modal Sly membikin Rambo IV.

Banyak yang mengatakan, latahnya Sly ini karena dua “koleganya” seperti Arnold Schwarzenegger dan Bruce Willis sudah berhasil dalam lanjutan film-film laris mereka. Arnold dengan Terminator 3-nya dan Bruce dengan Die Hard 4-nya. Kedua film ini merupakan box office dan dalam dua film ini, kedua aktor itu masih sangat sangar. Mereka masih “sendirian” dalam menyelamatkan dunia. American film style, sangat jelas di situ.

Namun, Rambo IV menunjukkan cerita yang berbeda. Sly sebagai sutradara dan penulis skenarionya memperlihatkan jelas kerut tuanya. Padahal, di banding dengan karakter dua tokoh kompetitornya, John Rambo jelas paling “realistis”.

Maksud saya begini. Arnold mengambil karakter futuristik dan dia “seorang” cyborg pula. Mau tak mau, tentulah cyborg tak mungkin tampak tua. Nah, Arnold tak ingin tampak lemah dan ngos-ngosan. Tapi, Arnold yang tetap pelit bicara dalam film-filmnya, jelas tampak tua, apalagi lawannya adalah seorang “wanita” yang segar-bugar, seksi dan sangat kuat. Film Arnold pun tampak tak bertumpu pada kekuatan jalan cerita. Action dan romantisme film Terminator sebelumnya masih menjadi komoditi andalan. Di bidang teknologi action ini, Terminator 3 memang cukup kuat bersaing dengan film action-action “post modernis”.

Action yang serupa diperlihatkan oleh Die Hard 4. Bruce Willis, secara jujur memang memperlihatkan kerut mukanya. Namun sekali lagi, dia tetap “sendirian” membela dunia. Egoisme seorang polisi kota ini bila dibanding-bandingkan, bahkan setaraf dengan karakter Superman. Bedanya, Superman sudah dikarunai kekuatan super, Bruce adalah seorang manusia biasa, yang terluka, berdarah dan bisa lelah. Justru, dengan kekuatannya itu, karakter Bruce menjadi tak manusiawi lagi. Bruce bisa mengalahkan kekuatan “super komputer” dengan sepucuk pistolnya. Sayang, Bruce lebih bisnis oriented daripada menunjukkan kepada penontonnya, mengapa dia yang setua itu masih harus berdarah-darah.

Dalam Rambo IV, Sly menyelidiki “kelemahan” kompetitornya itu. Sly tampak tua betul. Pipinya berliput lemak dan kerjaannya pun “hanya” memancing ikan dan berburu ular.

Namun, Sly berhasil mengulangi kuatnya cerita Rambo I, First Blood: seorang veteran Green Barrret yang kelelahan dengan perang dan berkutat mencari jati diri, sebagai seorang “manusia biasa”. Cerita itu, pernah diganjar Oscar bukan karena war action-nya, tapi karena ceritanya.

Sly menyadari, begitu orang melihat Rambo IV, orang akan mudah terjebak dengan isu kompetisi Sly dengan Arnold dan Bruce. Apalagi yang ditawarkan oleh para veteran aktor aksi ini? Karena bila bertempur di ranah teknologi, film-film aksi “post modern” sudah paten-paten.

Sly sudah mempersiapkannya dengan matang. Ia membuat aksi perang Rambo dengan kemirisan yang mirip dengan dengan film kelas Oscar, Saving Private Ryan. Peperangan tampak begitu hidup: peluru menembus dada, kepala pecah, kaki terpotong dan seterusnya. Realisme perang yang sadis itu, membuat film itu tak seperti film Rambo II dan III. Rambo IV adalah tontonan orang dewasa yang sudah bisa menganalisa bahwa, ya, perang itu memang begitu.

Segi action yang demikian, otomatis membawa penonton bahwa bahkan seorang Rambo yang alumni terbaik special force Green Berret pun sudah harus muak dan berpikir ulang mengenai jati dirinya.

Mulanya, Sly “mengecoh” penonton dengan sebuah cerita bahwa John Rambo sudah menemukan jati dirinya dengan memilih tinggal hidup sendiri di hutan. “I Have a father at Arizona. But I can’t find a reason to go back,” kata Rambo ketika si missiononaris perempuan, Miller, menanyakan soal dirinya. (Soal kutipan ini, maafkan saya bila pendengaran saya salah).

Berulangkali, John Rambo mengatakan, “Go home,” kepada Miller yang membujuknya untuk mengantarkan mereka ke zona peperangan. Rambo sudah tak menemukan alasannya untuk berperang kembali. Penekanan film ini, saya kira ini: Sly sudah tak menemukan kembali alasan John Rambo untuk bertempur.

RamboAlasan Rambo untuk tidak bertempur lagi, bukan karena ia sudah ngos-ngosan, lelah atau tak sanggup memanggul senjata lagi. Di film ini pun tak diceritakan lagi kehebatan Rambo yang bisa membasmi seluruh pasukan sendirian. Juga, tak ditemukan dalam naskah dialog, lawan bicara Rambo mengulang kembali pengalaman tempurnya. Karena bila cuma karena itu, film ini akan masuk kelas “murahan”. Untuk apa menipu penonton soal kehebatan perang dan usia jadi alasan? Toh, dalam film ini Rambo masih tetap segar bugar, urat-urat tangannya masih keras dan otot-otot tubuhnya menonjol.

Tak diungkapkan lagi bahwa Rambo merupakan alumni terbaik dari special force Green Barret, bahwa pengalamannya membuat lawan-lawannya di Vietnam, Timur Tengah, Afghanistan, Soviet hingga perang di kota besar (di serial awal First Blood), bertekuk lutut padanya.

Di film ini, Rambo mengkaji ulang jawaban “akhir” mengapa dia harus bertempur yaitu karena dia memang dilahirkan dan diciptakan untuk bertempur, seperti di film-film awalnya. Sly, sebagai sutradara memutar jawaban-jawaban yang menghantui ini dalam sebuah scene flashback.

Jawabannya ini kemudian terbentur pada suatu saat ketika ia harus menyelamatkan para missionaris itu. Sekilas memang, Sly memakai alur ini seperti Rambo II, saat ia dimintai tolong untuk menyelamatkan sandera di hutan Vietnam.

Filosofinya bahwa berperang bukan untuk negara tapi untuk diri sendiri, habis sama sekali ketika “tugas” untuk menyelamatkan misionaris itu sama sekali tak ada hubungannya dengan kekuasaan negara. “U can’t change anything,” kata Rambo pada misionaris itu.

Alasan kemanusiaan ini pun akhirnya bukan jawaban dari seorang Rambo. Di saat-saat ending, ketika perang sudah selesai, Rambo tercenung sendirian saat ia melihat korban bergelimpangan. Tidak ada yang berubah, walau perang sudah dibasmi.

Rambo kemudian menemukan jawaban dari pertanyaan ketika ia memulai cerita Rambo ini sejak serial pertama dulu. Gambaran First Blood di awal cerita –ketika ia dengan memakai jaket hijau dan jeans biru, berjalan sambil menyandang ranselnya- diulanginya di ending cerita Rambo IV. John Rambo melihat kotak surat bertuliskan “R Rambo” di depan sebuah peternakan. Ia tersenyum. Ia menemukan jawaban mengapa ia harus pulang dari medan tempur.

Kali ini tak ada sambutan penuh selidik dan curiga dari seorang Sherif sebuah kota kecil yang kemudian menjadi sebab perang kota, seperti di First Blood.

Tak ada juga sang Kolonel yang setiap saat harus membujuk anak emasnya kembali mengabdi pada “negara”.

Yang ada adalah Rambo sudah menemukan alasannya untuk bertempur. Minimal, dia sudah menjalani mengapa seorang tentara ataupun mantan tentara harus memanggul senjata lagi. Dari Rambo I-IV, Sly memperlihatkan mengapa seorang tentara harus bertempur, mulai dari tugas negara, alasan ekonomi (tentara bayaran), pembelaan diri, sampai alasan kemanusiaan (dan agama).

Namun pertempuran sebenarnya bukanlah di dalam kontak senjata, tapi pertempuran untuk menemukan jati diri dan jawab terhadap pertanyaan mengapa seorang manusia harus hidup.

Inilah yang saya sebut realistis itu. Rambo adalah manusia biasa, bukan seperti John Connor (Bruce Willis) dalam Die Hard dan tidak pula kayak Arnold dalam Terminator.

Itu bila Anda setuju pada eksistensialisme gaya Satre.* * *

foto:
1. http://www.kinomax.fr/images/Arnaud/G-L/PosterJohnRambo.jpg
2. http://www.themovieblog.com/wp-content/uploads/2007/10/rambo-poster-new.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s