Wafatnya (para) Penyair


NA HadianDI HARI itu, Jumat 23 Maret 2007, di sebuah mesjid yang namanya diambil dari julukan nabi Muhammad SAW, mesjid Al-Amin, satu jenazah tergolek di keranda yang diletakkan di teras samping mesjid. Pasca Jum’atan, keranda itu diarak ke depan mihrab dan dishalatkan. Empat takbir mengiringi, doa dipanjatkan baginya dan juga bagi orang yang ditinggalkannya. Keselamatan bagi si mayit dan ketabahan serta kesabaran bagi pelayat dan sanak keluarga.

“Apakah mayit ini khair (baik) ?” seru imam shalat.
“Khair!”

Setelah itu, jenazah itu dihantarkan melewati jalan Prof Muhammad Yamin, Medan, yang padat dengan angkutan umum, kendaraan roda dua dan roda empat. Tidak tahu mereka yang sedang dihantar ke pintu akhirat adalah seorang sastrawan besar. Sastrawan besar bagi siapa? Mungkin itu kata mereka.

Kematian sudah dianggap sebagai rutinitas. Seorang anak Adam dicabut nyawanya oleh malaikat Izrail, kemudian ditangisi oleh sanak saudara, teman dan para tetangga tapi mungkin disenyumi oleh musuhnya. Kemudian dimandikan, dikafani dan dishalatkan. Di luar kediaman si mayit, rombongan takziah mendoakan sejenak dan kemudian bertemu dengan para tetangga, keluarga dan teman kerabat untuk berbincang sejenak dan kemudian mengalihkan pembicaraan ke hal-hal lain. Sebentar-sebentar tersenyum karena terbahak merupakan hal yang tabu dalam momen takziah atau pelayatan. Malamnya tahlilan digelar, ketawa-ketiwi sejenak dan kemudian pulang atau pergi ngumpul di salah satu warung membicarakan apa yang dikerjakan hari ini dan apa yang hendak dilakukan besok, lusa, minggu depan dan seterusnya. Kemudian, semua kembali ke urusan masing-masing.

Jenazah dihantar melewati ratusan rumah toko, kios dan rumah penduduk. Seseorang mungkin, di salah satu sudut, di salah satu kendaraan ber-ghibah pelan di lubuk hati masing-masing. “Toh, jalan tak perlu dikuasai sepenuhnya oleh pengiring jenazah hingga jalan pun macet,” bisik qalbu orang-orang yang sedang dikejar waktu ataupun orang-orang yang iseng. Setan memang tak kelihatan tapi perbuatannya sungguh nyata, demikian salah satu bunyi kitab suci.

Tapi siapa peduli? Jenazah harus diiringi dengan langkah-langkah cepat. Tak boleh berlari tapi berjalan cepat. Bersegeralah kamu dalam mengurus si mayat, begitu kata ustadz. Panas terik, suara klakson, debu dan asap bercampur baur. Namun, si mayit jelas tak boleh terkena polusi dunia. Kerandanya dipayungi oleh sebuah payung berwarna hijau yang ditulisi oleh tulisan tauhid.

Sampailah di pintu pekuburan. Areal pemakaman tampak sempit dan “berdesak-desakan” laksana pemukiman kumuh di perkotaan. Siapa bilang tanah kuburan harus 1 x 2 meter? Dan bagaimana mungkin melaksanakan perintah yang menyatakan sebuah kuburan tak boleh dilangkahi dalam kondisi seperti di pekuburan itu dan pemakaman umum lainnya.

Orang yang menghantar ke pekuburan tak seramai orang yang mensholatkan. Yang tersisa makin terseleksi, sesuai takaran hubungan dengan si mayit. Bagi yang tak punya hubungan, cukuplah ia melaksanakan kifayah-nya karena sudah diwakilkan oleh segolongan orang.

Di kubur itu, sungguh beruntung si mayit. Di tengah areal yang sangat panas dan minus pepohonan peneduh, ia mendapatkan posisi tepat di bawah sebuah pohon seri. Tak perlu payung karena alam sudah menyediakan payungnya dan langit pun, herannya, mengumpul di atas tanah kuburan yang menjadi hak si mayit. Tak ada rintik hujan yang sering disangka orang menangisi si mayit. Tak ada hujan panas, yang sering dibilang orang tanda bahwa ada anak manusia yang meninggal.

Teduh bagi si mayit, namun tidak bagi pelayat. Terik mentari membakar kulit, yang kemudian memberikan sinyal-sinyal ke syaraf agar segera mencari tempat berteduh, tempat berlindung dari terik. Semua manusia membutuhkan perlindungan. Semua manusia membutuhkan jaminan keselamatan. Semua manusia menginginkan kebahagiaan. Bayangkan, kalimat kebahagiaan dunia dan akhirat sungguh tak mempunyai ukuran matematis. Seperti itulah manusia, yang tak punya batasan kecuali umur dan tubuhnya.

Hadian Diturunkan ia perlahan-lahan ke dalam lahat dengan sangat hati-hati. Kain kafannya yang putih mulai disentuh tanah dan kemudian dibaringkan juga di atas tanah. Dua meter di bawah permukaan bumi sekarang si mayit berada. Ia digolekkan menghadap kiblat, seperti yang sering ia lakukan ketika shalat di atas permukaan bumi. Si mayit kemudian menunggu.

Di atas bumi, peziarah menutup tanah dalam satu per satu cangkulan. Hingga kemudian tanah yang coklat itu menutupi seluruhnya tubuh si mayit dan meninggi sedikit di atas permukaan tanah. Selesailah sudah bagi anak manusia itu. Tak ada jalan kembali baginya karena pintu bumi sudah ditutup. Badannya menghadap kiblat, ke arah barat, ke arah ka’bah yang terletak di Makkah Al-Mukarramah. Ia menanti datangnya malaikat bernama Mungkar dan Nakir yang akan bertanya kepadanya. Akankah si mayit menjawab dengan puisi, seperti ia memberi kesaksian ketika berada di atas bumi?

Anak manusia yang masih hidup kemudian mendoakan si mayit di tepi kuburan. Air sejuk disiramkan, bunga ditaburkan dan nisan dipacakkan. Ayat-ayat surat Al-fatihah diperdengarkan. Surat tauhid Al-Ikhlas dibacakan, Yasin dikumandangkan dan doa baginya ditegaskan. Air mata kembali mengalir deras dan jatuh ke bumi. Tangan ditengadahkan, meminta kepada sesuatu yang berada di atas semua yang ada di bumi dan di langit. Meminta, memanjatkan, memohon dan sekaligus menyatakan bahwa anak manusia sungguh tidak punya kuasa apa-apa untuk menjamin dirinya selamat, bahagia dan tidak kurang suatu apa pun.

Satu persatu peziarah meninggalkan areal pekuburan hingga tinggallah seorang. Ia melihat kuburan itu, ia menatap tanah dan tak tampak baginya wajah si mayit. Air matanya kembali meleleh, luluh dan jatuh lagi ke tanah. Ia berdoa lagi, lagi dan lagi. Dikucurkannya air sejuk kembali sembari berharap keselamatan dan kebahagiaan lagi bagi si mayit. Tak ada yang bisa menghitung berapa ribu dan juta doa yang sudah dipanjatkan orang dan terbang ke langit.

Malaikat penanya, mungkar dan nakir, sudah bersiap-siap menunggu langkah yang ketujuh dari peziarah terakhir. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam dan tujuh, si peziarah terakhir menghentikan langkahnya berbalik menatap nisan itu. Di sana tergurat “Mhd Ilyas Nasution bin Somad, wafat 22-3-2007, lahir 1932”. Assalamualaikum, duhai NA Hadian..

* * *

Untuk NA Hadian, seorang yang disebut sebagai “Presiden Penyair” di Sumatera Utara. 

6 thoughts on “Wafatnya (para) Penyair

  1. Siapakah NA Hadian? Puisinya dimuat dimana? Adakah buku puisinya yang sudah terbit? Di tahun 1960-an dulu, saya pernah mendengar nama seorang penyair yang mirip dengan almarhum, yaitu Soekarno hadian. Masih bersaudarakah mereka berdua? Siapa pula gerangan Muhammad Ilyas Nasution bin Somad? Begitu banyak tanya, tapi tak terjawab.

    Like

  2. Penyair Soekarno Hadian tinggal di Yogyakarta (tapi mungkin dia asal Medan), seangkatan dengan Mottinggo Boesje dan Kirdjomoeljo. Saya masih menyimpan majalah kecil yang memuat puisinya, majalah SERIOSA.

    Like

  3. Sungkem Pak Hartoyo…tulisan ini memang tulisan kedua yang ditulis ketika Pak Hadian wafat. Tulisan pertama, sewaktu sakit beliau, memuat profilnya. Tapi tulisan itu hilang entah kemana. Jadi, ini informasi soal beliau yang masih terekam diingatan saya yang cetek ini.

    Nama asli beliau Muhammad Ilyas Nasution. Tapi lebih sering dikenal NA Hadian. Beliau dilahirkan di Medan pada 21 September 1932.

    Di Medan dan dikalangan seniman dan budayawan, beliau dikenal sebagai seorang yang hidupnya total diabdikan pada dunia sastra. Dia selalu menulis puisi setiap hari. Beliau ini adalah menantunya pahlawan nasional HM Joni (yang kini namanya dimaktubkan menjadi sebuah nama jalan besar di kota Medan).

    Tapi, hidupnya sungguh menyedihkan (bagi orang kebanyakan) walau dia sendiri mengaku menikmati kehidupan seperti itu. Mungkin, persis sama dalam takaran tertentu dengan Umbu Langgu Parandi.

    Belaiu pernah menjadi mahasiswa Universitas Panca Budi Medan, Jurusan Filsafat. Pernah menerima penghargaan dari Depdikbud Jakarta, Sumut, Medan dan Sumatera Barat. Beliau juga sudah harum namanya di Malaysia dan pernah mendapatkan penghargaan dari Malaysia.

    Antologi puisinya antara lain (1) Hutan Kelam (1958); (2) Badai (1962); (3) Dialog Pisau (1982); (4) Nyanyian Laut (1998); (5) Laut Senja (1999); (6) Luka Dunia Luka Kita, (7) Laut Mutiara (2005). Sedang antologi bersama cukup banyak yang memuat puisi beliau.

    Di Sumut, Pak Hadian dikenal sebagai Presiden Penyair karena pengaruh, karya, dedikasi, dan tentu saja keseniorannya.

    Dia terus menulis puisi. Bahkan, bila uangnya sedang tak ada hanya untuk membeli rokok, maka dia akan bilang, “Kau belikan aku rokok sebatang, ini kubuatkan puisi.”

    Di akhir hidupnya, beliau sakit keras, dan ironisnya tak ada yang menjaga beliau (kecuali hanya seorang keluarganya). Ia bagai dicampakkan saja baik bagi mereka yang pernah menganugerahinya penghargaan, pemerintah, teman-temannya dan seterusnya. Sebagian kecil seniman, kemudian membawanya ke rumah sakit Pirngadi dan beliau ditempatkan di sebuah ruangan yang luar biasa buruk kondisinya.

    Belum berapa sehat, beliau kemudian dibawa pulang oleh keluarga karena tak kuat membayar. Padahal, beliau punya surat veteran kemerdekaan RI.

    Tapi kemudian, Pak Hadian sakit lagi dan ia kemudian ditemukan tergeletak dalam kondisi parah dan -maaf- “kotor”, di musholla taman budaya sumatera utara. Kemudian, dibawa ke rumah keluarga dan meninggal di sana.

    Saya sendiri tak terlalu dekat dengan beliau, dan beliau pasti tak mengenal saya. Sewaktu saya membesuk ke rumah sakit, beliau membisikkan ke telinga saya, “Bilang sama Ali Soekardi (Wapemred Harian Analisa Medan) dan Ibrahim Sinik (PU Harian Medan Pos), saya sakit. Mereka teman-teman saya.”

    Dia bilang sama saya, “Sudah punya Laut Mutiara (buku puisinya)?” Saya mengangguk dan dia melanjutkan dengan suara yang lirih betul, bahwa puisi dan buku-bukunya masih disimpannya di rumahnya. Karyanya sudah tak terhitung lagi dan tak ada hingga sekarang yang mewariskan.

    Itu dulu, Pak Hartoyo. Bagi saya, Pak Hadian adalah gambaran sebuah dedikasi yang luar biasa untuk sebuah jalan kehidupan.

    Like

  4. Maaf, saya baru membaca jawaban Anda tanggal 1 April 2009. Saya sangat terharu dan salut pada almarhum. Saya tidak mengenalnya, hanya mengenal nama dan puisi-puisinya. Semoga Allah SWT mencintainya. Amin

    🙂 semoga Allah mengabulkan doa-doa kepada beliau. Amin.

    Like

  5. bunga sepi mewarna rindu..
    tak terindah mata menusuk pilu.
    terlihat senyummu mengukir pahatan pena
    tak tergerak arah membisu sunyi

    jejak itu kan tersimpan indah
    walau dunia takkan mengerti
    kau kan slalu dihati
    walau kita terpisah kini

    slamat jalan kakeku tercinta..maaf kan cucumu ini.
    kan kulanjutkan perjuanganmu mengukir indahnya dunia

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s