Saat Rudolf Pardede “Melawan” Mega


Teman saya, Fakhrur Rozi, menuliskan dengan bagus cerita seputar detik-detik ketika gubernur Sumatera Utara, Rudolf M Pardede, akan “mendaftar” ke KPUD Sumut.

Di kediamannya, di jalan Slamet Riyadi Medan, Rudolf bersama pendukung setianya sedang membahas soal pemecatan sementara Rudolf sebagai Ketua DPD PDIP Sumut oleh Ketua DPP PDIP Sumut, Megawati Soekarnoputri.

Suasana emosional jelas sangat terasa mulai dari kediamannya hingga sampainya Rudolf ke kantor KPUD Sumut. Namun pendukung Rudolf masih patuh untuk tidak anarkis. Di kediamannya Rudolf sempat berkata, “Jangan berantam kalian di sana. Kalau tak senang, buat surat protes.” Ini tentu sebuah sikap yang bijak dari Rudolf yang saat ini masih berposisi sebagai Gubernur Sumatera Utara.

Rudolf (dan pendukungnya) tak senang dengan keputusan Mega yang memilih paket Tritamtomo-Benny Pasaribu sebagai calon gubernur-wakil gubernur Sumut 2008-2013 dari PDIP.

Hingga kini, perlawanan Rudolf ini masih terus jadi perbincangan hangat di Sumatera Utara. Bahkan, beberapa hari ini, Rudolf masih “absen” dari tugas-tugas pemerintahan di kantor Gubsu jalan Diponegoro.

Soal perlawanan Rudolf ini akan saya tulis dalam tulisan tersendiri. Untuk sekarang, simak dulu tulisan teman saya ini berjudul Saat Terakhir hingga Rudolf ‘Terbuang’ .

14 thoughts on “Saat Rudolf Pardede “Melawan” Mega

  1. Sebagai seseorang yang pernah besar di Sumatera Utara, khususnya Medan (dari TK sampai tamat SMA) maka nasehat saya kepada para elit itu hanyalah: Sibuk bermain politik sih boleh-boleh saja. Tapi jangan lupa juga mengurus daerah/kota dan mensejahterakan rakyat.

    Minggu lalu saya berkunjung ke Medan (setelah kunjungan terakhir di tahun 2003). Pusing kepala saya melihat kota tersebut. Sampah menggunung di tepi-tepi jalan. (Kata orang, “C’manalah, Bang. Walikotanya lagi di tahanan…..). Di kompleks kantor walikota sedang dibangun hotel dan mall. Lapangan Merdeka dipenuhi kios. Terminal bandara Polonia centang-perenang. Semua lahan menganggur dijadikan ruko.

    Dan saya berani mengatakan, bahwa dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia, inilah kota yang paling tidak punya style dan awut-awutan.

    Oh, Sumut! Oh, Medan!

    Like

  2. Tritamtomo Adi asli putra sumut kah ?? atau kelahiran sumut ??

    Rudolf tidak diusulkan saya setuju. Ijazahgate adalah alasan serius. Di masa Mega memerintah, PDIP masih bisa mengkotakkan isu ini. Tetapi sekarang siapa yang bisa menghalau gelombang protes dan demo ijazahgate jiak tak punya kekuasaan di pemerintahan.
    Tapi saya tidak setuju salah satu alasan DPP-PDIP mencalonkan Tritamtomo-Benny. Mengamankan Pemilu 2009. Ketahuan belang Megawati (dan Taufik Kiemas) sekarang. Demi memuluskan upaya menjadi Presiden 2009, mereka mengorbankan Putra daerah Sumut menjadi pemimpin di daerahnya sendiri untuk kepentingan pribadinya. Carilah di belahan indonesia ini, kepala daerah yang bukan putra asli daerah itu. Bahkan Fauzi Bowo pun kelahiran Jakarta. Inilah akal bulus Megawati. Masih banyak putra sumut yang layak. Sebutlah contoh Cornel Simbolon, Chairuman Harahap. Tritamtomo ? ah, pasti ada “apa-apanya” dengan DPP-PDIP setelah tidak jadi cawagub DKI 2007.

    Like

  3. @ bang mula: dulu sebelum pilkada kota Medan, sudah ada ramalan berjudul “Kota Medan, Berubah atau Ambruk.” Yg punya ramalan ini, sosiolog bernama shohibul anshor siregar.

    @ pemerhati: isu putra daerah memang bakal tetap laku dalam pilgubsu. dan saya setuju, memang ada kesalahan besar yang dilakukan Mega dan DPP PDIP dalam melihat variabel politik menuju pilpres dan pemilu 2009.

    Like

  4. Buat abang, adek dan rekan sekalian.
    Saya justru mengapresiasi PDI-P dalam memilih non-putra daerah sebagai calon gubernur Sumatra Utara. Ini menunjukan PDI-P ingin keluar dari sekat-sekat yang mengkotak-kotakan anak bangsa lewat suku, agama, ras dll. Sebuah langkah maju dan penuh resiko politik, namun dilakukan juga mengingat PDI-P adalah partai yang pluralis.

    Kalo kita tengok konfigurasi legislatif PDI-P, terlihat bahwa orang Batak juga banyak dicalonkan dari Dapil diluar Sumut seperti : Ramson Siagian (jateng), Panda Nababan (Jabar), Effendy Simbolon (jakarta), Maruarar Sirait (Jabar), Sabam Sirait (Jakarta) dll. Mereka tidak mewakili Sumut. Sekarang kita lihat yang mewakili Dapil Sumut dari PDI-P, tidak satupun ada nama Jawa atau Sunda disitu.

    DPP PDI-P bertindak berani dalam mencalonkan Tritamtomo yang Jawa. Menunjukan sebuah visi kedepan dari bangsa Indonesia yang tidak ingin tersekat dan terkotak dalam SARA. Ini akan semakin memperkuat citra PDI-P, sebagai partai yang pluralis, nasionalis dan kebangsaan.

    Partai lain mungkin berpikir seribu kali untuk bertindak seperti PDI-P. Tapi ini PDI-P bung !!! Ketua DPD PDI=P Papua yang rata2 Kristen, dipegang oleh seorang Muslim, Ketua DPD PDI-P Jabar yang secara etnisitas Sunda dipegang oleh seorang keturunan Cina.

    Salut untuk PDi-P yang mempertahankan semangat kebangsaan, nasionalis dan pluralis. Sukses untuk Ibu Mega ditahun 2009 !!!!

    Like

  5. PDIP memang partai yg maju. ngapain rudolp masih mau maju. bayangkan udah tua bos, masa ngak ada yg muda. saya salut sama PDIP. ini indonesia. Ingat identitas kita indonesia.
    Ngapain dipimpin orang satu agama, satu suku, satu daerah tapi ngak maju, dan malah bikin bheboh. saatnya kita tidak berpikir berdasarkan agama, suku dan daerah. tetapi karena kemampuan dan kejujuran.
    bukankah selama ini sudah terbukti bahwa negara ini tidak maju-maju. milih pemimpin aja nggak jujur!!!!!!!!!!

    Like

  6. Ini Medan Bung !
    Masih banyak putra daerah ini yang pintar dan cerdas, jadi biarin aja putra daerah yang memimpin daerahnya sendiri.
    karena dengan putra daerah itu sendiri yang menjadi pemimpinnya maka ia akan lebih mengetahui kultur dari masyarakat yang dipimpinya,
    yang jelas putra daerah ini masih terlalu banyak yang dapat diandalkan ….. Oke ???

    Like

  7. saya anak medan yang melakukan pendidikan di jawa, pertahankan saja putra daerah kita. jangan pula dengan kekuatan politik yang tidak merata hancur kita punya daerah. siapapun yang jadi gubsu (putra dearah) akan mampu untuk mebangun daerah nya sendiri.
    hidup medan..
    hidup medan..
    hidup medan..

    Like

  8. @Musafir…

    Cara anda mengendalikan opini lumayan bagus. Memberikan contoh dengan membandingkan anggota legislatif dan eksekutif. Bagi yang tidak memahami proses memang pasti setuju. Anda tidak jujur dengan tidak menyebutkan system pemilihan yang menjadikan Mangara, Sabam dan Ramson terpilih menjadi Anggota legislatif dari dapil jawa dan tata cara Pilkada. Beda Mas..terpilih dari urutan gerombol dengan memilih individu. Bodohnya orang batak adalah Sok Nasionalis..senang dipuji. Kenapa orang Jawa tidak ada mewakili dapil..belum memenuhi syarat. Mungkin pemilihan yang akan datang sudah ada. Kalo orang Sunda..susah nyarinya di SUMUT mas. Anda kenal Komaruddin Watubun ketua DPD PDIP? coba anda tanya bagaimana beliau bisa menajadi ketua PDIP Papua.

    Like

  9. sepertinya syam-purno yang menang (selamat bung, nasib rakyat sumut ada di pundakmu). tri-ben nomor urut 2. kasat mata rakyat sumut masih inginkan putra daerah, polah khas medan serta kedekatan kultur dan agama. jangan dulu bicara kualifikasi, kualitas, kompetensi dan integritas, yang saya yakin mayoritas pemilih awam hitung-hitungannya atau malah menilai setali tiga uang. di pilkada sekarang yang unggul adalah popularisme bak wak lebay, yang bisa bikin kita tertawa sejenak lupakan kepenatan dan kesulitan ekonomi. toh, dari dulu-dulu pun sedikit sekali relevansi pergantian gubsu terhadap perbaikan ekonomi rakyat terutama di pedesaan dan pantai dan pinggiran kota.
    maka pesan saya, ke depan partai-partai besar, usunglah artis-artis sinetron, para bintang film atau selebriti favorit yang pernah jaya dan masih disanjung masyarakat. bolehlah ada embel-embel gelar lekat di namanya sebagai pengharum. let’s dance together..tomorrow never die. mainkan orgen tunggal tiap malam.

    ah..ma tau awak..(dari pemerhati – jkt-jambi).

    Like

  10. Ibu Mega Wati harus memikirkan kekuatan popularisme putra daerah krn skarang adalah jamannya Otonomi Daerah bukan lagi model Jamannya ORBA.Siapa yg punya prestasi bagus di daerahnya,nasional,maupun internasional hrs didukung Partai.

    Like

  11. Kepada Yth. Rakyat Provinsi Sumatera Utara, Marilah Kita dukung dan Kita Pilih Kembali Mantan Plt. Gubernur Prov. Sumut Thn. 2005 s/d. 2008
    Drs. RUDOLF MATZUOKA PARDEDE, Kembali Menjadi Gubernur Prov. Sumut Thn. 2013 s/d. 2018 Karena beliau merupakan Putra Daerah dari Tanah BATAK, Anak Pejuang (Alm.) TD Pardede, dan Tokoh Karier yang Ahli di Pemerintah Prov. Sumatera Utara.
    Saya Sarankan Kepada Rakyat Prov. Sumatera Utara agar bersatu dan Tidak ANTI POLITIK Apapun dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Prov. Sumatera Utara Thn. 2013 s/d. 2018

    Like

  12. Kepada Yth. Rakyat Provinsi Sumatera Utara, Dalam Mengadapi Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Sumatera Utara Tahun depan 2013 Kita Tingkatkan Persatuan dan Keadilan. Janganlah Kita Pilih Kucing dalam Karung, Marilah Kita Mendukung Kembali Tokoh Putra Daerah kita Drs. RUDOLF MATZUOKA PARDEDE, Menjadi Gubernur Provinsi Sumatera Utara Thn. 2013 s/d. 2018 ( HORAS ).

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s