Gara-gara Presiden


“Bang, cepet…!”

Ramli tergopoh-gopoh mendengar jeritan istrinya, Ida. Usia kandungan Ida sudah sembilan bulan. Jumlah harinya mungkin sudah lebih dari dua puluh hari. Ramli akhirnya panik. Padahal sebenarnya ia sudah latihan. Instrukturnya, mulai dari dokter pribadi (sebenarnya sih bukan pribadi-pribadi amat, soalnya mana mau si dokter cuma punya satu pasien!), bidan puskesmas yang dikenalin teman istrinya, sampe kalangan ibu-ibu, mulai dari ibu kandung, mertua, dan para tetangga “blok gosip”, plus sejumlah majalah keluarga.

Saat itu tengah hari, pukul sebelas lewat sedikit. Setengah berlari, Ramli pergi ke kamar tidur mereka. Muka Ida merah padam menahan sakit. Di bagian bokong baju long dress-nya sudah kelihatan basah. Ramli langsung memapah Ida yang terus-terusan menahan perut bagian bawahnya. Mereka akan berangkat ke rumah sakit.

Tidak ada orang lain di situ. Adik Ramli yang sengaja dibooking tinggal sementara bersama mereka masih belanja di pasar. Tak lama, sepeda motor pun hidup. Ida di belakang Ramli, posisinya menyamping. Melihat speedometernya, Ramli heran melihat jarum bensinnya tidak naik-naik. “Aduh, aku lupa ngisi bensin lagi,” katanya.

Ramli makin panik, bagaimana kalau mogok di jalan? Apalagi ini anak pertama. Kalau laki-laki, Ramli ingin menamakannya Gene Rasibaru (saking sukanya sama aktor hollywood Gene Hackman), kalau perempuan Gender Wati. Yang penting ada kata “Gen”-nya. Istrinya juga punya usul, tapi nanti untuk anak kedua.
“Udah, Bang, ayo berangkat!”

Melewati sebuah gang, lima menit kemudian, mereka berdua sudah beradu dengan angin, debu, asap knalpot, dan terik matahari di jalan raya.
***

Seorang polisi menggenggam handytalkie di ujung bibirnya. Kacamata hitamnya menahan terangnya matahari di persimpangan jalan layang Brayan dan Cemara. Di pojok jalan Krakatau Ujung, juga tampak beberapa polisi lalu lintas berdiri di pulau jalan.
“Jalan sudah clear, Ndan. Ganti!”
“Lima menit lagi masuk, stand by!”

Di persimpangan jalan Bilal dan Krakatau, lima orang polisi dan seorang Polisi Militer juga sudah berjaga. Kesemuanya dalam kondisi sigap. Handytalkie tak boleh dilepaskan. Lampu merah dan hijau kini tak berarti lagi. Sekarang, aparat yang punya kuasa. Kendaraan dihentikan. Tidak ada yang boleh melintas, walau haknya sudah diberikan oleh lampu hijau.

Semua menunggu. Tidak ada tahu harus menunggu siapa. Cuma ada dua kemungkinan. Tentu saja, yang dapat menghentikan aktivitas sebuah proses perjalanan dan pekerjaan – seperti para supir angkot– adalah yang punya kekuasaan. Kemungkinan pertama dan langsung gugur yaitu kereta api. Karena di jalur jalan Krakatau tidak ada perlintasan kereta api. Berarti kemungkinan kedua, penguasa.

Orang-orang yang dihentikan jalannya pun bersungut-sungut. Tidak kedengaran jelas memang. Tapi bisa ditebak. Orang yang setiap hari berkecimpung di dunia politik pasti bilang, ini mungkin penguasa yang mau lewat. Sementara sebagian pengikut faham fundamentalis mengatakan, ini bumi Tuhan, kok bisa-bisanya mengatur perjalanan seorang hamba. Yang agak liberal mungkin berucap, ah pasti ada alasannya dan mungkin gara-gara ini penerimaan negara dari pajak berkurang terus.

Banyak versi tapi pasti lain dengan versi murid SD yang tengah menunggu angkot di simpang jalan Bilal. Kepanasan tapi masih nyengir karena di tangannya tergenggam jajanan es yang warna-warni. “Eh, pulangnya nanti dulu, liat Presiden, yok!”

Tiiinnut…tinut…tinutt… Itu suara sirine. Terdengar dari penghujung jalan Krakatau.

***

Ramli memacu sepeda motornya. Tapi tidak bisa terlalu kencang. Ramli tidak bisa konsentrasi. Tangan kanannya mengendalikan gas, yang kiri lagi lebih sering memegang lutut istrinya. Ramli takut kalau tiba-tiba Ida jatuh. Ya, kalau pakai akal sehat, kalau istrinya akan jatuh pun, tangannya itu pasti tidak kuat mencegah. Tapi dalam kondisi begini, tentu saja Ramli punya pertimbangan lain.

Melewati persimpangan Tanjung Mulia, Ramli belok kanan, menuju arah jalan Krakatau. Dua puluh meter dari persimpangan krakatau dan Cemara itu, terletak Klinil Bersalin yang selama ini menjadi tempat konsultasi kehamilan Ida, sekaligus rencana tempat bersalinnya.

Belum sampai di klinik, Ramli mengernyitkan keningnya. Jalanannya di depannya macet. Suara klakson yang silih berganti membuat keluhan Ida di belakangnya, semakin tidak kedengaran. Sebenarnya Ramli bisa saja menyelip di sela-sela mobil dan truk itu. Tapi kini posisinya tidak bebas. Kondisi Ida di belakang, membuatnya jatuh mental untuk lincah seperti biasanya.

“Aduh, Bang, cepet dikit!”
“Sabar. Tahan dulu, Da. Kita dah mau sampe. Masih lampu merah, tunggu, ya.”

Tak lama lampu hijau menyala. Suara klakson semakin memekakkan telinga. Ramli semakin tak sabar. “Woi, cepat. Udah hijau tuh…!”

Klakson semakin riuh. Tiba-tiba dari jauh, suara sirine terdengar semakin mendekat. Suara klakson sedikit mereda. Tapi Ramli tidak perduli, ia tetap menekan klaksonnya. Yang penting, ia cepat tiba di klinik bersalin. Tapi karena masih macet, usahanya tetap sia-sia saja.
“Ramli tunggu sebentar ya, Abang lihat ke depan dulu.”
“Jangan, Bang. Ida takut.”
“Udah, nggak apa-apa. Sebentar saja.”

Di celah sempit itu, Ramli kemudian mencagakkan keretanya. Ida masih tetap duduk di bangku belakang, tapi kakinya dijijakkan ke tanah. Ramli bergegas menuju barisan depan dari kemacetan itu. Sampai di persimpangan, ia melihat dari jauh sebuah iring-iringan kendaraan yang dipandu dua sepedamotor milik Polisi Militer, sedang berjalan lambat-lambat. Bahkan sesekali berhenti. Presiden menyalami rakyat.

Tak sabar ia kemudian mendatangi seorang petugas kepolisian yang sedang berdiri tepat di bawah lampu merah.
“Pak, siapa itu? Masih lama nggak lewatnya, Pak?”
“Presiden yang lewat!” petugas itu menghardik, sikapnya acuh tak acuh. Ramli tak perduli, yang penting istrinya bisa cepat sampai.

“Apa nggak bisa dipercepat aja, Pak. Istri saya mau melahirkan.”
“Kok kamu yang ngatur?! Dia itu Presiden, dia yang mengatur negara ini. Kamu mau saya tangkap?! Mana SIM kamu?!

Darah Ramli langsung naik dihardik demikian. “Pak! Istri saya mau melahirkan, saya cuma mau lewat sebentar saja.”

“Gak bisa! Pergi sana!” petugas itu menghardik lagi. Ia melangkahkah kakinya selangkah ke depan.

“Persetan sama Presiden!” maki Ramli.

Ramli membalikkan badannya kembali ke sepeda motornya. Ida semakin tampak kepayahan. Cairan yang keluar semakin banyak. Bahkan ada tetesan darah sedikit. Ramli semakin panik. “Udah ayo, kita pergi saja.” Ida tak bisa menjawab lagi. Perutnya sudah sangat sakit. Ia mengigit bibirnya. Tak tega, Ramli kemudian mengangkat tubuh Ida. Sambil berjalan membujur di celah-celah kendaraan, Ramli menerobos sampai ke persimpangan lampu merah itu.

“Hei, jangan lewat!” kata petugas yang menghardiknya tadi. Ramli tidak perduli. Percuma berdebat dengan orang yang sedang punya kekuasaan. Dibawanya Ida melintasi persimpangan, berjalan di atas pulau jalan. Beberapa petugas mengejarnya dan berhasil menjangkau kerahnya. Tapi, Ramli tak berhenti. Iring-ringan yang sedang melintasi jalan Krakatau itu pun tidak dilihatnya lagi. Setelah sepeda motor pengawal lewat, ia langsung melintas. Tak bisa cepat, karena tubuh Ida sangat berat. Tepat di depan mobil mercedes berplat Indonesia 1, Ida menjerit.
“Bang, Aku sudah tak tahan!”

Ida pingsan. Darah yang keluar dari selangkangannya sudah sangat banyak. Tubuh Ida pun semakin berat.

Ramli menghentikan langkahnya. Ia menatap mobil Indonesia 1 yang kini tepat di hadapannya. Wajahnya merah, tersengat panas bercampur kemarahan. Mobil Indonesia 1 terpaksa berhenti. Rombongan yang di depan pun berhenti. Sang presiden keluar dari mobilnya.

“Semua gara-gara kau!”

* * *

foto:

1. http://www.apclergy.org/images/president.gif

2. http://images.jointeffortchiro.com/local/59/Foot_coming_out_of_pregnant_belly.jpg 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s