Pencipta + Mencipta = Asumsi


Suatu hari, seorang moderator mengingatkan pada seorang pembicara dan peserta. “Untuk menghemat waktu, mohon pertanyaannya disingkat saja dan langsung to the point.”

Si pembicara memotong. “Ah, saya tak bisa melakukannya. Bagaimana mungkin waktu bisa dihemat? Dia akan tetap berjalan, tak perduli apakah kita terlambat ataupun menyegerakan pembicaraan ini.”

Peserta mendongak. Tak ada yang menyangka si pembicara akan melontarkan ide nyeleneh itu. Bagaimana mungkin kita bisa menghemat waktu?

Manusia ibarat berjalan di atas, meminjam istilah Dedy Mizwar, sebuah lorong waktu. Koridor itu panjang betul dan tak diketahui ujungnya. Pangkalnya kita sama-sama tahu, yaitu ketika manusia dilahirkan. Tapi itu pangkal kita sebagai seorang individu. Di atas lorong itu, ternyata manusia lain sudah berjalan, duduk-duduk sampai berlari. Manusia menghuni sebuah tempat yang sudah didiami oleh manusia lain. Yang tetap, ya, rel itu.

Lorong itu kemudian ditentukan berdasarkan dua makhluk yang sungguh setia kepada manusia, bulan dan matahari. Matahari, dalam ilmu alam dikategorikan sebagai salah satu bintang. Jasa matahari terhadap manusia tak terperikan. Bangsa Mesir bahkan menganggapnya sebagai Dewa. Sang dewa ini kemudian dijadikan sebagai ukuran waktu.

Matahari terbit dijadikan awal hari dan ketika terbenam menandakan hari sudah hendak beralih. Matahari menjadi penentu aktivitas. Bila terbit, kehidupan pun dimulai. Dedaunan bermekaran, ayam mengokokkan suaranya, dan manusia lantas membancuh tehnya. Manusia telah bangun dari tidurnya.

Tidur memang milik malam, ketika matahari sudah tak bersaksi lagi dan sedang berjalan-jalan di belahan bumi yang lain.

Dulu, sewaktu paradigma geosentrisme masih melekat, bumi haram dikatakan bulat. Ia memanjang lurus ke depan laiknya sebuah lapangan bola. Garis horison yang lurus itu menjadi batasnya. Galileo Galilei menjadi salah satu korban menentang paradigma ini. Heliosentrisme yang dikatakannya, merujuk pada pendapat Copernicus, menjadi pasal utama.

Galileo rupanya benar. Namun, kebenaran itu diakui ketika ia sudah mangkat. Tapi, Galileo pasti tak perduli apakah kebenaran yang diungkapkannya itu akan disaksikannya ketika hidup atau saat ia sudah tak di dunia lagi.

Galileo orang yang tak perduli akan waktu. Ia berjalan di atas waktu tanpa sedikitpun dipengaruhi apakah waktu akan melindasnya. Sikapnya ini, menjadikan ia jauh lebih besar dari ruang dan waktu. Waktu memang terus berjalan, dan kemudian sejarah membuktikan kalau namanya bahkan masih ditulis, di antaranya dalam blog ini.

Manusia memang akan diingat oleh satu hal saja, nama. Shakespeare menyadari ini. Dengan logika terbalik, ia melontarkan caption yang paling terkenal sepanjang masa: “What is in a name?”

Kandungan sebuah nama sungguh dalam. Di dalamnya ada sebuah energi untuk melahirkan sebuah maha karya. Hubungan antara keduanya, simbiosis mutualistis. Bila sebuah nama tak disertai karya, maka hancurlah nama itu seperti debu. Bila sebuah karya tanpa nama, maka leburlah dia oleh para plagiator dan para pencuri.

Karena itu, manusia diberikan salah satu sifat dari Tuhan, mencipta. Ali Shari’ati, seorang intelektual asal Iran, punya contoh bagus soal hal ini. “Tuhan mencipta tanah liat, manusia menjadikannya tembikar,” katanya. Tuhan bukan tak mungkin menciptakan tembikar, tapi ia menyerahkan urusan itu pada manusia.

Oleh sebab itu, manusia disebut pencipta kedua. Anugerah ini tak dimiliki tiga makhluk lain: malaikat, hewan-tumbuhan, dan jin. Itu karena potensi kreasi hanya ada di benang-benang syaraf otak manusia. Jalinannya begitu rumit untuk dipahami oleh makhluk lainnya.

Satu lagi kekhasannya adalah manusia bisa bertindak sesuka hatinya dengan ciptaannya. Pertemuan cahaya dan air memang membentuk pelangi. Tapi sampai kapanpun, warna pelangi akan tetap merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Namun, bila manusia melukis pelangi, ia bebas meletakkan, menambah atau malah merubah warna apa saja di sana.

Derajat manusia lebih tinggi dari makhluk apapun. Saking tingginya, ia lantas berusaha mencapai derajat ketuhanan dan bernafsu menggusur tuhan itu sendiri.

Beruntunglah seniman, karena ia termasuk salah satu makhluk yang tertinggi itu. Dengan berkarya, ia sudah memposisikan dirinya sebagai salah satu pencipta.

Masih ingat definisi kebudayaan miliknya Koentjoroningrat (alm.)? Kebudayaan merupakan hasil cipta karya manusia. Kebudayaanlah yang membuat manusia kembali ke khittah (asal muasal) penciptaanya.

Sekecil apa pun bentuk kebudayaan itu, itulah kodrati manusia. Ketika dia tidak sedang mencipta, maka unsur-unsur kemanusiaannya mulai berjatuhan. Ketika dia tidak sedang merangsang syaraf-syarat otaknya untuk menghasilkan sesuatu, maka dia sedang sakit.

Soal besar atau tidak hasil karya itu, itu bukan lagi urusan sejati manusia, tapi itu sudah persepsi. Bom atom dikenal sebagai salah satu inovasi tertinggi manusia di bidang persenjataan. Tapi, bom atom ini tak ada harganya sama sekali terhadap para petani kuli kontrak. Roman Romeo and Juliet disebut sebagai salah satu masterpiece di bidang sastra. Tapi, adakah artinya karya ini bagi seorang yang buta huruf dan tuli?

Kebalikannya, cangkul sering disebut sebuah ciptaan yang main-main dan sepele. Tapi, gara-gara itu, orang Indonesia bisa-bisa tak makan nasi.

Di satu titik penciptaan, maka ada berjuta persepsi. Di satu titik, bisa ada dua hal yang bertolak belakang. Di hari kamis lalu, ada dua ciptaan manusia, dua hasil karya manusia, yang menentukan proses penciptaan lainnya. Di hari kamis yang lalu, dua kelompok besar dunia, menandai hari itu dengan tanggal 10 Januari 2008 dan 1 Muharram 1429.

Di kalender gregorian, Kamis 10 Januari 2008 mungkin tak berarti apa-apa. Tapi di kalangan umat Islam, Kamis 1 Muharram 1429 adalah penentu beralihnya sebuah tahun. Di tanggal itu, peristiwa kebudayaan membanjiri. Contoh kecil saja, di Jawa, ada peringatan malam 1 Syuro. Serangkaian ritus kebudayaan nan religius pun bisa dilihat di sana. Mulai dari sekedar nasi tumpeng rakyat jelata sampai kirab keraton Yogyakarta. Berjuta doa dan pengharapan dipanjatkan melalui simbol-simbol kebudayaan.

Tapi apakah Anda tahu tanggal berikut ini: Selasa, 22 Dzulhijjah 1428 H? Di hari itu, kalender gregorian menunjukkan 1 Januari 2008. Pada tanggal itu, ritus kebudayaan modern mengenal mercon, petasan, kembang api, pesta dan lainnya menjadi simbol peralihan tahun. Soal religius atau tidak kebudayaan itu, tergantung persepsi Anda. (*)

* * *

foto:

1. http://www.cordula-philipps.net/fireworks01.jpg

2. http://www.sasak.com/images/photo05.jpg

2 thoughts on “Pencipta + Mencipta = Asumsi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s