Being A Governor


Being a gavernor sangat berbeda dengan calon gubernur. Jelas ini memang jauh hubungannya dengan sekat-sekat hukum yang sempit dan tak masuk di akal sehat itu.

Ia tidak akan mengatakan ia adalah seorang calon. Bahkan, dia akan merendahkan dirinya dengan hanya mengatakan sebagai calon.

“Saya akan memimpin Anda semua, masyarakat Sumatera Utara, untuk merubah nasib kita dan bahwa kita tidak ditakdirkan oleh Tuhan terpuruk begini!”

“Bagaimana caranya?”

“Saya akan menjadi gubernur Anda semua! Saya berkeyakinan, takdir Sumatera Utara ada di tangan Anda semua. Saya akan memimpin perubahan ini.”

“Ah, Bapak berarti hanya seorang calon.”

“Duduk atau tidak, itu bukan masalah lagi. Calon atau tidak, bukan persoalan besar bagi saya. Kalau mereka tidak menyediakan perahu, mari bersama membuat kapal!”

“Tapi, itu tak realistis, Pak!”

“Tidak ada perjuangan yang realistis. Tapi kita semua mesti bangkit dari tidur yang panjang ini. Dua tangan saya ini kecil, saya butuh berjuta tangan Anda!”

“Apa Bapak akan ingat janji Bapak ini!”

“Saya tidak sedang berjanji kepada Anda. Ini merupakan hidup saya. Saya hendak merubah masa depan saya. Saya mau, Anda dan saya hidup tidak dalam penindasan, ketidakadilan, kebohongan dan kebusukan. Bila Anda luka, saya juga luka, bila Anda dibohongi sayalah yang pertama kali dikhianati, bila Anda ditindas sayalah yang lebih dulu dizhalimi!”

“Kami lemah dan miskin, Pak.”

“Bila Anda miskin, saya akan tidur di samping Anda. Bila Anda lemah, maka ambillah darah saya. Bila Anda tak sejahtera, maka rampok saya. Bila Anda mendapat ketidakadilan, bunuhlah saya!”

“Anda terlalu pemimpi, utopis! Bapak tidak paham fakta politik saat ini. Dan karena ketidakpahaman Anda itu, Anda belum pantas memimpin kami!”

“Apakah maksud Anda saya harus ikut dalam permainan politik kotor itu? Apakah Anda sedang menginginkan saya untuk membodohi Anda? Apakah Anda lebih senang bila saya minum teh dan tidur bersama konglomerat di banding dengan Anda? Apakah Anda menyuruh saya membeli seluruh partai politik, organisasi dan orang yang Anda anggap tokoh itu, hanya untuk meletakkan nama saya sebagai calon mereka?”

“Lho, itu realitasnya!”

“Anda salah! Andalah yang sedang bermimpi di siang bolong ini. Andalah yang sedang menjerumuskan saya. Apakah Anda berpikir, mereka akan memilih saya? Apakah Anda berpikir mereka tidak sedang memeras saya? Darimana saya peroleh uang? Apakah Anda menyuruh saya korupsi dan memakan hak-hak Anda?

“Saudaraku, bangkitlah dari tidurmu itu. Jangan kau biarkan tirani memperdayamu. Hukum harus ditegakkan di tanah ini! Politik harus dibersihkan! Ekonomi harus diadilkan! Budaya harus dihidupkan!”

“Saya orang yang berakal sehat. Karena itu saya masih sangat percaya, banyak orang yang masih sehat akalnya dan bersih hatinya. Masih terlalu banyak orang yang ingin kita tidak terpuruk terus. Masih banyak dari kita yang ingin merubah nasibnya dengan hidup jujur dan mencari penghasilan dengan tenang. Masih banyak kita yang tak ingin didiskriminasi. Masih banyak di antara kita yang mau terus bersekolah hingga setinggi-tingginya!”

Dan, saya tidak sedang bermimpi. (*)

* * *

foto: http://www.thenewpilgrim.org/Images/one%20finger.jpg

3 thoughts on “Being A Governor

  1. @ herman: sy emang mo jd gubernur, tp gak kek zaman belanda dulu lah … kampanyenya dari sekarang ini …😀

    @dit : emg aq ini lg kampanye loh untuk 15 taon ke depan😀, ntar pilih aq ya… /:)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s