Sssst…Soeharto Mulai Direhabilitisir, Lho


Politisi orde baru memang jempolan. Mantan Presiden Soeharto, yang menjadi musuh besar zaman reformasi, mulai direhabilitasir nama dan kelakuannya. Partai Golkar, salah satu mesin politik utama Soeharto, terlibat langsung dalam permainan itu.

Satu contoh bisa dilihat dari ucapan Ketua DPP Partai Golkar, Theo Sambuaga. Theo menyatakan, partainya akan memperjuangkan agar kasus hukum mantan Presiden Soeharto dikesampingkan. “Kita sebagai anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar akan memperjuangkan itu,” kata Theo yang juga Ketua Komisi I DPR usai menjenguk Soeharto di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta, Minggu (6/1) sekitar pukul 18.35.

Ia mengatakan pengesampingan perkara atau deponering itu hanya berlaku bagi kasus hukum yang terkait untuk mantan Presiden Soeharto saja, bukan bagi anak-anaknya maupun kroni-kroninya. “Ya Pak Harto-nya saja,” katanya ketika ditanya wartawan mengenai hal itu.

Ia menambahkan, pengesampingan perkara tersebut dapat dilakukan oleh Presiden.
“Ada ketentuan UU-nya, azas oportunitas, dimana Presiden bisa meminta Jaksa Agung untuk mendeponer perkara itu,” katanya.

Lontaran-lontaran untuk merubah imej Soeharto ini memang terus dilakukan tidak hanya oleh politisi Partai Golkar, tapi bahkan sudah menyerempet ke Istana. Asyiknya, SBY dan Kalla pun kelihatannya tampak kompak dalam hal ini.

Menariknya, momen sakitnya Soeharto dijadikan sebagai modus untuk merehabilitasi nama dan perilaku Soeharto. Sejarah nasional yang sangat kabur di zaman orde baru pun bakal terulang kembali.

Tapi, tentu saja, tidak ada yang gratis di dunia politik. Nah, yang asyik dibicarakan, salah satunya, bagaimana bentuk kepentingan itu? (*)

* * *

fotohttp://www.lampunginteraktif.com/gambar/berita/24.jpg 

4 thoughts on “Sssst…Soeharto Mulai Direhabilitisir, Lho

  1. Ramai-ramai Membesuk Suharto

    Disebabkan oleh namanya, disebabkan oleh peranannya dalam kehidupan bangsa dan negara ini, dan disebabkan oleh beberapa faktor lain, maka harus kita akui bahwa peristiwa sakitnya Suharto adalah juga sebuah peristiwa politik.

    Karena itu juga, suka atau tidak suka, kedatangan beberapa politisi yang membesuknya di RS Pertamina adalah juga sebuah peristiwa politik. Memang, bisa saja seorang Susilo Bambang Yudhoyono, Yusuf Kalla, Abdurrahman Wahid dan lain sebagainya itu mengatakan bahwa kedatangan mereka semata-mata dilandasi oleh faktor kemanusiaan. Tapi sebagai figur politik maka tidak salah juga kalau publik menangkap isyarat-isyarat politik, atau membuat penfasiran-penafsiran politik dari kedatangan tersebut.

    Sebagai figur politik, maka ketika memutuskan untuk datang menjenguk Suharto, tokoh-tokoh tesebut tentu juga sudah melakukan kalkulasi: Bahwa adalah lebih menguntungkan bagi posisi politiknya kalau ia datang menjenguk ke RS Pertamina atau membiarkan kedatangannya tersebut dipublikasikan secara luas. (Dan di fihak lain kalkulasi yang sama jugalah yang diambil oleh seorang Megawati atau Amien Rais kalau mereka memutuskan untuk tidak datang menjenguk atau membiarkan kedatangannya dipublikasikan).

    Kalau alasannya adalah benar semata-mata demi kemanusiaan, untuk apa datang pada saat Suharto tak sadarkan diri? Atau, kalau alasannya benar adalah demi kemanusiaan, rasa simpati itu tokh bisa saja disampaikan secara diam-diam kepada keluarga terdekatnya.

    Dan perlu juga kita ingat bahwa semasa berkuasa Suharto juga adalah politisi yang punya rasa kemanusiaan. Hanya saja, dia tidak emosional. Dia tahu kapan memainkan bahasa politik dan kapan memainkan bahasa kemanusiaan. Pada saat lawan politiknya sudah tidak ada barulah dia menyempatkan diri untuk melayat ke rumah duka. (Paling tidak itulah yang dilakukannya terhadap Sukarno, A.H. Nasution dsb). Suharto tidak sebentar-sebentar datang membesuk ke rumah sakit.

    Lalu timbullah pertanyaan: Mengapa para politisi, yang katanya kampiun reformasi itu, berlomba-lomba seperti bebek untuk unjuk muka membesuk Suharto?

    Jawaban hanyalah: Bahwa ternyata pengaruh Suharto masih sedemikian besar. Atau, paling tidak, para politisi yang mengaku kampiun refomasi itu berkalkulasi: Bahwa Suharto masih hidup di hati sebagian besar rakyat Indonesia. Menunjukkan simpati secara terbuka terhadap Suharto berarti merupakan tabungan politik untuk Pemilu yang akan datang. (Kalau bukan karena kalkulasi politik, untuk apa Agung Laksono harus buru-buru mengeluarkan pernyataan agar tuntutan hukum terhadap Suharto dibatalkan saja?).

    Lalu timbullah lagi pertanyaan: Apakah sinyalemen para politisi itu memang benar? Apakah memang pengaruh Suharto masih hidup di hati rakyat?

    Saya memang tidak tahu apa yang ada di hati 200-an juta kawan saya sesama rakyat. Tapi paling tidak, secara pribadi saya bisa mengatakan:

    Dari aspek kemanusiaan saya mempunyai perasaan tersendiri terhadap Suharto: Saya kasihan melihat seorang bapak yang di usia tuanya harus menderita berbagai penyakit dan menghadapi berbagai tuntutan hukum.

    Tapi dari aspek politik saya juga mempunyai perasaan tersendiri yang lain lagi terhadap Suharto: Ia adalah orang yang paling bertanggung-jawab atas keterpurukan yang dialami oleh negara dan bangsa ini. Dan ia harus mempertanggung-jawabkan hal tersebut. Itulah pendapat saya di tahun 1998. Dan itu jugalah pendapat saya di tahun 2008 ini.

    Akhirnya kepada para politisi yang mengaku kampiun reformasi itu izinkan saya mengatakan: Anda terlalu emosional, cengeng dan mencla-mencle. Dan anda salah membaca pikiran saya sebagai rakyat. Atau, saya jadi curiga, jangan-jangan anda naik ke tampuk kekuasaan di era reformasi ini memang masih dikarenakan oleh restu dan pengaruh Suharto. (Dan untuk itu saya akan membuat perhitungan dengan anda di tahun 2009).

    Like

  2. Seorang pembunuh berdarah dingin, akan sangat menikmati ketika korbannya sedang sekarat menemui ajalnya. Sayang, politisi Indonesia tidak berdarah dingin. Darah mereka biru, karena lahir dari feodalisme yang diciptakan oleh orde baru.

    Soeharto, beruntung, punya darah dingin itu. Ia menyematkan AH Nasution sebagai Jenderal Besar, di samping dirinya. Dan, ah, dia pun mengaku flu ketika supersemar sedang ditandatangani Soekarno (kalaupun isu supersemar itu memang ada).

    The smiling general akan tetap hidup dari asupan para hipokrit. Bukankah bokong orang yang dijilat akan tetap bersih, sementara lidah para penjilat justru penuh tinja?

    Thanks 4 visiting my blog, Pak Harahap. Sy sungguh tersanjung.

    Like

  3. Cocok kiranya Dia (baca Soeharto) disebut pembunuh berdarah dingin, karena dia bangga sekali dengan kejahatan HAM yang pernah dilakukannya, semasa ordebarunya.
    Kita bisa tahu nanti, ketika kita melihat siapa-siapa saja, oknum-oknum serta atau politisi-politisi mana saja yang datang menjenguk mantan penguasa orde baru ini. itulah dia para Penjilat, Munafik, yang bermacam-macam kadarnya dan bermacam-macam statementnya.
    Awas….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s