Qabil, Abdillah dan Seni


Abdillah

Membuka tahun 2008, penguasa kota Medan, Abdillah, akhirnya ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pria ini pernah menjadi aktor Teater Nasional di Medan kurun 1970-an. Seni tak ada hubungannya dengan moralitas?

* * *
Belumlah tentu seorang yang berkesenian akan bagus juga perilakunya. Tapi sudahlah pasti, salah satu tujuan seni adalah soal budi pekerti. Adakah tujuan lain, yang negatif dan destruktif?

Sial, rupanya ada. Seni yang muncul dan kemudian menghancurkan manusia justru sudah bisa dijejak ketika manusia bertapak di muka bumi. Tapi, siap-siaplah kecewa, bila ini bukan cerita seni dalam konsep lagu, tari, pahat dan ukir, lukisan dan seterusnya.

Ceritanya dimulai saat Adam dan Hawa punya dua orang anak lelaki, Qabil dan Habil. Karakter Habil digambarkan sebagai protagonis alias karakter baik-baik. Sebaliknya, Qabil adalah seorang antagonis.

Namun, Habil tak seluruhnya sempurna. Pasangannya, lebih tepatnya saudara kembarnya, bernama Labuda, tak cantik dan katakan saja, tak seksi. Ini memang bukan skenario ala Hollywood, Bollywood ataupun mainstream sinetron dan film-film Indonesia terkini, di mana si cantik berpasangan dengan si ganteng. Sementara, kembarannya Qabil, Iqlima, diceritakan dalam sosok yang luar biasa “duniawi”, sudahlah cantik prigel (cekatan) pula.

Dengan sistem persilangan, jodoh Habil adalah Iqlima, sementara Qabil dengan Labuda. Mudah ditebak, Qabil menolak. Di situ, ia mempertunjukkan sifat dasar manusia yaitu penyuka keindahan dan penolak keburukan. Mengapa pula ia harus dijodohkan dengan seorang yang buruk rupa sementara tersedia sesosok yang akan bisa membuatnya hidupnya lebih tenang, bertenaga dan puas?

Salah satu sifat dasar seni sudah muncul di diri Qabil, yaitu keindahan. Keindahan merupakan azasi manusia. Namun, perspektif keindahan memang tergantung persepsi dan asumsi. Dalam ranah sekarang, walaupun bagi awam aliran abstrak susah dilihat kemolekannya, namun seni rupa dan teater sudah memasukkannya sebagai salah satu aliran utama. Tak mungkinlah, para seniman itu salah dalam mengartikan keindahan, bukan?

Di depan Qabil, terpampang goretan paling indah dalam “awal sejarah realisme”. Iqlima merupakan potret keindahan yang harus dimiliki, dinikmati, dijadikan pendamping hidup, membentuk inspirasi dan kemudian melahirkan generasi-generasi yang jauh lebih indah dari keindahan awal. Puluhan ribu tahun kemudian, persepsi Qabil ini masih diterapkan oleh orang-orang modern. Bukankah sering kita dengar, orang jelek hendak mengawini manusia cakep untuk “memperbaiki keturunan”? Untuk soal ini, manusia memang tetap kolot.

Tapi, garis penggurat “lukisan alam” itu rupanya tak cocok dengan Qabil. Tuhan memerintahkan, harus disilang. Qabil harus menikahi Labuda dan Habil dengan Iqlima. Perspektif dikotomis yaitu baik-buruk dan cantik-jelek, sudah diterapkan di sini.

Kelanjutan cerita ini sudah diketahui. Qabil memaksakan kehendaknya untuk meraih keindahan yang diciptakan Tuhan itu. Adam sebagai bapak moyang manusia, atas perintah Tuhan, kemudian menitahkan siapa yang mendapatkan Iqlima adalah siapa yang berqurban paling ikhlas di antara keduanya. Qabil kalah dalam “kontes” keikhlasan itu. Habil pun dijodohkan dengan Iqlima.

Tak terima dengan putusan itu, Qabil kemudian harus menjalani status sebagai orang pertama di muka bumi yang membunuh manusia dan kemanusiaan. Dialah orang pertama yang menumpahkan darah manusia pertama kali karena tidak puas dengan keputusan itu.

Sungguh, ia sangat terobsesi terhadap keindahan Iqlima. Qabil menyebutkan, tidaklah pantas ia disandingkan dengan Labuda yang buruk rupa. Untuk obsesi ini, benarlah bila Qabil merupakan gambaran “paling sempurna” untuk seorang manusia modern. Qabil merupakan manusia yang paling eksistensialis. Jean Paul Sartre harus menundukkan kepalanya kepada Qabil. Qabil berjuang demi identitas dirinya itu, bahkan dengan melakukan perlawanan terhadap sesuatu yang tak pantas menjadi lawan, Tuhan.

Tidak ada orang zaman sekarang yang senekat Qabil hanya demi setitik keindahan itu. Fir’aun yang digambarkan sebagai diktator paling wahid pun harus tunduk di kaki Qabil. Pasalnya, Fir’aun melawan Tuhan justru dengan mengangkat dirinya sebagai tuhan. Ia tak yakin dengan jati diri manusia.

Perlawanan Qabil adalah perlawanan seorang anak manusia terhadap Tuhan. Ia tak pernah memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan seperti Fir’aun. Bahkan atheis pun, dalam rangka perlawanannya dengan konsep Tuhan, meniadakan peran Tuhan dalam kehidupan sehingga amanlah mereka ketika tak harus berperang dengan siapa pencipta dan aturan yang dibikinnya.

Seni untuk seni
L’art pour l’art alias seni untuk seni mungkin sudah sedikit usang. Di situ, manusia boleh menciptakan kesenian apa pun, tanpa harus risih dengan keberadaan Tuhan, apalagi malu kepada manusia lainnya. Intinya adalah asalkan ia bersifat seni atau esensinya kesenian.

Qabil adalah simbol dari seni untuk seni. Demi persepsinya terhadap keindahan tadi, ia melawan struktur eksistensi manusia. Ia menobrak aturan dan menerobos norma dan moralitas yang padahal terpampang jelas di sosok Iqlima. Ia tak seperti Habil, yang entah bagaimana sabarnya, melayani apapun persepsi Qabil terhadap Iqlima, walaupun ia merupakan orang yang paling berhak terhadap Iqlima. Qabil adalah perlambang penikmat, penafsir dan ingin memiliki seni yang meledak-ledak.

Ia mabuk dengan cita rasa keseniannya yang tinggi. Ia menelantarkan akalnya dan menyerahkan seluruh penafsirannya atas seni kepada nafsunya. Seninya merupakan ejawantah dari keliaran manusia terhadap alam, salah satu guru dan cermin bagi kesenian. Dengan buas, ia sama sekali tidak menoleh sedikitpun terhadap saudaranya, Habil, yang notobene manusia juga. Tabiat begini ini, kemudian mewariskan sifat eksploitasi bagi manusia-manusia selanjutnya.

Ia tak ingin berbagi, karena baginya seni adalah untuk diri sendiri dan suatu privasi yang bukan untuk didiskusikan.

Bukanlah Tuhan yang bertanggung jawab bila Iqlima yang cantik itu menjadi muasal pembunuhan manusia. Karena dalam maha karya itu, tak disuratkan kerusakan dan pengrusakan dalam Iqlima. Bahkan, ia menyertai konsep Iqlima dengan seperangkat peraturan demi kelangsungan kehidupan. Iqlima “diniatkan” bukan untuk konsep seni untuk seni.

Mengapa mesti ada dikotomi cantik dan jelek? Mari ibaratkan Iqlima yang cantik dan Labuda yang buruk sebagai sebuah skenario. Jelek betul skenario itu bila menuliskan Iqlima dan Labuda adalah dua sosok yang sama-sama indah dan menarik, karena suspens (ketegangan) ceritanya tak kelihatan dan akan menjadi hambar. Dan, Tuhan tentu tak sedang bermain-main dengan ciptaannya.

Penjara
Sartre, orang yang pernah menolak Nobel Sastra, bilang, manusia adalah kebebasan itu sendiri dan silahkan tersenyum, bila kemudian Satre menyambungnya dengan kalimat: kebebasan adalah hukuman bagi manusia.

Tapi, Abdillah tentu bukan Qabil. Abdillah menjadi terhukum karena kebebasannya. Dan kini, kebebasannya sudah diberangus pula ketika ia ditahan oleh KPK. Melihat riwayatnya yang pernah menjadi seniman Teater Nasional di Medan, ambil yang positifnya saja: jangan-jangan ia nanti seperti Pramoedya Ananta Toer pula, yang melahirkan karya seni terbaiknya justru dari bilik penjara Pulau Buru?

Aneh memang, ketika orang berkesenian tapi moralnya tak juga halus. (*)

* * *

fotohttp://www.cenpeg.org/image/IA_drwgs/IA_20_s2007.gif 

2 thoughts on “Qabil, Abdillah dan Seni

  1. kenapa ” Tuhan Kita ” menciptakan manusia dan menurunkan adam dan hawa ke dunia , kenapa tidak adam dan adam atau hawa dan hawa ?

    inilah yang di tentang uliL liberal🙂
    mereka melegalkan perkawinan sejenis atas dasar HAM,
    ham…ham…! Ham nyleneh •

    artinya ,Tuhan Kita punya maksud menurunkan adam dan hawa pastinya,

    apakah Quran di rumah uliL tidak ada surat tentang Luth ?

    tentu ada, tapi dia punya tafsiran lain hehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s