Sumatera Gubernur Calon Utara


Tabularasa sebuah teori yang lahir dari pena John Locke (29 Agustus 1632 – 28 Oktober 1704), filsuf Inggris itu. Dia bilang, seorang anak manusia dilahirkan dalam keadaan bersih, tidak ada membawa apa-apa seperti sehelai kertas yang masih kosong.

Sekilas, teori ini mirip dengan konsep fitrah dalam Islam, yang dikeluarkan sejak tahun 571 itu, yang menyebutkan bahwa setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan suci.

Tabularasa erat kaitannya dengan istilah bahasa ibu. Bahasa ibu merupakan asupan pertama yang menggores di kertas tabularasa itu. Seorang bayi akan melontarkan simbol bahasa, seperti suara (verbal) dan gerak (non verbal), seperti ibunya. Teori ini bahkan sudah berada di derajat hukum dalam ilmu sosil, artinya kemungkinan untuk diganggu-gugat tipis sekali: bahasa ibu adalah bahasa manusia.

Dalam kata “bahasa ibu” memang ada terselip isu gender. Kalaupun nantinya si anak bayi itu dipelihara oleh bapaknya atau seorang laki-laki, maka tetap saja tidak pernah dikenal istilah bahasa bapak. Ini salah satu anugerah yang diberikan Tuhan kepada perempuan yaitu amanah untuk memelihara makhluk manusia. Karena itu, perempuan menjadi penentu akan keelokan bahasa manusia.

Mari putar sedikit riwayat nabi umat Islam, Muhammad. Setelah ia dilahirkan oleh Aminah, ibunya, oleh kakenya Abdul Muthalib, ia disusukan kepada Halimah As Sa’diah, seorang wanita yang berasal dari kampung Bani Sa’ad. Halimah tinggal di sebuah pedesaan yang jauh dari hikuk-pikuk Mekkah. Tempat tinggal dan ibu susuan merupakan pilihan. Salah satu indikatornya adalah masalah bahasa.

Karena jauh dari Mekkah, maka Muhammad mendapatkan bahasa murni yang tidak terkontaminasi bahasa Mekkah yang dulu menjadi pusat perdagangan. Anda pasti tahu sendiri, bagaimana bahasa yang dipergunakan di sebuah pasar, bukan? Hal ini menjadi salah satu indikasi bersih dan teraturnya bahasa yang dipakai oleh Muhammad.

Kehalusan bahasa Muhammad kemudian beriringan dengan kehalusan budi pekertinya. Ia dikenal Al-Amin atau yang dipercaya, salah satunya karena tidak pernah berbohong dalam seluruh hidupnya.

Bahasa, kejujuran dan budi pekerti memang satu jalur. Sejak bersekolah di tingkat dasar, pelajaran budi pekerti dimasukkan dalam kurikulum bahasa. Bahasa Jawa punya tiga tingkatan, yaitu ngoko, madya dan krama. Ngoko adalah bahasa masyarakat umum. Pemakaiannya dihindari untuk berbicara dengan orang yang dihormati atau orang yang lebih tua. Semakin tinggi tingkatannya, semakin tidak temui kata-kata makian alias “cakap kotor”.

Cakap kotor hanya pantas diucapkan oleh mereka yang tak punya status sosial, tak berpendidikan, jahat dan seterusnya. Kalaupun ada makian dalam bahasa tinggi, dia akan disebutkan dalam kata yang halus dan tak menusuk alias kasar atau vulgar. Karena itu, bahasa tinggi dan halus biasanya hanya dipakai di kalangan tertentu. Semisal nabi dan ulama, raja, bangsawan, dan seterusnya.

Ini memang “sedikit” feodal, namun bila orang awam memakai bahasa dengan tutur kata halus, teratur dan sopan, maka martabat dan statusnya bisa disegani dan dihormati. Suku bangsa Jawa tidak sendirian dalam memakai tingkatan bahasa ini.

Tak ada yang menampik, bila efek bahasa menunjukkan maruah atau harga diri seseorang. Sekarang, mari lihat bahasa yang dipakai pemimpin atau calon pemimpin kita saat ini.

Ambil contoh sederhana, poster para sosok yang ingin duduk di kursi gubernur Sumut. Masing-masing berkampanye dengan bahasa ini: “Calon Gubernur Sumatera Utara 2008-2013”.

Kalimat itu adalah kalimat yang benar. Dia tidak akan bisa dibolak-balik dengan cara apa pun. Itu aturan dari segi gramatikal.

Orang tak akan mungkin bisa berbahasa bila ia tak tahu aturan berbahasa. Anda bisa bayangkan bila sebuah kalimat tanpa aturan seperti ini “Sumatera Gubernur Calon Utara”.

Menaati aturan adalah salah satu budi pekerti. Nah, apakah kalimat “Calon Gubernur Sumatera Utara 2008-2013” bisa dipakai? Di situlah letak kehalusan, budi pekerti dan kejujuran itu.

Seorang yang punya kharisma pemimpin tentu tak akan memakai bahasa ini. Itu karena, dia tahu bahwa status “calon gubernur” hanya bisa dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Mengapa kejujuran? Karena hingga saat ini, tak ada satu sosok pun yang bisa menyatakan kalau dialah calon gubernur Sumatera Utara. Tidak, sampai KPU memutuskan siapa nama yang berhak dipilih oleh rakyat Sumatera Utara.

Bila ia sudah mengaku sebagai calon, maka ia sudah membohongi masyarakat Sumatera Utara. Bukankah kebohongan adalah kalimat-kalimat yang tidak punya dasar dan argumentasi sama sekali serta berlainan dengan fakta yang sebenarnya?

Bahkan, seandainya pun dia berkelit bahwa dia calon gubernur dari partai anu, hingga sekarang toh tidak ada satu partai pun yang defenitif memutuskan suatu nama. Kalaupun ada yang berkelit dengan niat bersosialisasi, mengapa tidak kampanye sekalian misalnya dengan kalimat: Pilihlah saya sebagai Gubernur Sumut 2008-2013 nanti.

Toh, karena tidak ada aturan yang dilanggarnya –KPU belum menentukan jadwal- ia bebas dan berkampanye. Jangan berbicara soal etika politik di sini, karena soal malu belum dibahas dalam tulisan ini. Karena, bila sudah ditopik itu, para sosok itu harus meneliti kembali soal tabularasa dan bahasa ibu. (*)

8 thoughts on “Sumatera Gubernur Calon Utara

  1. memang susah cari yang jujur saat ini…siapa pun calon-nya kalo gak jujur ya..
    gak usah dipilih…

    bagaimana dengan anda sendiri? siapa pilihan anda untuk calon gubernur?

    Like

  2. Jadi memang sederhana ya. Sebuah spanduk di persimpangan jalan juanda dan jalan Brigjen Katamso juga mengkritik serupa anda. Spanduk itu “…..” (nama orang) BUKAN CALON GUBERNUR, mengucapkan selamat Natal dan Tahun baru”. Demikian bunyinya.

    Tetapi how could it be if you standing on my shoes? Bagaimana kalau mereka serempak bertanya seperti itu kepada anda?
    Mereka yang berniat dan sejak dini berusaha untuk menjadi Gubernur Sumatera Utara, mestinya memang harus disebut calon (yang sedang berusaha menjadi) gubenur. Terasa amat bohong memang jika harus dilagabalakkan dengan perundang-undangan.

    Masa kampanye pilkada seperti ini cuma dua pekan saja. Padahal ada bayang-bayang golput (by design dan golput politik). Yang lucu disini justru pemerintah bersama KPU (KPU itu pemerintah atau bukan ya?) tak begitu serius sosialisasi. Masalah sosialisasi ini sudah menjadi materi dakwaan politik nasional sejak 1999.

    Segi positifnya mari kita tunjuk. Pangeran-pangeran Baliho itu, atau para “Sumatera Gubernur Calon Utara” itu menjadi volunter yang mengisi kevakuman untuk demam pemilu gubernur. Bermanfaatkah itu pak cik?

    Dalam kalimat “Calon Gubernur Sumatera Utara 2008-2013” itu memang ada kalimat yang masih disembunyikan (dan mereka pembaliho itu amat sadar tentang hal itu) yakni “kalau jadi”, jika dapat perahu”, dan lain-lain. Hal serupa kan selalu dan lazim kita temukan dimana-mana, meskipun orang banyak mafhum. Katakanlah Abdillah yang sedang ditahan oleh KPK. Maka pada balihonya yang besar di beberapa tempat di Medan itu kan tidak perlu ditambah kalimat “sedang ditahan KPK karena tuduhan korupsi yang gak ketulungan” . Atau misalnya Rudolf Matzuoka Pardede menandatangani surat resmi, tidak perlu tentunya di bawah namanya ditulis keterangan “mantan wakil Gubernur yang tidak memiliki ijazah dan yang menggantikan Rizal Nurdin karena meninggal sebab kecelakaan pesawat”. Atau misalnya di baliho Ali Umri harus disebut Calon Gubernur Sumatera Utara 2008-2013 dari Partai Golkar yang tak mau mencari calon yang lebih baik lewat mekanisme demokrasi agar lebih bermanfaat bagi Golkar dan seluruh masyarakat serta lebih mungkin menang tetapi tidak mau mengikuti semua tuntutan masyarakat khususnya warga golkar itu”. Kan tidak perlu, bos.

    Jadi memang banyak keterangan tentang seseorang yang seharusnya ada tetapi harap maklum saja jika dibuat “tak terbaca”.

    Bah

    Like

  3. Untuk Kalam (bagusnya nama ini)

    operasi intel adalah silent operation tapi pekerjaan seorang komunikator adalah blak-blakan. Pembalelo, eh pembaleho, itu jelas bukan pekerjaan intel.

    Realitas dan fakta politik memang sedang sakit. Tapi, bukankah sang pemimpin seharusnya tidak ikut-ikutan sakit?

    Like

  4. Kita harus optimis terhadap calon gubernur yang diusung jama’ah yang amanah. Mari kita benahi pemerintahan di Sumatera Utara ini. Tegakkan KEADILAN dan KESEJAHTERAAN. ALLAHU AKBAR!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s